Bab 5 : Luccane dan Sejuta Misteri

Sepasang obsidian biru menawan milik Luccane memandangku lurus. "dulu aku pernah berdoa kepada Tuhan. aku meminta padanya untuk mempertemukan aku dengan seorang gadis yang bisa membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama."

Pengakuan Luccane kontan membuatku bingung mengenai maksudnya. Aku hanya bisa memandang wajah rupawan miliknya yang seolah nyata, yang seolah mampu meyakinkan aku bahwa dia berasal dari dimensi yang sama denganku.

Kilat yang menyambar dari luar memantulkan cahaya, sedikit menyinari wajah Luccane membuat air muka penuh kesungguhannya terlihat semakin memikat hati. Kedua sudut bibirnya tersungging membentuk seulas senyum penuh arti, sukses membuat darahku berdesir.

"Apa... maksudmu, Luccane?"

Luccane hanya tersenyum penuh misteri.

"kamu akan memahami maksudku seiring dengan berjalannya waktu."

Listrik yang tak juga menyala membuatku tak memiliki pilihan lain selain tidur dengan cahaya temaram ala kadarnya dari lentera merah milik Luccane yang terduduk di atas meja.

Luccane berujar lembut, "tidurlah, ini sudah nyaris tengah malam. kamu harus beristirahat dengan cukup."

Aku yang belum merasakan kantuk sama sekali tetap berusaha untuk tidur dengan cara merebahkan diri di atas sofa sementara Luccane memilih untuk duduk bersila di atas karpet dengan pandangannya yang masih tertuju padaku.

Sepasang obsidian biru menawan milik Luccane selalu memandangku dengan sorot yang begitu lembut, sukses membuatku merasa seperti sedang berhadapan dengan seorang pria sungguhan bukannya seorang hantu yang mati penasaran.

Semakin aku berusaha untuk tidur, semakin aku tidak bisa tidur. Pelan-pelan aku membuka mata mencoba melihat kondisi sekitar guna memastikan apakah Luccane masih ada di depanku atau tidak tetapi diluar dugaanku Luccane sudah tidak ada di depanku.

"Kenapa kau muncul dengan wajah menakutkan di kamar gadis itu?! gara-gara kau dia jadi takut dan tidak bisa tidur dengan tenang di kamarnya!"

Oh, itu sepertinya suara Luccane!

Tapi dengan siapa ya dia berbicara?

Aku membalikkan badanku pelan-pelan, berusaha untuk mendengarkan dengan lebih jelas.

"Bukankah dia tidak bisa melihat kita, Tuan?"

Apa lawan bicaranya laki-laki? mungkinkah pocong yang tadi aku keluhkan pada Luccane?

"Kalau pun dia tidak bisa melihatmu, kau tidak perlu memasang ekspresi menyeramkan seperti itu lagi karena auranya sangatlah mengerikan!" bentak Luccane terdengar tegas sekali.

"Maafkan aku, Tuan. aku tidak akan melakukannya lagi jika anda melarangnya."

Tuan?

Apa Luccane menduduki posisi tinggi di jagat lelembut di area sekitar rumah ini?

Sepertinya dia bukanlah sosok astral yang sembarangan, wajar kalau dia bisa terlihat tidak menyeramkan sama sekali.

Kenapa aku bisa terjebak ke dalam situasi seperti ini sih? tinggal di rumah yang penuh dengan hantu memang sudah aku duga sebelumnya, tetapi bertemu hantu yang lain dari pada yang lain seperti Luccane sama sekali tak terpikir olehku.

"Katakan juga kepada semua penghuni lain untuk tidak mengganggu gadis itu," tekan Luccane.

"Baiklah, Tuan."

Cepat-cepat aku memejamkan mata, takut-takut kalau Luccane kembali ke depanku. Dan benar saja, setelah sepersekian detik berikutnya Luccane sudah kembali duduk di depanku namun kini dengan posisi membelakangi wajahku.

Aku tidak dapat menebak bagaimana hari-hariku kedepannya akan berjalan selama tinggal di rumah ini tetapi aku harap semuanya bisa berjalan dengan baik sampai aku berhasil lulus dengan nilai memuaskan dan menjadi seorang sarjana.

...****************...

"Kamu sudah bangun?"

Sebuah suara lembut mengalun menyapa indera pendengaranku tatkala aku membuka mata, sesaat membuatku lupa pada kenyataan bahwa aku tinggal seorang diri di rumah ini.

"Sekarang jam berapa?" aku bertanya setelah sadar bahwa sosok yang tadi mengajakku berbicara adalah Luccane, hantu dengan wujud yang sangat manusiawi.

"Pukul setengah delapan pagi," Luccane menyahut dengan santai seraya membolak-balik halaman majalah tua yang tergeletak di atas meja kaca di depannya.

Aku mendesah lega setelah menyadari bahwa hari ini aku tidak memiliki kegiatan apa pun di kampus jadi aku tidak perlu pergi ke kampus.

Segala macam kegiatan menyangkut masa orientasi mahasiswa baru akan dimulai pekan depan membuatku bisa sedikit bersantai setelah menghabiskan banyak energi untuk pindahan dari kota asalku kemari.

"Apa kamu tidak berangkat ke kampus?"

Pertanyaan Luccane yang masih sama lembutnya kubalas dengan gelengan lesu.

Mataku masih terasa berat, tubuhku juga rasanya sakit semua setelah acara pindahan beberapa hari yang lalu terlebih tidurku juga cukup terganggu karena keberadaan pocong yang menyeramkan itu.

"Seharian ini aku hanya akan tidur, Luccane."

Jawaban dariku membuat Luccane kontan melotot kaget. "bagaimana kamu bisa sukses kalau malas-malasan begitu?"

Aku menghela malas. "mau aku lulus dari universitas dengan gelar dokter sekali pun, tetap saja sebagai anak tunggal aku akan tetap mewarisi bisnis keluargaku di kota asalku."

Luccane terkekeh. "dalam hal ini kita sama."

"Apa kau sungguh tidak mau memberitahu nama keluargamu padaku?" tanyaku dengan wajah muram seraya memandang Luccane.

Luccane menggeleng kukuh. "tidak boleh. karena keluargaku tercatat dalam sejarah besar Indonesia maka aku memutuskan untuk merahasiakannya."

Sulit dipercaya, sekarang sudah pagi tapi aku tetap bisa berbincang dengan Luccane selayaknya sedang mengobrol dengan seorang manusia biasa.

Ini adalah hal yang tak biasa, biasanya aku hanya bisa melihat para makhluk astral tanpa bisa banyak berinteraksi saat siang hari.

Aku bangkit dari posisi tiduran, menyandarkan punggung pada sandaran sofa.

"lantas kenapa kau masih terombang-ambing di sini? apa kau mempunyai tujuan lain seperti 'mereka'?"

"Sejujurnya aku lupa apa yang membuatku masih tetap tertahan di dunia ini. tapi apa boleh buat, tak banyak yang bisa aku lakukan," beber Luccane dengan pandangan menerawang.

"yang pasti, aku ingin berkumpul kembali bersama kedua orang tuaku terlepas dari tujuan utamaku."

Seperti yang aku ketahui sebelumnya, para arwah yang telah berpisah dengan jasadnya dapat bergentayangan jika memiliki suatu urusan yang belum selesai. Sama halnya dengan Luccane, namun sayang dia lupa perihal urusan apa yang harus ia bereskan hingga harus terus bergentayangan seperti itu.

"Aku yakin orang tuamu sudah menunggumu di suatu tempat yang indah," balasku sekenanya, tak mau membahas lebih jauh agar Luccane tidak terluka perasaannya.

Luccane mengangguk lesu. "ya, semoga saja."

Merasa tak memiliki bahan pembicaraan lagi, aku memutuskan untuk melipat selimutku lalu menyimpannya kembali di kamarku.

"Soal pocong yang kemarin kamu ceritakan, aku sudah mengurusnya. nanti malam kamu sudah bisa tidur dengan nyaman di kamarmu lagi," kata Luccane sesaat setelah aku beranjak hendak menuju kamar.

Aku berbalik, memandang sok galak pada Luccane.

"tolong katakan padaku sebenarnya siapa kau ini, Luccane?"

Luccane mendengus geli. "bukan apa-apa selain hantu yang tak mau menerima kenyataan bahwa dirinya sudah mati setelah bertemu dan jatuh cinta padamu, Vishabea."

Terpopuler

Comments

Qian

Qian

aihhh kalo hantunya model kyk luccane aku mau lah😁

2023-03-17

0

Patrish

Patrish

naahhh... ketahuan ya

2022-12-21

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Dinginnya Hembusan Napas sang Malam
2 Bab 2 : Dia, Luccane.
3 Bab 3 : Lentera Merah
4 Bab 4 : Perbincangan di Tengah Kelam
5 Bab 5 : Luccane dan Sejuta Misteri
6 Bab 6 : Keseharian Di Rumah
7 Bab 7 : Perjalanan Ajaib
8 Bab 8 : Het Bloeien van Rozen
9 Bab 9 : Paars en Rood
10 Bab 10 : Hari Pertama di Kampus
11 Bab 11 : Cemburu
12 Bab 12 : Meneer Kerkoof
13 Bab 13 : Kebun Bunga Luccane
14 Bab 14 : Indahnya Bintang di Multiverse
15 Bab 15 : Kisah Dibalik Sepotong Kue Kastengel
16 Bab 16 : Benang Merah Pengikat Takdir
17 Bab 17 : Pilar Penyanggah Keluarga
18 Bab 18 : Romansa Dua Dunia
19 Bab 19 : Bukan Sekedar Ancaman
20 Bab 20 : Dimulainya Gangguan
21 Bab 21 : Senandung Pembawa Petaka
22 Bab 22 : Mawar Hitam Yang Layu
23 Bab 23 : Amarah Sang Mawar Hitam
24 Bab 24 : Kekhawatiran Luccane
25 Bab 25 : Air Mata Kepedihan Luccane
26 Bab 26 : Pembalasan Luccane
27 Bab 27 : Langit Bandung yang Kelam
28 Bab 28 : Mencari Alasan
29 Bab 29 : Masa Pemulihan
30 Bab 30 : Regen in Stukjes Hart
31 Bab 31 : Akhir Masa Pemulihan
32 Bab 32 : Misteri Baru
33 Bab 33 : Kesaksian Jansen
34 Bab 34 : Kembali ke Rutinitas
35 Bab 35 : Keraguan Besar
36 Bab 36 : Zwart Gordijn
37 Bab 37 : Tangis sang Mawar Ungu
38 Bab 38 : Semerbak Wangi Cinta
39 Bab 39 : Kehidupan Seorang Sinyo
40 Bab 40 : Berkencan Dalam Dimensi yang Berbeda
41 Bab 41 : Buku Harian
42 Bab 42 : Godaan
43 Bab 43 : Siapa itu Vin?
44 Bab 44 : Kelam?
45 Bab 45 : Kebenaran Tak Terduga
46 Bab 46 : Mengenang Kembali
47 Bab 47 : Paris van Java
48 Bab 48 : Pure Liefde in Parijs van Java
49 Bab 49 : Di Bawah Cakrawala Bandung
50 Bab 50 : Perpisahan Yang Perih
51 Bab 51 : Petunjuk Dari Buku Tua
52 Bab 52 : Darah Dari Masa Kelam
53 Bab 53 : Mula Investigasi
54 Bab 54 : Penuntun Misterius
55 Bab 55 : Sepasang Netra Penghubung Jiwa
56 Bab 56 : Satu Titik Kebenaran
57 Bab 57 : Tersingkapnya Tirai Kebenaran
58 Bab 58 : Keputusan Yang Berat
59 Bab 59 : Membiasakan Diri
60 Bab 60 : Hartverscheurend Liefdesverhaal
Episodes

Updated 60 Episodes

1
Bab 1 : Dinginnya Hembusan Napas sang Malam
2
Bab 2 : Dia, Luccane.
3
Bab 3 : Lentera Merah
4
Bab 4 : Perbincangan di Tengah Kelam
5
Bab 5 : Luccane dan Sejuta Misteri
6
Bab 6 : Keseharian Di Rumah
7
Bab 7 : Perjalanan Ajaib
8
Bab 8 : Het Bloeien van Rozen
9
Bab 9 : Paars en Rood
10
Bab 10 : Hari Pertama di Kampus
11
Bab 11 : Cemburu
12
Bab 12 : Meneer Kerkoof
13
Bab 13 : Kebun Bunga Luccane
14
Bab 14 : Indahnya Bintang di Multiverse
15
Bab 15 : Kisah Dibalik Sepotong Kue Kastengel
16
Bab 16 : Benang Merah Pengikat Takdir
17
Bab 17 : Pilar Penyanggah Keluarga
18
Bab 18 : Romansa Dua Dunia
19
Bab 19 : Bukan Sekedar Ancaman
20
Bab 20 : Dimulainya Gangguan
21
Bab 21 : Senandung Pembawa Petaka
22
Bab 22 : Mawar Hitam Yang Layu
23
Bab 23 : Amarah Sang Mawar Hitam
24
Bab 24 : Kekhawatiran Luccane
25
Bab 25 : Air Mata Kepedihan Luccane
26
Bab 26 : Pembalasan Luccane
27
Bab 27 : Langit Bandung yang Kelam
28
Bab 28 : Mencari Alasan
29
Bab 29 : Masa Pemulihan
30
Bab 30 : Regen in Stukjes Hart
31
Bab 31 : Akhir Masa Pemulihan
32
Bab 32 : Misteri Baru
33
Bab 33 : Kesaksian Jansen
34
Bab 34 : Kembali ke Rutinitas
35
Bab 35 : Keraguan Besar
36
Bab 36 : Zwart Gordijn
37
Bab 37 : Tangis sang Mawar Ungu
38
Bab 38 : Semerbak Wangi Cinta
39
Bab 39 : Kehidupan Seorang Sinyo
40
Bab 40 : Berkencan Dalam Dimensi yang Berbeda
41
Bab 41 : Buku Harian
42
Bab 42 : Godaan
43
Bab 43 : Siapa itu Vin?
44
Bab 44 : Kelam?
45
Bab 45 : Kebenaran Tak Terduga
46
Bab 46 : Mengenang Kembali
47
Bab 47 : Paris van Java
48
Bab 48 : Pure Liefde in Parijs van Java
49
Bab 49 : Di Bawah Cakrawala Bandung
50
Bab 50 : Perpisahan Yang Perih
51
Bab 51 : Petunjuk Dari Buku Tua
52
Bab 52 : Darah Dari Masa Kelam
53
Bab 53 : Mula Investigasi
54
Bab 54 : Penuntun Misterius
55
Bab 55 : Sepasang Netra Penghubung Jiwa
56
Bab 56 : Satu Titik Kebenaran
57
Bab 57 : Tersingkapnya Tirai Kebenaran
58
Bab 58 : Keputusan Yang Berat
59
Bab 59 : Membiasakan Diri
60
Bab 60 : Hartverscheurend Liefdesverhaal

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!