Sepasang obsidian biru menawan milik Luccane memandangku lurus. "dulu aku pernah berdoa kepada Tuhan. aku meminta padanya untuk mempertemukan aku dengan seorang gadis yang bisa membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama."
Pengakuan Luccane kontan membuatku bingung mengenai maksudnya. Aku hanya bisa memandang wajah rupawan miliknya yang seolah nyata, yang seolah mampu meyakinkan aku bahwa dia berasal dari dimensi yang sama denganku.
Kilat yang menyambar dari luar memantulkan cahaya, sedikit menyinari wajah Luccane membuat air muka penuh kesungguhannya terlihat semakin memikat hati. Kedua sudut bibirnya tersungging membentuk seulas senyum penuh arti, sukses membuat darahku berdesir.
"Apa... maksudmu, Luccane?"
Luccane hanya tersenyum penuh misteri.
"kamu akan memahami maksudku seiring dengan berjalannya waktu."
Listrik yang tak juga menyala membuatku tak memiliki pilihan lain selain tidur dengan cahaya temaram ala kadarnya dari lentera merah milik Luccane yang terduduk di atas meja.
Luccane berujar lembut, "tidurlah, ini sudah nyaris tengah malam. kamu harus beristirahat dengan cukup."
Aku yang belum merasakan kantuk sama sekali tetap berusaha untuk tidur dengan cara merebahkan diri di atas sofa sementara Luccane memilih untuk duduk bersila di atas karpet dengan pandangannya yang masih tertuju padaku.
Sepasang obsidian biru menawan milik Luccane selalu memandangku dengan sorot yang begitu lembut, sukses membuatku merasa seperti sedang berhadapan dengan seorang pria sungguhan bukannya seorang hantu yang mati penasaran.
Semakin aku berusaha untuk tidur, semakin aku tidak bisa tidur. Pelan-pelan aku membuka mata mencoba melihat kondisi sekitar guna memastikan apakah Luccane masih ada di depanku atau tidak tetapi diluar dugaanku Luccane sudah tidak ada di depanku.
"Kenapa kau muncul dengan wajah menakutkan di kamar gadis itu?! gara-gara kau dia jadi takut dan tidak bisa tidur dengan tenang di kamarnya!"
Oh, itu sepertinya suara Luccane!
Tapi dengan siapa ya dia berbicara?
Aku membalikkan badanku pelan-pelan, berusaha untuk mendengarkan dengan lebih jelas.
"Bukankah dia tidak bisa melihat kita, Tuan?"
Apa lawan bicaranya laki-laki? mungkinkah pocong yang tadi aku keluhkan pada Luccane?
"Kalau pun dia tidak bisa melihatmu, kau tidak perlu memasang ekspresi menyeramkan seperti itu lagi karena auranya sangatlah mengerikan!" bentak Luccane terdengar tegas sekali.
"Maafkan aku, Tuan. aku tidak akan melakukannya lagi jika anda melarangnya."
Tuan?
Apa Luccane menduduki posisi tinggi di jagat lelembut di area sekitar rumah ini?
Sepertinya dia bukanlah sosok astral yang sembarangan, wajar kalau dia bisa terlihat tidak menyeramkan sama sekali.
Kenapa aku bisa terjebak ke dalam situasi seperti ini sih? tinggal di rumah yang penuh dengan hantu memang sudah aku duga sebelumnya, tetapi bertemu hantu yang lain dari pada yang lain seperti Luccane sama sekali tak terpikir olehku.
"Katakan juga kepada semua penghuni lain untuk tidak mengganggu gadis itu," tekan Luccane.
"Baiklah, Tuan."
Cepat-cepat aku memejamkan mata, takut-takut kalau Luccane kembali ke depanku. Dan benar saja, setelah sepersekian detik berikutnya Luccane sudah kembali duduk di depanku namun kini dengan posisi membelakangi wajahku.
Aku tidak dapat menebak bagaimana hari-hariku kedepannya akan berjalan selama tinggal di rumah ini tetapi aku harap semuanya bisa berjalan dengan baik sampai aku berhasil lulus dengan nilai memuaskan dan menjadi seorang sarjana.
...****************...
"Kamu sudah bangun?"
Sebuah suara lembut mengalun menyapa indera pendengaranku tatkala aku membuka mata, sesaat membuatku lupa pada kenyataan bahwa aku tinggal seorang diri di rumah ini.
"Sekarang jam berapa?" aku bertanya setelah sadar bahwa sosok yang tadi mengajakku berbicara adalah Luccane, hantu dengan wujud yang sangat manusiawi.
"Pukul setengah delapan pagi," Luccane menyahut dengan santai seraya membolak-balik halaman majalah tua yang tergeletak di atas meja kaca di depannya.
Aku mendesah lega setelah menyadari bahwa hari ini aku tidak memiliki kegiatan apa pun di kampus jadi aku tidak perlu pergi ke kampus.
Segala macam kegiatan menyangkut masa orientasi mahasiswa baru akan dimulai pekan depan membuatku bisa sedikit bersantai setelah menghabiskan banyak energi untuk pindahan dari kota asalku kemari.
"Apa kamu tidak berangkat ke kampus?"
Pertanyaan Luccane yang masih sama lembutnya kubalas dengan gelengan lesu.
Mataku masih terasa berat, tubuhku juga rasanya sakit semua setelah acara pindahan beberapa hari yang lalu terlebih tidurku juga cukup terganggu karena keberadaan pocong yang menyeramkan itu.
"Seharian ini aku hanya akan tidur, Luccane."
Jawaban dariku membuat Luccane kontan melotot kaget. "bagaimana kamu bisa sukses kalau malas-malasan begitu?"
Aku menghela malas. "mau aku lulus dari universitas dengan gelar dokter sekali pun, tetap saja sebagai anak tunggal aku akan tetap mewarisi bisnis keluargaku di kota asalku."
Luccane terkekeh. "dalam hal ini kita sama."
"Apa kau sungguh tidak mau memberitahu nama keluargamu padaku?" tanyaku dengan wajah muram seraya memandang Luccane.
Luccane menggeleng kukuh. "tidak boleh. karena keluargaku tercatat dalam sejarah besar Indonesia maka aku memutuskan untuk merahasiakannya."
Sulit dipercaya, sekarang sudah pagi tapi aku tetap bisa berbincang dengan Luccane selayaknya sedang mengobrol dengan seorang manusia biasa.
Ini adalah hal yang tak biasa, biasanya aku hanya bisa melihat para makhluk astral tanpa bisa banyak berinteraksi saat siang hari.
Aku bangkit dari posisi tiduran, menyandarkan punggung pada sandaran sofa.
"lantas kenapa kau masih terombang-ambing di sini? apa kau mempunyai tujuan lain seperti 'mereka'?"
"Sejujurnya aku lupa apa yang membuatku masih tetap tertahan di dunia ini. tapi apa boleh buat, tak banyak yang bisa aku lakukan," beber Luccane dengan pandangan menerawang.
"yang pasti, aku ingin berkumpul kembali bersama kedua orang tuaku terlepas dari tujuan utamaku."
Seperti yang aku ketahui sebelumnya, para arwah yang telah berpisah dengan jasadnya dapat bergentayangan jika memiliki suatu urusan yang belum selesai. Sama halnya dengan Luccane, namun sayang dia lupa perihal urusan apa yang harus ia bereskan hingga harus terus bergentayangan seperti itu.
"Aku yakin orang tuamu sudah menunggumu di suatu tempat yang indah," balasku sekenanya, tak mau membahas lebih jauh agar Luccane tidak terluka perasaannya.
Luccane mengangguk lesu. "ya, semoga saja."
Merasa tak memiliki bahan pembicaraan lagi, aku memutuskan untuk melipat selimutku lalu menyimpannya kembali di kamarku.
"Soal pocong yang kemarin kamu ceritakan, aku sudah mengurusnya. nanti malam kamu sudah bisa tidur dengan nyaman di kamarmu lagi," kata Luccane sesaat setelah aku beranjak hendak menuju kamar.
Aku berbalik, memandang sok galak pada Luccane.
"tolong katakan padaku sebenarnya siapa kau ini, Luccane?"
Luccane mendengus geli. "bukan apa-apa selain hantu yang tak mau menerima kenyataan bahwa dirinya sudah mati setelah bertemu dan jatuh cinta padamu, Vishabea."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Qian
aihhh kalo hantunya model kyk luccane aku mau lah😁
2023-03-17
0
Patrish
naahhh... ketahuan ya
2022-12-21
2