mohon koreksinya teman2. jika ada typo atau lainnya 🙏🙏😘
****
tak lama benda yang diminta Gayatri pun selesai dibuat oleh kakaknya. Gayatri pun langsung mengarahkan sang kakak untuk menancapkannya ke dalam tanah. Diran pun hanya menurut mengikuti instruksi sang adik. akhirnya alat untuk membuka batok kelapa itu pun selesai. Gayatri menatap benda itu dengan perasaan Takjub.
"kakak hebat. tak sia-sia punya kakak yang tampan dan bisa segalanya." ucap Gayatri memuji kakaknya sambil mengacungkan jempol nya kepada sang kakak.
badiran yang mendapat pujian tulus dari adiknya itupun tersenyum kikuk. ia menggarut kepalanya yang tidak gatal. Iya benar-benar salah tingkah mendapat pujian dari adiknya itu.
"apapun untukmu dek, pasti akan Kakak lakukan.." ucap Diran Kembali. Gayatri pun langsung mengambil satu buah kelapa dan mencoba alat tersebut. dengan kelihayannya di zaman modern dulu, dengan mudahnya Gayatri memisahkan batok dengan tempurungnya. Lagi-lagi badiran yang melihat kelihatan sang adik pun tercengang kembali.
iya berpikir, Kenapa adiknya ini banyak sekali kepandaiannya. alangkah malu dirinya, karena tidak mengetahui apa-apa dan tidak memikirkan apapun untuk mempermudah pekerjaan mereka.
namun di sisi lain, badiran juga khawatir benda itu akan mengenai adiknya. pasalnya runcingan pada kayu tersebut sangat kelihatan tajam.
"aya... Apakah tanganmu tidak sakit dek.. kakak saja yang melihatmu seperti ini sangat merasa ngeri." ucap badiran. Gayatri hanya tersenyum melihat kekhawatiran kakaknya.
"Kakak tenang saja. Aku sedang berusaha untuk belajar membiasakan pekerjaan ini. ketika kelapa-kelapa ini sudah terkumpul, maka kita akan memproduksi minyak kelapa. setelah kita memproduksi minyak kelapa kita juga bisa menjualnya dan menghasilkan pundi-pundi uang." tutur Gayatri sambil terus mengerjakan pekerjaannya. Diran pun berpikir, ia mengatakan kepada dirinya sendiri. memang sudah sepantasnya mereka bangkit dan membantu mengangkat perekonomian keluarga mereka.
tanpa pikir panjang lagi, Diran pun kembali mencari kayu dan membuatnya seperti semula. Iya benar aja bukan ujung kayu itu dan setelah selesai ia langsung menancapkannya ke dalam tanah dan mengikuti apa yang dilakukan oleh adiknya. saat Diran mencobanya, ternyata memisahkan batok dengan tempurungnya sangat mudah.
Mereka pun bekerja sama memisahkan kulit dengan batang kurung kelapa itu. selama 2 jam, akhirnya semua kelapa-kelapa yang mereka kumpulkan selesai mereka pisahkan dengan batoknya. terlihat kelapa-kelapa yang sudah dikupas itu menggunung di gundukan tanah. Untung saja tempat tinggal mereka dengan jarak tempat mereka mengupas kelapa kelapa itu tidak jauh. sehingga tidak menyusahkan mereka untuk membawa kelapa kelapa itu walaupun harus bolak-balik dari sana.
***
matahari pun mulai tenggelam. terlihat kedua orang tua mereka pulang dengan senyum yang mengembang di bibir mereka. ternyata barang dagangan yang mereka bawa habis ludes tak bersisa. setelah dagangan kedua orang tua mereka itu habis, keduanya pun langsung berbelanja membeli beras dan kebutuhan pokok lainnya. tentu saja uang tersebut tidak langsung habis.
"ayah dan ibu sudah pulang.." ucap Gayatri terkejut melihat kedua orang tuanya sudah duduk di luar sambil melepas lelah. sementara Diran dan Gayatri berada di dalam mengerjakan pekerjaan rumah. jadi Gayatri cukup terkejut ketika ia keluar kedua orang tuanya telah berada di luar gubuk mereka.
Gayatri yang melihat senyum yang mengembang dan wajah ceria kedua orang tuanya itu pun menjadi heran. Iya bertanya-tanya apa yang menyebabkan kedua orang tuanya ini menyunggingkan senyum yang sangat manis.
"Ada apa ayah dan ibu tersenyum seperti itu..? Apakah baru dapat berkah..??" tanya Gayatri dengan sedikit menggoda kedua orang tuanya. tentu saja Gayatri dapat menembak hal yang membahagiakan kedua orang tuanya itu, melihat kedua keranjang yang mereka bawa dapat Gayatri simpulkan bahwa dagangan yang dijual ke pasar itu laris manis.
"syukurlah nak semua dagangan kita habis terjual. bahkan banyak pelanggan yang memesan buah rambutan apel dan kelengkeng itu kembali. jadi besok ayah berencana untuk pergi ke hutan mengambil buah-buahan itu kembali dan juga ubi jalar lagi. ternyata banyak yang menyukai ubi tersebut." tutur Tuan Senopati. Gayatri memicingkan matanya mendengar penuturan ayahnya.
"dari mana Ayah tahu bahwa mereka menyukai buah itu..??" tanya Gayatri lagi.
"kan ayah dan ibu membawa beberapa ubi yang sudah direbus ke pasar. jadi beberapa pelanggan yang masih merasa ragu tentang buah ini, ayah kasihkan ubi yang direbus itu untuk mereka coba. alhasil mereka sangat menyukainya, apalagi teksturnya sangat lembut." jelas Tuan Senopati lagi. saat mereka sedang bercakap-cakap tiba-tiba badiran pun ikut keluar.
"eh ayah dan ibu sudah pulang... Bagaimana yah, Bu. Apakah semuanya baik-baik saja..??" tanya Diran kepada kedua orang tuanya. Tuan Senopati pun tersenyum.
"tentu saja nak, semuanya laris manis.. Tapi saat ini ayah dan ibu sangat merasa lapar.." ucap Tuan Senopati sambil memegangi perutnya. Gayatri pun tersenyum.
"Ayah dan Ibu tenang saja, aku dan kak Diran sudah masak dan semuanya sudah beres. tapi sebelum kita makan alangkah baiknya ayah dan ibu membersihkan diri terlebih dahulu." ucap Gayatri lagi. kedua orang tua mereka pun setuju dan beranjak untuk membersihkan tubuh mereka sebelum akhirnya mereka makan malam.
namun sebelum mereka masuk ke dalam rumah, Tuan Senopati langsung angkat suara. Iya ingin menyerahkan sisa uang koin yang mereka dapatkan kepada sang anak.
"Aya... Ayah punya beberapa koin yang tersisa. tadi ayah dan ibumu berbelanja membeli beberapa kebutuhan pokok lainnya. maafkan ayah karena hanya ini sisa uang yang tertinggal.." ucapkan Senopati sambil menyerahkan beberapa koin perak di tangan putrinya. Gayatri pun menjadi bingung sendiri, Kenapa uang hasil belanja hari ini malah diberikan kepadanya.
"Kenapa tidak ayah dan ibu simpan saja, lagi pula Aya masih belum membutuhkannya.." ucap Gayatri. Tuan Senopati pun tersenyum.
"tidak apa-apa nak, kalian simpanlah uang ini untuk masa depan kalian nanti. dan besok-besok ayah juga akan menyerahkan uang kepada kalian untuk kalian kelola sendiri." tutur Tuan Senopati. setelah menyerahkan koin perak ke tangan kedua anaknya itu, Tuan Senopati pun langsung meninggalkan kedua anaknya yang masih terbangong-bengong. namun Diran langsung angkat suara.
"simpan saja dulu dek. mungkin Ayah ingin kita menabung untuk masa depan kita dari hasil jerih payah ayah dan ibu. mungkin Ayah masih merasa belum memberikan apa-apa kepada kita." ucap badiran menjelaskan kepada adiknya. entah kenapa Gayatri meneteskan air matanya, Iya meneteskan air matanya bukan karena sedih melainkan karena terharu melihat perhatian sang ayah kepada mereka.
"Baiklah akan aya simpan dan tabung uang ini.." ucap Gayatri lagi. Gayatri pun langsung menyelipkan uang koin itu ke dalam bajunya.
Gayatri dan badiran, yang sudah siap terlebih dahulu. mereka duduk di luar sambil tenggelam dalam pemikiran mereka masing-masing. tapi tiba-tiba sang kakak bersuara membuyarkan lamunan mereka.
" Oh ya dek, lalu kelapa itu mau kita apakan..??" tanya Diran kepada Gayatri. Gayatri pun berpikir sejenak. tentu saja kelapa itu akan mereka parut isinya. namun yang menjadi masalah, di mana Gayatri bisa mendapatkan parutan itu. otaknya berpikir dan terus berpikir mencari cara untuk mendapatkan mesin parutan kelapa. tapi tiba-tiba suara yang sudah lama tidak Gayatri dengar pun kembali terdengar.
"Rumi kamu memiliki mesin parut di dalam ruang dimensi. tapi yang menjadi kendala adalah, di sini tidak ada energi listrik untuk membuat benda itu bekerja. tapi masih ada satu cara lagi. kamu bisa menggunakan parutan secara manual hanya dengan menggerakkan kaki saja." tutur Rion dalam telepatinya. sejenak Gayatri pun terkejut, untuk sesaat ia benar-benar melupakan bahwa ruang dimensinya itu terdapat apa saja di dalamnya yang ia butuhkan.
( Oh iya aku hampir melupakannya.. terima kasih ya Rion.. nanti malam kamu keluarkan saja.) ucap Gayatri membalas telepati dari Rion. Rion pun langsung menyetujuinya.
karena Gayatri tidak menanggapi ucapan Diran, badiran pun kembali bertanya kepada adiknya.
" dek..??" panggil badiran mengejutkan sang adik.
" eh iya Kak ada apa..??" tanya Gayatri udah pura-pura tidak mengerti. padahal tadi ia sudah mendengar penuturan sang kakak.
"jadi kelapa itu mau kita apakan besok..??" tanya badiran lagi mengulang pertanyaannya. badiran juga memasang raut wajah kesal karena pertanyaannya tidak ditanggapi oleh sang adik.
"aduh Kakak gantengnya aya.. jangan memasang wajah kesal seperti itu dong, nanti gantengnya hilang.." ucap Gayatri membujuk kakaknya. Gayatri pun tersenyum.
"tentu saja, besok kita akan mulai memproduksinya Kak." ucap Gayatri lagi. badiran pun mengangguk anggukan kepalanya tanda setuju. Tapi saat mereka sedang berbincang-bincang, sang ayah pun langsung datang tergesa-gesa. ternyata saat ayahnya baru kembali dari sungai untuk membersihkan dirinya, tidak sengaja di samping rumah ia melihat tumpukan benda-benda aneh yang ada di sana.
"nak tumpukan apa yang ada di samping rumah itu...??" tanya Tuan Senopati kepada kedua anaknya itu. Mereka pun mengalihkan pandangannya ke arah yang ditunjuk oleh ayah mereka.
"Oh itu namanya kelapa yah.. dan besok kita akan mulai memproduksi minyak goreng dari kelapa itu." jelas badiran. Tuan Senopati sedikit mengamati buah tersebut Tapi kemudian ia mengerutkan keningnya.
"Apakah itu yang namanya buah kelapa?? bukankah buah ini hanyalah buah yang tidak memiliki manfaat. lalu bagaimana buah ini bisa diproduksi menjadi minyak goreng..??" tanya Tuan Senopati lagi. badiran pun bingung ingin menjelaskan seperti apa kepada ayahnya. karena ia juga tidak tahu cara memproduksi buah itu agar menjadi minyak goreng.
"besok nanti akan Aya tunjukkan bagaimana memproduksi minyak goreng." ucap Gayatri tidak ingin menjelaskannya kepada kedua orang tuanya, karena ia tidak mau pusing memikirkan jawabannya.
"Ya sudah kalau begitu, ayo kita makan.. ayah dan ibu sudah sangat lapar.." ucapkan Senopati lagi. mereka semua pun masuk ke dalam rumah dan menyajikan makanan yang sudah Gayatri masak. untuk malam ini mereka memasak ubi singkong sebagai makanan dan sayur-sayuran sebagai lauknya. menurut mereka ini sudah lebih nikmat ketimbang mereka harus makan tanpa ada sayur ataupun ikan sebagai teman makan mereka.
mungkin hari ini mereka akan makan apa adanya dulu, tapi ketika nanti mereka sudah mendapat rezeki. Gayatri akan memasakkan makanan yang enak dan lezat untuk kedua orang tuanya dan kakaknya ini. mereka semua pun makan dalam diam dan menikmati makanan tersebut sampai habis.
***bersambung***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
sabut kelapa kak
2024-09-20
0
Septi Verawati
mantap👍👍😎😎
2022-12-02
3
Krislin Meeilin
up lagi ceritanya
2022-12-01
0