"Katakan padaku di mana kamu menyembunyikan jasad anak itu?" ucap Viola secara terang terangan membuat Reno lantas langsung menatap ke arahnya dengan tatapan yang bingung akan arah dari pembicaraan Viola saat ini.
"Apa maksud mu?" ucap Reno tidak mengerti.
Viola yang mendengar jawaban kebingungan dari Reno lantas langsung mengernyit, baru kali ini Reno seakan tidak mengakui secara langsung perbuatannya. Padahal biasanya jika sudah melakukan sesuatu hal Reno pasti akan mengakuinya di depan Viola tanpa ada yang di sembunyikan olehnya. Hanya saja kali ini, entah mengapa Reno malah menatap ke arahnya seperti orang yang kebingungan seakan akan tidak mengerti akan arah dari pembicaraan Viola sedari tadi.
"Jangan berpura pura bodoh, aku yakin dalang di balik hilangnya siswi kelas 12 B pasti kau juga, bukan? mengingat Lita dan juga Vanya merupakan teman dekat." ucap Viola langsung pada intinya, namun berhasil membuat Reno terkejut bukan main ketika mendengar ucapan Viola barusan.
"Kamu menuduh ku melakukannya?" ucap Reno dengan nada yang meninggi seakan tidak terima akan tuduhan Viola padanya.
Sedangkan Viola yang mendengar ucapan Reno barusan ikut menatap bingung ke arah Reno. Ini tentu tidaklah seperti biasanya, jika Reno tidak mengakuinya itu artinya ada seseorang lagi yang melakukannya di antara beberapa guru dan karyawan di sekolah ini.
Hening beberapa saat, hingga kemudian Viola dan juga Reno yang baru menyadari fakta itu, lantas langsung saling pandang satu sama lain seakan keduanya baru menyadari ada sesuatu yang janggal akan kasus menghilangnya Vanya saat ini. Viola terdiam sejenak memikirkan segala sesuatunya dalam diam, hingga ketika sebuah pemikiran mendadak terlintas di benaknya barulah Viola mulai membuka suaranya.
"Apa kau sungguh tidak melakukannya?" tanya Viola sekali lagi mencoba untuk memastikannya kembali bahwa Reno benar benar tidak terlibat dalam hal ini.
"Kau pikir saja sendiri, jika aku benar benar melakukannya aku tentu tidak akan menyembunyikan jasadnya... jangan bercanda dan melibatkan ku dalam sesuatu yang tidak pernah aku lakukan sama sekali." ucap Reno dengan nada yang kesal akan tuduhan Viola yang tiba tiba.
"Jika bukan kau yang melakukannya lalu siapa?" ucap Viola kemudian dengan nada yang bertanya tanya.
Sedangkan Reno yang mendengarkan ucapan Viola barusan hanya mengangkat kedua bahunya tanda tidak mengerti. Reno memang melakukan pembunuhan terhadap Lita, lantaran tidak kuat menahan nafsunya ketika melihat Lita, dan kebetulan sekali Lita merupakan siswa dari jalur beasiswa melalui cabang olahraga, bukankah itu kesempatan yang luar biasa?
Sedangkan untuk menghilangnya Vanya yang kebetulan adalah teman dekatnya Lita, Reno sama sekali tidak mengetahuinya atau bahkan melakukannya. Awalnya Reno memang ingin menghabisi Vanya karena Reno pikir Vanya mengetahui sesuatu tentang perbuatannya waktu itu, hanya saja belum sempat Reno memulai perburuannya ia malah di panggil oleh Viola dan di tuduh telah menghilangkan Vanya, bukankah itu satu kebetulan yang aneh?
"Jika aku tidak salah menduga, ada satu orang lagi selain kita yang melakukannya secara diam diam di belakang kita." ucap Reno yang lantas di balas Viola dengan anggukan kepala seakan membenarkan ucapan dari Reno barusan.
"Kita tunggu beberapa waktu lagi, aku yakin cepat atau lambat semua akan mulai terbuka. Untuk masalah Vanya yang menghilang aku akan berusaha menutupinya dan mengatakan bahwa Vanya pulang untuk menjenguk orang tuanya yang sedang sakit." ucap Viola kemudian.
"Apa kau yakin itu tidak akan menimbulkan masalah? mengingat Vanya bukan lah dari golongan biasa." ucap Reno lagi bertanya seakan seperti tidak yakin akan ide dari Viola barusan.
"Bermasalah atau tidak kita pikirkan lagi nanti, yang jelas ini adalah cara terbaik untuk menghindari rumor buruk yang akan berkembang nantinya jika kita hanya diam saja tanpa bertindak." ucap Viola lagi yang pada akhirnya di balas Reno dengan anggukan kepala karena saat ini mungkin cara itulah yang terbaik untuk menutupi hilangnya Vanya.
***
Sementara itu Allen dan juga Mikaila yang baru saja keluar dari kelas 12 B, lantas terlihat melangkahkan kakinya dengan kesal menyusuri lorong kelas hendak kembali menuju ke arah kelasnya. Ucapan Laura tadi benar benar mengesalkan dan membuat Allen tersinggung. Ketidak pulangan Vanya ke asrama memang membuatnya terkejut dan juga merasa khawatir, namun ketika Allen mendengar ucapan dari Laura yang langsung menuduhnya, membuat Allen menjadi kesal sampai melupakan tentang Vanya yang tidak pulang semalam.
"Sudahlah Al... apa yang membuat mu sangat kesal? lagi pula wajar bukan? Laura adalah teman dekat Vanya jadi jika Laura bersikap seperti itu padamu dan juga padaku itu suatu hal wajar, jangan terlalu di pikirkan." ucap Mikaila mencoba untuk menenangkan Allen karena ia tahu Allen tengah bete saat ini.
Allen yang mendengar ucapan dari Mikaila barusan hanya mendengus dengan kesal karena Mikaila malah mendukung ucapan Laura yang menuduh keduanya yang menghilangkan dan menyembunyikan Vanya semalam.
"Sudahlah Kai, aku tengah kesal saat ini... jangan menambahnya lagi dengan sikap mu yang malah mendukung ucapan Laura!" ucap Allen dengan nada yang ketus namun malah membuat Mikaila tersenyum dengan sumringah.
Allen yang melihat wajah cengar cengir Mikaila langsung mengernyit dengan bingung, karena Mikaila malah tersenyum dengan lebar padahal barusan ia sudah mengatakan kata kata dengan nada yang ketus.
"Kamu sedang mengejek ku saat ini?" ucap Allen kemudian dengan menatap tajam ke arah Mikaila.
Mikaila yang melihat tatapan tajam tersebut, bukannya marah malah langsung menggandeng tangan Allen dengan erat kemudian menariknya agar mengikuti langkah kakinya yang hendak menuju ke arah kantin, untuk mengisi perut mereka sebelum pada akhirnya jam istirahat akan berakhir.
"Sepertinya kamu lapar mangkanya kamu sensi seperti itu, sebaiknya kita pergi makan saja ke kantin ok..." ucap Mikaila sambil menarik Allen agar mengikuti langkah kakinya.
"Jangan mengalihkan pembicaraan Kai... aku masih kesal saat ini." ucap Allen namun dengan langkah yang mengikuti arah tarikan Mikaila tanpa protes sama sekali.
"Sudah ikut saja!" ucap Mikaila sambil terus menarik tangan Allen agar mengikuti langkah kakinya.
***
Di sebuah ruangan gelap yang masih terletak di lingkungan sekolah, terlihat seorang laki laki tengah melangkahkan kakinya menuju ke arah sebuah kamar kemudian masuk perlahan ke dalamnya. Seulas senyum terbit dari wajah pria itu ketika melihat sosok perempuan yaitu Vanya tengah tertidur di atas tempat tidur dengan pakaian seragam yang masih lengkap melekat di tubuhnya.
Pria itu melangkahkan kakinya mendekat ke arah Vanya, kemudian mengambil duduk di sebelah Vanya yang hingga kini masih terlihat memejamkan matanya.
"Aku melakukan ini demi kebaikanmu, jika Reno menangkap mu lebih dulu aku yakin nasib mu pasti akan berakhir dengan tragis di tangannya." ucap pria itu yang hanya terlihat bagian punggungnya saja.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Herlina Lina
teka tekinya makin seru
2024-06-07
0
Siti Arbainah
Nih orang baik apa nggak ya
2023-03-27
0