Eps 02

     

        Di Sekolah seperti biasa beni selalu datang lebih pagi dari semua temannya dan itu merupakan hal kebiasaan dalam masa sekolah, namun kali ini dirinya tidak sendiri karena di sana sudah ada teman kelas yang juga datang lebih awal, yaitu Manda dengan mengenakan seragam putih abu-abu dan dasi telah terikat di kerah sambil menggunakan sweater berwarna pink sehingga menambah nilai pesona bagi orang yang melihatnya

Akan tetapi jauh berbeda dengan perspektif protagonis karena menurutnya semua wanita sama saja yaitu sama-sama merepotkan, "Selamat pagi" sapaan beni sambil melambaikan tangan kecil lalu berjalan ke kursi tempatnya duduk paling belakang yang ada di pojok kanan

Sedangkan untuk Manda, dia sendiri berada dibarisan paling kanan dekat pintu dan itupun urutan yang ke tiga dari depan. "Good morning!!" balasan dari Manda dengan senyum pagi yang bisa memikat hati pria karena pada usianya sangat lumrah jika masa-masa tebar pesona 

Beberapa saat hening sejenak karena setelah duduk di kursi beni langsung membuka handphone dan mengakses aplikasi untuk membaca novel favoritnya hingga Manda hanya bisa menatap sambil merasa kalau responnya diabaikan. "Gimana, Kau ikut gak?.. " seru Manda dari tempatnya sedangkan beni hanya sibuk menatap layar handphone

"Kemana?" tanya beni dengan cetus tanpa menatap sedikitpun ke arah Manda 

"Wee.. Masa lupa sih" gerutu Manda dengan kesal karena menurutnya beni jarang serius jika berkomunikasi. "Tapi aku memang lupa" bantah beni dengan senyum terkekeh tapi masih setia untuk menatap handphone

"Kamu nih, banyak bercanda ketimbang serius deh.." ucap Manda sehingga menarik perhatian beni untuk menatap Manda sejenak

"Gak tau juga sih, soalnya aku masih banyak urusan"

"Alasan saja, kamu sibuk apaan memangnya, palingan cuman buat cerita novel" sahut Manda dengan nada meledak temannya

"Kalau iya, memangnya kenapa?" 

"Iya, gak apa-apa sih, cuman kan kalau mau nulis atau membuat karya baru, pasti membutuhkan ide brilian dan ide itu berasal dari imajinasi yang ujung-ujungnya merambat ke pikiran dan pikiran berasal dari otak sedangkan otak membutuhkan rangsangan, jadi kamu harus refreshing untuk mendapatkan ide baru!!" jelas Manda dengan panjang lebar sehingga beni tertohok mendengar menjelas yang detail 

"Buset nih anak, niat banget jelasin!!" batin beni dengan tertegun melihat penjelasan terperinci dari temannya walaupun semua penjelasan sangat sinkronisasi

"Oke-oke, aku ikut deh tapi aku gak janji yah.." beni mulai menyerah karena perempuan sangat pantang jika ingin diajak berdebat 

"Nah gitu loh, nanti kamu ajak yang lain juga" 

"Hmmm…" deheman dari beni yang langsung kembali membaca novel dari balik layar digital yaitu handphone

Setelah 5 menit berlalu datang teman perempuan yang satu lagi menyapa beni dengan senyum sumringah. "Pagi ben, sudah lama kamu sampai?" tanya gadis itu dengan senyum manis 

"Pagi juga, belum lama inilah aku sampai" 

"Kalau kamu manda?" tanyanya kepada gadis yang duduk di kursi belakang dengan tatapan intens. "Aku juga belum lama ini kok, sin" jawab manda dengan terheran-heran akibat melihat tatapan sinta di pagi hari, awalnya ia berpikir kalau dirinya belum membayar uang kas tapi setelah dipikirkan lagi mungkin ada yang lebih parah dari hal tersebut yang tidak ia ketahui

Selama menunggu jam pelajaran dimulai beni terus membaca novel di handphone, sedangkan Sinta hanya men scroll situs fb hanya saja, konsentrasinya tidaklah full karena sesekali dirinya memandang beni dengan sekilas sehingga beni merasa risih jika ditatap seperti itu 

"Sudah lama sampai ben?" tanya seseorang dengan berjalan mendekati beni

"Lumayan lah, mungkin sekitar 20 menitan" jawab beni dengan sekilas orang yang datang dan kembali lagi menatap layar

"Lain kali Jangan terlalu pagi berangkatnya lah* 

"Kenapa?"

"Ya.. Gak apa-apa, cuman apa nggak bosen kamu nunggunya"

"Aslinya sih bosen, tapikan lebih bagus jika datang lebih awal daripada terlambat"

"Yah.. Jangan sampai terlambat lah" cetus bagus dengan datar

"Haha… " beni hanya bisa tertawa kecil setelah melihat sahabatnya mulai kesal

Tidak lama datang Ahmad yang selalu menemani beni dalam masa sekolah, karena hanya dia yang peduli kepada beni ketika sedih ataupun senang, mereka sudah selayaknya dipanggil bestie jika di zaman now walaupun ahmad berpikir demikian tetapi menurut beni itu adalah hal yang paling menggelikan

Karena sifatnya yang memiliki kepribadian ganda yaitu sisi gelap dan sisi terang, semua itu karena masa lalu yang meninggalkan trauma amat dalam di hati beni dan selama hidup ia tidak mendapatkan healing dari manapun kecuali sisi gelap 

Begitu menyedihkan tetapi memang seperti itu beni yang selalu menyembunyikan rasa luka dan sakit didalam hati dengan topeng harmonis dimuka umum 

"Tumben siangan?" celetuk beni dengan cengengesan. "Aku lagi males berangkat pagi-pagi" jawab temannya dengan angkuh 

"Kamu tuh dicariin tahu!!" 

"Sama siapa?" tanya ahmad penasaran. "Fatimah" jawab beni dengan terkekeh yang membuat Ahmad salting sendiri. "Bohong?!" tanya Ahmad sekali lagi namun kali ini dengan wajah seperti badut yang dirias merah walau sebenarnya didalam hati mengharapkan hal tersebut

"Memang" 

"Bangsa*t!!" umpat Ahmad yang membuat Bagus dan beni cekikikan melihat sifat Ahmad langsung berubah drastis, candaan mereka berlangsung sampai bel masuk berbunyi dengan suasana kelas telah berubah  dimana awalnya sepi kini langsung ramai dan ricuh karena diisi dengan murid yang sekelas 

Hingga waktu telah berlalu dimana jam pertama sudah selesai dan berganti ke jam istirahat yang sudah berbunyi. Disaat semua anak-anak keluar untuk menuju kantin, beni hanya diam di kursi dengan membaca novel di handphone

"Kamu nggak ke kantin?" tanya Manda yang berdiri berada di ambang pintu sambil menatap beni karena dikelas hanya beni seorang yang belum pergi dari kursi

"Nanti aku nyusul" 

"Okelah" Manda pun pergi keluar bersama dengan temannya yang lain ketika beni masih termenung dalam membaca seakan-akan dirinya terjerumus di dalam ruang lingkup cerita yang dibacanya dengan seksama 

Sehingga dirinya tidak sadar akan ahmad yang datang setelah berbelanja di kantin. "Kamu gak ke kantin, ben?" tanya Ahmad yang mengejutkan beni dengan kedatangannya.

"Hmm.. Tumben kamu tanya" 

"Lah!!, aku loh sering omong kaya gitu, kamu nya aja yang balasannya kalau nggak, 'Nanti' pasti 'Belum lapar" seru Ahmad dengan beberapa kata penuh penekanan 

"Masa sih?, kok aku gak sadar yah dan bisa-bisanya aku bilang kaya gitu ke dia" batin beni dengan rasa bersalah

"Ya.. Maaf" balasan beni yang tatapannya penuh rasa memelas. Sehingga dibalas dengan satu kata dari Ahmad yaitu "Dasar" umpat Ahmad yang seperti sudah kenal dekat dengan beni 

Disela pembicaraan mereka datang satu gadis dengan rambut panjang yang di kuncir kuda dengan pakaian siswi SMA lainnya dia datang menghampiri beni dan Ahmad lebih tepatnya didepan meja beni. "Permisi, apa Kalian lihat, kak Manda?" tanyanya dengan lembut bagaikan bidadari karena tutur dan kulit putihnya bisa membuat pria terjebak genjutsunya

Dan hal itu memang apa adanya, karena Ahmad bisa terkesima dengannya, walaupun baru pertama kali bertemu. "Tadi aku lihat dia pergi ke kantin" celetuk beni yang menghentikan rasa pesona Ahmad ke gadis tersebut

"Oh.. Makasih" balasan gadis tersebut yang keluar dari kelas dan pergi ke kantin dimana sebelumnya beni ucapkan 

"Siapa nama cewek itu?" tanya ahmad dengan wajah terpesona 

"Mana kutehe, lagian dia adik kelas jadi urungkan saja niatmu untuk PDKT"

"Lah kenapa?"

"Adik kelas: cantik+imut+ramah+sopan+wakil ketos+populer+dikenal banyak guru+circle cantik/ganteng+cerdas dan pintar, sedangkan ahmad berkulit coklat+kumuh+no ganteng+no pintar+setia++++ jadi kesimpulannya modal setia gak cukup" begitulah isi pikiran beni terhadap ahmad yang tidak bisa diutarakan secara langsung 

"Kenapa diam?" tanya Ahmad sekali lagi karena melihat temannya melamun

"Nggak ada kok, tapi menurut ku Fatimah juga oke" jawab beni dengan senyum masam

"Walaupun Fatimah gak secantik adik kelas yang tadi tapi aku juga sakit hati masa sih, bisa-bisanya dia tolak aku sebelum nembak" gerutu Ahmad

"Haha.. Aku juga tidak tahu" tawa kecil beni yang sudah tidak tahu harus membalasnya dengan ucapan seperti apa

"Menurutmu!, apakah aku bisa punya pacar?" gumam Ahmad namun terdengar dengan jelas di telinga lawan bicara sehingga beni mematikan ponselnya dan menatap ahmad dengan lekat yang duduk di kursi samping 

"Kenapa bicara seperti itu?" tanya beni. "Ya.. Kamu enak ganteng dan pintar jadi mudah untuk mendapatkan pacar, nah kalau aku ini gimana coba?"

Celetuk… 

Suara dari Jitakan beni di kepala Ahmad dengan tatapan kesal. "Kamu kira jadi aku mudah gitu" ketus beni walaupun hatinya merasa iba tetapi dengan keadaannya yang sekarang beni sama sekali tidak bisa membantu temannya

"Humm.." bising Ahmad dengan memegangi kepala yang terkena pukulan telak dari sahabatnya

"Terkadang hidup itu sulit, tapi bukan berarti kita harus merana setiap saat, karena dibalik kegelapan pasti ada cahaya, begitu juga denganmu dimana sisi gelap mu pasti ada sisi terang hanya saja masih remang dan orang lain belum bisa melihat sisi terangmu, sehingga mereka tidak tahu seberapa berharganya kamu" 

Kata-kata beni membuat Ahmad terbelalak ketika mendengar ucapan sahabatnya, berbeda dengan sudut pandang lain. "Sialan, kenapa aku bicara seperti itu dan lagi kenapa aku harus mengambil cuplikan tersebut dari novel juga, kalau ketahuan bisa malu" gerutu beni didalam batin dengan memasang mimik wajah yang tersenyum kecut

"Makasih buat kata-katamu" ujat Ahmad hingga beni terkejut tapi harus kuat membalas ucapan dari teman walau tak enak hati. "Sama-sama" beni menyuguhkan senyum tulus dari hatinya tapi menyimpan rasa resah karena sudah maling cuplikan novel yang dibaca

Ketika sedang haru datang lagi Bagus dan Komang yang baru masuk kelas setelah nongkrong di gedung belakang sekolah, jika untuk membahas ngapain mereka, pasti kalian sudah tahu. "Dari mana kalian?" tanya beni 

"Biasalah" seru bagus yang mendekati beni. "Hmm… Okelah" dari dulu beni ingin sekali menghentikan aksi berandalan temannya hanya saja itu berbuah nihil karena tidak ada obat untuk mereka kecuali kesadaran diri

"Bahas apa kalian?" tanya Bagus 

"Nggak ada" 

"Bok*p yah!.." sindir komang dengan wajah tak bersalah yang berkata abnormal ke beni. "Ndasmu!!" balasan beni dengan nada tinggi seakan-akan sedang menahan amarah 

Pada waktu itu suasana hati beni kembali normal sehingga ia mau bergaul dengan teman-temannya sampai seluruh wanita yang lain datang berbondong-bondong karena bel jam kedua telah berbunyi walaupun beni tidak jajan tetapi dirinya tidak merasakan lapar akibat suasana hati berubah secara signifikan dari sebelumnya

****

Waktu berlalu hingga jam menunjukkan waktunya pulang, di sore hari beni bertemu dengan Sinta di parkiran motor terlihat dirinya sedang mengengkol motornya karena penasaran beni datang menghampirinya. "Ada apa, sin?" tanya beni dengan menatap motor Sinta 

"Gak tahu juga, tapi motor ini tiba-tiba ngadat dan gak mau hidup, jadinya aku bingung harus apa?"

"Hmm…  coba aku lihat bentar" tawar beni dengan jongkok di samping motor dan membuka dimulai dari tangki oli, vakum untuk udara hingga busi motor semua tampak aman hanya saja di gusi terlihat sangat kotor sehingga beni membukanya menggunakan kunci-kunci yang ia bawa dari rumah walau diletakkan didalam jok motor 

Setelah beberapa saat motor pun kembali hidup, sesudah beni mengotak-atik motor tersebut, dan terlihat tangan beni mulai berlumur oleh kantoran mesin motor hingga baju putihnya harus ikut kena 

"Sudah beres" seru beni dengan mengelap keringat dan memperhatikan motor secara seksama 

"Terimakasih banget karena kamu sudah mau membantuku, kalau nggak ada kamu aku gak tahu harus apa"

"Santai aja, lagian kita teman" jawab beni dengan senyum lebar sehingga Sinta salting sendiri

"Kamu kenapa?" tanya beni melihat Sinta menundukkan kepala 

"Ah.. Tidak apa-apa kok, yasudah aku pulang dulu takut dicari ibu"

"Hmm.. Aku antar saja" 

"Gak usah, aku takut ngerepotin kamu" balasan Sinta yang menolak tawaran beni secara halus 

"Lagian kita ini teman dan sudah tugasnya bagi teman untuk saling membantu, terlebih aku mau membantu sampai tuntas dan tak ingin setengah-setengah" 

"Tetap saja"

"Sudahlah ayo pulang, tapi sebentar aku mau ambil motorku di sana" ajak beni sehingga sinta sudah tidak memiliki alasan untuk menolak tawaran beni dan mau tak mau harus menuruti kemauannya

Sesampainya di rumah sinta, beni menghentikan motornya karena Sinta sudah mencapai alamat rumah sehingga ia harus putar balik untuk kembali kearah asal karena jalur rumah Sinta dan rumahnya sangat berlawanan namun sebelum itu, sempat mereka saling bercakap-cakap beberapa hal

"Terimakasih yah ben, karena sudah mau membantu jika tadi nggak ada kamu mungkin aku juga tidak tahu harus berbuat apa" 

"Sama-sama, lagian aku juga selama ini selalu merepotkan kalian"

"Maksudnya?" bingung lawan bicara beni Karena tidak mengerti maksud dari ucapannya

"Karena sikapku yang seperti sekarang pasti membuat kalian merasa risih ataupun tidak senang akibat notabene ku yang tidak mencerminkan ketua kelas"

"Ah.. Tidak kok, aku sama sekali tidak pernah berfikir seperti itu, dan kamu tidak perlu menjadi orang lain, cukup perhatikan saja apa yang ada di dalam hatimu karena dengan begitu orang akan menyukaimu secara tulus apa adanya, bukan dari kebohongan semata" ucapannya sehingga beni tertegun sejenak sebelum sinta mengarahkan stang motor ke halaman rumah 

"Haha.. Sialan, kata-kata itu adalah hal yang paling aku tunggu" seru beni dengan merona dan langsung menancap gas agar bisa kembali ke rumah sebelum jam makan malam 

Setelah sampai di halaman rumah dan memasukkan motor ke gerbang, Beni melihat sang adik sedang berlatih bela diri bersama angin, dengan santai beni turun dari motor dan berjalan masuk rumah akan tetapi disaat beni baru sampai teras ia dipanggil oleh Andika 

"Kak, mau duel dengan ku?" tanyanya dengan lantang sehingga beni menghentikan langkah sambil berpaling ke arah adiknya yang berdiri tanpa busana bagian atas sehingga dirinya telanjang dada, tetapi yang membuat nilai plus adalah badan yang bidang dan bahu lebarnya membuat kesan kharisma bagi pria 

"Tidak, aku lelah" ketus beni dengan angkuh kemudian sang adik melontarkan pertanyaannya. "Takut kah?" sindiran dari sang adik membuat beni ingin naik darah

"Heeh.. Apa kamu tidak puas kalah terus?" seru beni dengan membalas sindiran. "Ck.. Gak seru" gerutu Andika, memang benar apa adanya kalau Andika selalu kalah dengan kakaknya, walaupun badan Andika cukup mewadahi ketimbang beni tetapi soal ilmu bela diri, maka beni lah pemenangnya semua itu karena ia mempelajari satu jurus untuk waktu yang amat lama jauh lebih efisien ketimbang mempunyai bela diri cukup beranekaragam tapi semua itu belum di perdalam. 

BERSAMBUNG… 

Episodes
1 Eps 01
2 Eps 02
3 Eps 03
4 Eps 04
5 Eps 05
6 Eps 06
7 Eps 07
8 Eps 08
9 Eps 09
10 Eps 10
11 Eps 11
12 Eps 12
13 Eps 13
14 Eps 14
15 Eps 15
16 Eps 16
17 Eps 17
18 Eps 18
19 Eps 19
20 Eps 20
21 Eps 21
22 Curhat I
23 Eps 22
24 Eps 23
25 Eps 24
26 Eps 25
27 Eps 26 (Part²)
28 Eps 27 (Part²)
29 Eps 28 (Part²)
30 Eps 29 (Part²)
31 Eps 30 (Part²)
32 Eps 31 (Part²)
33 Eps 32 (Part²)
34 Eps 33 (Part²)
35 Eps 34 (Part²)
36 Eps 35 (Part²)
37 Eps 36 (Part²)
38 Eps 37 (Part²)
39 Eps 38 (Part²)
40 Eps 39 (Part²)
41 Eps 40 (Part²)
42 Eps 41 (Part²)
43 Eps 42 (Part²)
44 Eps 43 (Part²)
45 Eps 44 (Part²)
46 Eps 45 (Part²)
47 Eps 46 (Part²)
48 Eps 47 (Part²)
49 Eps 48 (Part²)
50 Eps 49 (Part²)
51 Eps 50 (Part²)
52 Eps 51 (Part³)
53 Eps 52 (Part³)
54 Eps 53 (Part³)
55 Eps 54 (Part³)
56 Eps 55 (Part³)
57 Eps 56 (Part³)
58 Eps 57 (Part³)
59 Eps 58 (Part³)
60 Eps 59 (Part³)
61 Eps 60 (Part³)
62 Eps 61 (Part³)
63 Eps 62 (Part³)
64 Eps 63 (Part³)
65 Eps 64 (Part³)
66 Eps 65 (Part³)
67 Eps 66 (Part³)
68 Eps 67 (Part³)
69 Eps 68 (Part³)
70 Eps 69 (Part³)
71 Eps 70 (Part³)
72 Eps 71 (Part³)
73 Eps 72 (Part³)
74 Eps 73 (Part³)
75 Eps 74 (Part³)
76 Eps 75 (Part³)
77 Eps 76 (Part³)
78 Eps 77 (Part⁴)
79 Eps 78 (Part⁴)
80 Eps 79 (Part⁴)
81 Eps 80 (Part⁴)
82 Eps 81 (Part⁴)
83 Eps 82 (Part⁴)
84 Eps 83 (Part⁴)
85 Eps 84 (Part⁴)
86 Last Chapter
Episodes

Updated 86 Episodes

1
Eps 01
2
Eps 02
3
Eps 03
4
Eps 04
5
Eps 05
6
Eps 06
7
Eps 07
8
Eps 08
9
Eps 09
10
Eps 10
11
Eps 11
12
Eps 12
13
Eps 13
14
Eps 14
15
Eps 15
16
Eps 16
17
Eps 17
18
Eps 18
19
Eps 19
20
Eps 20
21
Eps 21
22
Curhat I
23
Eps 22
24
Eps 23
25
Eps 24
26
Eps 25
27
Eps 26 (Part²)
28
Eps 27 (Part²)
29
Eps 28 (Part²)
30
Eps 29 (Part²)
31
Eps 30 (Part²)
32
Eps 31 (Part²)
33
Eps 32 (Part²)
34
Eps 33 (Part²)
35
Eps 34 (Part²)
36
Eps 35 (Part²)
37
Eps 36 (Part²)
38
Eps 37 (Part²)
39
Eps 38 (Part²)
40
Eps 39 (Part²)
41
Eps 40 (Part²)
42
Eps 41 (Part²)
43
Eps 42 (Part²)
44
Eps 43 (Part²)
45
Eps 44 (Part²)
46
Eps 45 (Part²)
47
Eps 46 (Part²)
48
Eps 47 (Part²)
49
Eps 48 (Part²)
50
Eps 49 (Part²)
51
Eps 50 (Part²)
52
Eps 51 (Part³)
53
Eps 52 (Part³)
54
Eps 53 (Part³)
55
Eps 54 (Part³)
56
Eps 55 (Part³)
57
Eps 56 (Part³)
58
Eps 57 (Part³)
59
Eps 58 (Part³)
60
Eps 59 (Part³)
61
Eps 60 (Part³)
62
Eps 61 (Part³)
63
Eps 62 (Part³)
64
Eps 63 (Part³)
65
Eps 64 (Part³)
66
Eps 65 (Part³)
67
Eps 66 (Part³)
68
Eps 67 (Part³)
69
Eps 68 (Part³)
70
Eps 69 (Part³)
71
Eps 70 (Part³)
72
Eps 71 (Part³)
73
Eps 72 (Part³)
74
Eps 73 (Part³)
75
Eps 74 (Part³)
76
Eps 75 (Part³)
77
Eps 76 (Part³)
78
Eps 77 (Part⁴)
79
Eps 78 (Part⁴)
80
Eps 79 (Part⁴)
81
Eps 80 (Part⁴)
82
Eps 81 (Part⁴)
83
Eps 82 (Part⁴)
84
Eps 83 (Part⁴)
85
Eps 84 (Part⁴)
86
Last Chapter

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!