"Jangan mau!" Teriak seseorang yang baru dateng.
Voke melihat kebelakang melihat perempuan yang lagi berjalan mendekat ke arah mereka bertiga, dia mengepalkan tangannya saat melihat pengasuh anaknya dateng dia mengumpati Fani karena dateng di waktu yang nggak tepat dasar perempuan brengsek bagaimana bisa dia datang di waktu yang tidak tepat di saat dirinya hampir membawa Dikta pergi.
Fani mendekati mereka bertiga dan duduk di samping Dikta dan mengusap kepala Dikta, Dikta tersenyum melihat Fani yang sudah datang menjemputnya.
"Bu Dea Terimakasih yah sudah mau jagain Dikta," Ucapnya melihat Dea.
"Sama-sama bu ini sudah jadi tugas saya sebagai guru untuk menjaga murid saya." Jawabannya.
Fani menganggukan kepalanya pelan dan tersenyum, Fani melihat perempuan cantik bak model ada di depannya Fani belum tau siapa sebenarnya perempuan yang sedang berdiri di depannya? Fani berpesan sama Dea guru yang mengajar Dikta agar dia selalu menjaga Dikta saat dirinya belum dateng.
"Bu Dea saya boleh minta tolong?" Tanyanya melihat Dea.
"Boleh bu, ibu Fani mau minta tolong apa? Kalau saya bisa saya akan menolong ibu." Jawabnya.
"Saya minta tolong sama ibu buat jagain Dikta kalau saya belum datang menjemput Dikta, dan tolong jangan biarkan orang asing mendekati Dikta, apa ibu Dea bisa?" Tanyanya melihat Dea.
"Baik bu saya bisa, dan saya akan menjaga Dikta kalau ibu belum datang menjemput Dikta." Ujarnya tersenyum.
"Baik bu Dea, terimakasih karena ibu sudah berkenan di mintain tolong." Jawabannya.
"Sama-sama bu Fani kalau gitu saya permisi dulu yah." Dea berpamitan dan pergi meninggalkan mereka bertiga.
Voke mengepalkan tangannya saat mendengar Fani menyebutnya orang asing, apa perempuan kampung seperti dia nggak tau siapa dirinya? "Berani sekali perempuan kampung ini mengatakan gue orang asing."
Fani melihat Dikta dan mengusap kepala Dikta dengan sayang, Dikta tersenyum manis melihat Fani, dan itu semua tak luput dari pandangan Voke.
"Den Dikta dengerin apa yang mba Fani katakan yah? Den Dikta nggak boleh deket-deket sama orang asing dan jangan sesekali den Dikta mau di ajak pergi sama orang yang nggak den Dikta kenal, apa den Dikta mengerti?" Fani mengingatkan Dikta dan bertanya padanya apa Dikta mengerti sama apa yang dia katakan barusan.
"Iya mah Dikta mengerti, jadi apa tante yang ada di depannya ini orang asing?" Tanyanya meminta jawaban.
Fani melihat perempuan yang ada di depannya sedang menahan amarah di lihat dari wajahnya yang memerah, dia kembali melihat Dikta dan tersenyum.
"Menurut Dikta tante ini orang asing atau bukan? Dikta pernah melihat tante ini nggak sebelumya?" Tanyanya lagi.
"Nggak pernah mah." Jawabanya.
"Kalau Dikta belum perna ketemu sama tante ini itu tandanya apa coba?" Fani kembali bertanya.
"Itu tandanya tante ini orang asing kan mah? Berarti Dikta nggak boleh deket-deket sama tante ini dong." Sahutnya.
"Itu Dikta pinter, terus yang menurut Dikta bukan orang asing siapa coba mba Fani mau tau dong," Ucapnya.
"Oma Rina, papah, om Alfin, aunty Pricilia dan aunty Ayumi betul kan mah?" Tanyanya tersenyum bahagia seakan dia tau semua.
"Iya betul, den Dikta memang pinter." Fani mengakat dua jempolnya.
Voke sudah nggak tahan mendengar ucapan Fani yang menyuruh Dikta nggak boleh deket-deket dengannya, Voke menarik kasar tangan Fani dan membawanya menjauh dari Dikta, Fani melepaskan tangan Voke yang menarik tangannya.
"Lepasin saya," Fani melepaskan tangan Voke dari tangannya.
Voke melepaskan tangan Fani dan melihat nyalang Fani yang berani melawannya, dia sungguh geram sama perempuan kampung yang ada di depannya.
"Kamu ikut saya, ada yang harus saya katakan sama kamu." Voke meminta Fani ikut dengannya.
"Kalau mau mengatakan sesuatu ya di sini saja, ngapain pake tarik-tarik segala, saya lagi menjaga Dikta." Fani menolak ajakan Voke.
"Saya nggak mau tau pokoknya kamu harus ikut saya sekarang," Ucapnya nggak mau di bantah.
"Ya tunggu saya harus pamit dulu sama Dikta." Fani meninggalkan Voke sendirian.
Fani menghampiri Dikta yang sedang bingung karena melihat Fani di tarik-tarik sama perempuan asing, Fani berdiri dan melihat sekeliling saat melihat penjaga sekolah lewat Fani memanggilnya.
"Iya bu ada apa?" Tanyanya.
"Saya minta tolong jagain Dikta sebentar yah, saya mau mau bicara dulu sama temen saya sebentar apa bapak bisa," Fani meminta tolong satpam untuk menjaga Dikta sebentar.
"Baik bu." Sahutnya.
"Terimakasih pak, Dikta sayang, mba Fani mau bicara sebentar sama tante yang tadi, Dikta di sini dulu yah jangan ke mana-mana apa Dikta mengerti?" Tanya Fani mengusap rambut Dikta.
"Baik mah, tapi jangan lama-lama yah." Ujarnya.
"Iya sebentar ko, Dikta tunggu di sini ok."
Fani meninggalkan Dikta sama pak satpam, dia kembali menemui Voke yang sedang menunggunya, Voke geram melihat Fani yang begitu akrab sama anaknya.
Plak!
Voke menampar Fani dengan keras, Fani memegangi pipinya yang di tampar Voke.
"Apa yang kamu lakukan, kenapa kamu menampar aku, apa kamu nggak waras!" Teriak Fani geram.
Nggak ada angin dan nggak ada hujan perempuan yang nggak dia kenal berani menamparnya.
"Itu pantas kamu dapatkan karena sudah mau memisahkan saya dan anak saya." Ujar Voke berang.
"Apa maksud kamu saya nggak ngerti?" Tanyanya bingung.
"Dikta anak yang kamu ingatkan untuk tidak boleh mendekati saya, dia adalah anak saya anak kandung saya bersama mas Abimana apa kamu mengerti!" Teriaknya menujuk wajah Fani.
Degh.
Jantung Fani berdetak lebih cepat kenapa rasanya nggak rela, kalau perempuan yang ada di depannya itu adalah ibu kandung Dikta.
"Kalau kamu memang ibu kandung Dikta kenapa kamu nggak nemuin Dikta langsung di rumahnya,? Kenapa kamu harus sembunyi-sembunyi menemui Dikta. Apa jangan-jangan kamu punya maksud nggak baik sama Dikta." Fani menatap curiga.
"Jangan asal ngomong kamu yah, saya ini ibu kandung Dikta, ibu yang melahirkan Dikta jadi bebas mau bertemu anak saya dimana saja! Dan kamu hanya perempuan kampung yang bekerja sebagai pengasuh anak saya jadi inget setatus kamu adalah seorang babu, jangan berharap untuk menjadi ibu dari anak saya." Voke berbicara kasar dan menunjuk Fani.
"Terus apa masalahnya kalau saya cuma pengasuh Dikta? Dan kamu yang mengaku sebagai ibu kandung Dikta kemana saja selama ini? Meninggalkan Dikta dari dia berumur satu tahun membuat anak sekecil Dikta nggak perna merasakan kasih sayang seseorang ibu, dan sekarang kamu datang hanya untuk mengambil Dikta dari pak Abi? Saya nggak akan biarkan itu terjadi, kalau kamu memang berniat untuk bertemu sama anak kamu datang langsung di kediaman rumah bapak Abimana Silky Hartawan. Jangan sembunyi kaya gini." Ujar Fani penuh penegasan.
"Dasar perempuan kampung berani kamu melawan saya!" Teriak Voke mengangkat tangannya mau menampar Fani.
Seseorang datang dan menangkap tangan Voke yang mau mendarat di pipi Fani.
"Kau," Ucap Voke melihat seseorang yang ada di depannya.
Bersambung..
Jangan lupa vote, coment
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Elfrina Binelka
up lg thor
2023-01-07
1