saat Gayatri dan keluarganya sedang menikmati buah apel itu. dalam benak Gayatri Ia berpikir untuk mengambil biji atau bibit buah apel untuk ditanami di dekat rumah mereka. dan ia akan menyiram tanaman apel ini dengan air kehidupan.
(sebaiknya aku bibit kan saja, agar aku bisa menanam buah ini di samping rumah.) batin Gayatri.
"Ayah aku berencana untuk mengambil anak pohon ini untuk ditanam di dekat rumah kita. biar nanti kita tidak usah jauh-jauh untuk mengambil buah tersebut." ucap Gayatri kepada ayahnya. Tuan seno pun setuju.
"kalau begitu lakukan apa yang kamu bisa. tapi apakah tanaman ini benar-benar akan tumbuh jika kita merawat dan menanamnya..??" tanya tuan seno.
"tentu saja yah. pohon apel ini tidak susah tumbuh kalau perawatan nya pas. ayah tidak perlu khawatir, nanti Aya yang akan merawat nya." ucap Gayatri lagi.
"tenaga saja dek.. kakak juga akan bantu rawat.." ucap badiran. sambil mulutnya terus mengunyah apel itu tiada henti.
"Iya nak tenang saja. Ibu juga akan membantumu merawat tanaman ini." ucap nyonya dyaswari.
setelah mereka merasa cukup memakan buah apel itu dan mereka kembali bertenaga. keluarga kecil itu pun langsung meneguk minuman yang tadi mereka bawah dari rumah. air minum yang sudah bercampur dengan air kehidupan langsung mengaliri tenggorokan mereka dan membuat mereka kembali segar dan bertenaga.
"ayo kita lanjutkan perjalanan kita kembali.." ucap Tuan Senopati. mereka semua pun langsung berdiri dan mengambil keranjang masing-masing sementara buah apel sisa sudah mereka letakkan di atas keranjang badiran. Mereka pun kembali berjalan menyusuri jalan di hutan itu.
tak jauh dari perjalanan lagi-lagi Gayatri melihat tanaman ubi. Namun kedua orang tuanya tidak menghiraukan tanaman itu.
"ayah ibu itu adalah tanaman ubi. buahnya sangat enak kalau dimasak. tapi, buahnya berada di dalam tanah." ucap Gayatri sambil berjalan kearah ubi jalar itu. lagi-lagi kedua orang tua dan kakak Gayatri terkejut. rasanya semua tumbuhan yang ada di hutan ini semuanya bermanfaat. pasalnya mereka belum lama berjalan jauh dari pohon apel itu lagi-lagi Gayatri sudah menemukan tumbuhan lain yang bisa dikonsumsi.
Gayatri pun berjalan dan menarik tumbuhan itu dan ternyata tanahnya cukup gembur. sehingga tidak menyulitkan bagi Gayatri untuk mendapatkan buah tersebut. Gayatri langsung menggali tanah dengan tangannya dan langsung mendapatkan buah dari ubi jalar itu seukuran kepala bayi. tentu saja itu adalah pertama kali Gayatri mendapatkan ubi yang seukuran kepala bayi.
"wah !! lihatlah ayah, ibu, kakak. buahnya sangat besar." ucap Gayatri sambil memperlihatkan buah itu kepada keluarganya yang masih berdiri mematung melihat tingkah laku Gayatri. Gayatri pun tidak memperdulikan kedua orang tuanya dan kakaknya yang masih mematung, Iya kembali menarik tumbuhan itu dan menggali tanah untuk mendapatkan buah itu lagi. dan tentu saja Gayatri mendapatkannya mengingat para warga yang berada di dunia ini belum mengenal makanan tersebut.
"Aya, kamu yakin ini bisa dimakan..?" tanya Tuan Seno kepada putrinya. Gayatri pun langsung menghentikan aktivitasnya berhubung buah ubi yang ia dapat itu telah banyak dan ukurannya sangat tidak biasa
"tentu saja Ayah, buah ini juga sangat tahan lama jadi bisa disimpan dalam tempo waktu yang cukup lama. nanti kalau kita sudah pulang Aya akan memasaknya untuk ayah, ibu dan kakak."tuturnya lagi. badiran tidak memprotes ia langsung menghampiri sang adik dan memindahkan buah yang menurutnya aneh itu ke dalam keranjang yang ia bawa.
"Ayah, menurut aya. hutan ini benar-benar sangat bermanfaat untuk kita. apalagi sepertinya hutan ini masih asri dan masih banyak tumbuhan yang benar-benar tidak dikenali oleh masyarakat setempat." ucap Gayatri sambil terus mengedarkan pandangannya. matanya kemudian menangkap satu tumbuhan lagi, yaitu rambutan yang berbuah lebat dan sudah siap panen juga. Gayatri yang dulunya adalah Arumi Amelia yang sangat menyukai buah rambutan itu pun sangat riang gembira.
"Ayah lihat buah rambutan itu... buah itu sangat enak dan bisa kita jual di pasar." ucap Gayatri lagi. orang tua Gayatri pun ikut mengarahkan pandangannya ke arah di mana Gayatri menunjukkan jarinya. lagi-lagi buah asing yang sering mereka temui.
"kamu mengetahui buah apa itu nak..?" tanya Tuan Seno kepada Gayatri. Iya tidak lagi merasa khawatir tentang buah-buah yang ditemukan oleh putrinya ini dan tentu saja yang baru pertama kali mereka lihat
"itu adalah buah rambutan yah. rasanya sangat enak.." Gayatri pun langsung bangun dari posisi duduknya karena baru selesai menggali buah ubi. Ia pun langsung berlari menuju pohon rambutan itu. namun yang bikin Gayatri kembali bahagia dan berbinar, ternyata tak jauh dari situ ada pohon buah lengkeng yang berbuah lebat juga.
"wah !! ternyata di sini ada pohon lengkeng juga..!!" seru Gayatri lagi. tanpa pikir panjang ia langsung memanen buah-buahan itu sampai keranjang yang ayahnya bawa penuh.
Gayatri sangat senang ternyata hutan ini menyediakan berbagai macam bahan makanan untuk mereka. tetapi kenapa setiap kedua orang tuanya kembali dari hutan Mereka tidak mendapatkan apa-apa selain pisang. ya orang di negara ini hanya mengenal pisang sebagai buah dan tidak ada yang lain. sementara pisang sudah sangat langka di tempat itu sehingga mereka harus berjalan jauh ke dalam hutan untuk mendapatkannya.
Namun karena Gayatri bersama mereka, keluarga itu tidak jadi masuk ke dalam hutan karena semua keranjang yang mereka bawa telah penuh dengan bahan makanan. mulai dari ubi jalar, ubi kayu, ubi ungu, talas, buah rambutan, buah lengkeng, buah apel dan sayur-mayur yang tumbuh subur di dalam hutan itu. semua keranjang mereka penuh bahkan Gayatri yang notabenenya tidak membawa apa-apa gini Iya menjinjing beberapa sayur di tangannya yang sudah diikat menjadi satu.
"hah !! semuanya sudah kita dapatkan.. tidak mungkin kita melanjutkan perjalanan lagi. jadi kita pulang dan kembali ke rumah." ucap tuan Senopati lagi.
"iya, yah. Diran juga tidak menyangka bahwa bahan makanan di hutan ini memang masih banyak. bahkan tumbuhan yang kita anggap asing ini juga bisa dimakan. sebaiknya kita pulang saja karena keranjang kita semua sudah penuh. dan pasti Aya dan ibu sudah kelelahan." Ucap badiran penuh perhatian kepada kedua wanita yang sangat ia cintai.
Gayatri juga tidak menyia-nyiakan kesempatan. setiap ia menemukan tumbuhan yang dia rasa kenal dan bermanfaat, Iya akan mengambil bibitannya untuk ditanam di dekat rumah mereka agar kedua orang tua mereka tidak lagi masuk hutan mencari bahan makanan. tentu saja Gayatri tidak mengambil banyak Ia hanya mengambil satu tanaman yaitu satu bibit. berhubung Kakak dan kedua orang tuanya melarangnya membawa apapun.
"Ya sudah Pak ayo kita pulang. lagi pula ini memang sudah banyak." ucap nyonya diaswari menimpali.
akhirnya satu keluarga itu pun memutuskan untuk kembali pulang ke gubuk kecil mereka, karena semua keranjang yang mereka bawa telah terisi dengan bahan makanan dan buah-buahan serta sayur-sayuran. mereka pulang dengan riang gembira, tentu saja buah-buah dan sayur-sayuran ini bisa dijual ke pasar. menurut tuan Senopati. setelah Mereka menjual tanaman yang mereka dapat di dalam hutan Mereka bisa membeli gandum atau beras makanan rakyat jelata.
makanan rakyat menengah ke bawah adalah beras, sementara Yang menengah ke atas adalah gandum dan daging. mereka menganggap beras itu adalah kaum kalangan bawah yang tidak mampu.
di perjalanan pulang raut wajah mereka sangat berseri-seri. mereka tidak menyangka dapat menemukan berbagai macam bahan makanan hanya dengan waktu yang singkat. itu pun semua berkat Gayatri yang telah ikut pergi bersama mereka.
tak lama mereka pun sampai di gubuk kecil mereka itu, satu keluarga itu pun langsung duduk di teras rumah dan melepas lelah di perjalanan kembali dari hutan.
"huh !! lelah sekali.. Apakah ayah, ibu, kakak haus..?? biar aya ambilkan air minum di dalam.." ucap Gayatri. keluarga kecil yang masih mengatur nafas dan melepas lelah itu pun mengangguk. tanda mereka memang sedang kehausan.
Gayatri pun tersenyum dan langsung masuk ke dalam rumah serta mengambil satu teko air minum yang sudah ia campur dengan setetes air kehidupan. Gayatri juga tak lupa mengeluarkan cawan untuk wadah Mereka minum.
"ini airnya.." ucap Gayatri sambil menuangkan air putih itu ke-3 gelas yang berbeda. setelah Gayatri menuangkan dan mengisi tiga cawan itu masing-masing dari keluarga Gayatri pun mengambil satu dan meneguk air itu sampai habis. seketika tubuh mereka kembali fit dan segar. karena waktu masih belum menunjukkan akan berakhir. Tuan Senopati pun memutuskan untuk ke pasar menjual hasil hutan Mereka.
"aya, ibu. Ayah berniat untuk pergi ke pasar menjual hasil panen kita di hutan. tapi ayah bingung bagaimana cara menjelaskan kepada para pembeli mengenai makanan-makanan ini." ucap Tuan Senopati.
"begini saja yah. sebelum ayah pergi ke pasar, sebaiknya makanan ubi jalar orange dan ungu ini kita masak terlebih dahulu. tidak semuanya, Hanya beberapa saja untuk Ayah bawa sebagai contoh di pasar nanti. dan juga Ayah bisa memakannya apabila Ayah sudah lapar.." ucap Gayatri masuk akal. sejenak Tuan Senopati pun berpikir, tapi berbeda dengan badiran. setelah mendapatkan usul dari sang adik badiran dengan tidak sabarnya langsung menyalahkan api ditunggu dan memasak ubi tersebut.
saat badiran akan memasukkan ubi ke dalam panci, tiba-tiba Gayatri bersuara.
"Kakak jangan masukkan begitu saja.. buah itu masih kotor dan harus dicuci dengan air mengalir." ucap Gayatri. badiran pun langsung menghentikan aksinya memasukkan ubi itu ke dalam panci. malahan ia berbalik mengangkat ubi-ubi tersebut dan mencucinya dengan air di sungai yang tidak jauh dari tempat tinggal mereka.
sementara nyonya diaswari yang melihat ke antusiasan putranya itu membantu untuk mendidihkan air, Pak Seno pun ikut membantu mencuci ubi ubi yang sudah mereka dapatkan dari hutan.
selang beberapa waktu, Mereka pun datang dengan ubi yang sudah mereka cuci. Gayatri tersenyum dan mengambil ubi-ubi itu dan memasukkannya ke dalam panci yang airnya sudah mendidih.
"dek, berapa lama ubi ini akan masak..??" tanya Diran. dari sorot mata Diran sepertinya ia sudah tidak sabar untuk mencoba makanan ini. Iya yakin makanan ini pasti enak sama seperti buah-buahan yang adiknya perkenalkan kepada mereka.
"tidak lama Kak, apalagi airnya sudah mendidih. Kakak sepertinya sudah tidak sabaran ingin mencobanya ya..." ucap Gayatri. Diran pun mengganggu kan kepalanya antusias. keluarga kecil itu mengelilingi tungku yang sedang memasak ubi jalar tersebut.
"ayah, ibu. ubi ini tidak hanya bisa dimasak atau direbus saja. tetapi ubi ini juga bisa digoreng dengan minyak panas." ucap Gayatri lagi. tentu saja membuat kedua orang tuanya tercengang.
***bersambung***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Nura
mantap x ceritanya Thor. Kusuka♥️
2023-03-20
3
Septi Verawati
mantull thor 👍👍👍😎😎
2022-12-02
0
Krislin Meeilin
up lagi ceritanya mantap 👍👍
2022-12-01
0