Wajah komang terlihat pucat dan matanya sedikit memutih dengan sekilas beni bisa tahu, tentang kondisi temannya saat itu. "Komang, jangan-jangan kamu?" beni membulatkan mata dengan sempurna seraya mengerutkan kening ekspresinya tercampur aduk antara rasa kecewa, sedih dan takut yang telah membebani isi kepalanya
"Aku gak kenapa-kenapa kok, tenang aja, mungkin hanya karena kecapean jadinya aku pengen istirahat" balas komang dengan lirih sambil menghentikan perlawanan terhadap zombie yang ada didepannya
"Kumohon, jangan menyerah"
"Aku tidak menyerah, hanya ingin istirahat saja" bantah komang dengan bersikap seperti orangi baik-baik saja
"Kalau begitu mari berjuang bersama-sama"
"Tidak lah, aku pengen istirahat, jadi tolong jaga yang lainnya" Beni melihat komang tersenyum tipis dengan mata berkaca-kaca seperti ingin menangis
"Bagus!!" panggil komang. Sehingga Bagus menoleh kearahnya dan tentu saja dia terkejut ketika melihat penampilan komang kala itu
Bugh…
Bagus meninju zombie terakhir yang ingin menerkam dirinya walaupun masih banyak zombie dari jauh yang masih berlari mendekatinya. "Komang, kamu kenapa?" tanya Bagus dengan melirik komang karena jeda dari larian zombie yang bisa membuatnya sedikit mengalihkan konsentrasi
"Bagus tolong jaga beni dan yang lainnya, aku percaya denganmu karena kamu lah orang yang aku percaya, walaupun kamu tidak disukai oleh orang lain, tetapi kamu tidak pernah menyimpang dari jalan yang benar, jadi aku percaya semuanya kepadamu!!"
"Tunggu dulu, kenapa kamu berkata seakan-akan ingin" perkataan Bagus langsung terpotong ketika reaksi dari tubuh temannya mulai kejang-kejang. "Jangan-jangan kamu" sambung Bagus dengan ekspresi terkejut
"Selamat tinggal semuanya" ucap Komang dengan berlari ke samping gedung sekolah dengan menjauhi formasi. Dia berteriak dengan lantang, "Kalian semua yang disini, saya tidak takut!!!..." teriak komang dengan menggelegar sambil berlari tentu saja zombie yang peka terhadap suara langsung mengejar sumber suara
Hingga pada akhirnya membuka jalan untuk beni dan yang lainnya agar bisa berlari tanpa halangan. Tidak ingin mensia-siakan kesempatan dengan sangat cepat Beni menyuruh yang lain berlari tanpa melihat belakang, walau sebagai temannya sudah down mental akibat kejadian yang sudah terjadi sebelumnya
Terutama Manda, Sinta, dan satu gadis lagi yang tidak meninggalkan formasi. Bagus langsung menarik pergelangan tangan Manda dan mengajaknya berlari sementara kedua gadis lagi langsung dipandu oleh Ahmad yang kebetulan ada dibelakang
Semua tidak akan berhasil jika tidak ada pengorbanan, karena pada akhirnya Beni dan yang lainnya bisa keluar dari sekolah mengerikan, dengan mengunci pintu samping sekolah yang terbuat dari besi lebih tepatnya seperti jeruji besi di penjara dengan meninggalkan jeritan dan tangisan dari teman-teman yang lainnya yang sudah memilih jalannya sendiri
Di samping sekolah terdapat sebuah gang kecil yang mayoritasnya adalah perumahan komplek, walaupun begitu, nyatanya jalan tersebut masih sangat sepi dan sunyi kecuali suara zombie yang terus meronta-ronta dari balik pintu samping dengan begitu mengerikan karena wajah mereka tidak tampak seperti manusia lagi membuat Beni dan Bagus harus menelan liur sambil bersyukur karena tidak mati di makan oleh kanibal
Sementara Manda dan Sinta tampak masih shock dengan kejadian barusan yang telah merenggut nyawa teman-temannya. Sampai Bagus pun duduk disamping Manda yang kebetulan Manda duduk dipinggir jalan tak jauh darinya, dengan keadaan melipat kedua lutut.
"Manda kamu baik-baik saja?" tanya Bagus dengan khawatir karena melihat wajah Manda penuh keringat dan tangan bergetar dengan hebat
Beberapa saat ditunggu Manda hanya diam tanpa kata sehingga Bagus hanya memaklumi karena memang begitu sifat manusia ketika sudah psikologisnya terguncang, karena mau bagaimana pun hal barusan tak patut untuk diperlihatkan.
Terkecuali untuk Beni dan Bagus dengan baju batik yang telah bersimbah darah hitam di sekujur tubuh, mungkin melihat mereka sama saja memperlihatkan psikopat (Pembunuh)
Karena jika dilihat sikap mereka sangat tidak logis ketika melihat makhluk mengerikan membuat mereka sibuk membantainya
"Gus" panggil Beni kepada temannya yang duduk dipinggir jalan sambil menemani Manda disamping kiri. "Ada apa?" tukas Bagus dengan datar karena kejadian tadi sudah membuatnya terpukul karena semua berimbas kepada seluruh temannya
"Apa tadi adalah pengorbanan?" tanya Beni yang berujung kepada Komang yang mungkin telah dilahap oleh zombie beberapa saat yang lalu. "Entahlah, aku sudah tidak mampu untuk berfikir secara jernih" jawab Bagus dengan lirih kemudian gadis yang selamat pun berkata dengan lirih yang nadanya penuh kesedihan
"Apakah aku akan menjadi seperti mereka (Zombie)" ucap Gadis berambut pendek yang mengenakan seragam sama seperti yang lainnya. "Apa maksud mu?" tanya Beni sambil menatap gadis tersebut dengan intens, dengan diikuti oleh Ahmad yang kebetulan berada disampingnya
"Ini" ujarnya dengan memperlihatkan tangan kirinya yang terluka, tetapi yang membuat terkejut adalah dimana itu sebuah becak yang seperti luka gigit. Tentu saja wajah gadis itu mulai memucat dan tangan kanan yang menutup luka sudah terlihat darah hitam ke merahan
"Jangan-jangan kamu juga tergigit?" tanya Beni yang lagi-lagi terkejut dengan apa yang dirinya lihat
"Yah.. Tadi aku sempat tergigit ketika zombie usai menyerang cahya"
"Haha.. Jangan bercanda, kalau begitu kamu akan berubah menjadi zombie seperti mereka" ucapan tersebut langsung menusuk ke hati gadis tersebut karena dua hari yang lalu dia sangat antusias untuk pergi dari sekolah bagaimana pun caranya, agar ia bisa menyelamatkan keluarganya
"Nggak, aku gak mau jadi seperti mereka!" teriak gadis tersebut dengan jongkok sambil menutup kedua telinganya, dia terus memberontak kepada isi kepala sambil bergunam 'Tidak' dengan arti tidak mau menjadi zombie, karena hal tersebut membuatnya menjadi monster mengerikan.
Sinta yang awalnya ada disampai hanya bisa menjauh darinya dan bersembunyi dibalik punggung Beni dengan diikuti Ahmad yang menjauhinya, tentu saja gadis tersebut merasa tertekan dengan perlakuan temannya, karena semua itu ibaratkan dia sedang dihindari karena sorot mata mereka tampak iba dan kasihan
"Ketua, katanya kamu akan melindungi seisi kelas dengan kemampuanmu, tapi nyatanya apa, sekarang aku tidak bisa untuk hidup lebih lama lagi!!" ujar Gadis tersebut yang langsung tertuju kepada Beni yang menjabat menjadi ketua kelas di 12 MIPA
"Maafkan aku, karena tidak bisa melindungi semuanya, maafkan aku karena tidak dapat berbuat apapun terhadap mu, jika aku bisa memilih mungkin aku tidak akan menginginkan ini semua terjadi"
Gadis tersebut yang awalnya begitu marah kini mulai luluh karena mau bagaimana, Beni sudah berjuang sebisa mungkin, mungkin memang sudah takdirnya untuk mencapai batas, dan akan menyediakan tempat yang jauh lebih indah diatas sana, tentu saja yang telah dipersiapkan oleh Tuhan
"Terimakasih" ucapnya dengan lirih sambil menatap beni yang tatapannya sangat kosong
Beni mendengar ucapan tersebut langsung menoleh dan terkejut ketika melihat gadis yang sudah diambang maut tersenyum tipis. "Un-tuk apa?" tanya beni dengan lirih sambil memasang mimik wajah terkejut
"Tentu saja, karena sudah mau berjuang dengan kami mungkin kelas kami beruntung bisa bertemu dengan ketua kelas seperti anda" ucapnya tentu membuat beni terbelalak akibat kata-kata tersebut keluar dari mulut siswa lain kecuali Sinta
"Jangan berkata seperti itu, ucapanmu semakin membuat ku merasa bersalah"
"Tidak kok, aku berkata apa adanya, namun apa kah aku bisa meminta pertolongan kepadamu?" tanya gadis tersebut. Beni mulai berpikir sejenak sebelum dia mengatakannya dengan tegas. "Apapun yang bisa aku bantu, maka aku bantu kamu semaksimal mungkin" ujar beni dengan jongkok dihadapan gadis tersebut yang matanya mulai memutih
"Tolong, datang kerumah ku dan pastikan jika adikku baik-baik saja" itulah kata-katanya ketika tubuhnya mulai tersungkur dan dengan badan mulai kejang-kejang. "Hei.. Kamu gak apa-apa?" tanya Beni dengan mengguncang tubuh wanita itu karena dia tidak mengetahui apapun
Tentang siapa nama adiknya dan alamat rumah tempat dia menaung, sehingga banyak pertanyaan yang harus dipertanyakan sebelum Beni mengetahui dengan pasti kemana dia harus melanjutkan langkah kakinya, namun sangat disayangkan sebelum semua itu tidak dapat ia ketahui karena gadis tersebut telah lebih dulu menghembuskan nafas terakhir
"Sial!!!..." teriak Beni dengan memukul aspal jalanan dengan kesal karena lagi dan lagi harus melihat temannya mati didepan mata, melihat hal tersebut seluruh orang disana merasa sedih sekaligus was-was karena kapan saja wanita tersebut bisa berubah menjadi monster
"Apa yang harus kita lakukan ben?" tanya Bagus yang tak jauh darinya karena melihat Beni murung dengan ekspresi sedih
"Aku tidak tahu harus apa, karena semuanya bagaikan semu yang tak terlihat, dimana semua kenangan selama 2 tahun lepas hilang begitu saja" gumam Beni dengan begitu lirih dan sedih sehingga tanpa sadar matanya mulai bergelimang air mata membasahi pipi
"Ben" panggil Ahmad yang mulai khawatir. Karena sudah mencapai batas, akhirnya Beni berdiri dan berjalan mengambil palu yang di pegang Ahmad, tentu saja Ahmad hanya pasrah terutama melihat ekspresi temannya mulai terlihat begitu sedih dan terpukul akan tetapi mereka semua menyaksikan Beni berdiri di hadapan zombie yang memberontak dari balik pintu besi dengan tangan keluar dari sela-sela seperti ingin ada yang diraih.
"Kalian semua adalah musuh ku" gumam Beni dengan lirih yang tatapannya kosong
Bugh…
Tanpa diduga ternyata Beni memukul tangan zombie dengan palu yang dia raih sebelumnya dari tangan Ahmad, semua itu disaksikan oleh seluruh orang yang ada disana, sampai-sampai mereka terkejut bukan main melihat apa yang diperbuat Beni dengan sadis yaitu memukul tangan zombie dengan begitu brutal
Bugh.. Bugh… Bugh…
"Haha.. Kalian adalah monster paling najis didunia ini" umpat Beni dengan memukul berkali-kali tangan yang terjepit di sela-sela pintu besi, sehingga sebagaian besar dari zombie tersebut ada korbannya yang tangan patah dan hancur walau begitu mereka tidak merasa sakit dan terus saja memberontak dengan raungan
Beberapa saat beni pun menghentikan serangannya tentu saja, nafasnya mulai terengah-engah akibat seluruh tenaga sudah dipakai semua untuk melawan zombie didalam area sekolah. Tetapi ada kata-kata yang membuat seluruh orang disana langsung membulatkan mata akibat hal tersebut diucapkan oleh beni dengan lantang kepada zombie yang tak merespon
"Mulai sekarang dan kedepannya, aku berjanji akan membumihanguskan kalian semua, karena aku sudah mendeklarasikan perang terhadap kalian, monster!!.." ucap beni dengan lantang sambil berteriak diakhir kata.
Akan kah ini sebuah benang takdir ataukah hanya cerita belaka dimana dua makhluk saling menyatakan perang terhadap pihak yang lain diantaranya raja manusia dan ratu zombie yang secara tidak diduga telah meluapkan amarah dengan kata perang, namun dari kedua ini, telah lahir seseorang yang terbentuk akibat kebencian secara naluri atau emosi yang telah mencapai batas
Yaitu Beni dengan emosi dan gamblangnya dia berkata akan membumihanguskan zombie yang jumlahnya ribuan, karena Indonesia telah terlahap oleh lautan Api diberbagai kota, khususnya ibu kota yang sedang dalam masa krisis akibat perang melawan Zombie yang seakan tak ada habisnya
Sampai mereka berusaha untuk meminta bantuan dari bangsa lain tapi tanggapan mereka tidak mendapat respon dari pihak lain, tapi itu bukan hal yang terpenting karena sekarang yang paling utama adalah apakah manusia bisa hidup dengan tenang, setelah mengetahui bahwasanya dunia telah diselimuti oleh kematian itu sendiri.
Teriakan Beni membuat Sinta terkejut, apalagi setelah mendengar kata-kata yang dilantunkan dengan nada emosi, seakan-akan hal tersebut bisa dilakukan oleh bocah SMA seperti mereka. "Ben, apa yang kamu katakan?" tanpa disangka-sangka ternyata orang pertama yang angkat bicara adalah Ahmad
"Apa masih kurang jelas, kalau aku akan menggelar perang terhadap siapapun itu asalkan mereka ada kaitannya dengan monster ini, jika perlu ada makhluk mutasi yang menjadi raja mereka" ucap Beni dengan suara datar sehingga Ahmad hanya bisa menghela nafas panjang
"Mari"
"Hah!!, kemana?"
"Ke sesuatu tempat dimana aku bisa menjadi kuat" ujar Beni dengan melangkah meninggalkan Ahmad dan yang lainnya untuk melangkah lebih dahulu sambil memperlihatkan tatapan sinis yang terkandung penuh kebencian
Namun beberapa langkah Bagus berkata dengan lantang kearah Beni, "Ben!" panggil Bagus yang langsung menghentikan langkah temannya. "Ada apa? tanya Beni dengan memalingkan pandangan yang memperlihatkan tatapan penuh amarah yang terpancar dari sorot matanya
"Kita tidak bisa melangkah untuk kedepannya"
"Kenapa?"
"Ada yang perlu aku selesai kan, bersama Manda" jawab Bagus dengan melirik kearah Manda yang masih termenung
"Baiklah, semoga kamu selamat, dan tolong jaga Manda untuk kedepannya"
"Yah,.. Terimakasih banyak atas bantuan mu, besok atau tiga hari lagi kita akan bertemu ditempat itu" mendengar ucapan tersebut Beni langsung terkejut karena tempat yang dimaksud oleh Bagus adalah tempat dimana teman kelasnya melakukan singgah untuk membuat kenang-kenangan sebelum lulus sekolah
"Baik, tunggu aku disana nanti" ucap singkat Beni kemudian pergi lebih dulu kearah dimana dia akan memulai perjalanannya, bersama Sinta dan Ahmad yang merupakan sahabat karib ketempat dimana mereka bisa hidup tenang terutama Beni yang sudah berjanji akan melenyapkan seluruh makhluk monster apapun caranya
Jika perlu dia akan mencari pemimpin yang sempat dia lihat dari alam bawah sadarnya, walaupun belum seratus persen yakin, tetapi untuk sekali lagi dirinya ingin percaya kepada apa yang telah menjadi sebuah petanda baginya dan masa depan manusia
Dengan begitu Beni memiliki alasan untuk terus bertarung dan bertahan hidup didunia penuh kehancuran, dengan memulai garis start yang telah terbentang jelas dikaki.
BERSAMBUNG…
Jangan lupa Like !!!..
Supaya author semakin semangat lagi untuk Up chapters!!..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments