Eps 04

      Suasana memperlihatkan Beni didalam kelas dengan sekumpulan orang yang meronta-ronta dibalik jendela luar, orang-orang itu mencoba untuk memecahkan jendela dengan segala cara termasuk menggunakan kepala sebagai mengganti palu, sehingga beni yang dari dalam sontak terkejut dan terlolong dengan pemandangan yang dilihatnya

"Ada apa ini? Kenapa aku seperti dikelas" batinnya dengan sepenuh pikiran mencoba mencerna situasi apa yang terjadi pada dirinya saat itu tapi semakin dipikirkan, justru yang ada dikepalanya hampa tanpa kata-kata. "Ada apa, dengan kepala ku?" beni tertegun sejenak sembari meremas telapak tangan 

Semakin lama berfikir justru tidak membuahkan hasil karena frustasi, beni mencoba mendekati orang diluar jendela dengan langkah perlahan dan hati deg-degan dan benar saja, semakin mendekati sumber suara ternyata memperlihatkan sekumpulan manusia berciri aneh 

"Manusia! Ah.. Bukan mereka Zombie" akhirnya beni tahu dengan situasi saat itu dan alangkah terkejutnya lagi secara tiba-tiba dia merasakan sakit dibagian telapak tangan sebelah kanan, karena aneh beni mencoba untuk melihat sumber kesakitan tersebut 

Dan tercengang melihat luka sayatan walaupun dirinya tidak memegang senjata tajam, akan tetapi bukan itu masalah terbesar karena luka hanya bagian kecil dari rasa terkejutnya karena yang membuat beni lebih terkejut adalah melihat Zombie itu sangat agresif dan mencoba masuk kedalam ruangan dengan mendobrak kaca jendela

"Kenapa mereka jadi ganas" gumamnya dengan melirik ke arah luka sejenak kemudian kembali lagi ke jendela dimana zombie saat itu berbeda dengan mimpi pertama, karena mimpi pertamanya memperlihatkan kengerian dari wajah, tetapi disini sangat berbeda zombie tersebut masih berwajah manusiawi hanya saja mata mereka sangat merah bagaikan bulan merah

Tidak sampai disitu, ternyata ada hal yang membuatnya terkejut, karena dimana ketika ia memperhatikan satu-satu zombie yang lain ternyata ada yang terluka tetapi darahnya sangat hitam pekat, berbeda dengan manusia normal yang darahnya identik merah terang 

"Kenapa darah mereka sangat hitam?" gumam beni sangat tekejut ketika melihat ciri khas yang dimiliki oleh Zombie tersebut tetapi semakin lama sekumpulan mayat tersebut semakin memberontak sampai kaca jendela mulai retak

"Wait, kenapa mereka semakin gila?" bingung Beni dengan berjalan mundur dan sampai dirinya tersudutkan dengan salah satu meja di sana karena mau gimana pun tempatnya adalah kelas 

"Apa jangan-jangan-.." ucapan yang terpotong ketika beni melihat luka ditangan dan menyadari sesuatu bahkan zombie sangat agresif bukan terhadap luka tetapi lawan dari identik yaitu adalah darah manusia

Kretek… (retakan kaca) 

"Wah.. Gila, kayanya aku beneran bakal mati lagi deh" gerutu Beni dengan terkekeh sambil mencoba mencari senjata tetapi tidak menemukannya 

"Trachsss… (Suara kaca pecah) 

Kaca tersebut pecah dari luar sehingga banyak Zombie yang berdesak-desakan untuk masuk, dimulai dari kepala lalu badan setelah itu kaki hingga mereka pun jungkel ke depan, dengan kepala lebih dulu yang mendarat walau terdengar suara tulang yang berbunyi tetapi nyatanya Zombie itu tidak kesakitan karena mereka makhluk mati dan tentunya indra rasa mereka sudah pasti ikut mati 

"Fu*k, Asu, kapar*t, Bangs*t, kenapa mereka datang rame-rame coba, sialan emang" umpat Beni kepada hantu karena Zombie tidak merespon sama sekali 

AAGGGGHHHHRRRKKK… 

Ruangan Zombie yang bergema di dalam kelas membuat Beni bergidik ngeri, karena mereka sangat ramai dan bahkan yang membuat Beni tambah ketakutan adalah dimana zombie masuk kelas tidak hanya di satu sisi tetapi dari belakang pun sudah masuk kedalam kelas 

Didalam Beni hanya berlari kesana-kemari memutari ruangan tanpa tujuan yang penting hidup, sampai dia mengobrak-abrik meja dan menjadikan kursi menjadi senjata, walau berhasil tetap saja jumlah mereka tidak sedikit, Jadi yang dapat di hentikan oleh Beni cuman beberapa mayat saja sisanya harus menyerang secara brutal 

Bugh…  (Pukulan) 

Secara brutal juga Beni menyerang menggunakan kursi sehingga seragam putih harus berlumuran oleh darah hitam. "Sepertinya aku harus serius" gumamnya sambil melonggarkan ikatan dasi dan melanjutkan serangnya karena Beni tidak merasa kelelahan justru ia malah menikmati pembantaian

Bugh..  Bugh.. Bugh.. 

Terus-menerus Beni menyerang zombie dengan kursi sampai benda tersebut hampir patah, karena di kelas kursi masih berbahan pokok kayu, walau sudah banyak menggunakan aluminium. "Huh.. Entah kenapa aku merasa jadi psikopat" hela nafas Beni tapi tidak kelelahan sedikitpun dengan demikian Beni bisa terus menyerang mayat hidup didepan matanya 

Sampai satu zombie yang berjalan secara perlahan mendekati Beni karena zombie tidak bisa menyerang dengan jumlah sekaligus, butuh waktu untuk bisa masuk lewat jendela kelas, terlebih lagi Zombie sama sekali tidak memiliki pikiran yang membuat Beni mendapat keuntungan dari situasinya 

Namun nahas ketika Beni melancarkan serangan terakhir terhadap zombie, hal mengejutkan terjadi dimana mayat itu menundukkan kepala lalu melompat ke arah kaki mangsanya, jadi zombie tersebut bisa menghindari serangan lawan yang tepat diarahkan di kepala 

"Apa!!.. Argh…" Beni terkejut karena zombie itu telah menggigit kaki beni sehingga mengeluarkan banyak darah. "Sialan" umpat Beni sampai membanting kursi tepat ke arah kepala Zombie sampai kepala yang awalnya utuh langsung meledak mencecerkan banyak darah mengenai lantai maupun pakaian

"Tadi dia menghindari serangan ku, bagaimana bisa?" bingung Beni mulai bertanya-tanya tapi seketika itu datang lagi dua zombie yang masuk lewat jendela, dengan cekatan Beni menghadapi mayat itu dengan mudah tetapi masih ada hal yang mengganjal di hatinya mengenai hal barusan 

Dugh.... 

Beni langsung tersungkur di lantai dengan keringat dingin membasahi wajah dan panas dingin mulai menjalar ke saraf-saraf, pandangannya mulai kabur dengan kepala terasa sangat pusing sehingga tiada kekuatan untuk mengangkat benda di tangan yaitu kursi, karena untuk berdiri saja susah akibat tenaga yang hilang dibawa angin 

"Ada apa dengan tubuh ku" gumam beni yang melihat 4 zombie masuk secara bersamaan dari luar jendela. Tetapi apa yang didapati mereka hanya berpapasan dengan pria yang sudah terkapar karena infeksi virus akibatnya luka yang dihasilkan oleh gigitan dikaki, membuat luka tersebut mulai mengeluarkan darah yang bercampur merah kehitaman 

"Janc*k" umpat beni setelah itu menutup mata sambil memperlihatkan 4 Zombie memakan dirinya secara brutal, dimulai dari leher hingga punggung lalu mengeluarkan organ dalam untuk penutup hidangan sebelum datang zombie lain yang berhasil melewati jendela kelas

(Author : bayanginnya aja sudah ngeri, wee..) 

                                      ***

Tring…  Tring…  (Alarm) 

  Suaranya telah membangun seorang pria dengan deru nafas yang sangat cepat sambil berkeringat dingin tentu jantungnya berpacu dengan sangat cepat, tapi dia kembali tersadar setelah mendengar suara alarm kesekian kali dengan tatapan kosong dia mematikan alarm karena jam menunjukkan pukul 5 dini hari

"Kenapa lagi dan lagi aku harus bermimpi seperti itu?" gumam beni sebelum beranjak dari kasurnya untuk bersiap-siap berangkat ke sekolah

Di meja makan seperti biasa suasananya sangat suram, dimana mereka memasang muka datar sambil memakan hidangan tapi Andika merasa aneh dengan kakaknya karena setelah bangun dari tidur dia melihat beni bermuka pucat dan tangan kiri bergetar dengan hebat walau di sembunyikan dibawah meja

"Kak, kamu gak apa-apa kan?" bisik Andika sambil menepuk pundak sang kakak sehingga beni terkejut dan mengambil garpu dipiringnya yang diarahkan tepat di leher sambil memasang tatapan sinis layaknya pemburu, bisa dirasakan oleh adik karena beni menggenggam dengan kuat namun gemetar

"Kamu kenapa?!" tanya dika dengan menelan liur sendiri karena melihat kakaknya berubah jadi lebih agresif karena biasanya kakaknya selalu tenang dimanapun ia berada namun mau sehebat apapun manusia dia akan shock melihat sebuah tragisnya kematian

Dimulai dari paman hingga nenek tampak langsung kaget melihat beni berubah dalam semalam. "Kalau kamu gak enak badan, sebaiknya kamu istirahat saja lagi untuk hari ini, nggak usaha masuk sekolah dulu" ujar sang nenek dengan cemas

Beni berpikir sejenak dimana jika ia tidak masuk maka teman-temannya akan bernasib sama seperti apa yang terjadi di dalam mimpi, karena dari semua orang hanya beni seorang yang tau akan perihal bencana walaupun tidak yakin seratus persen tetapi percuma saja jika ia memberi usulan kepada teman-temannya agar pergi dari kota ini karena dia yakin pasti yang lain tidak akan menggubris ucapannya dan prasangka kalau dia sedang paranoid

"Sial kenapa aku harus bingung sendiri, seharusnya jangan beritahu aku jika ini akan terjadi biarkan semua ini jadi surprise dunia, karena aku bukan Tuhan yang ditugaskan untuk menyelamatkan umat manusia dari maut walaupun mendapat penglihatan masa depan sekalipun" batin beni dengan senyum kecut kemudian menarik kembali garpu tersebut sambil berkata kepada sang nenek

"Maaf, sebenarnya aku cuman prank doang dan nenek tenang saja, aku bakal masuk sekolah kok" 

Sehingga semua orang disana hanya bisa tersenyum tipis, kecuali Andika yang masih bingung setengah mati dengan tindakan sang kakak, karena dia adalah salah satu anak yang hobi berantem dan dari apa yang dilihatnya barusan, itu bukanlah tatapan bercanda melainkan sang pembunuh berantai sampai-sampai jika orang awam mungkin bakal panik tapi tidak untuk Andika yang hobinya berantem jadi ia bisa semaksimal mungkin bersikap tenang di hadapan paman dan nenek

Setelah makan beni dan Andika menunggu di dalam mobil karena paman masih memiliki barang yang ketinggalan di meja kerjanya. "Kak, hari ini kamu kenapa?" tanya dika dengan santai. "Tidak ada apa-apa!" jawab Beni dengan ekspresi datar

"Lalu, reaksimu barusan?" timpal Andika dengan intens menatap sang kakak. "Hanya terkejut" alasan Beni yang lagi-lagi datar

"Heh,.. Aneh" gumam andika dengan melipat kedua tangan didada lalu menyandarkan punggung di kursi mobil. "Kenapa memang?" tanya balik Beni 

"Tidak ada apa-apa sih, cuman merasa sikapmu aneh saja" 

"Oh.."

"Nih anak kenapa yah, ngajak ribut?" batin Andika dengan kesal. "Pukul 1 siang kamu bukan news, dan jika menemukan berita tentang jatuhnya meteor maka berhati-hatilah karena itu bisa saja pertanda buruk" ujar Beni dengan menatap sang adik dengan lekat

"Memang kenap-.." belum selesai bicara paman sudah datang dengan membawa dokumen yang ketinggalan lalu menyalakan mobil dan menjalankan mobil menuju sekolah masing-masing sebelum ke kantornya. 

***** 7 Jam sebelum kejadian *****

Di Sekolah seperti biasa suasana masih sepi dan sunyi kecuali sinta, yang tidak seperti biasa karena dia datang lebih awal dari biasanya. "Pagi, sin" sapa Beni dengan melambaikan tangan kemudian berjalan ke arah ke kursinya 

"Pagi" balas Sinta yang lagi-lagi membuat Beni resah dan gelisah karena jantung secara otomatis terpacu untuk kecepatan tertentu sehingga Beni cuman bisa memalingkan wajah

Setelah duduk di kursi, ternyata Sinta malah gantian beranjak dan berjalan mendekati Beni kemudian mencecerkan pertanyaan kepadanya. "Sebenarnya apa maksudmu menyuruh kami untuk membawa kain?" tanya Sinta dengan mimik wajah bingung 

"Ah… Ada hal yang ingin aku gunakan dengan benda tersebut tapi nanti" jawab Beni dengan panik lalu berusaha untuk membuang muka. "Oh.. Begitu ya" balasan Sinta yang disertai senyum manis ditambah rambut panjangnya sampai sebahu membuat perasaan beni tak karuan 

"Tunggu sebentar!!" ucapan Sinta dengan perlahan mengusap rambut beni karena ada beberapa hal yang tidak sesuai, tentu saja beni langsung merona karena ini merupakan pertama kalinya dia berkontak dengan wanita secara langsung

"Duh.. Lain kali perhatian rambut mu" tuturnya dengan lembut lalu tersenyum lebar tentu dibawah suasana yang hening membuat beni mati kutu, tanpa bisa berbuat apapun sampai-sampai menjalar ke otaknya yang kalang kabut 

"Teri-makasih" ucapan Beni dengan gugup sambil memalingkan pandangannya karena beberapa saat mereka menjalin kontak mata, Sinta yang baru sadar langsung ikut memalingkan wajah karena malu dengan apa yang baru saja diperbuatnya. "Aduh gimana ini aku pasti akan disebut wanita bar-bar oleh beni" batin Sinta dengan gelisah 

Walaupun aslinya Beni senang diperhatikan oleh seseorang karena sepanjang hidup dia hanya diperhatikan oleh sang nenek

"Hmm.." deheman Ahmad sontak membuat Beni dan Sinta terkejut secara bersamaan. "Ahmad, ba-ru da-tang?" tanya Beni dengan gagap 

"Iyah, tapi sepertinya aku datang diwaktu yang kurang tepat" sambung ahmad dengan cengengesan. "Kapan aku punya pacar" batin Ahmad sambil menangis dalam diam setelah kepergok oleh ahmad dengan segera Sinta kembali ke kursinya dan ahmad duduk disebelah beni 

"Cie… PDKT" sindir ahmad dengan senyum menggoda. "Berisik" ketus Beni dengan malu

"Aku bawa palu, untuk apa?" tanya ahmad yang kembali serius tapi dengan berbisik. "Nanti kamu akan tahu jawabannya" balasan dari beni dengan singkat sambil memasang tatapan tajam yang mengernyitkan alis 

"Tapi apa kamu bawa makanan?" tanya balik beni

"Dua roti dan satu botol air mineral sedang" balas ahmad sambil membuka tasnya dan memberi tunjuk kepada temannya. "Bagus, karena sebentar lagi aku ingin lihat apakah semua itu benar" gumam Beni dengan senyuman sinis sehingga ahmad yang melihat tampak bingung. 

Di lain tempat sebuah laboratorium astronomi telah menemukan sebuah pertanda bahwa perkiraan mereka salah akan melesetnya meteor dari bumi, karena Asteroid tersebut terus bergerak ke arah bumi dengan kecepatan cahaya, dan akan sampai beberapa saat lagi prof. Dicy, telah di wawancarai oleh beberapa wartawan ketika keluar dari lab 

"Tuan apakah benar, jika akan ada sebuah meteor yang akan jatuh ke permukaan bumi?" tanya salah satu wartawan dengan menyodorkan mic ke arah profesor dicy yang baru keluar dari lab bersama beberapa karyawan kerjanya 

Waktu itu suasana sangat ricuh dan saling berdesakan untuk mendapat informasi supaya bisa menjadi bahan topik di liputan media, akan tetapi hal tersebut tidak hanya di Indonesia namun di berbagai negara khusus Amerika yang memprogram studi luar angkasa yang sudah pastinya penemuan tersebut akan lebih dulu di ketahui oleh NASA ketibang negara lainnya 

"Pak, bagaimana ini beritanya langsung meledak di berbagai negara akibat Nasa membocorkan informasi Asteroid tersebut" bisik asisten prof. Dicy yang ada disamping karena mereka tidak bisa bicara dengan normal ketika di dekat wartawan yang ada ucapan mereka bisa terekam oleh sekumpulan politikus media

"Aku tahu hal tersebut, lagian aku juga ikut membantu membeberkan informasi" 

"Hah, kenapa?" bingung sang asisten pribadi. "Karena ini bukan kejutan melainkan malapetaka untuk dunia" ucap Prof. Dicy dengan senyum kecut akibat dunia akan hancur sebentar lagi dan dia telah lebih dulu tahu sebelum warga pribumi mengetahui tentang masa depan. 

BERSAMBUNG… 

Episodes
1 Eps 01
2 Eps 02
3 Eps 03
4 Eps 04
5 Eps 05
6 Eps 06
7 Eps 07
8 Eps 08
9 Eps 09
10 Eps 10
11 Eps 11
12 Eps 12
13 Eps 13
14 Eps 14
15 Eps 15
16 Eps 16
17 Eps 17
18 Eps 18
19 Eps 19
20 Eps 20
21 Eps 21
22 Curhat I
23 Eps 22
24 Eps 23
25 Eps 24
26 Eps 25
27 Eps 26 (Part²)
28 Eps 27 (Part²)
29 Eps 28 (Part²)
30 Eps 29 (Part²)
31 Eps 30 (Part²)
32 Eps 31 (Part²)
33 Eps 32 (Part²)
34 Eps 33 (Part²)
35 Eps 34 (Part²)
36 Eps 35 (Part²)
37 Eps 36 (Part²)
38 Eps 37 (Part²)
39 Eps 38 (Part²)
40 Eps 39 (Part²)
41 Eps 40 (Part²)
42 Eps 41 (Part²)
43 Eps 42 (Part²)
44 Eps 43 (Part²)
45 Eps 44 (Part²)
46 Eps 45 (Part²)
47 Eps 46 (Part²)
48 Eps 47 (Part²)
49 Eps 48 (Part²)
50 Eps 49 (Part²)
51 Eps 50 (Part²)
52 Eps 51 (Part³)
53 Eps 52 (Part³)
54 Eps 53 (Part³)
55 Eps 54 (Part³)
56 Eps 55 (Part³)
57 Eps 56 (Part³)
58 Eps 57 (Part³)
59 Eps 58 (Part³)
60 Eps 59 (Part³)
61 Eps 60 (Part³)
62 Eps 61 (Part³)
63 Eps 62 (Part³)
64 Eps 63 (Part³)
65 Eps 64 (Part³)
66 Eps 65 (Part³)
67 Eps 66 (Part³)
68 Eps 67 (Part³)
69 Eps 68 (Part³)
70 Eps 69 (Part³)
71 Eps 70 (Part³)
72 Eps 71 (Part³)
73 Eps 72 (Part³)
74 Eps 73 (Part³)
75 Eps 74 (Part³)
76 Eps 75 (Part³)
77 Eps 76 (Part³)
78 Eps 77 (Part⁴)
79 Eps 78 (Part⁴)
80 Eps 79 (Part⁴)
81 Eps 80 (Part⁴)
82 Eps 81 (Part⁴)
83 Eps 82 (Part⁴)
84 Eps 83 (Part⁴)
85 Eps 84 (Part⁴)
86 Last Chapter
Episodes

Updated 86 Episodes

1
Eps 01
2
Eps 02
3
Eps 03
4
Eps 04
5
Eps 05
6
Eps 06
7
Eps 07
8
Eps 08
9
Eps 09
10
Eps 10
11
Eps 11
12
Eps 12
13
Eps 13
14
Eps 14
15
Eps 15
16
Eps 16
17
Eps 17
18
Eps 18
19
Eps 19
20
Eps 20
21
Eps 21
22
Curhat I
23
Eps 22
24
Eps 23
25
Eps 24
26
Eps 25
27
Eps 26 (Part²)
28
Eps 27 (Part²)
29
Eps 28 (Part²)
30
Eps 29 (Part²)
31
Eps 30 (Part²)
32
Eps 31 (Part²)
33
Eps 32 (Part²)
34
Eps 33 (Part²)
35
Eps 34 (Part²)
36
Eps 35 (Part²)
37
Eps 36 (Part²)
38
Eps 37 (Part²)
39
Eps 38 (Part²)
40
Eps 39 (Part²)
41
Eps 40 (Part²)
42
Eps 41 (Part²)
43
Eps 42 (Part²)
44
Eps 43 (Part²)
45
Eps 44 (Part²)
46
Eps 45 (Part²)
47
Eps 46 (Part²)
48
Eps 47 (Part²)
49
Eps 48 (Part²)
50
Eps 49 (Part²)
51
Eps 50 (Part²)
52
Eps 51 (Part³)
53
Eps 52 (Part³)
54
Eps 53 (Part³)
55
Eps 54 (Part³)
56
Eps 55 (Part³)
57
Eps 56 (Part³)
58
Eps 57 (Part³)
59
Eps 58 (Part³)
60
Eps 59 (Part³)
61
Eps 60 (Part³)
62
Eps 61 (Part³)
63
Eps 62 (Part³)
64
Eps 63 (Part³)
65
Eps 64 (Part³)
66
Eps 65 (Part³)
67
Eps 66 (Part³)
68
Eps 67 (Part³)
69
Eps 68 (Part³)
70
Eps 69 (Part³)
71
Eps 70 (Part³)
72
Eps 71 (Part³)
73
Eps 72 (Part³)
74
Eps 73 (Part³)
75
Eps 74 (Part³)
76
Eps 75 (Part³)
77
Eps 76 (Part³)
78
Eps 77 (Part⁴)
79
Eps 78 (Part⁴)
80
Eps 79 (Part⁴)
81
Eps 80 (Part⁴)
82
Eps 81 (Part⁴)
83
Eps 82 (Part⁴)
84
Eps 83 (Part⁴)
85
Eps 84 (Part⁴)
86
Last Chapter

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!