Mari bikin skenario lagi. 🥰. mohon koreksi kata dan penulisannya ya teman-teman..🙏🙏
***
Diran pun langsung menyapa sang ibu yang datang dari belakang mereka.
"Ibu, di mana Ayah..?? Kenapa ayah tidak bersama dengan ibu.?" tanya Diran kepada ibunya. nyonya diaswari tersenyum mendengar nada cemas yang keluar dari mulut putranya ini. sementara Gayatri dan Arga mendengarkan percakapan kecil itu sambil menyimak.
"ayahmu sedang pergi berburu ayam hutan.. katanya, ayahmu menginginkan makanan yang kemarin dibuatkan oleh adikmu." ucap nyonya diaswari. Diran menarik nafasnya dalam, sementara Gayatri hanya menepuk kepalanya pelan.
karena Gayatri masih memiliki stok ayam hutan di cincin penyimpanannya. seharusnya ayahnya tidak perlu bersusah-susah berburu ayam hutan di dalam hutan.
"Ibu sudah memaksa untuk ikut. tapi ayahmu malah melarang Ibu agar ibu di rumah saja menunggu kepulangan kalian." ucap nyonya diaswari lagi. mendengar penuturan sang Ibu Gayatri juga tak kalah cemas, pasalnya ayahnya sendirian pergi berburu ia takut terjadi apa-apa dengan ayahnya, itulah yang dipikirkan oleh diran juga. tapi diam-diam nyonya diaswari juga merasa cemas terhadap suaminya, namun ia tidak ingin menunjukkan kepada kedua anaknya itu.
Gayatri yang terlampau merasa cemas, Iya langsung bertelepati dengan Rion.
"Rion, Apakah kamu mendengarku..??" tanya Gayatri lewat telepati mereka.
"Iya Rumi aku mendengarkanmu. katakan Apakah ada sesuatu yang kamu butuhkan..??" tanya Rian kepada Gayatri.
" Aku ingin minta tolong kepadamu, Apakah kamu bisa melihat di mana keberadaan ayahku dan Bagaimana kondisinya..??" ucap Gayatri lagi.
"Baiklah Rumi, akan segera aku laksanakan." tutur Rion lagi. Rion meminjamkan matanya dan memusatkan pikirannya. Tak butuh waktu lama Rian pun kembali membuka matanya.
"Rumi tenang saja, Ayah Rumi tidak apa-apa. bahkan sekarang Ayah Rumi sedang berjalan Kembali pulang ke pondok. di perjalanan juga tidak ada yang mengintai." ucap Rion. penuturan Rion langsung membuat Gayatri menjadi tenang.
"Baiklah Rion, aku tidak meragukanmu. terima kasih kamu sudah membantuku." ucap Gayatri dengan nada sedikit lega.
"Iya Rumi, sama-sama.. Oh ya Rumi, nanti aku akan memberikanmu kitab untuk mempelajari dasar-dasar dari ilmu kanuragan. dan bacalah itu." tutur Rion lagi.
"Baiklah Rion.." ucap Gayatri. Setelah itu mereka langsung menyudahi telepati mereka. Diran dan semuanya duduk di luar sambil menunggu kedatangan Tuan Senopati. tercetak raut wajah yang cemas di wajah ketiga orang itu kecuali Gayatri. namun Gayatri tidak ingin mengatakan apa-apa.
tak menunggu waktu yang lama, di suasana hening tersebut mereka langsung dikejutkan dengan suara Tuan Senopati yang telah kembali dari berburu.
"eh kenapa pada melamun semuanya..!!" seru Tuan Senopati mengejutkan mereka semua..
Diran, nyonya diaswari, arga dan Gayatri tersenyum mendengar penuturan ayahnya. mereka bernafas lega karena ternyata Tuan Senopati pulang dengan keadaan selamat dan membawa beberapa hasil buruannya.
"syukurlah bapak sudah kembali. kami sangat mencemaskanmu." tutur nyonya diaswari terlebih dahulu. Tuan Senopati pun mengarahkan pandangannya dan mengamati mereka satu persatu, di raut wajah mereka sudah kembali normal dan tersenyum bahagia.
"kalian tidak perlu mengkhawatirkan ayah. Ayah tidak terlalu jauh pergi berburu, jadi tidak berbahaya." ucapnya menenangkan mereka semua.
"Oh iya gaya, Ayah menginginkan makan masakan kamu yang kemarin. Apakah gaya tidak keberatan memasaknya lagi..?? Ayah pasti akan membantumu." rayu Tuan Senopati kepada putrinya. Iya juga mengangkat ayam yang sudah ia bersihkan itu di hadapan mereka semua. mendapati rayuan ayahnya yang tidak biasa seperti itu, mereka yang ada di sana tersenyum.
"sejak kapan bapak pandai menggoda anak seperti itu.?" tanya nyonya diAswari. Tuan Senopati pun tersenyum.
"tidak apa-apa, hitung-hitung Aku sedang belajar untuk menggoda istri dan anak-anak ku, agar tidak canggung." ucap Tuan Senopati sambil mengukir senyum di bibirnya.
"Baiklah ayah, berikan ayamnya kepadaku biar aku yang masak." ucap Gayatri meminta ayam hutan itu di tangan ayahnya. namun Tuan Senopati tidak menyerahkannya, Iya meminta putrinya untuk mengajarkannya saja.
"biar Ayah yang memasak. Tapi tolong tunjukkan Bagaimana caranya.." ucap Tuan Senopati lagi.
"eh aku juga akan ikut membantu. ayamnya ada 5 ekor. kita masak menu tiga-tiganya saja, seperti menu yang kamu masak kemarin." ucap Arga menimpali. Iya juga tak bisa memungkiri bahwa masakan yang ia makan ketika tersadar itu benar-benar enak. Iya belum pernah merasakan masakan itu sebelumnya, jadi Ia sangat antusias untuk merasakannya kembali.
"Baiklah ayah. namun sisakan ayam sebanyak 2 ekor untukku buatkan rendang ayam." ucap Gayatri lagi. Tuan Senopati mengerutkan keningnya.
"rendang ayam..?? makanan apa itu nak..??" tanya Tuan Senopati lagi.
"Ayah tidak usah bertanya, lebih baik kita ikuti saja apa yang gaya buat nanti. kalau untuk menjelaskan, sepertinya kita akan sulit mengerti. jadi lebih baik praktekkan saja." ucap Diran menimpali pertanyaan ayahnya.
mereka yang mendengar penuturan Diran pun hanya menganggukkan kepala. pasalnya memang banyak sekali kosakata yang mereka tidak mengerti, kosakata yang terasa awam di telinga mereka.
"Ya sudah kalau begitu, ayo kita kerjakan sama-sama." ucap nyonya diaswari. Mereka pun langsung menerobos masuk ke dalam gubuk itu dan saling bantu membantu memasak ayam itu.
Untung saja, kemarin Gayatri sudah mengeluarkan alat-alat yang diperlukan untuk membuat masakan itu. Iya juga mengeluarkan ulekan, wajan panci dan sebagainya. Namun semua itu tidak terlalu mencolok sebagai barang dari dunia modern.
Gayatri juga sudah memerintahkan kepada Rion, untuk menanam tanaman bawang di belakang tempat tinggal mereka, serta aneka rempah-rempah lainnya yang mereka butuhkan yang tidak terdapat di zaman ini. sehingga tidak menyulitkan Gayatri mengatakan bahwa tanaman ini berasal dari dunia zaman kuno.
satu persatu dari mereka ada saja yang mereka kerjakan, seperti Diran, Iya dimintai tolong oleh Gayatri untuk mengulek semua bumbu yang akan dicampurkan dalam masakan mereka. Gayatri juga meminta tolong kepada Arga untuk memarut kelapa dan memerasnya.
masing-masing dari mereka sangat sibuk, terlihat Diran meneteskan air matanya akibat bawang merah yang membandel.
"hiks, kenapa rempah-rempah ini malah membuatku menangis. apakah karena aku mengulek mereka terlalu keras." ucap Diran dengan suara polosnya itu. Gayatri tersenyum mendengar penuturan kakaknya yang benar-benar kocak itu. ia pikir, karena Diran terlalu keras mengulek mereka, rempah-rempah itu malah menyakitinya.
"Kak, Mereka hanyalah rempah-rempah. tidak mungkin mereka menyakitimu. kecuali bawang merah yang menyebabkanmu menangis."tutur Gayatri. Diran mengarahkan pandangannya ke arah sang adik sambil tangannya masih sibuk mengulek semua rempah-rempah itu untuk dihancurkan.
"Kenapa bawang merah membuat Kakak menangis. Apakah kakak menyakitinya..." tanya diran lagi. Arga, nyonya diaswari dan Tuan Senopati tersenyum melihat air mata yang meleleh dari mata Diran itu.
"nak, mungkin bawang merahnya sedang cemburu kepadamu." goda Tuan Senopati yang sibuk mencuci dan memotong ayam dengan ukuran jumbo. mereka semua kembali tertawa..
"Kenapa sih bawang merah malah cemburu kepadaku, aku kan tidak memiliki apa-apa." gerutu Diran sambil tangannya terus mengulek-ulek sambal tersebut.
selama 1 jam mereka berputar di dapur. akhirnya semua masakan itu pun selesai. empat menu ayam tersedia di atas karpet yang sudah mereka bentang. Mereka melihat menu rendang ayam yang baru Gayatri sebut tadi. air liur mereka menetes membayangkan betapa nikmatnya ayam-ayam ini.
"sebaiknya ayah, ibu dan kakak berdua. pergi membersihkan diri terlebih dahulu. nanti kita akan makan sama-sama." ucap Gayatri lagi.
***bersambung***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
bhunshin
gak sekalian aja bikin ayam crispy 😅
2025-01-11
0
Septi Verawati
makan ayam🐓🐓🐔🐔🐔
2022-12-03
3