Bab 16 : Benang Merah Pengikat Takdir

Hembusan angin malam ini terasa sangat menusuk kulit hingga ke tulangku, membuatku hanya bisa menghela napas panjang.

Aku menarik rem sepeda motorku setelah tiba di pekarangan rumah Mang Ujang, satu-satunya kerabatku di Bandung.

Diluar dugaanku, rumah yang ditinggali oleh Mang Ujang serta keluarga ternyata juga sebuah rumah tua bergaya Art Deco khas Belanda sama seperti rumah yang aku tinggali hanya saja lebih besar.

Bangunan rumah tua itu berlantai dua dengan cat merah muda sebagai pemanisnya, lengkap dengan pekarangan rumah yang luas nan asri dengan berbagai tanaman menghiasi serta ayunan besi usang di sisi kiri halaman.

Terdapat juga sebuah pohon asam besar yang sepertinya sudah sangat tua di sebelah ayunan besi itu berdiri. Setelah memarkirkan motorku di dalam pagar rumah, aku menyadari ada sosok yang sejak tadi mengawasi pergerakanku dari balik besarnya pohon asam tua tersebut.

"Assalamualaikum, Mang!" panggilku seraya mengetuk pintu utama rumah.

Dua daun pintu besar itu mungkin tingginya sekitar dua meter dengan bahan kayu yang anehnya terasa sama kokohnya dengan tembok yang terbuat dari batu.

"Waalaikumsalam, mari masuk, Neng! Udah ditunggu sama Andri dan Bibi di dalam," ajak Mang Ujang mempersilakan aku masuk ke dalam rumah.

Ini adalah kunjungan pertamaku ke rumah keluarga Mang Ujang setelah sekian lama. Rumah ini terasa jauh lebih tua dibandingkan rumahku, terlebih aku juga merasakan atmosfer yang berbeda dari rumah ini.

Lantai rumah ini dilapisi oleh material teraso yang membuat ruangan terasa lebih sejuk, menyesuaikan dengan iklim tropis Indonesia.

"Ngomong-ngomong ada acara apa sampai Mamang mengundang saya datang kemari?" tanyaku setelah kami tiba di ruang tamu.

"Hari ini Andri ulang tahun, dia bilang ingin makan-makan bersama keluarga jadi rasanya kurang kalau Neng Visha nggak datang juga," jelas Mang Ujang.

"Wah, Visha udah datang? Ayo langsung ke ruang makan, Ibu udah menyiapkan makan malamnya di dalam," ajak Andri yang langsung menggamit tanganku.

Aku menurut, mengikuti langkah Andri masuk ke dalam ruang makan. Benar saja, nampak Bibi sedang sibuk menata piring-piring besar berisi lauk pauk serta nasi di atas meja makan.

Berbagai macam masakan khas Nusantara tersaji dengan nikmat di atas meja, membuat nafsu makanku seketika meningkat.

"Ayo duduk, sayang! Bibi sudah menyiapkan banyak makanan enak yang pastinya kamu rindukan di Palembang," Bibi berujar dibubuhi seulas senyum hangat khas seorang ibu.

"Terima kasih, Mamang dan Bibi. Selamat tahun buat kamu, Andri. Semoga panjang umur serta segala keinginan kamu lekas tercapai," kataku sambil mengambil posisi duduk di seberang Andri.

Berbeda dengan wajahku yang nampak seperti orang Tiongkok, Andri memiliki wajah yang cenderung terlihat mirip dengan orang Eropa dengan tulang hidungnya yang juga tinggi.

Setelah berbincang ringan serta membaca doa, kami lantas makan bersama menikmati nikmatnya masakan Bibi yang sudah tersaji.

Mataku secara otomatis mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan, dan boom! Betapa terkejutnya aku saat melihat sosok hantu wanita yang sedang menenteng kepalanya sendiri tengah berdiri di sudut ruangan.

Melihat hal mengejutkan itu, aku kontan tersedak membuat semua orang kaget sekaligus khawatir. Bibi yang duduk di sisi kanan tubuhku dengan sigap menyodorkan segelas air putih padaku seraya menepuk-nepuk pelan punggungku.

Hantu wanita itu mengenakan gaun khas zaman kolonial Belanda berwarna pink dengan motif bunga-bunga, namun ia bukanlah orang Belanda.

"Mevrouw.... Apa kau tahu dimana Luccane anakku berada?"

Belum sempat aku menjawab pertanyaan wanita dengan kepala terputus itu, pengelihatanku tiba-tiba menjadi gelap.

...****************...

Napasku terengah-engah sesaat setelah aku membuka mata, mendapati diriku berada di dalam kamar tamu rumah keluarga Mang Ujang.

Keringat dingin membasahi tubuhku, membuat perasaanku makin tak menentu dengan jantung berdebar tak karuan. Buru-buru aku mengedarkan pandangan guna mencari sosok itu lagi namun aku tak berhasil menemukan eksistensi sosok itu.

"Visha, kamu sudah sadar?" tanya Andri khawatir dari ambang pintu kamar yang terbuka.

"Memangnya apa yang terjadi padaku, Andri?"

Andri datang menghampiriku, kemudian duduk di sudut ranjang dengan sorot mata khawatir.

"Kamu tadi tersedak saat kita sedang makan bersama tapi setelah itu kamu tiba-tiba pingsan. Memangnya apa yang kamu lihat?"

Aku memandang Andri lurus. Agaknya dia tahu kalau aku dapat melihat hal-hal yang tak kasat mata sehingga menanyakan hal seperti itu.

Aku mengangguk lesu. "aku melihat sosok wanita pribumi, tanpa kepala... Apa kamu tahu siapa sosok itu?"

Andri terlihat berpikir keras, memandangku lamat-lamat kemudian.

"Aku sudah menduga kalau kamu melihat 'dia'. Sebenarnya di rumah ini memang ada sepasang suami istri yang meninggal karena kekejaman tentara Jepang. Suami beliau adalah orang Belanda, kudengar mereka dipisahkan secara paksa dangan anak laki-laki mereka," papar Andri yang malah semakin menguatkan ingatanku pada Luccane.

Apa iya pasang suami istri itu adalah orang tua yang selama ini dicari oleh Luccane? Kalau wanita itu meregang nyawa karena kepalanya putus, bagaimana dengan nasib suaminya? Aku harus tahu semuanya dengan jelas.

"Apa kamu bisa melihat apa yang aku lihat?"

Andri menggeleng. "sayang sekali tidak bisa, tapi aku bisa merasakan kehadiran 'mereka' meski tidak sepeka kamu."

Untuk pertama kalinya, aku merasa seseorang bisa mengerti kelebihanku dengan baik tanpa pandangan mencemooh seperti orang lainnya.

"Katakan padaku kalau kamu melihat sesuatu. Malam ini kamu tidak usah pulang, bermalam saja di sini kami sangat mengkhawatirkan kamu," ucap Andri seraya menutup tirai jendela besar yang ada di sisi kiri ranjang.

Rembulan bersinar terang, sinarnya bahkan masih dapat menembus tirai putih yang menutupi semua bagian jendela. Angin bertiup kencang, pertanda hujan badai akan segera turun membuatku lebih memahami maksud Mang Ujang dan Bibi untuk menyuruhku menginap malam ini.

"Lihat? Akan bahaya jika kamu memaksakan diri untuk mengendarai sepeda motor sendiri dalam cuaca seperti itu," imbuh Andri setelah menyadari arah pandanganku.

Kalau sudah begini aku tidak bisa mengelak lagi. Mau tak mau aku harus bermalam di rumah ini seraya mencari tahu siapa sebenarnya pasangan suami istri yang diceritakan oleh Andri barusan.

"Baiklah, baiklah. Kalau begitu kamu juga harus istirahat, Andri," ucapku mengalah.

Andri tersenyum lantas mengangguk.

"tentu. kalau begitu selamat beristirahat, Visha."

Andri keluar dari kamar, tak lupa menutup pintunya. Setelah aku yakin dia sudah kembali ke kamarnya, aku kembali curi-curi pandang ke sudut kamarku dimana ada sosok pria Belanda dengan rambut cokelat terang berdiri.

Sosok itu berwajah dingin dengan tatapan kosong yang terpancar dari dua netra biru miliknya, kulitnya putih pucat nyaris seperti kapas membuat aku jadi semakin meyakini sesuatu.

"Atas alasan apa Anda sampai menemui saya dengan cara seperti ini, Meneer?"

Terpopuler

Comments

Patrish

Patrish

bisa ditemukan dengan Luccan kah

2023-01-31

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Dinginnya Hembusan Napas sang Malam
2 Bab 2 : Dia, Luccane.
3 Bab 3 : Lentera Merah
4 Bab 4 : Perbincangan di Tengah Kelam
5 Bab 5 : Luccane dan Sejuta Misteri
6 Bab 6 : Keseharian Di Rumah
7 Bab 7 : Perjalanan Ajaib
8 Bab 8 : Het Bloeien van Rozen
9 Bab 9 : Paars en Rood
10 Bab 10 : Hari Pertama di Kampus
11 Bab 11 : Cemburu
12 Bab 12 : Meneer Kerkoof
13 Bab 13 : Kebun Bunga Luccane
14 Bab 14 : Indahnya Bintang di Multiverse
15 Bab 15 : Kisah Dibalik Sepotong Kue Kastengel
16 Bab 16 : Benang Merah Pengikat Takdir
17 Bab 17 : Pilar Penyanggah Keluarga
18 Bab 18 : Romansa Dua Dunia
19 Bab 19 : Bukan Sekedar Ancaman
20 Bab 20 : Dimulainya Gangguan
21 Bab 21 : Senandung Pembawa Petaka
22 Bab 22 : Mawar Hitam Yang Layu
23 Bab 23 : Amarah Sang Mawar Hitam
24 Bab 24 : Kekhawatiran Luccane
25 Bab 25 : Air Mata Kepedihan Luccane
26 Bab 26 : Pembalasan Luccane
27 Bab 27 : Langit Bandung yang Kelam
28 Bab 28 : Mencari Alasan
29 Bab 29 : Masa Pemulihan
30 Bab 30 : Regen in Stukjes Hart
31 Bab 31 : Akhir Masa Pemulihan
32 Bab 32 : Misteri Baru
33 Bab 33 : Kesaksian Jansen
34 Bab 34 : Kembali ke Rutinitas
35 Bab 35 : Keraguan Besar
36 Bab 36 : Zwart Gordijn
37 Bab 37 : Tangis sang Mawar Ungu
38 Bab 38 : Semerbak Wangi Cinta
39 Bab 39 : Kehidupan Seorang Sinyo
40 Bab 40 : Berkencan Dalam Dimensi yang Berbeda
41 Bab 41 : Buku Harian
42 Bab 42 : Godaan
43 Bab 43 : Siapa itu Vin?
44 Bab 44 : Kelam?
45 Bab 45 : Kebenaran Tak Terduga
46 Bab 46 : Mengenang Kembali
47 Bab 47 : Paris van Java
48 Bab 48 : Pure Liefde in Parijs van Java
49 Bab 49 : Di Bawah Cakrawala Bandung
50 Bab 50 : Perpisahan Yang Perih
51 Bab 51 : Petunjuk Dari Buku Tua
52 Bab 52 : Darah Dari Masa Kelam
53 Bab 53 : Mula Investigasi
54 Bab 54 : Penuntun Misterius
55 Bab 55 : Sepasang Netra Penghubung Jiwa
56 Bab 56 : Satu Titik Kebenaran
57 Bab 57 : Tersingkapnya Tirai Kebenaran
58 Bab 58 : Keputusan Yang Berat
59 Bab 59 : Membiasakan Diri
60 Bab 60 : Hartverscheurend Liefdesverhaal
Episodes

Updated 60 Episodes

1
Bab 1 : Dinginnya Hembusan Napas sang Malam
2
Bab 2 : Dia, Luccane.
3
Bab 3 : Lentera Merah
4
Bab 4 : Perbincangan di Tengah Kelam
5
Bab 5 : Luccane dan Sejuta Misteri
6
Bab 6 : Keseharian Di Rumah
7
Bab 7 : Perjalanan Ajaib
8
Bab 8 : Het Bloeien van Rozen
9
Bab 9 : Paars en Rood
10
Bab 10 : Hari Pertama di Kampus
11
Bab 11 : Cemburu
12
Bab 12 : Meneer Kerkoof
13
Bab 13 : Kebun Bunga Luccane
14
Bab 14 : Indahnya Bintang di Multiverse
15
Bab 15 : Kisah Dibalik Sepotong Kue Kastengel
16
Bab 16 : Benang Merah Pengikat Takdir
17
Bab 17 : Pilar Penyanggah Keluarga
18
Bab 18 : Romansa Dua Dunia
19
Bab 19 : Bukan Sekedar Ancaman
20
Bab 20 : Dimulainya Gangguan
21
Bab 21 : Senandung Pembawa Petaka
22
Bab 22 : Mawar Hitam Yang Layu
23
Bab 23 : Amarah Sang Mawar Hitam
24
Bab 24 : Kekhawatiran Luccane
25
Bab 25 : Air Mata Kepedihan Luccane
26
Bab 26 : Pembalasan Luccane
27
Bab 27 : Langit Bandung yang Kelam
28
Bab 28 : Mencari Alasan
29
Bab 29 : Masa Pemulihan
30
Bab 30 : Regen in Stukjes Hart
31
Bab 31 : Akhir Masa Pemulihan
32
Bab 32 : Misteri Baru
33
Bab 33 : Kesaksian Jansen
34
Bab 34 : Kembali ke Rutinitas
35
Bab 35 : Keraguan Besar
36
Bab 36 : Zwart Gordijn
37
Bab 37 : Tangis sang Mawar Ungu
38
Bab 38 : Semerbak Wangi Cinta
39
Bab 39 : Kehidupan Seorang Sinyo
40
Bab 40 : Berkencan Dalam Dimensi yang Berbeda
41
Bab 41 : Buku Harian
42
Bab 42 : Godaan
43
Bab 43 : Siapa itu Vin?
44
Bab 44 : Kelam?
45
Bab 45 : Kebenaran Tak Terduga
46
Bab 46 : Mengenang Kembali
47
Bab 47 : Paris van Java
48
Bab 48 : Pure Liefde in Parijs van Java
49
Bab 49 : Di Bawah Cakrawala Bandung
50
Bab 50 : Perpisahan Yang Perih
51
Bab 51 : Petunjuk Dari Buku Tua
52
Bab 52 : Darah Dari Masa Kelam
53
Bab 53 : Mula Investigasi
54
Bab 54 : Penuntun Misterius
55
Bab 55 : Sepasang Netra Penghubung Jiwa
56
Bab 56 : Satu Titik Kebenaran
57
Bab 57 : Tersingkapnya Tirai Kebenaran
58
Bab 58 : Keputusan Yang Berat
59
Bab 59 : Membiasakan Diri
60
Bab 60 : Hartverscheurend Liefdesverhaal

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!