Eps 18

  "Seandainya kalau diantara kita ada yang meninggal maka aku tidak bisa percaya terhadap diriku lagi" gumam Beni semakin tidak semangat tapi masih menuangkan bumbu mie sementara Sinta hanya menyiapkan mangkok sebagai wadah nantinya

"Jangan berkata seperti itu!!" tukas Sinta dengan tegas sehingga membuat pria disamping terkejut. walau begitu wajahnya terlihat sangat ketakutan namun masih bersikap tegar di hadapan Beni 

"Apa kamu takut?" Beni mencoba untuk mengalihkan arah pembicaraan karena dirinya sudah kenyang dengan motivasi,

"Yah,.. Aku takut sekali, terutama pada kematian"

Pada akhir mereka berdua diam seribu bahasa karena masing-masing orang menyimpan rasa kesedihannya sendiri, jadi mereka sangat tidak memiliki waktu untuk perduli akan orang lain, terutama menenangkan isi hati seseorang padahal dirinya sendiri tidak seperti itu 

                                       ****

Setelah selesai memasak mie instan berkategori kuah akhirnya mereka semua kembali berkumpul di ruang tamu dengan meja terisi mangkok mie yang disajikan sedemikian rupa, walaupun masih sederhana tetapi itu sudah termaksud keberuntungan bagi mereka yang bisa merasakan makanan hangat ketika keadaan kurang mendukung 

"Ada apa dengan kalian berdua?, Kok mukanya muram gitu sih, seharusnya kalian itu bahagia karena bisa merasakan makanan enak dan hangat ditambah kalian berduaan di dapur dengan keadaan gelap gulita" ocehan Ahmad sama sekali tidak direspon ketika itu lampu hp secara tiba-tiba mati

"Loh.. Jangan-jangan baterai Hp ku habis" 

Mendengar kalimat tersebut beni langsung beranjak dari sofa dan berjalan menuju laci kecil dibawah televisi sampai beberapa saat dia mendapati sebuah kota lilin dan mengambil sebatang lilin lalu berjalan lagi untuk mengambil korek di sekitar situ juga yang kemudian menghidupkannya secara perlahan dan meletakkannya di meja Tv agar satu ruangan dapat terkena secercah cahaya api walau kurang terang namun sudah patut disyukuri

Setelah itu beni langsung kembali ke tempat duduknya yang telah meninggalkan korek dan lilin di sana untuk melanjutkan makan malam bersama dengan yang lain. 

Bahkan ketika makan, mereka sama sekali tidak berbicara yang ada hanya suara dari aduan sendok dan mangkok, apalagi suara dari kuah mie yang dinikmati juga lumayan sedap dan hangat jadinya sewaktu-waktu mereka hanya menikmati makanan seadanya

Seusai menyantap beni mengembalikan mangkok dan kembali lagi ke ruang tamu untuk membahas masalah selanjutnya. "Besok pagi kita akan pergi ke rumahmu?" ujar Beni dengan sinis sambil menatap lekat Ahmad yang duduk di seberang 

"Semoga saja selama perjalanan besok kitai tidak mendapat kendala" 

"Tapi kita juga tidak bisa terlalu santai karena situasi tidak bisa diduga?" usul Sinta. 

"Kalau begitu kamu dan Sinta segera cari barang disini yang sekiranya dibutuhkan untuk hari esok, biar aku menyusun rencana di sini, karena ini adalah wilayah ku" titah beni kepada dua temannya sehingga Ahmad dan Sinta langsung bergegas melaksanakannya 

Sedangkan beni mengambil selembar kertas dan pena di dalam tas, kemudian membuat sketsa denah lokasi tempat komplek hingga ke area 12, karena beni sudah paham betul dengan sebuah medan yang ada di area 11 termasuk beberapa tempat jalan buntu yang bakal dihindari masa depan. 

Selama beberapa jam akhirnya beni bisa menjelaskan kepada teman-temannya jika mereka akan melewati jalur evakuasi di daerah kompleksnya dan tembus ke jalan lalu lintas kemudian akan melewati sepanjang trotoar yang harapannya tidak ada zombie, karena mereka akan berjalan beberapa saat hingga sampai di jalantikus dua yang letaknya di antara gedung karena di sana mereka akan lalui 

Hingga sampai jalan berikutnya setelah itu mereka akan berjalan lagi melewati markas polisi, walaupun begitu sepanjang perjalanan tidak menutup kemungkinan kalau mereka tidak menemukan zombie karena di sana sudah ada sebuah rumah sakit dan beberapa tempat umum seperti mall dan lainnya 

Jadi mereka harus waspada dengan apa yang ada nantinya, kemudian beni juga menjelaskan jika mereka akan sampai selama kurang lebih 30 menit jika tidak mendapat kendala di tengah perjalanan akan tetapi seandainya memang dapat kendala maka mereka harus menghadapi sekuat tenaga apapun konsekuensinya 

Begitulah penjelasan beni terhadap teman-temannya, hingga tiba waktunya untuk bertanya kepada mereka. "Barang apa yang ada disini, untuk kita melakukan survival di luar sana?" tanya beni kepada temannya 

"Untuk sekarang kita hanya menemukan pisau dan beberapa barang tajam yang bisa digunakan sebagai senjata" ucap Sinta dengan menunjukkan barang-barangnya 

"Tidak mungkin jika kita menggunakan barang-barang ini, paling tidak kita butuh atribut defense" 

"Kalau begitu apakah ada lakban atau benda yang bisa digunakan untuk merakit?" sambung beni dengan memasang ekspresi serius. "Kalau benda itu ada hanya saja tidak banyak, karena sudah tipis" jawab Sinta 

"Setidaknya kita sudah memiliki peluang untuk bertahan dengan benda tersebut" 

"Baiklah untuk hari ini kita istirahat dulu, besok kita akan berangkat dini hari jadi harap untuk mempersiapkan diri" sambung beni kemudian melipat kertas di hadapannya dengan gambar denah area 11 

"Kamu benar juga ben, lagian kita sudah bertarung habis-habisan seharian ini, jadi sudah seharusnya kita istirahat dulu" keluh Ahmad dengan mata terlihat kantuk. "Yasudah.. Sinta sebaiknya kamu tidur dikamar ku, biarkan aku dan Ahmad tidur dikamar adikku" usul beni 

Sedangkan Sinta hanya menganggukkan kepala secara perlahan kemudian mereka pergi meninggalkan tempat masing-masing menuju tempatnya. 

"Sebelumnya aku minta maaf, karena disini tidak tinggal anak gadis remaja jadi tidak ada baju yang cocok untuk kamu pakai" ucap Beni kepada Sinta sebelum masuk kamar 

"Tidak apa-apa kok" 

"Tapi kamu bisa menggunakan kaos dan celana training milikku, walaupun kurang nyaman tidaknya cukup untuk pakaian hari ini dari pada kamu memakai pakaian sekolah yang sudah kotor, dan lagi karena pagi tadi aku mengisi air full jadi masih ada untuk kamu membersihkan diri" ucapan dari Beni semakin membingungkan bagi Sinta 

Karena setiap tutur kata sangat berarti baginya jadi pada saat itu semua yang disampaikan tidak masuk ke dalam otak, kecuali kata 'pakaian' dan 'air'

"Terimakasih karena sudah menyediakan semua untukku" 

"Tidak kok, pakai saja sesukamu anggap ini rumah sendiri, yaudah aku masuk dulu" ujar Beni kemudian masuk kedalam kamar untuk menyusul temannya yang kala itu sudah masuk kedalam kamar mandi. 

Sinta yang pertama kali melihat kamar Beni mulai sedikit canggung apalagi kamarnya berada di lantai dua dengan posisi jauh dari yang punya. Tentu saja membuat Sinta terus merona ketika memikirkan pemiliknya

Namun karena ingin membersihkan diri, Sinta pun segera membuka lemari di kamar Beni dan hal pertama yang dilihatnya adalah sebuah buku usang, tak lain album milik tuan rumah

"Buku ini?" gumam Sinta kemudian duduk di pinggir ranjang dan membuka setiap lembar dari buku tersebut namun setiap lembar yang dibuka tidak tampak wajah yang familiar seperti Beni karena setiap anak kecil di dalam foto berbeda jauh dengan Beni dan itu terus berulang-ulang di setiap lembarnya hingga pada lembar terakhir dimana 

Foto Beni bersama dengan nenek dan adiknya di sebuah sekolah yang background mereka ada didepan poster penerimaan murid ajaran baru, bisa dibilang itu adalah hari dimana Beni melakukan pendaftaran di sekolah baru 

"Kenapa kebanyakan dari album ini isinya adik Beni yah, kemana Beni sebenarnya?" bingung Sinta yang mulai bertanya-tanya

Namun ketika itu dirinya tersadar dari lamunannya dan segera melanjutkan kegiatannya dengan mengambil lilin satu lagi yang akan diletakkan di kamar mandi, kemudian mengambil kaos dan celana training milik Beni dan berjalan memasuki kamar mandi. 

Waktu itu Sinta menikmati air yang tenang di kamar mandi dengan merendam tubuhnya kedalam air, tentu saja dengan keadaan bugil tanpa ada sehelai kain pun yang menempel pada tubuh, apalagi postur tubuh yang begitu halus seperti susu dan tumpukan daging di dada yang tak besar namun mungil untuk anak SMA jadinya bagi siapapun yang melihat isi tubuh gadis tersebut 

 

Bisa dipastikan jika hawa sensualnya akan bergejolak melihat lekukan tubuh begitu bening dan halus. Sementara Sinta yang menikmati mandinya, di sisi lain Beni dan Ahmad sedang cekcok masalah air 

"Woi.. Jangan buang-buang air dong!!" seru Beni dengan angkat bicara yang nadanya tinggi karena melihat Ahmad berdiam diri didalam kamar mandi dengan waktu cukup lama 

"Sabar dong" balas Ahmad yang membalas dari balik pintu. "Hah.. Dasar, awas aja kalau aku mandi airnya habis" kecam Beni dengan menghela nafas panjang kemudian berdiri di samping kasur yang terdapat sebuah meja yang didalamnya ada benda yang ingin dijamah yaitu setelah membuka laci dia mengambil sebuah powerbank kemudian dicolok ke smartphone

Dan memasukkannya kembali ke dalam laci yang membiarkannya begitu saja, supaya Hp bisa terisi dengan tenang dan aman tanpa perlu diketahui oleh temannya yang gak ada attitude. 

Setelah selesai mandi Ahmad keluar dengan handuk terikat di punggung hingga ke bawahan sambil bersiul bagaikan seseorang tak ada beban hidup. "Dasar, lama sekali kamu mandinya" gerutu Beni kemudian masuk kedalam kamar mandi. 

                          (RUMAH BAGUS) 

Setelah membenamkan diri di kasur, tanpa sadar Bagus tertidur sejenak akibat kelelahan. Manda yang melihat tidak tega untuk membangunkannya, sehingga ia terpaksa untuk menunggu sampai Bagus bangun sambil memasak makanan di dapur dengan keadaan yang ada di stoknya 

Kebetulan masih ada sayuran di dalam kulkas dalam keadaan masih segar, namun karena tak ingin ambil resiko akhirnya Manda memasak mie instan saja hingga tak butuh waktu lama akhirnya makanan tersebut pun jadi, yang lebih mengejutkan adalah dimana bertepatan dengan Bagus yang bangun dari tidurnya 

"Mari makan!!" sahut Manda dari belakang dapur ketika melihat Bagus keluar dari dalam kamarnya. Waktu itu Bagus yang masih mengantuk tampak sipit namun berusaha untuk membuka mata

"Aku sudah masak mie instan mungkin seleranya berbeda denganmu, tapi aku yakin ini sudah enak kok" sambung Manda dengan senyum lebar sambil meletakkan handphone di meja sebagai media cahaya 

"Kenapa kamu sampai repot-repot memasak makanan untuk ku?" tanya Bagus 

"Emangnya gak boleh?" 

"Gak masalah sih tapi ya aneh aja, untuk apa kamu merepotkan diri hanya untuk membuat makanan padahal aku bisa sendiri" 

"Sudahlah, aku malas berdebat denganmu, jika kamu bingung anggap saja ini sebagai ucapan terima kasih atas semua yang telah kamu lakukan untuk ku" hardik Manda dengan tegas 

"Oke, makasih untuk makanannya" ucap Bagus kemudian duduk di kursi dan menyantap mie yang telah dibuat oleh Manda dengan usahanya 

Seusai mereka memakan mie, Manda dan Bagus duduk di ruang tamu dalam keadaan canggung satu sama lain, namun seketika lampu handphone diatas meja redup dengan tanda kalau baterai ponsel miliknya telah habis 

"Bagus, kamu memiliki powerbank?" tanya Manda dengan lirih. "Tidak ada" jawab Bagus kemudian berdiri dan berjalan ke laci kecil di dekat televisi ruang tamu tetapi ketika sedang merogoh isinya ternyata Bagus sama sekali tidak menemukan lilin

"Mungkin ada hal, paling berbahaya disini" ujar Bagus dari balik gelapnya ruangan tanpa cahaya 

"Eh?" 

"Yah.. Ternyata di rumah ini tidak membeli lilin sama sekali" 

"Kalau begitu" 

"Kita bakal gelap-gelapan disini" 

"Ah.. Kamu gak tahu kalau aku takut gelap" ujar Manda dengan gusar. "Hei.. Tenangkan dirimu dulu, man" ujar Bagus dengan berjalan mendekati Manda tetapi karena situasi ruangan gelap akhirnya tanpa sengaja dia pun terantuk dengan meja disana dan terjatuh ke sofa dengan posisi tubuh menindih Mandi

Atau istilah lain posisi mereka saling menindih dimana Bagus di atas sedangkan seorang gadis berada dibawah pelukannya. "Situasi apa ini?" batin Bagus yang merasakan lembutnya daging diselimuti kulit karena tanpa disengaja paha miliknya dan Manda saling bersenggolan 

Apalagi gadis tersebut tidak menggunakan celana melainkan rok sekolah yang biasa digunakan oleh anak sekolah. "Duh… Kenapa jantung ku cenat-cenut" batin Manda dengan wajah memerah tanpa disadari 

"Sial, kalau begini terus bisa-bisa jagoanku bakal bangun" celotehan Bagus dalam hati dengan menelan air liur, karena sesaat mereka saling bertukar pandangan dengan keadaan sunyi dan hening seperti takdir telah membiarkan mereka terlelap dalam gelap 

Hingga tanpa sadar mereka mulai mendekatkan wajah,  apalagi melihat situasi kala itu yang sangat mendukung, sampai tidak sadar bibir mereka saling beradu dan menghasilkan gairah tersendiri, sentuhan tersebut membuat nafsu sensual Bagus bergejolak hingga tak mampu untuk dibendung lagi 

Kecupan pertama tidak terjadi reaksi sama sekali, kecuali wajah mereka yang sama-sama merona malu, karena telah menikmati hal yang seharusnya tidak dilakukan oleh seorang anak pelajar 

"Man, sebenarnya-.." belum sempat Bagus angkat  bicara Manda telah lebih dulu menempelkan jari telunjuk ke buah bibir Bagus. "Tidak perlu katakan, karena aku ingin kamu menemani ku malam ini, karena aku takut gelap

Mendengar kalimat sakral tersebut mulut Bagus langsung terbungkam rapat dan hanya berusaha agar tidak kalah dengan pikirannya, karena Manda adalah orang yang paling dia suka dan tentu saja Bagus tidak ingin membuat trauma untuknya apalagi sampai dirinya dibenci 

Tentu saja akan membuat Bagus semakin tersakiti. Sesaat Bagus mencoba untuk menyingkir dari Manda namun pergelangan tangannya telah dipegang oleh gadis tersebut dan menariknya hingga terjatuh ke dalam pelukannya

"Kumohon, kali ini jangan tinggalkan aku lagi" gumam Manda dengan lirih sambil membekap erat tubuh Bagus yang telah jatuh dalam pelukannya. "Manda" panggil Bagus melihat air mata manda mulai berjatuhan 

Tentu saja dia tahu jika Manda sangat ketakutan apalagi sikap vulgar bukan passionnya, "Baiklah, aku akan menemanimu malam ini" ujar Bagus dengan senyum tipis terbentuk di bibir. 

BERSAMBUNG… 

Episodes
1 Eps 01
2 Eps 02
3 Eps 03
4 Eps 04
5 Eps 05
6 Eps 06
7 Eps 07
8 Eps 08
9 Eps 09
10 Eps 10
11 Eps 11
12 Eps 12
13 Eps 13
14 Eps 14
15 Eps 15
16 Eps 16
17 Eps 17
18 Eps 18
19 Eps 19
20 Eps 20
21 Eps 21
22 Curhat I
23 Eps 22
24 Eps 23
25 Eps 24
26 Eps 25
27 Eps 26 (Part²)
28 Eps 27 (Part²)
29 Eps 28 (Part²)
30 Eps 29 (Part²)
31 Eps 30 (Part²)
32 Eps 31 (Part²)
33 Eps 32 (Part²)
34 Eps 33 (Part²)
35 Eps 34 (Part²)
36 Eps 35 (Part²)
37 Eps 36 (Part²)
38 Eps 37 (Part²)
39 Eps 38 (Part²)
40 Eps 39 (Part²)
41 Eps 40 (Part²)
42 Eps 41 (Part²)
43 Eps 42 (Part²)
44 Eps 43 (Part²)
45 Eps 44 (Part²)
46 Eps 45 (Part²)
47 Eps 46 (Part²)
48 Eps 47 (Part²)
49 Eps 48 (Part²)
50 Eps 49 (Part²)
51 Eps 50 (Part²)
52 Eps 51 (Part³)
53 Eps 52 (Part³)
54 Eps 53 (Part³)
55 Eps 54 (Part³)
56 Eps 55 (Part³)
57 Eps 56 (Part³)
58 Eps 57 (Part³)
59 Eps 58 (Part³)
60 Eps 59 (Part³)
61 Eps 60 (Part³)
62 Eps 61 (Part³)
63 Eps 62 (Part³)
64 Eps 63 (Part³)
65 Eps 64 (Part³)
66 Eps 65 (Part³)
67 Eps 66 (Part³)
68 Eps 67 (Part³)
69 Eps 68 (Part³)
70 Eps 69 (Part³)
71 Eps 70 (Part³)
72 Eps 71 (Part³)
73 Eps 72 (Part³)
74 Eps 73 (Part³)
75 Eps 74 (Part³)
76 Eps 75 (Part³)
77 Eps 76 (Part³)
78 Eps 77 (Part⁴)
79 Eps 78 (Part⁴)
80 Eps 79 (Part⁴)
81 Eps 80 (Part⁴)
82 Eps 81 (Part⁴)
83 Eps 82 (Part⁴)
84 Eps 83 (Part⁴)
85 Eps 84 (Part⁴)
86 Last Chapter
Episodes

Updated 86 Episodes

1
Eps 01
2
Eps 02
3
Eps 03
4
Eps 04
5
Eps 05
6
Eps 06
7
Eps 07
8
Eps 08
9
Eps 09
10
Eps 10
11
Eps 11
12
Eps 12
13
Eps 13
14
Eps 14
15
Eps 15
16
Eps 16
17
Eps 17
18
Eps 18
19
Eps 19
20
Eps 20
21
Eps 21
22
Curhat I
23
Eps 22
24
Eps 23
25
Eps 24
26
Eps 25
27
Eps 26 (Part²)
28
Eps 27 (Part²)
29
Eps 28 (Part²)
30
Eps 29 (Part²)
31
Eps 30 (Part²)
32
Eps 31 (Part²)
33
Eps 32 (Part²)
34
Eps 33 (Part²)
35
Eps 34 (Part²)
36
Eps 35 (Part²)
37
Eps 36 (Part²)
38
Eps 37 (Part²)
39
Eps 38 (Part²)
40
Eps 39 (Part²)
41
Eps 40 (Part²)
42
Eps 41 (Part²)
43
Eps 42 (Part²)
44
Eps 43 (Part²)
45
Eps 44 (Part²)
46
Eps 45 (Part²)
47
Eps 46 (Part²)
48
Eps 47 (Part²)
49
Eps 48 (Part²)
50
Eps 49 (Part²)
51
Eps 50 (Part²)
52
Eps 51 (Part³)
53
Eps 52 (Part³)
54
Eps 53 (Part³)
55
Eps 54 (Part³)
56
Eps 55 (Part³)
57
Eps 56 (Part³)
58
Eps 57 (Part³)
59
Eps 58 (Part³)
60
Eps 59 (Part³)
61
Eps 60 (Part³)
62
Eps 61 (Part³)
63
Eps 62 (Part³)
64
Eps 63 (Part³)
65
Eps 64 (Part³)
66
Eps 65 (Part³)
67
Eps 66 (Part³)
68
Eps 67 (Part³)
69
Eps 68 (Part³)
70
Eps 69 (Part³)
71
Eps 70 (Part³)
72
Eps 71 (Part³)
73
Eps 72 (Part³)
74
Eps 73 (Part³)
75
Eps 74 (Part³)
76
Eps 75 (Part³)
77
Eps 76 (Part³)
78
Eps 77 (Part⁴)
79
Eps 78 (Part⁴)
80
Eps 79 (Part⁴)
81
Eps 80 (Part⁴)
82
Eps 81 (Part⁴)
83
Eps 82 (Part⁴)
84
Eps 83 (Part⁴)
85
Eps 84 (Part⁴)
86
Last Chapter

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!