"Kamu harus mengocok adonan kuenya sampai kalis setelah itu baru kita bisa membentuk adonannya sesuai selera," instruksi Luccane yang memperhatikan setiap gerak-gerik diriku yang sedang berjuang membuat kue Kastengel enak dengan resep asli dari Belanda.
Sejak tadi Luccane sibuk memberikan arahan kepadaku agar adonan kuenya tidak jadi hancur berantakan atau tidak dapat mengembang dengan sempurna. Ya, dia seperti seorang juru masak profesional sekarang.
"Apa adonannya sudah bisa aku bentuk sekarang?" tanyaku setelah merasa adonan yang aku olah telah menjadi kalis.
"Bagus, tekstur dan warna adonannya sangat pas. Sekarang kamu sudah boleh membentuk adonan kuenya sesuai selera kamu," jawab Luccane dengan senyuman penuh.
Aku mengangguk penuh semangat, mulai membentuk adonan kue ditanganku sedikit demi sedikit mengikuti instruksi dari Luccane agar adonan dapat mengembang dengan sempurna.
Bermodalkan oven kuno yang harus aku panggang di atas kompor agar dapat berfungsi, aku mulai memanggang adonan kue yang sudah dibentuk sedemikian rupa dengan hati-hati.
Aroma wangi khas kue kering yang dipanggang mulai menguar di segala penjuru dapur setelah adonan kue dimasukkan ke dalam oven, membuat Luccane tersenyum bangga.
"Aku yakin kuenya akan menjadi sangat enak," ucap Luccane seraya mendudukkan dirinya di atas kursi kayu.
Aku mengangguk dengan seulas senyum.
"terima kasih untuk resepnya, Luccane."
Setelah sekian lama menunggu, akhirnya aku berhasil memanggang semua adonan kue hingga tak tersisa. Aroma kuenya benar-benar nikmat membuatku tak sabar ingin segera menyantapnya.
Aku mengambil satu potong kue Kastengel buatanku sendiri dengan bangga, lalu memakannya tanpa ragu.
"Diluar dugaanku ternyata rasanya jauh lebih enak, Luccane!" seruku kegirangan.
Ini adalah kali pertama aku bisa membuat kue kering sendiri dengan rasa yang luar biasa nikmat semakin membuatku bangga pada diriku sendiri.
"Apa kamu tahu kisah dibalik kue Kastengel ini? Tapi sebenarnya itu hanya kisah yang disaksikan langsung oleh Tanteku dulu saat di Batavia," Luccane dengan tidak sopan berujar, membuatku menjadi penasaran.
"Kisah tentang apa?"
"Kamu belajar sejarah, bukan? Apa kamu pernah dengar atau membaca cerita mengenai Kampung Pecah Kulit?"
Kampung Pecah Kulit? Aku sama sekali tidak pernah mendengarnya membuat aku kian penasaran tentang apa yang akan Luccane ceritakan kali ini.
"Aku sama sekali belum pernah mendengarnya atau pun membacanya, memangnya ada apa dengan kampung itu? Kenapa namanya aneh seperti itu?" ucapku penasaran.
"Kalau begitu berhentilah makan terlebih dahulu jika ingin mendengar ceritanya," kata Luccane mewanti-wanti.
Aku meneguk ludah, buru-buru menutup toples yang berisi penuh dengan kue Kastengel kemudian memfokuskan diri pada Luccane bersiap mendengar cerita lengkapnya.
"Dulu, Tante dan Oom berteman dengan seorang pria keturunan Eropa-Siam bernama Pieter Erberveld. Beliau bukan keturunan Belanda, melainkan Jerman dan merupakan seorang pengusaha sukses yang memiliki tanah yang sangat luas di kawasan Batavia," Luccane memulai ceritanya.
"Lalu apa yang terjadi selanjutnya?"
"Hari itu, Tuan Pieter Erberveld memesan kue kering pada Tante untuk sebuah pertemuan. Dan benar saja, besoknya setelah memesan kue kering pada Tante beliau mengadakan pertemuan dengan para pribumi di rumahnya tapi sayangnya salah seorang dari Jongos Tuan Pieter Erberveld membocorkan informasi dalam pertemuan itu pada penguasa Belanda di daerah itu."
"Memangnya tentang apa pertemuan itu?" tanyaku penasaran.
"Tentang niat Tuan Pieter Erberveld untuk melakukan pembantaian kepada orang-orang Belanda di sana dengan bantuan pasukan pribumi di malam tahun baru karena beliau merasa tidak adil sebab banyak tanah miliknya yang disita oleh pihak Belanda tanpa alasan yang masuk akal," jawab Luccane.
"Mengetahui rencana Tuan Pieter Erberveld, pasukan Belanda bersenjata lengkap mencari keberadaan Tuan Pieter Erberveld serta para pengikutnya. Saat Tante hendak mengantarkan kue kering pesanan Tuan Pieter Erberveld ke rumahnya, Tante malah harus menyaksikan Tuan Pieter Erberveld dieksekusi dengan cara yang sangat kejam oleh pemerintah Hindia-Belanda."
Belumlah Luccane menjelaskan bagaimana cara pemerintah Hindia-Belanda melenyapkan Tuan Pieter Erberveld, aku sudah bergidik ngeri.
"Usai mengeksekusi rekan-rekan Tuan Pieter Erberveld tanpa ada satu pun yang tersisa, mereka mengikat kedua tangan dan kaki Tuan Pieter Erberveld pada empat ekor kuda. Dan ya, keempat ekor kuda itu berlari ke arah yang berlawanan membuat tubuh Tuan Pieter Erberveld hancur tak terbentuk."
Wajar kalau Luccane menyuruhku untuk berhenti makan, sungguh diluar dugaanku aku akan kembali mendengar cerita kejam seperti ini.
"Dari peristiwa itulah nama Kampung Pecah Kulit berasal. Dulu, pemerintah sampai membuat tugu peringatan di lokasi kejadian itu dan menaruh tengkorak Tuan Pieter Erberveld dia atas tugu itu. Kekejaman mereka benar-benar tidak pandang bulu dengan maksud agar tidak ada lagi pemberontakan seperti itu."
Aku meringis, ngeri mendengar cerita itu.
"Apa di masa itu kau sudah lahir?"
Luccane menggeleng. "belum. Papa bilang waktu itu aku masih dalam kandungan Mama."
"Lalu, apa kau tahu di mana pusat kota Batavia saat pemerintah Hindia-Belanda masih berkuasa?"
"Pusat kota Batavia dulunya ada di tempat yang sekarang disebut sebagai Kota Tua. Aku sempat pergi ke Batavia beberapa kali dulu untuk mengunjungi Tante dan Oom. Kalau kamu penasaran, kamu bisa melihat para hantu Belanda yang berkeliaran di sekitar Kota Tua dan bertanya pada mereka juga," terang Luccane.
Kota Tua? Aku akui tempat itu masih sangat terawat sampai saat ini dengan bangunan asli bergaya arsitektur Art Deco khas Belanda yang sangat menawan.
"Aku belum ada niatan pergi ke Jakarta. Toh, kalau aku bertanya kepada para hantu aku bisa-bisa dikatai gila," balasku sebal.
Memang agak menyebalkan saat ada orang awam yang dengan sok tahunya tiba-tiba mengatai aku gila karena berbicara sendiri. Hah... Andai saja mereka dapat melihat apa yang kulihat.
Aku yakin Tuhan memberikan aku kelebihan yang satu ini dengan sebuah tujuan yang masih belum aku ketahui hingga kini.
"Tapi kamu tidak boleh membantu para hantu yang kamu temui apa pun alasannya," kata Luccane yang kali ini terlihat lebih serius.
Aku memandang Luccane bingung.
"Memangnya kenapa? Apa ada alasan khusus?"
Luccane mengangguk. "ya. jika kamu membantu satu hantu saja, hantu-hantu lainnya akan mengantri dan terus merengek meminta bantuanmu. kamu tidak bisa memilih untuk membantu satu orang hantu saja karena hantu lainnya akan tahu kalau kamu pernah membantu satu hantu."
"Lantas bagaimana bisa para hantu di rumah ini tidak tahu kalau aku bisa melihat keberadaan mereka?" Lagi-lagi Luccane membuat rasa penasaranku membuncah.
"Tentu saja karena aku meyakinkan mereka kalau kamu tidak bisa melihat mereka. Mereka akan selalu mempercayai ucapanku karena bagi mereka aku adalah Tuan," beber Luccane membuatku tersenyum geli, ternyata hantu juga bisa berbohong dan dibohongi.
"Sejak awal aku sudah yakin kalau kau bukanlah hantu biasa," gumamku sambil memandang wajah Luccane.
"Memang, aku 'kan hantu yang paling mencintai kamu!"
Luccane, aku hanya bisa berharap dia bisa segera kembali ke tempat yang seharusnya dan berbahagia lebih dari saat ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Patrish
sebenarnya kasihan dengan arwah Luccan.... harus menunggu lama sebelum sempurna... apa minta tolong mbak Sara Wijayanto ya untuk menyempurnakan😀😀🤭🤭
2023-01-31
2