Satu jam perjalanan jarak tempuh mereka menuju pasar, akhirnya mereka sampai di sebuah pasar yang sangat ramai yang menjadi tempat persinggahan mereka ketika datang menjajal kan jualan mereka.
sesampainya mereka di pasar, Diran dan Gayatri pun langsung mencari tumpangan menuju kota raja. beruntung di sana ada sekelompok orang yang akan berangkat ke kota raja, Diran pun mendekat dan bertanya kepada mereka Apakah mereka masih bisa ikut ke dalam kereta.
"permisi tuan, Apakah kereta ini akan pergi menuju ke kota raja..??" tanya Diran kepada kusir kereta.
Karena Diran sudah sembuh dari sakitnya, maka tak ada orang yang mengusir mereka ketika di sana. biasanya mereka akan mengusir mereka dengan tidak berperikemanusiaan karena tubuh mereka dipenuhi dengan kusta.
"benar tuan, apakah Tuan ingin pergi ke kota raja juga..??" tanya kusir itu.
"Iya tuan, Saya dan adik saya ingin ke kota raja untuk berniaga. Apakah kereta Tuan masih bisa memuat orang..??" tanya badiran lagi. kusir itu pun tersenyum dan menyambut dengan baik.
"tentu saja tuan, naiklah.. sebentar lagi kita akan berangkat." ucap kusir tersebut. kusir itu juga, tidak membedah-bedahkan orang dalam hal itu, ia selalu melakukan hal yang benar.
Diran pun sangat senang karena mendapat tumpangan, akhirnya mereka tidak harus ke kota raja dengan berjalan kaki. Diran pun langsung membantu adiknya naik ke atas kereta, dan duduk di atasnya. di sana juga mereka tidak sendiri, ada 4 orang berada di dalam kereta itu juga. sepertinya mereka juga ingin pergi berniaga ke kota raja.
dengan penuh sikap yang ramah, Diran dan Gayatri menyapa orang-orang yang sekereta dengan mereka.
Tak lama, kereta yang mereka tumpangi itu pun berjalan pergi meninggalkan pasar menuju kota raja. saat kereta itu berangkat, tatapan Gayatri ia arahkan keluar kereta. seolah, ia ingin mengenang kedua orang tua mereka, yang menunggu mereka untuk kembali.
mengingat itu semua, Gayatri sedikit merasa hampa ketika kereta itu berjalan meninggalkan perkampungan itu, pikirannya tertuju kepada kedua orang tuanya. Diran yang mengerti dengan tatapan sang adik pun langsung menenangkan adiknya.
"tenanglah, kita pasti akan kembali lagi dek.." ucap badiran kepada adiknya. Gayatri mengarahkan pandangannya ke arah sang kakak Dan tersenyum.
"Iya Kak, gaya hanya merasa cemas saja meninggalkan ayah dan ibu di sini." ucapnya dengan lirih. Diran pun tersenyum dan menepuk-nepuk pundak sang adiknya untuk menenangkannya. tiba-tiba salah seorang ibu di sana bertanya kepada mereka.
"ingin ke mana den..??" tanya ibu tersebut. Diran melepaskan rangkulannya di pundak sang adik dan menjawab pertanyaan ibu itu.
"Kami ingin ke kota raja untuk mengadu nasib Bu.." ucap badiran to the point. ibu itu pun tersenyum dan mengganggu-anggukkan kepalanya.
"semoga saja rezeki kalian ada di sana.."ucap Ibu tersebut secara tidak langsung mendoakan Mereka.
"Amin bu, kalau ibu sendiri ingin ke mana..??" tanya Diran lagi.
"kami juga ingin pergi ke kota raja. Kami ingin berdagang di sana selama seminggu. Setelah itu kami akan pulang kembali." ucap Ibu tersebut. Diran mengerutkan keningnya, biasanya yang akan pergi berdagang ke kota raja adalah suami atau laki-laki.
"lalu di mana suami ibu..?? Kenapa bukan dia yang berangkat berniaga Bu..??" tanya Diran, Gayatri hanya diam dan mendengarkan percakapan kakaknya dengan ibu tersebut. ibu itu tersenyum mendengar penuturan Diran.
"Ibu sudah tidak memiliki suami, suami Ibu telah meninggal karena sakit. kami tak bisa membawanya berobat karena harga obat sangat mahal." tutur ibu itu. sejenak Diran tertegun dengan ucapan sang ibu.
"Oh kalau begitu maafkan saya buk, saya tidak bermaksud untuk mengingatkan ibu.." ucap Diran dengan sopan. ibu itu hanya menanggapi dengan tersenyum.
***
menjelang sore hari, akhirnya mereka sampai ke kota raja. terlihat kota raja itu sangatlah ramai, banyak yang berjualan dan berniaga di sana. Diran dan Gayatri pun turun dari kereta, dan langsung membayar ongkos kereta.
sejenak, Gayatri dan Diran mengedarkan pandangan mereka, mereka sangat merasa takjub dengan pemandangan kota itu.
"wah...!!! ternyata seperti ini kota raja.." ucap Gayatri dengan takjub. Diran mengeritkan keningnya mendengar ucapan sang adik.
"eh.. bukannya kamu sudah tau seperti apa kota raja, kan sebelum kita tinggal di pinggiran hutan, kita pernah tinggal di kota raja, kita juga pernah jalan-jalan kesini..??" ucap Diran menyadarkan Gayatri dari kebodohan nya. pasalnya, ia tidak sengaja mengeluarkan rasa kagum Nya itu. sekarang ia harus berpikir, bagaimana menjelaskan kepada kakaknya.
"iya kak, Gayatri melupakan kota ini. jadi, gaya.." ucapan nya melayang, ia kehabisan akal untuk berbohong.
(aduh... bagaimana ini, jangan sampai kak Diran curiga kalau aku bukan Gayatri yang asli.) batin nya. Diran tersenyuman, ia mengelus lembut kepala adiknya.
"tidak apa-apa, maafkan kakak ya. memang, kita sudah lama tidak kesini lagi." ucap Diran mengerti. Gayatri pun tersenyum, untuk saja Diran tidak banyak tanya.
setelah itu, mereka langsung meninggalkan tempat itu. melihat kondisi yang akan segera menuju malam, Gayatri dan Diran memutuskan untuk mencari penginapan.
setibanya mereka di kota raja (Kerajaan Majapahit), hal pertama yang mereka lakukan adalah menemukan dan mencari penginapan untuk mereka malam ini. kedua Kakak Adik itu berdiri di tanah asing sambil mengedarkan pandangan mereka.
"dek, kita cari penginapan dulu ya.?" ucap Diran kepada adiknya.
Gayatri menganggukkan kepalanya, Diran menggandeng tangan sang adik dan langsung meninggalkan tempat itu pergi mencari penginapan di sekitar tempat tersebut. tak lama mereka sampai di sebuah penginapan yang tidak terlalu mewah, bisa dibilang cocok dengan kantong mereka. tanpa pikir panjang, mereka berdua langsung menerobos masuk ke dalam penginapan dan bertemu dengan pemilik penginapan itu.
"permisi ibu, Apakah masih ada kamar kosong..??" tanya Diran kepada pemilik penginapan. pemilik penginapan itu pun tersenyum dan menyambut mereka dengan ramah. sejenak ia mengamati wajah muda-mudi yang berada di depannya ini, cantik dan ganteng itulah kesan pertamanya. hanya saja mereka dibaluti dengan barang-barang yang lusuh.
"tentu saja nak, masih ada beberapa kamar lagi. mau pesan berapa kamar..??" tanya ibu tua itu. ibu yang sudah sepuh itu, melayani mereka dengan baik. walaupun tampaknya wanita tua ini sudah tidak mampu lagi, namun sangat di luar ekspektasi.
"Saya pesan satu kamar saja, untuk saya dan adikku, Apakah boleh seperti itu Bu..?? Saya khawatir meninggalkan adik saya sendirian walaupun hanya berbeda kamar saja." ucap Diran dengan jujur. Diran tidak rela meninggalkan adiknya tidur sendiri di tanah asing ini, Iya takut terjadi apa-apa dengan adiknya. jadi pilihan yang tepat adalah memesan satu kamar untuk mereka berdua. pemilik penginapan itu tersenyum mendengar penuturan anak muda itu.
"tentu saja boleh, asalkan tetap menjaga etitut yang ada di tempat ini." ucap ibu tua itu. Diran pun langsung menganggukkan kepalanya.
Pemilik penginapan itu pun langsung memberikan satu kunci kamar kepada mereka dan juga menuntun mereka untuk menuju kamar penginapan.
"silakan masuk.. maaf jika fasilitas yang ada di ruangan ini tak seberapa." ucap nenek tua itu lagi dengan sopan dan ramah. setelah itu nenek tua itu pun langsung meninggalkan mereka.
sepeninggalan nenek tua itu, kedua bersaudara itu pun langsung masuk ke dalam kamar tersebut. ketika mereka masuk ke dalam kamar tempat penginapan itu, Gayatri mengedarkan pandangannya. benar-benar penginapan yang hanya diperuntukkan untuk mereka yang tidak mampu.
"bagaimana dek, tidak apa-apa kan penginapan seperti ini..??" tanya Diran kepada adiknya. Diran sebenarnya ingin mencarikan penginapan yang layak dan nyaman untuk adiknya. namun mereka harus berhemat agar tujuan mereka tercapai. Gayatri tersenyum mendengar pertanyaan kakaknya.
***bersambung***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
mengeritkan // mengernyitkan
2024-09-21
0
tanpa "L" tor,menjajakan(menawarkan)benernya kalo menjajal identik dgn bertarung.
sedikit koreksi😊
2024-09-21
0
amanda teresa
jgn etitut kk.. adat lbh cocok
2023-02-15
0