3. pergi kehutan sekeluarga

sekali lagi, otor katakan. otor tidak akan mentok dengan cerita atau sejarah zaman kerajaan itu. kemungkinan juga, akan jarang terjadi adegan perang.

jadi, jangan heran ya, kalau seandainya cerita kerajaan atau time travel ini akan melenceng dari kisah zaman dulu.🙏🙏

selamat membaca 🥰🥰

***

hari-hari telah berlalu. Rumi Amelia yang saat ini sudah menjadi Gayatri mulai terbiasa dengan lingkungan sekitar. Iya juga mulai melakukan aktivitas seperti mempraktekkan ilmu pertanian di tempat tinggal barunya ini. tentu saja, ia di bantu oleh keluarga nya.

namun, Gayatri masih susah untuk mendapat kan bibit tanaman untuk mereka tanam.

***

saat ini juga, semua sakit yang Mereka derita telah sembuh, bahkan tubuh mereka tidak memperlihatkan bekas luka maupun cacat sedikitpun. itu semua berkat air kehidupan yang Gayatri ambil dari ruangan dimensi nya. tubuh keluarga itu benar-benar sebuah anugerah untuk mereka. dan tak satupun keluarga Gayatri yang mengetahui hal ini.

walaupun bahan pokok makanan, mereka masih kekurangan, namun bisa di bilang, mereka sudah agak jarang kelaparan. kerena mereka saling bahu-membahu.

***

hari ini, ia memutuskan untuk mengikuti kedua orang tuanya untuk pergi ke hutan mencari bahan makanan. karena bahan makanan mereka sudah menipis.

"ayah, ibu. Gayatri ikut kehutanan ya, Aya sudah bosan di rumah terus.." ucap Gayatri kepada kedua orang tuanya.

"tapi nak,_" ucap dyaswari terpotong.

"Aya sudah sembuh Bu.. lihat Aya baik-baik saja. biarkan Aya ikut ya... " ucap Gayatri sambil mengangkat tangannya memohon kepada kedua orang tuanya. tuan Senopati yang melihat kelakuan anak gadisnya itu menggelengkan kepalanya.

ia tidak menyangka, bahwa putrinya ini, akan lebih senang berada di luar rumah dan berbaur dengan alam, ketimbang duduk manis dan merawat diri seperti perempuan pada umumnya.

karena Gayatri mengotot mau ikut. dyaswari melirik suaminya meminta pendapat. tuan seno yang mengerti lirikan istrinya itu tersenyum.

"baiklah, Aya boleh ikut. tapi tidak usah bawa beban, kalau tidak, ngak boleh ikut." tegas tuan seno. mendengar penuturan sang ayah, Gayatri memanyunkan bibirnya.

"ngak usah manyun-manyun begitu. kalau tidak mau, ya tidak usah ikut.." kali ini yang bersuara adalah badiran, kakaknya.

badiran juga memutuskan untuk ikut pergi bersama dengan kedua orang tuanya ke hutan. ia tidak mungkin tinggal sendiri dirumah, jika adiknya sendiri tidak berada di rumah. badiran juga, membawa keranjang besar di punggung nya. tuan seno dan nyonya dyaswari memicingkan mata melihat ke arah sang anak laki-laki.

badiran yang mendapat tatapan itu pun tersenyum.

" Diran juga ikut, lagi pula, adek ikut bapak sama ibu, jadi Diran juga mau ikut. hehehe.." ucap badiran sambil cengengesan. kedua orang tua itu pun menghembuskan nafas kasar.

"huf... yasudah ayo berangkat. tapi, kalau nanti capek, bilang ya.." ucap tuan seno. mereka pun akan bersiap berangkat. namun Gayatri melihat, mereka tidak memiliki bekal apapun, termasuk minuman.

"ayah, ibu tunggu sebentar. Aya ambil minum dulu." ucap Gayatri langsung bergegas masuk ke dalam rumah dan mengambil botol yang ukurannya lumayan besar dan mengisinya dengan air minum yang sudah di campur dengan air kehidupan.

tak lama, Gayatri pun kembali dan langsung bergabung bersama dengan kedua orang tuanya serta kakaknya.

melihat Gayatri datang dengan membawa benda aneh ditangannya, badiran pun bertanya-tanya.

"apa ini Aya..?? mana air minum nya..??" tanya badiran. Gayatri mengangkat tangan yang ada botol itu.

"ini botol air minum. praktis di bawa kemana pun, dan air minum tidak akan tumpah, karena botol itu memiliki penutup yang kuat. jadi tidak perlu khawatir. hehehe ayo kita berangkat.." ucap Gayatri lagi.

"kalau begitu letakkan saja botol ini Di dalam keranjang kakak. biar kakak yang bawa.." ucap badiran. dengan senang hati Gayatri pun meletakkan botol itu Di dalam keranjang kakaknya. masing-masing mereka memiliki keranjang kecuali Gayatri. kedua orang tuanya dan kakaknya tidak mengizinkannya membawa beban apapun. dengan alasan bahwa Gayatri masih dalam kondisi tidak sehat.

mereka semua pun berjalan menjauh dari rumah mereka menuju sebuah hutan yang sering kedua orang tua Gayatri datangi. setelah 30 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di perbatasan hutan dan pemukiman itu.

tanpa berpikir panjang satu keluarga itu pun pergi ke dalam hutan mencari bahan makanan untuk mereka jual atau untuk mereka sendiri. sepanjang jalan perjalanan Gayatri tak henti-hentinya melemparkan candaan kepada kedua orang tua dan kakaknya agar tidak merasa lelah.

tapi tiba-tiba, matanya mengarah pada sebuah pohon yang berbuah merah dan besar itu. Gayatri yang melihat buah tersebut matanya jadi berbinar-binar.

"Ayah, Ibu tunggu sebentar. lihatlah di sana..!!" ucap Gayatri sambil menunjuk ke arah pohon yang memiliki buah merah itu. kedua orang tua Nisa berhenti Begitu juga dengan kakaknya. mereka mengarahkan pandangan mereka ke arah yang ditunjuk oleh Gayatri.

"kenapa memangnya..? ayah dan ibu sudah sering melihat buah itu. buah itu tidak bermanfaat sama sekali, buah itu belum pernah diambil oleh siapapun." ucap nyonya dyaswari. Gayatri pun membulatkan matanya mendengar ucapan sang ibu. iya benar-benar terkejut mendengar penuturan ibunya bahwa mereka tidak mengenali buah apel itu.

"itu adalah buah apel Bu. dan rasanya sangat enak. Gayatri berani jamin, itu adalah buah-buahan yang sangat manis. ayo kita ambil.." ucap Gayatri. tanpa mendengar protes atau bantahan dari kedua orang tuanya Gayatri langsung berlari menghampiri pohon tersebut. ternyata pohon apel ini memang sedang bermusim dan sudah waktunya panen. terlihat di bawah pohon itu, buah-buahnya jatuh berceceran dan sudah rusak.

kedua orang tua Gayatri dan kakaknya pun langsung menyusul Gayatri yang sudah lebih dulu berlari ke arah pohon itu. kemudian Gayatri menarik satu ranting yang masih dijangkau dan memetik buahnya. tanpa menunggu lama ia langsung menyantap buah tersebut. kedua orang tua Gayatri sangat shock melihat kelakuan Gayatri itu. Mereka takut kalau buah itu ternyata berbahaya atau beracun. tapi Gayatri tidak peduli, mulutnya sudah penuh dengan buah apel itu. Iya nunggunya dan terus mengunyah tanpa memperhatikan keluarganya yang terus memperhatikannya seperti ingin meminta. namun ketika gigitan terakhir Gayatri pun langsung menyadari tatapan kedua orang tua dan kakaknya itu. melihat mereka menatap Gayatri, Gayatri hanya cengengesan saja.

"hehehe maaf yah, Bu. buahnya sangat enak. ayo.. ini tidak beracun." ucap Gayatri lagi. namun buah yang bisa dijangkau sudah tidak ada lagi. terpaksa Gayatri harus memanjat pohon apel itu, beruntung pohon apel itu tidak terlalu tinggi. tanpa menunggu apapun, Gayatri langsung mengambil ancang-ancang dan memanjat pohon tersebut. orang tua nya yang melihat kelakuan Gayatri seperti itu menjadi terkejut. mereka berpikir, sejak kapan Gayatri bisa melakukan hal itu.

sesampainya Gayatri di puncak pohon tersebut. Gayatri langsung memetik beberapa buah-buahan yang akan mereka makan sekarang dan yang akan mereka bawa nanti. tangan Gayatri terus melayang memetik buah-buahan tersebut. sesekali ia menjatuhkan buah-buahan untuk dicicipi oleh kedua orang tua dan kakaknya.

"Kak, ayo tangkap..!!.."teriak Gayatri dari atas pohon. badiran yang tidak biasa tangkap menangkap seperti itu pun menjadi kelagapan. iya berpikir, kalau seandainya buah itu tidak tertangkap oleh tangannya maka wajah nyalah yang akan menjadi sasaran.

"eh.. kakak tidak pandai tangkap," ucap badiran kelagapan. namun tangannya sudah siaga apabila Gayatri memang melemparkan buah itu. ternyata, saat badiran bersuara Gayatri telah melempar buah tersebut dan alhasil karena tangkapannya melenceng maka wajahnya lah yang menjadi sasaran.

buk...

"aduh..!!" seru badiran. buah itu jatuh tepat mengenai dagunya. badiran pun tanpa mengatakan apa-apa langsung memungut buah tersebut. rasa penasaran terhadap buah itu membuat badiran cepat-cepat membersihkan buah itu dan melahapnya.

krauk... krauk...krauk...

sejenak badiran terdiam dan tidak mengucapkan sepatah kata pun. padahal kedua orang tua mereka sudah penasaran mendengar respon dari Putra mereka itu. tapi, sepertinya orang yang menjadi objek tidak memperdulikan apapun selain mengunyah buah apel itu. Gayatri yang melihat kedua orang tuanya melongol pun langsung mengucapkan hal yang sama.

"ayah, ibu tangkap buahnya.." ucap Gayatri sambil melempar buah ke arah kedua orang tuanya. respon Tuan seno pun sama seperti respon badiran ketika disuruh menangkap buah itu. bagi mereka ini adalah pertama kali mereka melakukan hal konyol seperti itu.

buk...

"aduh meleset..!!"ucap Tuan seno ketika buah itu keluar dari genggamannya. Tuan seno pun memungut buah itu dan cepat-cepat menyerahkannya kepada sang istri. istrinya dyaswari pun langsung menyambut baik buah tersebut dan mengikuti putranya memakan buah itu.

"ini enak pak... sangat manis.." ucap nyonya dyaswari dengan mulutnya yang masih penuh dengan buah apel itu. sejenak Tuan biaka menelan salivanya. tapi tiba-tiba, Iya mendongkak ke atas melihat sang Putri yang masih sibuk memetik buah-buahan itu.

"Aya, lempar satu lagi buat Ayah. setelah ini kamu turunlah, Ayah rasa buah yang ada di kantong itu telah penuh. lagi pula buahnya nanti akan rusak jika tidak dihabiskan hari ini."ucap Tuan seno. Gayatri pun langsung mengarahkan pandangannya ke bawah di mana Di sana terdapat keluarga kecilnya. Gayatri pun melihat kantong yang ia bawa ke atas memang sudah penuh.

"Baiklah yah.. Aya.. turun...!!" teriak Gayatri dari atas pohon. Gayatri pun langsung mengikat kantong tersebut dan menurunkannya dengan tali yang Gayatri ambil dari dalam sakunya. sebenarnya Gayatri mengambil tali itu di dalam ruang dimensinya. kemudian Gayatri mengikat dan menurunkannya disambut oleh ayah dan kakaknya. setelah itu Gayatri pun langsung bergegas turun dari atas pohon.

Gayatri yang turun dari atas pohon pun tak lepas dari penglihatan keluarga kecilnya itu. benar-benar lihai menurut mereka. mereka saja tidak berani memanjat pohon walaupun sangat pendek. tentu saja melihat Gayatri yang bisa memanjat seperti itu membuat mereka menjadi penasaran.

"aya dari mana kamu pandai memanjat pohon..??"tanya sama kakak kepadanya. Gayatri yang mendapatkan pertanyaan tersebut pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal. sementara kedua orang tua mereka menunggu jawaban dari Gayatri.

"hehehe. aya sering memanjat saat ayah ibu dan kakak pergi ke hutan untuk mencari bahan makanan. sebelum Aya sakit, aya sering melakukan hal itu tanpa sepengetahuan kalian.."ucap Gayatri dengan ragu-ragu. Iya takut dimarahi oleh kedua orang tuanya. biasanya kedua orang tuanya ini akan bersikap protektif kepada sang anak baik itu anak laki-laki maupun anak perempuan.

"ayah, kakak, dan ibu tidak marah kan..??" tanya Gayatri dengan takut-takut. Tuan seno yang melihat putrinya ketakutan itu pun menghela nafasnya pelan. bukannya ia marah melihat anaknya memanjat seperti itu, tapi lebih tepatnya Tuan biakta takut terjadi apa-apa dengan putrinya ini.

"Ayah tidak marah, hanya saja seorang perempuan tidak diwajibkan untuk memanjat pohon seperti itu. ada beberapa kemungkinan Kenapa perempuan dilarang memanjat."ucapkan seno. tapi ketika tuan seno melihat raut wajah putrinya yang menunduk. tuan seno tidak lagi melanjutkan ucapannya.

"yah sudah, tidak apa-apa, tapi lain kali jangan memanjat seperti itu.."ucap Tuan seno lagi. Gayatri yang mendengar penuturan ayahnya seperti itu pun mengukir senyum di bibirnya. Iya sangat senang kalau ayahnya tidak jadi memarahinya. kemudian setelah itu, mereka menikmati sedikit buah-buahan sebelum mereka melanjutkan perjalanan mencari bahan makanan.

"hehehe maafkan aya ya Ayah..!! kalau begitu kita istirahat terlebih dahulu sambil menikmati buah-buahan ini. setelah itu baru kita kembali melanjutkan perjalanan, bagaimana yah..??" tanya Gayatri kepada tuanmu seno. Tuan seno pun tersenyum. tentu saja ia merasa penasaran dengan rasa buah itu.

"ayo kalau begitu.." ujar tuan seno. mereka semua pun mendekat dan mengambil posisi duduk bersila dan menikmati buah-buahan itu. tuan seno terkejut tatkala merasakan rasa buah apel ini.

"mmm... ini sangat sangat manis.. padahal buah ini berbuah tak henti-henti, tapi ayah dan ibumu sama sekali tidak menghiraukannya karena khawatir buah ini beracun." ucap tuan seno dengan mulut yang masih dipenuhi dengan buah apel.

***bersambung***

Terpopuler

Comments

"ngotot" aja thor gk pake "me". malah jadi aneh🤔

2024-09-20

0

sahabat pena

sahabat pena

ambil yg banyak apek nya bisa di olah jadi salad buah, rujak, manisan, dan apel pie

2024-09-14

1

Septi Verawati

Septi Verawati

🥰🥰🥰🥰🍎🍎🍎

2022-12-02

0

lihat semua
Episodes
1 1. awal mula
2 2. mata air kehidupan
3 3. pergi kehutan sekeluarga
4 4. hasil hutan
5 5. membahas minyak goreng
6 6. buah kelapa
7 7. produksi minyak goreng
8 8. membudidayakan tanaman
9 9. menanam mentimun
10 10. berburu ayam hutan
11 11. menu istimewa
12 12. ikut ke pasar
13 13. ke pasar
14 14. rendang ayam
15 15. sendal swallow
16 16. niat ke kota raja
17 17. berpamitan
18 18. tiba di kota raja
19 19. anyaman dari rotan
20 20. anyaman rotan
21 21. gangguan
22 22. mencari toko yang akan dijual
23 23. toko bangunan
24 24. membeli penginapan bobrok
25 25. rumah makan yang elegan
26 26. alat-alat perabot
27 27. surat dari kota raja
28 28.pelanggan pertama
29 29. mantan pemilik toko
30 30. kegaduhan
31 31. kalahnya pendekar artaksa
32 32. kembali
33 33. bahaya
34 34. menangis
35 35. kembali ke kota raja
36 36. rumah baru
37 37. ingin berkunjung ke rumah makan
38 38. berkunjung
39 39. rencana menuntut ilmu
40 40. hari keberangkatan
41 41. munculnya sosok kakek tua
42 42. bertemu kakek sendiri
43 43. gosip
44 44. aura yang kuat
45 45. menolong
46 46. bertemu pangeran pandu
47 47. kedatangan adiwangsa
48 48. terkejut
49 49. niat kerja sama
50 50. masih menyelesaikan amanat
51 51. obat penawar racun
52 52. tingkat alam semesta
53 53. jatuh cinta
54 54. bergerak
55 55. aura penguasa
56 56. takluknya kedua makhluk mitologi
57 57. basa basi Rion
58 58. membuat Gayatri kesal
59 59. padepokan atau istana
60 60. sembuh
61 61. lembah lembayun
62 62. gadis-gadis centil
63 63. pembuat onar
64 64. 10 pemuda
65 65. kebenaran
66 66. kebenaran II
67 67. hari turnamen
68 68. penolakan ibu suri
69 69. walaupun hanya seorang rakyat jelata
70 70. pembelaan dari Raja Majapahit
71 71. membeli budak
72 72. pohon kurma
73 73. buah yang manis
74 74. ternyata seorang pangeran
75 75. merasa takjub
76 76. makanan yang enak
77 77. mengutarakan niat
78 78. ramalan
79 79. padi dan gandum
80 80. tanda-tanda
81 81. meminta bantuan atau pun solusi
82 82. penyesalan
83 83. sofa
84 84. akhirnya menikah
85 85. rencana penyerangan
86 86. harus ikut
87 87. pasukan pangeran Arga
88 88. mulai bersiap
89 89. bom
90 90. end
Episodes

Updated 90 Episodes

1
1. awal mula
2
2. mata air kehidupan
3
3. pergi kehutan sekeluarga
4
4. hasil hutan
5
5. membahas minyak goreng
6
6. buah kelapa
7
7. produksi minyak goreng
8
8. membudidayakan tanaman
9
9. menanam mentimun
10
10. berburu ayam hutan
11
11. menu istimewa
12
12. ikut ke pasar
13
13. ke pasar
14
14. rendang ayam
15
15. sendal swallow
16
16. niat ke kota raja
17
17. berpamitan
18
18. tiba di kota raja
19
19. anyaman dari rotan
20
20. anyaman rotan
21
21. gangguan
22
22. mencari toko yang akan dijual
23
23. toko bangunan
24
24. membeli penginapan bobrok
25
25. rumah makan yang elegan
26
26. alat-alat perabot
27
27. surat dari kota raja
28
28.pelanggan pertama
29
29. mantan pemilik toko
30
30. kegaduhan
31
31. kalahnya pendekar artaksa
32
32. kembali
33
33. bahaya
34
34. menangis
35
35. kembali ke kota raja
36
36. rumah baru
37
37. ingin berkunjung ke rumah makan
38
38. berkunjung
39
39. rencana menuntut ilmu
40
40. hari keberangkatan
41
41. munculnya sosok kakek tua
42
42. bertemu kakek sendiri
43
43. gosip
44
44. aura yang kuat
45
45. menolong
46
46. bertemu pangeran pandu
47
47. kedatangan adiwangsa
48
48. terkejut
49
49. niat kerja sama
50
50. masih menyelesaikan amanat
51
51. obat penawar racun
52
52. tingkat alam semesta
53
53. jatuh cinta
54
54. bergerak
55
55. aura penguasa
56
56. takluknya kedua makhluk mitologi
57
57. basa basi Rion
58
58. membuat Gayatri kesal
59
59. padepokan atau istana
60
60. sembuh
61
61. lembah lembayun
62
62. gadis-gadis centil
63
63. pembuat onar
64
64. 10 pemuda
65
65. kebenaran
66
66. kebenaran II
67
67. hari turnamen
68
68. penolakan ibu suri
69
69. walaupun hanya seorang rakyat jelata
70
70. pembelaan dari Raja Majapahit
71
71. membeli budak
72
72. pohon kurma
73
73. buah yang manis
74
74. ternyata seorang pangeran
75
75. merasa takjub
76
76. makanan yang enak
77
77. mengutarakan niat
78
78. ramalan
79
79. padi dan gandum
80
80. tanda-tanda
81
81. meminta bantuan atau pun solusi
82
82. penyesalan
83
83. sofa
84
84. akhirnya menikah
85
85. rencana penyerangan
86
86. harus ikut
87
87. pasukan pangeran Arga
88
88. mulai bersiap
89
89. bom
90
90. end

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!