Eps 06

 Sedangkan dari kejauhan Beni dan Ahmad hanya bisa menghela nafas panjang sambil terus menatap Bagus dengan lekat, "Sepertinya akan terjadi keributan disini" gumam beni sambil memperhatikan sekeliling, walaupun banyak yang melihat tapi tiada seorang pun yang dapat melerai mereka, bahkan bibi kantin saja tampak kebingungan disaat mata pencarian mereka terancam

"Kamu mau mundur atau benar-benar aku habisi sekarang juga!!" kecam Leader dengan sorot mata menjengkelkan, "Berisik" cetus Bagus dengan melancarkan tinju tepat di rongga hidung sehingga tanpa sempat menghindar musuh telah kena serangan fatal 

Bugh…  

Hantaman dari kepalan tinju Bagus membuat hidung sang leader mengeluarkan darah, "Bangs*t" umpat lawannya dengan diiringi oleh tinju sebagai balasan namun belum sempat mengenai target, beni datang menghentikannya dengan satu tangan kanannya 

"Hah!,.. Siapa kamu?" tanya sang leader dengan mengerutkan kening yang kian jengkel melihat orang mengganggu. 

Tentu beni sempat melihat beberapa pengikutnya yang mulai memasang badan untuk melindungi ketua mereka, "Justru malah aku yang ingin bertanya siapa kamu?, berani-beraninya kamu melayangkan tinju mu ke teman ku!!" cetus beni dengan wajah datar sambil terus menahan tinju lawan 

"Ck.. Kalian benar-benar membuat ku jengkel!!" umpat sang leader dengan menarik kembali tangannya kemudian pergi meninggalkan kantin sambil meninggalkan kalimat sebagai berikut, "Fredy, Ingat nama ku baik-baik" ucapnya dengan membelakangi Beni dan Bagus 

Fredy merupakan seorang pria adik kelas walaupun masih tergolong labil, tetapi bakatnya bukanlah hal yang bisa dianggap sepele, karena diusianya dia sudah membangun sebuah grup anak sekolah dengan kemampuan setara ketua apalagi dengan tinggi 170 cm membuatnya mampu bertarung dijarak jauh, dan menguasai kemapuan bela diri tingkat menengah

Tetapi yang membuatnya bingung adalah rasa ketakutan ketika berhadapan dengan Beni dan Bagus, karena dirinya merasa kalau dia bukanlah lawan bagi 

mereka bedua, walaupun kemampuannya sudah cukup menyaingi. 

"Huh.. Dasar anak gak tahu diri" gumam beni sambil menghela nafas panjang, dengan memperlihatkan sisi letih walaupun tidak mengeluarkan banyak tenaga. Akan tetapi yang membuatnya risih adalah ketika melihat sekumpulan mata menatap dengan lekat tanpa memalingkan pandangannya 

Sampai Ahmad datang dan mencecar pertanyaan yang bernada menekan, "Kenapa kamu ikut campur segala sih, untung tadi kamu gak terlibat diantara kerusuhan tadi" Ujarnya dengan berdiri menghadap beni akan tetapi sebelum membalas pernyataannya tiba-tiba terdengar suara dari balik punggung Beni dengan berkata yang nadanya lesu 

"Makasih mau bantu ku tadi, ben!!" seru Bagus dengan rasa enggan, "Bilang aja kalau aku datang hanya mengganggu" batin beni memasang wajah kecut akibat melihat ekspresi lawan bicara 

"Wah.. Moment langkah, pertama kali lihat ketua kelas turun tangan" sahut manda yang maju beberapa langkah dengan posisi sejajar dengan Bagus, sedangkan saudara perempuannya masih dibalik punggung

"Berisik ah,.. ayo makan, mumpung lagi lapar" jawab Beni dengan rasa enggan untuk melayani temannya yang satu ini sehingga berjalan meninggalkan mereka semua menuju kursi kosong, "Hihi.. Bercanda kali, baperan amat" timpal Manda dengan tawa kecil, sedangkan di lain tempat suasana mulai tenang hingga seluruh orang yang menonton kembali kepada kesibukannya masing-masing karena tontonan mereka sudah berakhir

Di sebuah kursi kantin yang berbentuk persegi panjang memperlihatkan beberapa orang yang sudah duduk dengan mengelilingi meja. Dimana Beni duduk diantara Bagus dan ahmad sedangkan di kursi seberang ada Manda dan Saudara perempuannya yang sampai saat ini belum diketahui namanya. 

Pada waktu itu suasana sangat sunyi tanpa ada yang membuka suara karena mereka masih canggung satu sama lain walaupun di sekeliling mereka sangat berisik akibat banyak siswa yang berada di kantin, entah itu makan ataupun sekedar nongkrong tapi yang jelas mereka melakukan aktivitas sesuai kehendak

"Bi, aku pesan Mie ayam sama Es teh-Nya satu yah" ucap Beni dengan lantang yang membuat mereka semua yang ada disana terkejut, bagaimana tidak jika Beni tidak merasa canggung sama sekali, justru ia malah memasang tampang datar 

"Aku juga, samain aja pesanannya" sambung ahmad dalam memesan, karena Beni mencari tempat didekat bibi kantin berjualan supaya memudahkan untuk berpesan tanpa harus berjalan kesana kemari

"Kalau aku beli mie goreng aja, jangan lupa ekstra pedas" lanjut Bagus dengan senyum tipis yang seakan-akan sedang memamerkan keistimewaannya kepada seorang gadis 

"Aku bakso sama jus lemon aja, Bi" Manda memesan dengan suara lembut namun bernada sehingga nada yang dihasilkan sangat indah, "Aku sama kaya kak Manda tapi bukan jus lemon tapi jus mangga" suara tersebut disertai dengan tangan yang mengangkat kelangit dan notasinya tak jauh kalah halus dengan saudaranya yaitu Manda 

"Baik nak, sebentar bibi buatin pesanan kalian" jawab sang bibi dengan menyiapkan bahan dan alat yang akan digunakan. Sembari menunggu Beni terus memikirkan kedepannya, bagaimana jika dia tak bisa melihat pemandangan ini lagi diwaktu yang akan datang lagi

"Ben, sebenarnya ada apa denganmu hari ini?" tanya Manda dengan mengerutkan alis

"Aku!!, kenapa dengan ku?"

"Hari ini kamu terlihat aneh, dimana kamu menyuruh kami membawa sesuatu padahal sebelum-sebelumnya kamu tidak pernah peduli dengan apa yang kami lakukan" disaat Manda dan Beni ngobrol sih Ahmad hanya menatap ke antara mereka sambil menunggu pesanan

"Jangan bicara tentang hal yang tidak diperlukan, Manda" cetus Beni dengan datar sambil memalingkan pandangan karena sekilas mereka sempat berkontak mata

"Heh.." 

"Aku belum tahu namamu?" tiba-tiba terdengar suara Ahmad dengan nada penasaran karena orang yang ada di hadapannya masih belum diketahui tentang nama nya 

"Ah,.. Namaku, Indri, salam kenal" jawab Indri dengan senyum lebar kemudian mengulurkan tangan dengan tujuan agar mereka berjabat tangan, tentu dengan hati senang Ahmad membalasnya kemudian melantunkan kalimatnya dengan hangat

"Salam kenal, namaku Ahmad" sehingga beberapa saat mereka saling berjabat tangan, tentu yang lain hanya bisa tersenyum termasuk Beni yang sembari tadi melirik sahabatnya 

"Ben, aku bawa sepatu bola, tapi ingat bukan hanya karena mengikuti instruksi mu tapi karena hari ini adalah jadwal aku berlatih futsal, jadi jangan berfikir aneh-aneh" seru Bagus secara langsung ke beni yang duduk disamping

"Hah?" beni sangat bingung karena dia tidak pernah berfikir seperti apa yang sedang dipikirkan oleh Bagus karena menurutnya rencana berhasil berarti ada kemungkinan bisa hidup, walaupun sepenuhnya perkataan bagus tidak salah, karena hari ini adalah hari dimana dia akan berlatih ekstrakurikuler futsal sehabis pulang sekolah

"Apa maksud mu?" titah Bagus dengan mengernyitkan alis sebelah, karena melihat reaksi beni kebingungan

"Tidak ada apa-apa kok, tapi baguslah kalau kamu bawa sepatunya" seru beni dengan senyum samping

"Beri tahu aku, apa tujuan mu?" cecar Bagus dengan tatapan intens, sehingga beni bingung harus membalas pertanyaan temannya seperti apa, tetapi  yang jelas beni harus memberi alasan logis supaya temannya tidak menaruh rasa curiga

"Se-sebenarnya aku, hanya mengingatkanmu supaya tidak lupa, barangkali kamu lupa kalau hari ini ekstra Futsal" jawab beni dengan terbata-bata 

"Yaudah, mau gimana pun aku harus berterimakasih kepadamu karena kamu sudah mau menyempatkan diri agar bisa mengingatkan aku, akan barang penting itu" 

"Ha-ha-hah.. Sama-sama" singkat beni sehingga tak lama, pesanan mereka datang yang tanpa berfikir panjang seluruh orang disana, segera menyantap pesanannya masing-masing. Akan tetapi ketika mereka sedang menikmati pesanan. Di lain tempat memperlihatkan banyak mobil polisi yang berhamburan di jalanan 

Dengan tujuan memberi pembatas kepada masyarakat supaya tidak berkerumun, sampai-sampai bagunan negara terpaksa disegel untuk sementara supaya bisa menghindari ancaman yang akan terjadi di bumi, khususnya Indonesia yang telah menggerakkan militernya besar-besaran untuk mengamankan negaranya 

Hingga negara mengerahkan seluruh armada tempur sekaligus pertolongan yaitu tim medis sebagai rasa was-was, karena asteroid luar angkasa telah memasuki atmosfer dengan koordinator lokasi belum diketahui dengan pasti 

Tetapi sudah hampir setiap negara meluncurkan kekuatannya sebagai antisipasi dalam bencana, sampai-sampai seluruh kegiatan sekolah ditiadakan dalam detik itu juga, kecuali sekolah yang berada di kota A. Karena hingga saat ini mereka masih melakukan aktivitas seperti biasa 

Antara lain, itu adalah sekolah beni dan kawan-kawan yang sebentar lagi akan terjebak oleh zombie di area sekolah, walaupun sekolah tidak memiliki lantai tingkat, tetapi ruangan dari kelas sangat banyak dan denahnya sangat lebar sehingga kamu bisa saja berkeliling untuk menghabiskan waktu istirahat 

Ketika itu Profesor dicy sedang menghadap petinggi negara yaitu dari Menteri Pertahanan. Kala itu dicy berbicara antar muka dalam sebuah ruangan yang tak lain adalah ruangannya yang biasa digunakan untuk melakukan penelitian, dengan wajah langsung berpandangan satu sama lain dengan meja pembatas di antara mereka

"Tuan dicy!!, tolong beri kan infomasi detail tentang asteroid ini, karena ada berbagai sumber yang berkata kalau benda tersebut bahaya dan ada juga yang tidak, untuk itu saya mewakili seluruh serdadu untuk menanyakan pertanyaan ini, supaya tidak terjadi kesalahan nantinya"

Tentu saja prof. Dicy mulai menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan, wajar jika mereka memberi pertanyaan karena info yang militer tahu hanya sekedar meteor jatuh, karena yang terpenting adalah perintah dari atasan saja. Karena alasan tersebut juga dicy harus repot-repot untuk membocorkan informasi penting 

"Saya harap, anda bisa menjaga rahasia ini!!" timpal dicy dengan tatapan serius, tentu saja menteri pertahanan langsung tersentak kaget tapi dia bersifat tenang karena informasi adalah data terkuat, "Baik" jawabnya dengan wajah pusat

"Sebenarnya beberapa hari yang lalu saya melakukan penyelidikan ulang dan ini yang saya dapatkan dari hasil tersebut-_" sahut Dicy dengan membuka laci meja kerja dan mengambil satu foto yang dengan cepat langsung memberikannya kepada lawan bicara 

Tentu sang menteri tersebut mengambil sebongkah gambar dengan suka hati tanpa menaruh rasa kecurigaan sama sekali, kala itu dalam beberapa saat gambar di periksa dengan seksama tapi tidak menemukan apa yang menjadi informasi baginya sehingga ia bertanya kepada dicy untuk kesekian kali

"Ada apa dengan gambar ini?" bingung sang menteri Pertahanan dengan memperlihatkan gambar dari luar angkasa yang didalamnya hanya puing-puing batu yang berterbangan di angkasa bebas

"Gambar ini" tunjuk dicy dengan jari telunjuk mengarah ke salah satu batu yang memang ukurannya cukup besar dari yang lain, tapi sang lawan bicara masih tetap bingung harus mengerti dari mana, "Ada apa dengan batu ini?" bingungnya 

"Batu yang satu ini adalah sebuah ancaman bagi permukaan bumi karena didalamnya terkandung gas dan zat kimia yang tidak diketahui kandungan didalamnya"

"Jadi?" 

"Saya memberi permohonan untuk petinggi negeri ini supaya mereka mau mengamankan rakyat sipil supaya tidak terjadi sesuatu, apabila memang hal tersebut terjadi" 

"Jadi kamu akan mengira-ngira kalau asteroid tersebut mengeluarkan gas beracun yang memakan partikel udara?" 

"Bisa dibilang begitu"

"Baiklah, saya sekarang mulai mengerti" balasan dari menteri pertahanan sebelum terbelalak mendengar kalimat dicy, "Tapi itu hanya asumsi ku yang pertama" kalimat tersebut membuat lawan bicara tertegun sebelum mencecar pertanyaannya 

"Maksud anda?" 

"Yah,.. Saya memiliki firasat jika masalah kita akan jauh lebih besar dari apa yang diperkirakan" 

"Baiklah, Terimakasih untuk infonya, mulai sekarang saya akan bertindak terutama dalam melakukan darurat militer supaya jikalau terjadi seperti apa yang anda katakan masa pasukan ku sudah siap dan tentunya aku akan melakukan yang terbaik untuk melindungi bumi pertiwi ini" seru sang menteri Pertahanan dengan memberi hormat sebelum dia pergi meninggalkan ruangan dicy

"Aku juga berharap kalau semua hanya masalah biasa" gumam dicy dengan menghela nafas kemudian selonjoran tubuh ke kursinya sambil menatap langit-langit atap

Kecemasan tidak hanya ada situ tempat melainkan diberbagai negeri khususnya bangsa pertiwi ini yang segera melakukan darurat militer besar-besaran sebagai garda depan rakyat dalam menangani Asteroid berskala besar yang tugasnya dibagi yaitu Police mengamankan warga sedangkan personil melakukan antisipatif ledakan

Sambil menggunakan masker gas sebagai penanganan radiasi nantinya. Senjata yang dibawa hingga alutsista yang diluncurkan merupakan anti peluru, semua itu sudah ibaratkan sebagai penyamun yang ada di pasar keramaian yang terjamah hingga seluruh kota, dengan masyarakat dikarantina di rumah masing-masing dengan menggunakan masker biasa yang dianjurkan oleh pemerintah

Membuat suasana jadi mencekam, dan tentu situasi tidak akan ada artinya jika keadaan tersebut tidak diliput oleh media TV sehingga banyak wartawan mulai menyoroti serdadu dan pergerakannya dengan kamera sambil meliput kejadian

News On TV : meliput kejadian dimana darurat militer dilakukan sebagai antisipasi terjatuhnya meteor luar angkasa yang belum diketahui apa yang sebenernya ditakuti oleh pemerintah sehingga mengeluarkan dana untuk pergerakan militer besar-besaran 

Kalimat itu disampaikan lewat data maupun secara lisan yang ujung-ujungnya membuat resah warga. Tentu beni yang ada di kelas membaca artikel tersebut lewat handphone, karena sembari belajar ia mencoba untuk mengaktifkan Hp-nya agar tidak ketinggian informasi

"Apa sudah dimulai" batin beni sambil melihat jam dan hari itu menunjukkan pukul 1 siang yang sebentar lagi akan istirahat

"Kamu!!,.. Kalau ibu sedang jelaskan sebaiknya jangan buka Hp atau mau ibu sita Hp mu sampai lulus" titah sang guru dengan nada tinggi kemudian menunjuk jari ke arah beni yang ketahuan membuka Hp ketika jam pelajaran berlangsung

Akan tetapi bukannya menurut justru beni malah berdiri dari kursinya kemudian berkata, "Sekarang bukan saatnya untuk santai buk" ucap beni dengan lantang sehingga seluruh orang merasa terkejut dengan tingkah-laku ketua kelas yang secara tiba-tiba berubah drastis, terutama Ahmad dan Sinta yang sangat terkejut melihatnya 

"Apa maksud mu, nak?" tanya sang guru dengan berkedut miring karena mulai kesal dengan kelakuan muridnya

Tetapi ketika itu beni belum menjawab sebelum dia tersenyum sinis lalu berkata dengan nada menekan

"Buka media internet kalian!!!" 

BERSAMBUNG…

Episodes
1 Eps 01
2 Eps 02
3 Eps 03
4 Eps 04
5 Eps 05
6 Eps 06
7 Eps 07
8 Eps 08
9 Eps 09
10 Eps 10
11 Eps 11
12 Eps 12
13 Eps 13
14 Eps 14
15 Eps 15
16 Eps 16
17 Eps 17
18 Eps 18
19 Eps 19
20 Eps 20
21 Eps 21
22 Curhat I
23 Eps 22
24 Eps 23
25 Eps 24
26 Eps 25
27 Eps 26 (Part²)
28 Eps 27 (Part²)
29 Eps 28 (Part²)
30 Eps 29 (Part²)
31 Eps 30 (Part²)
32 Eps 31 (Part²)
33 Eps 32 (Part²)
34 Eps 33 (Part²)
35 Eps 34 (Part²)
36 Eps 35 (Part²)
37 Eps 36 (Part²)
38 Eps 37 (Part²)
39 Eps 38 (Part²)
40 Eps 39 (Part²)
41 Eps 40 (Part²)
42 Eps 41 (Part²)
43 Eps 42 (Part²)
44 Eps 43 (Part²)
45 Eps 44 (Part²)
46 Eps 45 (Part²)
47 Eps 46 (Part²)
48 Eps 47 (Part²)
49 Eps 48 (Part²)
50 Eps 49 (Part²)
51 Eps 50 (Part²)
52 Eps 51 (Part³)
53 Eps 52 (Part³)
54 Eps 53 (Part³)
55 Eps 54 (Part³)
56 Eps 55 (Part³)
57 Eps 56 (Part³)
58 Eps 57 (Part³)
59 Eps 58 (Part³)
60 Eps 59 (Part³)
61 Eps 60 (Part³)
62 Eps 61 (Part³)
63 Eps 62 (Part³)
64 Eps 63 (Part³)
65 Eps 64 (Part³)
66 Eps 65 (Part³)
67 Eps 66 (Part³)
68 Eps 67 (Part³)
69 Eps 68 (Part³)
70 Eps 69 (Part³)
71 Eps 70 (Part³)
72 Eps 71 (Part³)
73 Eps 72 (Part³)
74 Eps 73 (Part³)
75 Eps 74 (Part³)
76 Eps 75 (Part³)
77 Eps 76 (Part³)
78 Eps 77 (Part⁴)
79 Eps 78 (Part⁴)
80 Eps 79 (Part⁴)
81 Eps 80 (Part⁴)
82 Eps 81 (Part⁴)
83 Eps 82 (Part⁴)
84 Eps 83 (Part⁴)
85 Eps 84 (Part⁴)
86 Last Chapter
Episodes

Updated 86 Episodes

1
Eps 01
2
Eps 02
3
Eps 03
4
Eps 04
5
Eps 05
6
Eps 06
7
Eps 07
8
Eps 08
9
Eps 09
10
Eps 10
11
Eps 11
12
Eps 12
13
Eps 13
14
Eps 14
15
Eps 15
16
Eps 16
17
Eps 17
18
Eps 18
19
Eps 19
20
Eps 20
21
Eps 21
22
Curhat I
23
Eps 22
24
Eps 23
25
Eps 24
26
Eps 25
27
Eps 26 (Part²)
28
Eps 27 (Part²)
29
Eps 28 (Part²)
30
Eps 29 (Part²)
31
Eps 30 (Part²)
32
Eps 31 (Part²)
33
Eps 32 (Part²)
34
Eps 33 (Part²)
35
Eps 34 (Part²)
36
Eps 35 (Part²)
37
Eps 36 (Part²)
38
Eps 37 (Part²)
39
Eps 38 (Part²)
40
Eps 39 (Part²)
41
Eps 40 (Part²)
42
Eps 41 (Part²)
43
Eps 42 (Part²)
44
Eps 43 (Part²)
45
Eps 44 (Part²)
46
Eps 45 (Part²)
47
Eps 46 (Part²)
48
Eps 47 (Part²)
49
Eps 48 (Part²)
50
Eps 49 (Part²)
51
Eps 50 (Part²)
52
Eps 51 (Part³)
53
Eps 52 (Part³)
54
Eps 53 (Part³)
55
Eps 54 (Part³)
56
Eps 55 (Part³)
57
Eps 56 (Part³)
58
Eps 57 (Part³)
59
Eps 58 (Part³)
60
Eps 59 (Part³)
61
Eps 60 (Part³)
62
Eps 61 (Part³)
63
Eps 62 (Part³)
64
Eps 63 (Part³)
65
Eps 64 (Part³)
66
Eps 65 (Part³)
67
Eps 66 (Part³)
68
Eps 67 (Part³)
69
Eps 68 (Part³)
70
Eps 69 (Part³)
71
Eps 70 (Part³)
72
Eps 71 (Part³)
73
Eps 72 (Part³)
74
Eps 73 (Part³)
75
Eps 74 (Part³)
76
Eps 75 (Part³)
77
Eps 76 (Part³)
78
Eps 77 (Part⁴)
79
Eps 78 (Part⁴)
80
Eps 79 (Part⁴)
81
Eps 80 (Part⁴)
82
Eps 81 (Part⁴)
83
Eps 82 (Part⁴)
84
Eps 83 (Part⁴)
85
Eps 84 (Part⁴)
86
Last Chapter

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!