"Maaf" ucapan satu kata dari beni membuat seluruh orang disana terkejut termasuk Ahmad yang merupakan sahabat dekatnya. "Maaf karena lagi-lagi aku harus merepotkan kalian, aku tidak masalah jika harus pergi dari sini" ujar beni yang melangkah dengan sempoyongan akibat tubuh terbanting hingga meninggalkan rasa nyeri dan sakit
"Berhenti!!.." ucap Sinta dengan lantang sambil melirik ke arah Ahmad sekilas sabagai isyarat agar bisa menahan Beni supaya tidak keluar kelas tidak hanya karena zombie yang bergelimang tetapi hari sudah semakin gelap
"Aku tidak pernah menyalahkan mu, karena aku tahu kalau kamu pasti memiliki masalah tersendiri sehingga bersifat seperti ini, bukannya aku sudah pernah bilang untuk bercerita kepadaku jika kamu memiliki masalah"
Nasehat Ahmad telah menghentikan langkah Beni sehingga beberapa saat kemudian ia berpaling melihat sahabatnya. "Tapi aku sudah mengacaukan segalanya mungkin kalian akan berpikir kalau aku hanyalah benalu bagi kalian" balasan beni dengan tatapan kosong
"Justru, karena kamu lah, kita semua masih memiliki kesempatan agar bisa hidup sampai sekarang"
"Sudahlah, aku paling jengkel dengan adegan dramatis, sekarang yang terpenting adalah bagaimana kita bisa melalui semua ini jika kamu berkata mungkin kita tidak akan pernah mendapat bantuan dari luar"
"..." Beni hanya menatap Bagus dengan lekat yang memperlihatkan logatnya ketika sedang berpikir, sampai manda memotong obrolan kami dengan suara gemetar. "Aku harus keluar dari sini, karena ada seseorang yang menunggu ku disana" ucapnya dengan turut beranjak dari duduk, karena selama percakapan Beni, dia hanya diam dengan ekspresi murung
Ketika itu Beni hanya terdiam karena masih terpaku dengan kejadian sebelumnya, sehingga masalah Manda diturut sertakan oleh Bagus yang sembari tadi berusaha untuk menghibur. "Sekarang kita tidak bisa membantumu, Manda, apalagi membiarkanmu keluar dari sini" jawab Bagus
"Kenapa?" tanya Manda dengan wajah tertegun kaget ketika mendengar ucapan dari mulut Bagus
"Diluar masih sangat bahaya dan kondisi kita tidak memungkinkan untuk bergerak"
"Tapi aku tidak bisa bertahan disini, sedangkan saudara ku masih dalam bahaya" bantah Manda dengan mata berkaca-kaca seakan berusaha untuk tidak menangis. Bagus yang melihat dengan cepat mendekap tubuh manda tanpa memperdulikan pandangan orang akan dirinya
Tentu saja seluruh orang terkejut melihat reaksi Bagus, karena yang mereka tahu adalah dimana Bagus tidak peduli dengan wanita, karena setahu beni pernah mendengar jikalau Bagus pernah disakiti oleh wanita di masa lalu
"Kita akan bertahan disini sampai 2 hari!!" ucap beni dengan menyela suasana. "Apa maksud mu?" tanya Manda yang melepas pelukan dengan melontarkan pertanyaan
"Seperti yang aku bilang, kita akan bergerak di 2 hari berikutnya!!"
"Tapi Itu terlalu lama" timpal Manda dengan suara lirih
"Banyak alasan dimana kita bergerak 2 hari berikutnya, dan salah satunya adalah konsumsi"
"Jadi kamu ingin berkata kalau manusia akan bergerak karena makanan?" sahut Cahya yang mulai mengerti arah pembicaraan. "Benar, mungkin manusia bisa tahan dengan yang namanya makan, tapi tidak dengan air" balas Beni dengan mengiyakan pernyataan Cahya
"Memang benar, tapi apakah kamu yakin dengan jangka waktu itu?"
"Aku juga tidak yakin tapi kemungkinan disaat itulah terjadi keributan, dan kita bisa memanfaatkannya untuk melarikan diri"
"Bagaimana jika tidak terjadi?" potong Bagus dengan menyela
"Maka tunggu sampai terjadi"
"Beberapa kita hanya terus bertahan sambil mengulur waktu?" sambung Manda. "Iyah" jawab singkat beni dengan serius
"Lalu bagaimana dengannya" Semakin lama Manda semakin meronta-ronta dengan keadaan gelisah
"Tenangkan dirimu, karena keadaanmu sekarang tidak akan mengubah situasi!!" tegas beni dengan tatapan serius
"Aku mengerti perasaanmu, tapi tolong lah untuk bersabar, kita percaya saja dengan dirinya" sahut Bagus dengan menatap hangat Manda
Pada waktu itu zombie yang berada diluar kelas terus meronta-ronta namun kian mulai memudar suaranya akibat tidak mendapat respon lagi dari dalam, sehingga seluruh murid yang ada didalam termasuk beni sendiri bisa beristirahat untuk malam ini dengan tenang sambil menyusun rencana dihari esok
Saat itu jam menunjukkan pukul 7 pm. Dimana seluruh orang dikelas termasuk beni sudah kembali ke posisi semula walaupun pada waktu itu Beni duduk dipojok ruangan dengan mengunyah roti sebagai pengisi perut di malam hari
Sedangkan teman-teman yang lain sudah kembali ketempatnya yang duduk dengan susunan melingkari makanan. termasuk Bagus yang makin kesini semakin dekat dengan Manda. Beni dapat melihat hal tersebut karena dia duduk dari kejauhan dengan status seorang diri namun masih tetap memantau
"Sebenarnya, apa maksud dari perkataannya" batin beni yang masih terus teringat dengan perkataan sisi gelapnya yang sempat muncul di bawah alam sadar.
Karena mau bagaimanapun juga akan tetap menjadi beban pikiran, apalagi setiap kalimat yang diucapkan bukan hanya sekedar omong kosong. "Melihat masa depan?, kenapa aku seperti sedang nonton kartun, rasanya" Ucap beni dalam hati sambil melihat garis telapak tangan
"Ben!!" panggil Ahmad dengan berjalan pelan kearah temannya yang sepertinya sedang memikirkan sesuatu karena semua itu terlihat jelas dari mimik wajahnya
"Ada apa?" tanya Beni ketika itu langsung melihat sang teman datang menghampiri dirinya
"Nggak ada apa-apa, hanya ingin memastikan kalau kamu gak bakal stress"
"Apa maksudmu?"
"Dari tadi aku melihatmu berdiam dirii saja disini, tentu aku malah kepikiran kalau kamu sedang menyimpan rahasia dari kami semua"
"Jika ada, apa hubungannya dengan kalian" cetus beni dengan datar karena sekilas dia teringat dengan kata-kata sisi gelapnya yang berkata dengan demikian, 'Jangan naif' kalimat tersebut selalu teriang dikepalanya, walau beni sudah berusaha untuk tidak terlalu dipikirkan.
Ahmad yang mendengar ucapan tersebut dari temannya mulai resah dengan menjawab ucapan Beni dengan kalimat yang lugas. "Mungkin kamu merasa terbebani dengan adanya kami disini, mungkin termasuk dengan diriku juga"
"Akan tetapi ada hal yang perlu kamu tahu, yaitu pandanganku terhadap mu tak akan pernah berubah, karena kita sahabat, dan itu adalah hal yang selalu aku abadikan dalam hidup, karena tanpa mu aku akan tetap sendiri sampai sekarang"
"Percuma saja menghibur ku karena mau sampai kapanpun aku akan tetap sendiri"
"Kamu tidak sendiri, hanya saja dirimu sendiri yang menolak kami, dimana kamu ingin menanggung semunya walaupun kamu kuat tetap saja kamu akan membutuhkan orang lain karena kita hidup bukan untuk diri sendiri"
Setelah mendengar nasehat Ahmad akhirnya beni pun menghela nafas panjang dan melantunkan kalimat secara objektif. "Kenapa kamu jadi sok bijak sih" cetus Beni dengan senyum tipis melekat di sudut bibir
"Haha.. Aku belajar darimu, karena selama ini kamulah yang terus-menerus menyadarkan arti penting kehidupan untuk ku" tawa kecil ahmad yang ngeselin sehingga beni memukul lengannya dengan tenaga
Usut demi usut waktu sudah menunjukkan pukul 9 pm. Dimana hari semakin gelap, apalagi ruangan kelas dimana Beni dan teman-temannya bernaung tidak memiliki penerangan sama sekali kecuali senter handphone akibat listrik sekolah terputus begitu Asteroid jatuh menghantam permukaan bumi, jadinya mereka hidup dengan se'alakadarnya
Apalagi makanan snack yang dibawanya kini sudah menipis karena sebagian telah dibagikan kepada orang yang tidak membawa persiapan, walaupun beni sudah memberi perintah tetapi ada yang tak menggubris tanggapannya, tetapi ada sebagian juga yang benar-benar lupa dengan apa yang telah ditetapkan oleh Beni kemarin
Malam itu sangat sunyi seperti tiada makhluk lain yang menghulu sekolah karena sebagian besar seluruh siswa maupun guru telah terinfeksi sehingga menjadi mayat hidup, yang hanya mengeluarkan bunyi gertakan gigi dan raungan kecil, walau begitu tetap saja siapapun yang mendengar akan merasa takut dan bergidik ngeri
"Jam berapa?" tanya Beni kepada Ahmad yang sembari tadi masih setia duduk disampingnya. "Jam 9 malam" jawabnya dengan melihat layar ponsel yang dia pegang waktu itu, sambil berharap jika ada keajaiban yaitu sebuah sinyal agar bisa menghubungi orang diseberang sana
"Menurutmu apa kita bisa bertahan sampai akhir?" tanya Ahmad yang mencairkan suasana karena setelah menyebutkan jam, Beni mulai terpaku dengan lamunan sampai suasana kembali hening
"Dimana akhirnya?" bukannya menjawab justru Beni malah bertanya kembali, bahkan saat itu tatapannya seperti orang pasrah
"Maksudmu?"
"Apakah kamu berharap zombie akan hilang dengan sendirinya, atau ada seseorang superhero yang datang dan mengakhiri semuanya sehingga kita bisa kembali hidup dengan bahagia"
Tekanan tersebut membuat Ahmad terdiam seribu bahasa, karena berkali-kali Beni selalu membuatnya mati kutu dengan tatapan maupun perkataan yang penuh intimidasi
"Kalau begitu kita masih punya harapan terhadap Tuhan akan dunia ini, bukan!!"
"Kamu terlalu optimis dengan situasi ini, aku salut dengan mu"
"Haha.."
"Mat"
"Apa?" sahut Ahmad dengan memiringkan kepala yang terlihat seperti menunggu pejelasan dari sahabatnya
"Jikalau aku kehilangan kendali atas diri ku, maka hentikan aku segera, apapun caranya"
"Apa maksud dari perkataan mu?, kenapa sih setiap mendengar kalimat mu justru aku malah kebingungan sendiri" gerutu Ahmad dengan jengah
Ketika itu datang Sinta dengan membawakan sebuah kain yang kebetulan waktu itu tidak terpakai semuanya untuk dijadikan sebagai hordeng, "Ben!!" panggil Sinta dengan lirih sambil berjelan pelan menghampirinya dan duduk dihadapan Beni dan Ahmad
"Ada apa?" tanya Beni dengan to the point
"Ini ben, Ada selimut untuk alas tidur, mungkin bagian bantal bisa menggunakan ransel sekolah"
"Bagimana dengan mu?"
"Ah.. Aku ada kok, barengan sama yang lain"
"Terimakasih" ucap Beni yang membuat lawan bicara langsung salting sendiri akibat mendengar satu katanya, "Kenapa?" sambung Beni dengan merasa aneh kepada Sinta yang waktu itu duduk di depannya
"Nggak ada kok, bagaimana dengan luka mu?"
"Luka?"
"Iyah, luka yang diakibatkan bertengkar sama Bagus"
"Ah.. Aku tidak ada luka sama sekali, hanya memar biasa dan ini sudah biasa untuk pria remaja"
"Kamu yakin!, gak ada rasa sakit ataupun perih gitu?" tanya Sinta yang makin kesini, membuat Beni resah
"Beneran, mungkin hanya nyeri tulang tapi ini sudah biasa, jadi tak perlu khawatir"
"Syukurlah"
"Maaf~" ucap Beni dengan satu kata penuh rasa penyesalan karena bisa dirasakan dari nadanya
"Untuk apa?"
"Karena sikap ku yang belakang ini penuh emosional sehingga tidak dapat menahan amarah dan semua itu tidak seperti biasanya, mungkin karena sikapku tadi membuat kalian takut ataupun kesal dengan ku"
"Awalnya aku juga merasa aneh dengan perubahan terhadap sikap mu, tapi semakin aku pikir aku akhirnya sadar, bahwa semua yang kamu lakukan demi kami, yaitu tentang Manda hingga gadis yang memicu perkelahian kalian, aku maklumin untuk mu yang bicaranya kasar dan itu sudah standar untuk orang yang tidak bersosialisasi tetapi ingin berubah dengan keadaan" jelas Sinta yang memberikan secercah cahaya
"Ah.. Terimakasih karena sudah mau mengerti dengan sikapku" balasan dari Beni dengan memalingkan pandangan untuk menyembunyikan wajahnya yang sekilas merona
"Haha.. Gak masalah, yaudah aku tinggal dulu sudah malam, waktunya untuk kita istirahat" seru Sinta yang langsung beranjak berdiri dan meninggalkan Beni dan Ahmad yang kala itu masih termenung dengan kaget
"Ternyata dia kalau di perhatian manis juga yah, ben" sahut Ahmad yang masih terkesima dengan senyuman dan wajah cantik milik Sinta sekilas terpancar dihadapan mereka. "Berisik,.. Kamu mah, kalau dikasih kambing yang di rias pun, bakal kamu bilang cantik" cetus Beni dengan menggelar kain pemberian Sinta dilantai
"Halah,.. Pake ngomongin orang segala, padahal dia sendiri juga terpesona" batin Ahmad yang melihat Beni tiduran dilantai dengan beralaskan kain bermotif batik
Malam itu di lewati dengan keadaan gaduh diluar entah itu karena gertak gigi ataupun raung Zombie yang sekilas terdengar ditelinga mereka, walaupun begitu mereka tetap berusaha tidur agar bisa menyimpan tenaga dihari esok, bagi Beni yang tidak berada diantara mereka melainkan mengasingkan diri dipojok bersama Ahmad pun bisa tidur dengan nyenyak
Keesokan harinya Beni dan yang lainnya terbangun dari mimpi mereka masing-masing, karena cahaya mentari masuk lewat sela ventilasi, tentu dengan adanya sinar tersebut mereka bisa merasakan bahwa fajar telah datang
***
"Bagaimana cara agar kita semua bisa keluar dari sini!!" seru Beni dengan sebuah peta berada ditengah mereka, tentu saja dilihat oleh seluruh murid disana yang turut mengelilingi peta denah sekolah yang dirangkai oleh Cahya di pagi hari menggunakan kertas putih
"Kita gak bisa melewati gerbang depan, karena dilahan ini terdapat banyak zombie" balas Bagus dengan menunjuk kearah denah peta dimana lapangan gerbang sekolah yang biasanya digunakan untuk olahraga
"Sebaiknya kita matang-matang menyusun rencana di hari ini supaya besok tidak terjadi kesalahan ketika berencana untuk kabur" tegur Ahmad
"Apa kita tidak bisa bergerak hari ini saja" usul Manda dengan gamblang. "Tidak, karena kita semua belum mempersiapkan mental, apalagi sebagian besar dari kami masih down dengan situasi kemarin" bantah Beni secara halus untuk Manda sehingga dirinya hanya bisa murung dengan menundukkan kepala
"Bersabarlah Manda, tenangkan dirimu kita harus percaya, bahwa dia akan baik-baik saja" timpal Bagus dengan membekap tubuh Manda yang mulai meneteskan air mata dari pelupuk mata walaupun begitu tetap saja perasaan Manda masih tercampur aduk dengan ketakutan
"Bagaimana jika kita melewati gerbang samping sekolah saja" usul cahaya dengan menunjuk ke gambar gerbang yang berada disamping sekolah walaupun jaraknya cukup jauh tapi setidaknya menurunkan konsekuensi dampak negatif yang akan terjadi nantinya.
BERSAMBUNG…
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments