keesok harinya. seperti yang tuan Senopati katakan kemarin, Iya dan istrinya pun langsung bergegas ke dalam hutan untuk mengambil dan mencari bahan yang akan mereka jual kembali. beruntung tak ada para warga yang mengetahui keberadaan buah-buahan itu, jadi saat mereka pergi untuk mengambil kembali buah-buahan itu masih ada dan banyak di atas dahannya.
sementara Gayatri dan kakaknya. mereka langsung mempersiapkan diri untuk memproduksi minyak kelapa itu. pertama-tama mereka mulai menyiapkan dan membelah dua kelapa itu. mereka juga menyiapkan mesin parutan secara manual. tak lupa Gayatri membentangkan tikar yang luas di bawah parutan itu.
Setelah semuanya sudah siap dan tersedia. mereka berdua pun mulai memarut kelapa itu satu persatu sampai habis. mereka melakukan hal itu cukup memakan waktu yang lama. Bagaimana tidak, dengan hanya menggunakan parutan kelapa secara manual tentu saja membutuhkan waktu berjam-jam. mengingat kelapa yang mereka parut itu tidaklah sedikit. tak ada juga yang membantu mereka melakukan hal itu.
akhirnya tanpa pantang mundur, mereka Mereka pun langsung menyelesaikan parutan kelapa yang bertumpuk-tumpuk itu. setelah mereka selesai memarut kelapa-kelapa itu, terlebih dahulu mereka mengistirahatkan tubuh mereka.
"ah sangat melelahkan... Apakah kamu yakin dek semuanya akan berhasil.?" tanya Mbak Diran masih meragukan keberhasilan mereka.
"tentu saja kak. nanti kalau sudah jadi, kita akan langsung menjajakannya di pasar." ucap Gayatri lagi. saat mereka sedang beristirahat, tak lama kedua orang tua mereka pun pulang dari hutan mencari bahan makanan sekaligus untuk jualan mereka. saat kedua orang tua mereka pulang, Mereka terkejut mendapatkan setumpuk serbuk putih yang sudah selesai diparut bertumpu di atas sebuah karpet yang telah dibentangkan.
"apa ini nak..??" tanya Tuan Senopati sambil meletakkan keranjang yang berisi dengan buah-buahan dan sayur-sayuran begitu juga dengan nyonya diaswari.
"itu adalah kelapa yah. aku dan kakak akan memproduksi minyak goreng. setelah sudah selesai produksi minyak gorengnya akan kami jual ke pasar." ucap Gayatri lagi.
kedua orang tua mereka tidak memprotes lagi karena jauh sebelumnya mereka sudah membahas masalah minyak goreng. saat mereka sedang bercakap-cakap ringan Gayatri langsung mengarahkan pandangannya ke arah ke ranjang yang diletakkan oleh kedua orang tuanya itu. sontak saja matanya langsung berbinar mendapati buah yang menjadi favoritnya.
"wah ada rambutan nih... Ayah boleh minta tidak..??" tanya Gayatri meminta izin kepada ayahnya. Tuan Senopati yang mendapatkan pertanyaan meminta izin seperti itu ingin membantah, Kenapa harus meminta izin segala.
"ambil saja nak, ayah dan ibu mencarinya ke hutan memang untuk kita makan. Jadi kalian tidak perlu meminta izin untuk mengambil buah-buahan itu." tutur Tuan Senopati ketika ia sudah selesai meneguk minumannya.
tanpa pikir panjang Gayatri pun langsung menyambar buah rambutan yang ada di keranjang ayahnya. Begitu juga dengan kakaknya badiran, Iya menyambar buah lengkeng dan satu buah apel yang baru dipanen oleh kedua orang tua mereka. sementara nyonya diaswari mulai mengikat-ikat sayur-sayuran yang akan mereka jual nanti. dan juga mengonggok-onggok buah-buahan.
"mmm... sangat manis..." ucap Gayatri di sela-sela ia mencicipi buah rambutan itu. Tuan Seno dan keluarganya yang melihat kekonyolan sang anak pun terkekeh.
"pelan-pelan saja makannya. Tak kan ada yang berebut denganmu.." ucap Tuan Senopati menggoda putrinya. setelah Tuan Senopati dan nyonya diaswari selesai mengonggok-onggok sayur dan buah-buahan itu. Mereka pun langsung pamit untuk berjualan ke pasar.
***
di pasar. Tuan Senopati dan istrinya kali ini lebih awal daripada kemarin. mereka langsung mengambil posisi tempat mereka menjajalkan jualan itu. Tuan Senopati dan nyonya diaswari pun mulai mengeluarkan dagangan mereka dari dalam keranjang.
para pengunjung pasar yang sudah menunggu kedatangan Mereka pun langsung berebut untuk membeli buah-buahan yang baru mereka rasakan ini. Bagaimana tidak, mereka hanya mengetahui buah-buahan pisang saja. mereka tidak mengenal dengan yang namanya buah rambutan lengkeng apel ataupun semacamnya.
jadi saat Tuan Seno dan istrinya kemarin menjajalkan buah-buahan itu. para pelanggan langsung tertarik dan tentu saja banyak yang menunggu kedatangan Mereka lagi. tak hanya buah-buahan yang habis diborong, semua barang atau jualan suami istri itu pun ludes diborong oleh para pembeli.
"syukurlah pak... hari ini kita pulang lebih cepat. dan dagangan kita juga laris manis.. mudah-mudahan seperti ini terus setiap harinya.." ucap nyonya diaswari. Tuan Senopati juga setuju dan mengangguk.
"Iya Bu bapak juga sangat bersyukur.. ternyata buah-buahan ini sangat manis dan laris." ucap Tuan Senopati.
"kalau uangnya sudah terkumpul Pak. alangkah baiknya kita berjualan ke kota kerajaan saja. lagi pula jarak tempuhnya tidak terlalu lama jika menggunakan kereta."tutur nyonya diaswari.
"iya Bu. Tapi bapak tidak mungkin meninggalkan ibu dan anak-anak sendirian di pinggiran desa apalagi dekat hutan. bukannya bapak tidak mempercayai kalian, hanya saja bapak tidak akan tenang jika bapak pergi sendiri dan meninggalkan kalian dalam waktu yang lama." ucap Tuan Senopati mengkhawatirkan keluarganya.
"sudahlah Pak nanti kita bicarakan kepada anak-anak. sebaiknya kita siap-siap dan segera pulang." Mereka pun bersiap-siap. orang-orang menatap mereka dengan perasaan iri. melihat dagangan sepasang suami istri itu cepat habis dan laris manis.
setelah mereka beres-beres, Mereka pun langsung meninggalkan pasar dan langsung pulang kembali ke rumah gubuk mereka.
***
di tempat lain. selepas kepergian kedua orang tua mereka,, Kakak Adik itu pun mulai memisahkan atau memeras parutan kelapa itu. sampai santan kelapa itu terkumpul sebanyak 3 gentong besar. Setelah itu mereka langsung menyalahkan api yang sangat besar di tungku dan memasak tiga gentong santan yang sudah mereka peras itu.
Gayatri juga tak henti-hentinya mengarahkan sang kakak untuk memproduksi minyak goreng itu. setelah mereka selesai dan menunggu santan itu mendidih, Gayatri dan badiran kembali melanjutkan pekerjaan mereka memeras santan yang masih belum usai. setelah perasaan terakhir, mereka mendapatkan satu gentong santan kental lagi.
Setelah itu mereka beralih kepada pengadukan santan yang saat ini telah mendidih. 1 jam 2 jam 3 jam sampai 5 jam lamanya, baru santan itu mulai berubah menjadi minyak goreng.
saat itu juga kedua orang tua mereka pulang dari pasar. mereka masuk dan menyapa kedua anak mereka yang saat ini sedang sibuk mengaduk-aduk minyak goreng yang sudah jadi.
"wah !! apakah ini namanya minyak goreng.. tanya Tuan Senopati. mereka yang mendengar suara sang ayah pun langsung mengarahkan pandangannya kepada tuan Senopati dan nyonya diaswari.
"eh ayah dan ibu sudah pulang.. tumben pulangnya cepat. ??" tanya Gayatri dengan terus fokus pada minyak yang sedang menggeletup itu.
"Iya nak, dagangan Ayah dan Ibu hari ini laris manis. bahkan hanya 3 jam saja semua sayur dan buah-buahan serta dagangan lainnya pun ludes dibeli oleh para pembeli. karena itu Ayah dan Ibu pulangnya lebih awal." tutur Tuan Senopati.
Iya mendekat ke arah tungku yang sedang memasak minyak goreng itu. tanpa merasa lelah Tuan Seno juga membantu anak-anaknya mengaduk-aduk minyak goreng yang panas tersebut. Gayatri yang melihat ayahnya mendekat dan membantu mereka pun langsung bertanya.
"Ayah tidak lelah..?? istirahatlah dulu ya biarkan kami yang memasak minyak goreng ini." ucap Gayatri.
"tidak apa-apa nak. Ayah tidak lelah.." ucap Tuan Seno sudah berdiri sejajar dengan kedua anaknya itu. nyonya diaswari pun tidak mau tinggal diam. tiga gentong sudah ada yang mengaduk, sekarang tinggal satu gentong lagi tidak ada yang menanganinya.
"Ibu juga akan ikut. jadi satu orang satu ya.." ucap nyonya diaswari. mereka semua pun bekerja sama dan saling bahu membahu membuat minyak goreng itu.
ternyata selama satu jam mereka mengaduk, akhirnya minyak goreng itu matang juga. minyak goreng itu juga melimpah ruah. melihat keberhasilan mereka, tentu saja itu merupakan kesenangan tersendiri untuk mereka.
"wah ternyata sudah jadi..." ucap badiran mengagumi kerja keras mereka. saat minyak goreng itu selesai mereka masak, ternyata hari sudah mulai gelap. bahkan mereka belum sempat memasak masakan untuk makan malam mereka.
karena mereka belum memasak makan malam. karena sudah terlanjur basah, Mereka pun langsung memasak untuk makanan mereka secara bersamaan. ada yang mau masak itu, dan ada yang memasak ini. sehingga pekerjaan mereka cepat selesai.
***bersambung***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
gun ting tang
belum tahu cars permentasi santan jadi bikinnya cuma sebentar
2025-01-02
0
Daniela Whu
brp sih umur mereka adik kakak kok sdh bisa bikin minyak sendri.. berat lo itu ngadukx sj laaaammmmaaaa
2024-09-12
1
Daniela Whu
kok mbak sih kan cowok kakak x aya 🤗
2024-09-12
0