Arga pun menceritakan Siapa dirinya, namun ia masih menyembunyikan identitas aslinya. mungkin ia tidak ingin mengejutkan keluarga kecil yang tinggal di pinggiran hutan ini.
setelah Arga menjelaskan Siapa dirinya sebenarnya tentu saja dengan identitas palsu, tiba-tiba Diran mengubah topik pembicaraan mereka.
"apa ini yang namanya ayam goreng dek..??" tanya Diran sambil menunjuk ayam goreng yang sudah ada di dalam piringnya.
mendengar penuturan sang kakak itu, Gayatri mengarahkan pandangannya di mana kakaknya menunjuk sesuatu di dalam piringnya sambil bertanya. Gayatri yang mengerti arah pembicaraan kakaknya itu pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
'Iya Kak, inilah namanya ayam goreng yang dimasak dengan minyak panas yang kita produksi beberapa hari yang lalu." jelas Gayatri kepada kakaknya. Diran pun langsung mengambil ayam yang digoreng itu dan mengamatinya. Kenapa teksturnya sangat keras, itulah yang ia pikirkan. namun Diran segera memasukkan ayam goreng itu ke dalam mulutnya dan merasakan masakan itu pertama kalinya. ternyata Diran sangat jatuh cinta dengan masakan-masakan adiknya, apalagi ayam bakar.
"mm... ini sangat enak, aku belum pernah merasakan makanan seperti ini sebelumnya. Bagaimana caramu membuatnya dek..??" tanya Diran lagi kepada sang adik. sementara yang lain Hanya duduk melanjutkan makan dan mendengarkan percakapan adik kakak ini.
Gayatri pun menjelaskan semuanya, mulai dari Ia mendapatkan rempah-rempah dan jenis rempah-rempah apa yang digunakan, Iya juga menceritakan cara bagaimana ia membuat ayam bakar itu. dari cerita Gayatri, keluarganya dan pemuda itu memasang ekspresi terkejut. mungkin mereka berpikir, kita saja membuat ayam bakar tidak seenak ini, ternyata masih bisa dan masih ada cara yang lebih enak.
"Oh iya kakak, ayah dan ibu. gaya juga berencana untuk membuka rumah makan apabila uangnya sudah terkumpul."ucap Gayatri lagi. mendengar penuturan Gayatri, tentu saja keluarga itu sangat setuju.
"Baiklah nak.. berarti ayah harus bekerja lebih ekstra lagi untuk mendapatkan uang agar bisa membuka rumah makanmu."ucap Tuan Senopati.
"Ayah tenang saja... gaya akan mencari uang sendiri untuk membuka rumah makan itu. dan besok gaya akan ikut berjualan ke pasar sambil gaya mencari kondisi yang strategis." ucap Gayatri. untuk sesaat Gayatri melupakan keberadaan Arga.
"eh kalau gaya pergi ke pasar terus siapa yang menemani Arga di rumah. tidak mungkin kan kita meninggalkannya sendirian tanpa ada teman.." ucap di ran sambil mengarahkan pandangannya ke arah argantara. mendengar penuturan dan rasa khawatir Itu, argantara tersenyum simpul.
"Oh iya juga ya Kak.. gaya sempat melupakan tamu kita ini.." ucap Gayatri.
"tuan dan Nona tidak perlu khawatir. jika seandainya tuan dan Nona memang ada kegiatan ke esok harinya, maka berangkat saja. tapi izinkan aku untuk tinggal sementara di tempat ini. saya masih bingung harus ke mana.!!" ucap Arga kepada keluarga itu.
"tentu saja nak Arga, tinggallah di sini sampai kamu dapat menentukan jalan dan arah tujuannya." kali ini Tuan Senopati yang akan bicara.
"kalau begitu, besok Ibu saja yang tinggal. hitung-hitung untuk beristirahat." tutur Gayatri. nyonya diaswari terkejut mendengar penuturan putrinya ini.
"tapi apa yang akan Ibu kerjakan di rumah. sebaiknya gaya saja yang tinggal dan Ibu yang akan ikut pergi." protes nyonya diaswari.
"begini saja, Ayah setuju apabila, keesokan harinya ibu yang tinggal. hitung-hitung Ibu juga perlu beristirahat, Ibu juga bisa membersihkan para agar dapat menanami tanaman yang lain. jika Ibu merasa bosan berdiam diri di dalam rumah." ucap Tuan Senopati. Arga yang merasa diam saja pun ikut menimpali. ia ingin sedikit membantu keluarga ini dengan tenaganya hitung-hitung untuk membalas Budi kebaikan mereka.
"begini saja tuan dan nyonya serta nona, tuan dan nyonya saja yang tinggal dan biarkan kami yang muda-muda ini pergi ke pasar. lagi pula kondisi saya sudah membaik." ucap argantara. mereka semua langsung mengarahkan pandangan mereka ke arah Arga.
"tidak bisa begitu nak, kamu masih sakit Ayah khawatir lu kamu akan terbuka lagi. lagi pula Ayah masih kuat untuk berjualan." tutur Tuan Senopati. Gayatri pun tidak tinggal diam.
"gaya setuju dengan usul ke Arga, lebih baik untuk hari itu saja, bapak dan Ibu beristirahat. semenjak kita menemukan tumbuhan-tumbuhan yang bisa dijual, bapak dan ibu selalu memaksakan diri untuk pergi berjualan setiap hari. belum lagi mencari tumbuh-tumbuhan yang dijual dan berjalan ke pasar." ucap Gayatri. Diran pun ikut menyetujui usul Arga itu.
"Iya Ayah, Ibu. Diran juga setuju. alangkah baiknya ayah dan ibu beristirahat saja dulu untuk pergi ke pasar." ucap Diran.
kedua orang tua mereka itu pun bungkam dan tak mengeluarkan kata-kata apapun lagi. melihat anak-anak muda ini yang memiliki semangat tinggi, Tuan Senopati tak kuasa mematahkan semangat mereka.
"baiklah, besok ayah dan ibu akan tinggal di rumah saja. tapi ingat Diran, jaga Adik kamu baik-baik." ucapan Senopati memperingati putranya.
" Iya Ayah tenang saja, diran pasti akan menjaga adik di sana." tuturnya lagi. setelah runding kecil yang mereka lakukan di sela-sela makan malam mereka, akhirnya aktivitas makan malam itu selesai.
mereka makan malam lumayan lama, karena mereka juga makan sambil bercakap-cakap. itu sudah biasa mereka lakukan, padahal ada aturan jika sedang makan maka tidak boleh bersuara. tapi tidak berlaku dengan keluarga kecil ini.
justru hal yang paling nikmat menurut mereka, makan sambil bercanda bersama anggota keluarga lebih membangun suasana harmonis di antara mereka. apalagi di siang hari mereka jarang berkumpul dan mengobrol bersama karena masing-masing dari mereka memiliki kesibukan untuk menafkahi hidup mereka.
jadi keluarga itu hanya punya waktu makan malam untuk saling menanyakan kabar dan saling memperdulikan satu sama lain.
*"*"
keesok harinya, seperti yang telah disepakati. Diran, Gayatri dan Arga pun berangkat ke pasar, setelah mereka dari hutan mencari tumbuhan yang akan mereka jual.
"kalian berhati-hatilah di sana. ingat utamakan keselamatan terlebih dahulu apabila terjadi sesuatu di perjalanan. dan jangan ada yang boleh meninggalkan satu sama lain." ucap Tuan Senopati menasehati ketiga pemuda itu.
"Iya Ayah Diran mengerti." ucap Diran.
"dan untuk kalian, gaya dan arga. jangan memisahkan diri dari saudara kalian ini. Ayah tahu ini baru pertama kalinya kalian pergi ke pasar dan akan berbaur dengan orang banyak. jadi Ayah takut kalian tersesat." ucap Tuan Senopati lagi sambil anak-anak muda itu bersiap-siap.
"Iya Ayah/tuan." ucap Gayatri dan Arga secara bersamaan.
setelah makan siang dan mendapat sedikit wejangan dari tuan Senopati. ketiga pemuda itu pun langsung berangkat ke pasar dengan berjalan kaki.
cukup lama mereka berjalan kaki, akhirnya mereka mulai memasuki keramaian pemukiman penduduk. saat Gayatri yang baru pertama kali melihat pemukiman itu pun merasa asing.
( Oh ternyata seperti ini, pemukiman orang di kerajaan ini.) ucap Gayatri sambil mengamati pemukiman warga itu. Gayatri melihat hal-hal yang baru, di sana orang berjalan tanpa menggunakan alas kaki, Begitu juga dengan mereka. Gayatri pikir, hanya mereka yang berjalan tanpa menggunakan alas kaki. ternyata rata-rata semua penduduk yang menengah ke bawah atau rakyat jelata, mereka berjalan tanpa menggunakan alas kaki.
Gayatri juga mendapati ibu-ibu yang sedang menumbuk padi di dalam lesung. lagi-lagi Gayatri benar-benar takjub, pasalnya di dunia modern, kerjasama menumbuk padi seperti itu sudah tidak ada lagi.
rumah-rumah yang ada di sana juga, terbuat dari tumbuh-tumbuhan yang berasal dari hutan. seperti kayu-kayu kecil yang diikat untuk menjadi tempat mereka berteduh.
sepanjang perjalanan, mata Gayatri tak henti-hentinya mengamati lingkungan sekitar. semakin jauh mereka berjalan maka semakin ramai penduduk yang ada di sana. akhirnya tibalah mereka di pasar swalayan itu. keramaian hiruk pikuk yang terdengar di pasar itu benar-benar membuat siapa saja akan merasa senang termasuk Gayatri.
"kita sudah sampai," ucap badiran kepada keduanya. Gayatri pun melong.
"Apakah kita akan berjualan di sini Kak..??" tanya Gayatri. Gayatri dan Arga pun ikut meletakkan barang bawaan mereka. sementara Diran mulai membentangkan karpet kecil tempat mereka menyusun barang dagangan mereka.
"iya dek, di sinilah tempat kita berjualan." ucap Diran. Gayatri yang seumur-umur belum pernah melakukan perjalanan jauh apalagi ditempuh dengan berjalan kaki sangat merasa kelelahan. Diran yang melihat wajah kelelahan sang adik pun bersuara.
"Jika kalian lelah, maka istirahatlah. biar kakak yang menjaga.." ucap Diran sambil menyusun dagangannya di atas karpet yang sudah ia bentang tadi.
"tidak apa-apa tuan, Saya tidak capek dan saya akan membantu Tuan untuk berjualan." ucap Arga tiba-tiba. namun lain halnya dengan Gayatri, Iya benar-benar merasa kelelahan.
"Kak gaya benar-benar capek, Apakah ayah dan ibu serta Kakak seperti ini. gaya tidak kebayang secapek apa Ayah dan Ibu bolak-balik ke pasar dengan jarak tempuh yang sangat jauh." ucap Gayatri. Diran tersenyum mendengar ocehan sang Adik.
"ayah dan ibu sudah terbiasa. Jadi mereka tidak akan merasa lelah. sebaiknya kamu minum dulu agar rasa lelahmu hilang." tutur badiran.
Gayatri pun langsung menyambar botol minuman yang mereka bawa dari rumah. tentu saja minuman itu adalah minuman yang langsung membuat energi mereka kembali terkumpul. karena minuman itu Gayatri teteskan dan campurkan dengan air kehidupan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Hema Line Aritonang Ajha
next thor
2022-12-03
2
Septi Verawati
next thor cemungut 🥰🥰
2022-12-02
1