keluarga itu masih setia mendengarkan penjelasan Gayatri mengenai makanan-makanan langka yang baru mereka tahu keberadaannya dan manfaatnya. termasuk ubi jalar yang tak hanya bisa direbus Namun ternyata juga bisa digoreng. tapi yang jadi pertanyaan di kepala mereka, Apa itu goreng..??
seumur-umur mereka belum pernah mendengar kata goreng, apalagi makanan yang digoreng. mereka hanya tahu dengan sistem rebus rebus dan rebus. tak ada istilah panggang, goreng, atau lainnya. karena merasa penasaran dengan kata goreng itu, Diran sang kakak langsung menanyakannya kepada Gayatri.
"Aya, apa itu goreng dek..?" tanya Diran dengan sejuta penasaran di dalam hatinya. Gayatri kembali mencolos, Apakah sebegitu ketinggalan zamannya, sampai kata goreng dan menggoreng saja mereka tidak tahu.
"Kak goreng itu, seperti memasak ikan di dalam minyak panas. dan rasanya akan lebih garing dan enak." ucap Gayatri lagi. badiran yang masih belum mengerti hanya menganggu-anggukan kepalanya Begitu juga dengan kedua orang tua mereka.
Gayatri yang menyadari bahwa kakaknya Masih belum paham mengenai penjelasannya itu, Ia pun kembali bertanya kepada sang kakak dan kedua orang tuanya.
"Apakah di sini ada minyak..??" tanya Gayatri.
"Ada nak, tapi minyak itu digunakan hanya untuk obat-obatan tradisional dan bukan hal yang lain." ucap Tuan Senopati. menurut mereka, minyak yang berasal dari lemak daging yang Gayatri maksud.
"memangnya minyak itu bisa menggoreng.??" tanya mereka lagi karena belum puas mendapatkan jawaban dari sang adik. pertanyaan ambigu yang dilontarkan oleh kakaknya Diran itu sukses membuat Gayatri geleng-geleng kepala.
"Ya sudah Kak begini saja.. Apakah di sini ada kelapa yang sudah tua..??" tanya Gayatri lagi. lagi-lagi kedua orang tuanya dan saudaranya menggelengkan kepala. bukan karena tidak ada, Namun karena mereka tidak tahu apa itu kelapa.
"hm.. Apa itu kelapa nak..?? seumur-umur Ayah baru mendengar namanya.." ucap Tuan Senopati dengan tampang bodoh tak mengerti. melihat ekspresi lucu ayahnya itu Gayatri terkekeh. Iya kehabisan kata untuk menjelaskan apa itu kelapa dan apa itu goreng.
"em... begini saja yah. nanti aya akan buktikan atau carikan dulu buah kelapa, baru nanti aya akan tunjukkan bagaimana cara membuat minyak goreng dan cara menggoreng. untuk sekarang, ubinya sudah matang. Tapi Ayah ingin mengatakan mau menjual hasil hutan yang baru saja kita cari..??" ucap Gayatri kembali menyadarkan sang ayah dengan niat awalnya.
Gayatri pun langsung meniriskan ubi yang sudah mereka rebus tadi. lalu Tri juga memindahkan sebagian untuk ayahnya bawa sebagai bekalnya di perjalanan.
tak lama Gayatri pun menyediakan dan meletakkan ubi yang sudah direbus tadi di atas piring dan memanggil keluarganya untuk mencicipi makanan tersebut.
"ayo ayah, ibu, kakak. silakan dimakan. tidak perlu khawatir ini rasanya enak." ucap Gayatri sambil mengambil satu potong ubi yang ada di piring itu kemudian memasukkannya ke dalam mulutnya. kedua orang tuanya dan kakaknya yang melihat itu pun hanya mampu meneguk saliva mereka. Mereka ingin mendengar penuturan atau pendapat dari Gayatri terlebih dahulu.
Namun karena Gayatri mengacuhkan mereka dan menikmati makanannya, keluarganya pun tak lagi menunggu Gayatri memberikan pernyataan atau ultimatum tentang makanan ini. dengan ragu-ragu mereka bertiga mengambil potongan-potongan ubi yang sudah direbus tadi dengan pelan dan langsung memasukkannya ke dalam mulut mereka.
saat ubi tersebut menyapa indra perasa mereka, ketiganya sontak membulatkan mata mereka. menurut mereka bagaimana rasanya begitu manis, padahal tadi Gayatri tidak mencampurkan apapun kecuali air dan ubi ini.
"Aya... Kenapa rasa ubi ini sangat manis..?? Apakah kamu mencampurkan sesuatu dek..??" tanya Diran kepada Gayatri. Gayatri tersenyum tatkala mendapati pertanyaan dari sang kakak.
"tentu saja tidak Kak, rasa manis itu memang langsung dari tubuhnya sendiri."ucap Gayatri. sementara kedua orang tua mereka tidak memperdulikan percakapan kecil anak-anak mereka itu. mereka larut dalam kenikmatan ubi jalar yang sudah mereka rebus dan memakannya tanpa henti. badiran yang melihat kedua orang tuanya memakan ubi tersebut tanpa henti pun protes.
"ayah, ibu sisakan untuk Diran dan adik.."protes badiran tatkala melihat kedua orang tuanya memakan makanan tersebut tanpa memperdulikan apapun. kedua orang tua mereka yang mendengar protes sang anak pun tersenyum malu-malu.
"hehehe.. maafkan ayah dan ibu nak, rasanya sangat enak dan tentu saja baru pertama kali kita merasakan makanan seperti ini. buah ini banyak tumbuh di hutan Namun kita tidak tahu khasiatnya dan kegunaannya. andai saja dulu kita tahu bahwa ubi ini bisa dimakan pasti kita tidak akan kelaparan." ucap Tuan Senopati.
"sudahlah Kak nanti kan bisa dimasak lagi. Ayah sepertinya buru-buru mau pergi jualan sebelum matahari terbenam nanti." ucap Gayatri lagi. Gayatri memang memasak cukup banyak karena ia tahu bahwa waktu mereka berangkat ke hutan untuk mencari bahan makanan mereka hanya memakan makanan yang tersisa. itu pun jumlahnya tidak seberapa. jadi ketika Gayatri memasak ubi sebagai bukti dan percobaan Gayatri malah memasak banyak, sekalian untuk makan siang mereka.
"Ibu juga akan ikut pergi berjualan bersama ayah. jadi kakak dan adik di rumah saja Tidak perlu kemana-mana." ucap nyonya diaswari. Tuan Senopati juga setuju. semenjak anak-anaknya sembuh dari penyakit kusta tersebut, Tuan Senopati tak sekalipun mengizinkan putranya di ran pergi menemaninya belanja atau berjualan ke pasar. Iya tidak ingin wanita-wanita bangsawan itu meminta dan memaksa kehendak mereka kepada putranya.
"iya, Ayah juga setuju dengan penuturan Ibu kalian. sebaiknya kakak sama adik di rumah saja dan jangan kemana-mana. tunggu bapak dan Ibu pulang." ucapkan Senopati.
Tuan Senopati dan nyonya diaswari memiliki alasan sendiri mengatakan anak-anaknya tidak perlu ke mana-mana. karena jauh di dalam lubuk hati mereka yang paling dalam, kedua anak mereka ini pasti ingin sekali meringankan beban mereka.
"Baiklah Yah, baiklah Bu, Diran akan di sini menemani adik Diran yang nakal ini. ayah sama ibu hati-hati di jalan, jika tidak ada yang terjual jangan menunggu sampai malam hari." ucap badiran menasehati kedua orang tuanya. bukan tidak mungkin badiran menasehati kedua orang tuanya, pasalnya kedua orang tuanya ini banting tulang tanpa mengenal waktu.
"Baiklah nak kalau begitu.." ucap Tuan Senopati. setelah mereka selesai mencicipi ubi rebus itu, Tuan Senopati dan nyonya diaswari pun langsung bersiap-siap untuk berangkat ke pasar menjual hasil hutan Mereka.
Gayatri juga membantu kedua orang tuanya untuk mengonggok buah rambutan itu dan mengikatnya dengan rapi. agar para pembeli dan kedua orang tuanya tidak kerepotan mencari tempat untuk buah rambutan itu. tak hanya buah rambutan buah lengkeng pun ikut mereka jajakan.
setelah kedua orang tua Gayatri merasa sudah cukup dan lengkap. Mereka pun langsung berangkat berjualan ke pasar dengan matahari yang sudah berada di atas kepala. Beruntungnya, pasar itu tak berada di dalam pusat kota. pasar kecil-kecilan itu berada di perkampungan yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggal mereka. dan untungnya pasar itu buka dari pagi sampai menjelang malam hari.
***
selepas kepergian kedua orang tua mereka. Gayatri pun langsung melihat ke arah sang kakak yang masih membereskan tungku dan beberapa peralatan yang baru saja mereka gunakan tadi.
"Kak, temani Gayatri untuk mencari buah kelapa. Kalau tidak salah di sekitar daerah ini Gayatri melihat ada pohon kelapa yang buahnya sudah berjatuhan." ucap Gayatri kepada kakaknya itu. badiran berpikir, bener juga apa yang diutarakan oleh adiknya. lebih baik mencari dan menemukan seperti apa buah kelapa itu. Iya juga masih penasaran dengan cara pengolahan minyak goreng yang katanya bisa menggoreng ubi jalar itu.
"Baiklah tapi kita jangan lama-lama ya dek, nanti Kakak kena omel sama ibu.." ucap badiran. Diran sebenarnya setengah Hati mengiyakan ajakan adiknya, namun semenjak Gayatri bangun dari tidur panjangnya itu sifatnya benar-benar berubah. jika permintaannya tidak disetujui atau tidak mau menemani Gayatri pergi, maka Gayatri dengan senang hati akan pergi sendiri. tentu saja sebagai seorang kakak tidak akan membiarkan adiknya pergi seorang diri apalagi pergi mengelilingi hutan.
Gayatri yang mendengar penuturan sang Kakak pun menggoda kakaknya itu.
"iya iya kak, Aya baru tahu ternyata kakak sangat takut diomeli oleh ibu." ucap Gayatri menyindir kakaknya itu. Diran pun hanya menyedihkan bibirnya tanpa menimpali ucapan sang adik.
setelah ia selesai membereskan tempat yang mereka pakai saat mencicipi ubi jalar itu, Diran pun langsung mengambil satu keranjang yang tadi ia bawa ke hutan.
"ayo berangkat, Kakak penasaran dengan buah kelapa itu. Apakah buah kelapa itu juga bisa dimakan dek..??" tanya Diran.
"tentu saja bisa Kak. air kelapa itu sangat memiliki banyak manfaat untuk kesehatan tubuh. isinya juga sangat enak untuk dimakan saat panas-panas seperti ini." tutur Gayatri yang tentu saja membuat kakaknya semakin penasaran.
"Ya sudah, ayo kita cari.." ucap Diran lagi.
tak menunggu waktu lama Mereka pun langsung pergi mencari buah kelapa. ternyata buah kelapa itu tumbuh subur di sekitaran tempat tinggal mereka. buktinya tak jauh mereka jalan meninggalkan gubuk mereka itu, mereka langsung bertemu dengan pohon kelapa yang menjulang tinggi dengan buah yang padat. Gayatri tentu saja sangat senang melihat hal itu.
"lihat Kak !! kita sudah menemukan buah kelapa itu.." ucap Gayatri dengan riang gembira. Diran pun langsung mengarahkan pandangannya ke arah yang ditunjuk oleh adiknya itu. alangkah terkejutnya badiran melihat pohon yang begitu tinggi dan menjulang ke atas langit. Iya terkejut. setahunya buah kelapa ini benar-benar tidak memiliki banyak manfaat yang hanya diabaikan oleh mereka dan bahkan para penduduk setempat yang datang berburu ke hutan ini.
"kamu yakin ini adalah pohon kelapa dek..??" tanya Diran dengan tampang bodohnya. Gayatri pun tidak peduli lagi, Iya langsung mengumpulkan kelapa-kelapa yang sudah jatuh di dekat pohonnya itu satu persatu. kemudian meminta tolong kepada sang kakak untuk sama-sama mengupas kulit kelapa itu.
"Kak ayo kita kupas kulitnya. karena kalau kita bawa beserta dengan kulit-kulitnya, kita hanya akan dapat sedikit." ucap Gayatri lagi. Diran pun tidak bertanya lagi, Iya langsung mendekat ke arah sang adik dan membantu adiknya untuk mengupas kulit kelapa itu.
Gayatri yang melihat buah kelapa yang banyak itu, iya berpikir sejenak. tidak mungkin mereka akan menyelesaikan mengupas kulit buah kelapa ini tanpa bantuan alat lainnya. apalagi sang kakak sepertinya kesulitan membuka dan memisahkan kulit kelapa dengan tempurungnya. iya berpikir sejenak.
sebenarnya Gayatri memiliki alat pengupas batok kelapa itu di dalam ruang dimensinya. namun tidak mungkin ia mengeluarkannya di depan mata kakaknya. bisa-bisa kakaknya akan bertanya dan pasti Gayatri tidak bisa menjawabnya. Gayatri terus berpikir dengan otak kecilnya itu. tiba-tiba, kepalanya langsung terlintas sebuah ide.
"Kak tolong pinjamkan aku golok Kakak sebentar." ucap Gayatri sambil meminta golok yang ada di tangan kakaknya. Diran pun langsung terkejut tidak mungkin di run akan membiarkan adiknya memegang benda keras itu.
"untuk apa, kakak tidak akan membiarkanmu memegang benda keras ini dengan tanganmu katakan saja apa yang kamu inginkan.." ucap Diran lagi. Gayatri menghela nafasnya kasar.
" huf... kalau begitu carikan Gayatri sebuah tongkat kayu yang kokoh dan tajamkan atau runcing kan ujungnya." ucap Gayatri. walaupun badiran meragukan permintaan sang adik, Diran tetap mencari kayu dan membuat ujung kayu itu seperti yang Gayatri harapkan.
***bersambung***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
nila elfianti
ni sprt cerita baili ,pot emas era 70, seru ceritanya,
2023-03-10
0
Lailatulfitriah Fitri
semangat up thor
2023-01-03
1
Nur
mantapppp
2022-12-25
0