Eps 03

Dikamar tidur, beni mandi untuk sore hari setelah itu memakai baju tidurnya. "Huh… Hari ini cukup melelahkan" gumamnya dengan senyum-senyum sendiri, karena kata-kata seseorang telah membuat matanya terbuka. "Kenapa aku terus teringat kata-katanya sih" gerutunya lagi dengan kesal kemudian membanting dirinya ke kasur dan membuka ponsel untuk melihat isi message

Yang membuatnya terkejut adalah melihat sebuah notif dari Ahmad, karena penasaran dengan temannya beni pun membuka isi pesan tersebut.

( Pesan message )

Ahmad

Sudah sampai rumah?

**Beny**

Sudah, kenapa?

Ahmad

Gkpp

**Beny**

Lah!!, aku kira kenapa

Ahmad

Lagi apa?

Beny

Lagi sibuk!!

Setelah membalas chat yang tidak berfaedah akhirnya beni menutup handphonenya karena merasa sudah sangat letih yang akhirnya tertidur untuk menutup aktivitas hari ini dan melanjutkannya diesok hari tanpa di sadari dirinya terbawa ke alam mimpi dimana beni berdiri diantara kerumunan orang, hanya saja ada yang aneh di antara mereka semua

"Dimana aku?" bingung beni dengan terheran-heran melihat posisinya berada, karena orang-orang yang mengelilinginya mulai berjalan kearahnya, walaupun jalannya lambat tetapi mereka terlihat begitu agresif karena terlihat dari mata mereka yang berwarna merah menyala

"Ada apa dengan mereka?" bingungnya setelahnya ia melihat ke arah bangunan seperti apartemen dan gedung bertingkat, tetapi jika dilihat bangunan itu bukan seperti tempat manusia tinggal karena waktu itu bangunannya sudah hancur dan rumput menjalar mengelilingi gedung, jika di prediksi hal tersebut sudah tak layak pakai

"Kenapa bangunan itu sangat aneh dari apa yang aku kulihat, dan dimana sebenernya aku?" beni tidak mampu mencerna apa yang dilihatnya, terlebih lagi ia memperhatikan orang-orang mulai mendekatinya

"Jangan-jangan mereka-_..?" waktu itu kerumunan orang yang mengelilinginya sudah sedekat 2 langkah sedangkan beni tidak bisa berbuat apapun, karena untuk menggerakkan kaki saja tidak bisa dilakukan olehnya

Sehingga waktu itu beni hanya berdiam diri ditempat dengan mulut terbungkam erat, semua itu terlihat nyata bagaimana bisa semua itu terlihat seperti real atau lebih tepatnya petunjuk masa depan, walau itu masih tahayul tapi setidaknya beni bisa menggunakan penglihatan tersebut untuk was-was dengan apa yang akan terjadi dimasa depan

Di Detik terakhir sebelum bangun, beni dikerumuni oleh orang-orang tersebut dan di cabik dengan sangat brutal menggunakan mulut sampai beni kembali ke dunia nyata yaitu tersadar dengan keadaan tubuh berkeringat dingin dan jantung berdegup sangat cepat, seperti orang habis marathon berkilo-kilo meter

"Mimpi apa itu?" bingung beni dengan enggan untuk berfikir jauh sebelum ia beranjak dari kasurnya, karena hari sudah menunjukkan pukul 5 dini hari, karena sudah bangun kepalangan beni langsung mandi dan bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah

*****1 Hari sebelum terjadi*****

Disekolah seperti biasa beni datang lebih awal dari temannya, walau sudah mendapat teguran dari Bagus tapi tidak ada salahnya berangkat lebih pagi, waktu itu sudah ada manda di kelas. "Selamat pagi" sapa beni dengan mengunggah senyum paginya

"Pagi juga" balas manda di kursinya. "Tumben kamu datang lebih pagi?" tanya beni sambil duduk di kursinya

"Biar profesional, aja dalam menempuh pendidikan" ujar Manda hingga beni terkekeh sendiri kemudian membalas perkataan temannya dengan datar. "Heh.. Aneh juga, otoritas mu"

"Kalau kamu?" tanya manda. "Aku, Kenapa?" bingung beni dengan mengernyitkan alis

"Kenapa berangkat pagi-pagi"

"Karena gabut aja, lagian aku ngapain dirumah lama-lama"

"Disini juga kamu gak ngapain-ngapain"

"Bener juga" alasan beni berangkat pagi tidak cuman suka aktivitas pagi melainkan karena paman dan neneknya tidak ingin melihatnya tampil seperti anak nakal, oleh karena itu dia bersifat seperti anak rajin walau tidak pintar

"Aneh" gumam Manda setelah melihat temannya termenung cukup lama

Beberapa saat waktu berlalu datang Ahmad dengan petatang-peteteng, sambil menyapa temannya. "Pagi, ben" sapanya dengan senyum cengengesan

"Pagi juga" balas beni. "Pagi banget kamu datangnya, ben" ucap Ahmad

"Karena aku anak teladan" jawab beni dengan membanggakan diri sendiri. "Iyalah tuh" jawab Ahmad dengan jengah

"Mat, bisa kamu temenin aku ke bengkel nanti pulang sekolah?"

"Ngapain?" tanya Ahmad

"Cari pokemon" cetus beni dengan ekspresi datar sehingga Ahmad senyum-senyum sendiri "Canda, ya deh, nanti aku temani"

"Nice"

"Nanti istirahat ke kantin sama-sama yok, ben" ajak Ahmad. "Oke" balas beni dengan santai

Jam pelajaran telah berganti ke waktu untuk istirahat, sehingga seluruh murid bisa melakukan aktivitas legalnya, seperti berbicara kasar, berantem, ataupun nongkrong di warung emak, kecuali Beni dan Ahmad karena mereka tidak memiliki circle seperti Ahmad yang terlalu lugu dan beni seorang introvert membuat mereka tidak tertarik untuk bergaul

Berbeda dengan Bagus dan Komang, mereka memiliki sebuah kelompok anak-anak badung, yang kebiasaan merokok di belakang sekolah ataupun warung emak (bass camp)

Di kantin Beni dan Ahmad memesan mie ayam untuk menjadi hidangan pertama, setelah habis mereka langsung pesan gorengan dan Es sebagai hidangan penutup

"Niscaya, Mie ayam paling the beast" gumam beni sambil mengunyah bakwan. "Namanya juga makanan, pasti enak lah" sahut Ahmad

"Balik, kelas?"

"Woke…" akhirnya mereka pun beranjak dari tempat duduk untuk ke bibi kantin dan membayar tagihan setelah makan, kemudian kembali ke kelas karena jam pelajaran kedua akan segera dimulai

Di perjalanan menuju kelas beni dan ahmad secara tak sengaja berpapasan dengan Manda dengan diikuti oleh satu gadis kuncir yang dulu pernah bertemu di kelas. "Mau kemana kalian?" tanya Manda dengan santai sambil menghentikan langkah kaki

"Balik kelas, kenapa?" tanya Beni dengan datar

"Jajan lagi, temenin kami" ajak Manda. "Maaf uang kami habis" jawab Beni dengan to he point

"Oke" jawab Manda setelah itu mereka pergi tanpa sadar mata Ahmad dan gadis itu saling bertemu dan merasa canggung satu sama lain, walau tidak disadari oleh Manda dan Beni, setelah berjalan cukup jauh Beni pun angkat bicara

"Kenapa diam?" bingung beni melihat Ahmad bengong sambil cengar-cengir, karena merasa diabaikan beni langsung menepuk pundaknya dengan cukup keras sehingga menyadarkan Ahmad dari lamunan

"Eh.. Monkey, kenapa kau mengagetkanku!!" seru Ahmad dengan panik. "Kenapa, Panik?" tanya Beni dengan intens merasa kalau temannya menyembunyikan suatu rahasia di balik punggungnya

"Gak ada kok" Ucap Ahmad dengan malu kemudian berjalan mendahului Beni dengan langkah 2x lipat dari sebelumnya. "Aneh" gumam Beni dengan penasaran kemudian menyetarakan kecepatan dengan sahabatnya

Sesampainya di kelas mereka langsung melakukan aktivitas seperti biasa sampai akhirnya mereka untuk pulang namun sebelum pulang Beni dan Ahmad bertemu di parkiran karena sesuai janji yaitu untuk ke bengkel menemani Beni menyervis motornya

"Jadi gak!! Kita ke bengkel?" tanya Ahmad sambil menarik motor dari parkiran. "Iya" balas Beni sehingga mereka pun pergi bersama-sama menuju lokasi bengkel terdekat setelah sampai mereka bercanda dan ngbrol panjang lebar untuk menunggu motor ninja milik beni selesai diperbaiki

"Bentar lagi magrib nih, ben" sahut Ahmad dengan menatap langit karena hari sudah semakin sore. "Tunggu sebentar lagi pasti selesai" Balas Beni dengan melirik ke arah motor yang sedang di otak-atik oleh tukang bengkel

Tepat di pukul 18.21 WIB, akhirnya motor Beni pun selesai diperbaiki dan siap untuk dipakai, karena hari sudah hampir malam, Beni dan Ahmad pun bergegas bergerak menuju rumah masing-masing dengan ucapan pisah mereka melakukan tos dengan kepalan tinju sambil berkata. "Semoga selamat" ujar beni. "Oke jawab Ahmad dengan singkat

Setelah dirumah beni melepas seragam dan ikut bersama keluarganya untuk makan malam di meja makan, awalnya suasana berjalan normal sampai sang adik berkata. "Paman, apakah ayah bisa dihubungi?" tanyanya. "Belum, kenapa?" jawab sekaligus bertanya dari sang paman dengan tatapan intens

"Nggak apa-apa" balas Andika dengan gugup karena merasa kalau kata-katanya ada yang salah walau semua itu sangat wajar baginya, dan beni bisa merasakan hal tersebut

"Sudah-sudah jangan bicara sebelum makanan habis" sang nenek yang menyela pembicaraan dengan senyum lebar

"Baik" jawab Andika dengan raut wajah lesu. Setelah usai makan Andika dan Beni kembali kekamar masing-masing karena hari sudah jam 9 malam dan menunjukkan waktu istirahat untuk seorang pelajar. Dikamar Beni berbaring di kasur sambil menyalakan ponsel dan membuka sosial media lalu scroll informasi news

Awalnya tiada yang menarik dari berita digitalnya namun semua itu tidak bertahan lama karena saat dirinya terlarut dalam sosial media, alangkah terkejutnya Beni melihat sebuah berita baru-baru ini yang membahas Astroid yang hendak mendarat ke bumi dihari esok dan diperkirakan pukul 13.00 WiB benda itu akan masuk Atsmofer walau belum diperkirakan jatuhnya

Semua itu adalah berita secara data yang ditulis oleh prof. Dicy, sekaligus seseorang terkemuka di dunia penelitian astronomi, bahkan dirinya sudah berhasil memecahkan kasus jarak dari matahari kedua setelah sumber cahaya bumi dan menginjakkan kaki ke bulan, semua itu sudar tersirat dengan begitu cepat sehingga namanya jadi naik daun

"Rasanya ingin sekali bertemu dengannya" gumam Beni sebelum tersadar akan satu petunjuk lagi, namun sebelum itu tampak Beni terbelalak ketika menyadari hal tersebut, yang awalnya tiduran kini langsung mengambil sikap duduk di atas kasur

"Zombie, Meteor, besok" batin Beni mencoba untuk mencerna setiap teka-teki yang diperoleh, tetapi ia masih tidak yakin jika itu benar, karena semua itu masih bersifat tahayul, namun tidak ada salahnya mempersiapkan diri, dimana dirinya beranjak dari kasur lalu mengambil sebuah cutter besi disebuah laci samping tempat tidurnya padahal benda itu awalnya hanya digunakan untuk kerja kelompok tetapi sekarang malah untuk survival

Namun ketika sedang menggenggam benda itu Beni mulai terparangai membayangkan nasibnya untuk kedepannya, bagaimana jika itu benar maka saudara, paman, nenek bahkan adiknya sekalipun mungkin akan benar-benar dalam bahaya, untuk sesaat Beni termenung sebelum meletakkan kembali cutter tersebut di atas meja dan mulai berfikir

"Kenapa aku overthinking?, seharusnya aku optimis mungkin mimpi itu hanya bunga tidur dan belum tentu terjadi" gumamnya di dalam kamar

"Tapi bagaimana kalau itu benar, apakah aku siap untuk semuanya?"

"Mungkin dulu aku ingin dunia ini lenyap, tetapi kenapa rasanya sakit ketika melihat orang yang sudah menganggap ku ada, malah tandus bersama dikelamnya dunia?" Beni mulai mengingat orang-orang yang sudah mau berteman dengannya bahkan orang yang mencintainya

"Kenapa?.. Rasanya sakit ketika tahu kejadiannya lebih dulu" beni mulai menentikan air mata karena menganggap sekali lagi dirinya harus menata sang hati kecil

"Huh… Jikalau dunia ingin mengajakku bermain, maka aku akan menjadi pro players dalam skenarionyai" beni kini tersenyum dengan tanda ia sudah siap dengan apapun yang terjadi nantinya

Sebelum tidur dia langsung membuka message di grub kelasnya untuk memberitahukan mereka agar membawa snack secukupnya dengan alasan untuk makan bersama dikelas dan hal tersebut berhasil, tiada orang yang curiga akan tujuannya, tetapi setelah dia memberi saran satu lagi yaitu membawa kain setiap orang

Tentu dengan serentak seluruh orang di kelas terkejut disetiap individu, sehingga banyak komentar untuk apa dibawa benda seperti itu, sampai-sampai beni menampung banyak sekali pertanyaan dari teman-temannya. "Aduh gimana ini cara untuk menjelaskan kepada mereka?" batin beni kebingungan

Sehingga ada satu orang dengan senang hati melanjutkan perjuangan beni dengan mengantikan alasannya dengan cara seperti demikian. 'Mungkin untuk alas duduk kita!' sehingga banyak orang yang merespon alasan tersebut dengan membalas kalau permintaan membawa kain tersebut dengan tanggapan setuju

Sehingga beni bisa bernafas lega karena ada seseorang yang membantu dirinya, tapi ketika ia melihat orang tersebut, ternyata dia adalah Sinta sehingga beni merasa resah ketika memikirkan ke hari esok. "Aduh… gimana nih, besok?" gumam beni dengan deg-degan tapi sekali lagi dia harus fokus ke tujuannya

Setelah semuanya selesai dia langsung menghubungi teman intinya karena mereka adalah peranan penting dalam kelas, karena jika mengandalkan kekuatan dia seorang maka akan sia-sia, jadi dia menghubungi bagus untuk membawa sepatu futsal dan itu disetujui oleh bagus walau banyak sekali kebingungan dikepalanya tapi dirinya harus percaya dengan seorang temannya sendiri yaitu beni

Alasannya sederhana karena Bagus memiliki talenta dalam sepak bola, jadi ia berpikir jika temannya akan bagus jika menggunkan sepatu bola untuk senjata walaupun tidak bisa disamakan dalam menendang bola dan manusia

Sesudah masalah Bagus selesai beni langsung menghubungi Ahmad dengan menyuruhnya membawa senjata yang bisa digunakan untuk melukai seseorang, tentu Ahmad bingung tapi beni terus-menerus memaksanya sehingga Ahmad pun sepakat akan membawa palu karena hal tersebut juga beni teringat untuk membawa paku di hari H

Kemudian Komang, beni sempat bingung sejenak dengan sesuatu hal yang pas untuknya karena jika dipikir-pikir tiada senjata yang bisa dikombinasikan dengan gerakan voli, tetapi ada satu hal yang penting dan sangat berguna untuk dikelas ataupun diluar sekolah, yaitu linggis karena benda itu multi-peran dalam kegunaan

Bisa untuk senjata ataupun kegunaan yang semestinya dan sangat dibutuhkan oleh beni nantinya, tentu beni menyarankan komang untuk membawa benda itu dengan alasan untuk kegiatan kerja kelompok karena jika tidak demikian maka komang tidak akan mau menurutinya, dan alasan tersebut langsung di setujui olehnya

Sehingga untuk terakhir yaitu cahya, awalnya dia sangat bingung karena cahya tidak berbakat dibidang olahraga raga, namun sangat cerdik dalam pelajaran seperti hal nya menghafal, jadi beni mulai teringat satu hal yang penting yaitu denah atau peta lingkup sekolah karena sekolahnya cukup luas jika ditelusuri oleh karena itu beni menyuruh cahya membuat peta sesimpel apapun, asalkan worttid dengan yang asli

Cahya awalnya juga bingung dan mulai meminta penjelasan kepada beni akan maksudnya telah menyuruh seluruh anggota kelas membawa apa yang diperintahkan oleh Beni tetapi dirinya mengelak dengan berkata akan menjelaskannya pada pukul 14.00 itupun jika terjadi seperti yang dibayangkan olehnya

Karena beni sendiri tidak pasti dengan pikirannya tapi setidaknya dia telah mempersiapkan segala keperluan supaya ketika terjadi, maka dia telah siap sepenuhnya, tentu saja cahya menanti penjelasan dari temannya di hari esok.

BERSAMBUNG…

Episodes
1 Eps 01
2 Eps 02
3 Eps 03
4 Eps 04
5 Eps 05
6 Eps 06
7 Eps 07
8 Eps 08
9 Eps 09
10 Eps 10
11 Eps 11
12 Eps 12
13 Eps 13
14 Eps 14
15 Eps 15
16 Eps 16
17 Eps 17
18 Eps 18
19 Eps 19
20 Eps 20
21 Eps 21
22 Curhat I
23 Eps 22
24 Eps 23
25 Eps 24
26 Eps 25
27 Eps 26 (Part²)
28 Eps 27 (Part²)
29 Eps 28 (Part²)
30 Eps 29 (Part²)
31 Eps 30 (Part²)
32 Eps 31 (Part²)
33 Eps 32 (Part²)
34 Eps 33 (Part²)
35 Eps 34 (Part²)
36 Eps 35 (Part²)
37 Eps 36 (Part²)
38 Eps 37 (Part²)
39 Eps 38 (Part²)
40 Eps 39 (Part²)
41 Eps 40 (Part²)
42 Eps 41 (Part²)
43 Eps 42 (Part²)
44 Eps 43 (Part²)
45 Eps 44 (Part²)
46 Eps 45 (Part²)
47 Eps 46 (Part²)
48 Eps 47 (Part²)
49 Eps 48 (Part²)
50 Eps 49 (Part²)
51 Eps 50 (Part²)
52 Eps 51 (Part³)
53 Eps 52 (Part³)
54 Eps 53 (Part³)
55 Eps 54 (Part³)
56 Eps 55 (Part³)
57 Eps 56 (Part³)
58 Eps 57 (Part³)
59 Eps 58 (Part³)
60 Eps 59 (Part³)
61 Eps 60 (Part³)
62 Eps 61 (Part³)
63 Eps 62 (Part³)
64 Eps 63 (Part³)
65 Eps 64 (Part³)
66 Eps 65 (Part³)
67 Eps 66 (Part³)
68 Eps 67 (Part³)
69 Eps 68 (Part³)
70 Eps 69 (Part³)
71 Eps 70 (Part³)
72 Eps 71 (Part³)
73 Eps 72 (Part³)
74 Eps 73 (Part³)
75 Eps 74 (Part³)
76 Eps 75 (Part³)
77 Eps 76 (Part³)
78 Eps 77 (Part⁴)
79 Eps 78 (Part⁴)
80 Eps 79 (Part⁴)
81 Eps 80 (Part⁴)
82 Eps 81 (Part⁴)
83 Eps 82 (Part⁴)
84 Eps 83 (Part⁴)
85 Eps 84 (Part⁴)
86 Last Chapter
Episodes

Updated 86 Episodes

1
Eps 01
2
Eps 02
3
Eps 03
4
Eps 04
5
Eps 05
6
Eps 06
7
Eps 07
8
Eps 08
9
Eps 09
10
Eps 10
11
Eps 11
12
Eps 12
13
Eps 13
14
Eps 14
15
Eps 15
16
Eps 16
17
Eps 17
18
Eps 18
19
Eps 19
20
Eps 20
21
Eps 21
22
Curhat I
23
Eps 22
24
Eps 23
25
Eps 24
26
Eps 25
27
Eps 26 (Part²)
28
Eps 27 (Part²)
29
Eps 28 (Part²)
30
Eps 29 (Part²)
31
Eps 30 (Part²)
32
Eps 31 (Part²)
33
Eps 32 (Part²)
34
Eps 33 (Part²)
35
Eps 34 (Part²)
36
Eps 35 (Part²)
37
Eps 36 (Part²)
38
Eps 37 (Part²)
39
Eps 38 (Part²)
40
Eps 39 (Part²)
41
Eps 40 (Part²)
42
Eps 41 (Part²)
43
Eps 42 (Part²)
44
Eps 43 (Part²)
45
Eps 44 (Part²)
46
Eps 45 (Part²)
47
Eps 46 (Part²)
48
Eps 47 (Part²)
49
Eps 48 (Part²)
50
Eps 49 (Part²)
51
Eps 50 (Part²)
52
Eps 51 (Part³)
53
Eps 52 (Part³)
54
Eps 53 (Part³)
55
Eps 54 (Part³)
56
Eps 55 (Part³)
57
Eps 56 (Part³)
58
Eps 57 (Part³)
59
Eps 58 (Part³)
60
Eps 59 (Part³)
61
Eps 60 (Part³)
62
Eps 61 (Part³)
63
Eps 62 (Part³)
64
Eps 63 (Part³)
65
Eps 64 (Part³)
66
Eps 65 (Part³)
67
Eps 66 (Part³)
68
Eps 67 (Part³)
69
Eps 68 (Part³)
70
Eps 69 (Part³)
71
Eps 70 (Part³)
72
Eps 71 (Part³)
73
Eps 72 (Part³)
74
Eps 73 (Part³)
75
Eps 74 (Part³)
76
Eps 75 (Part³)
77
Eps 76 (Part³)
78
Eps 77 (Part⁴)
79
Eps 78 (Part⁴)
80
Eps 79 (Part⁴)
81
Eps 80 (Part⁴)
82
Eps 81 (Part⁴)
83
Eps 82 (Part⁴)
84
Eps 83 (Part⁴)
85
Eps 84 (Part⁴)
86
Last Chapter

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!