Hembusan angin malam ini terasa sangat menusuk kulit hingga ke tulangku, membuatku hanya bisa menghela napas panjang.
Aku menarik rem sepeda motorku setelah tiba di pekarangan rumah Mang Ujang, satu-satunya kerabatku di Bandung.
Diluar dugaanku, rumah yang ditinggali oleh Mang Ujang serta keluarga ternyata juga sebuah rumah tua bergaya Art Deco khas Belanda sama seperti rumah yang aku tinggali hanya saja lebih besar.
Bangunan rumah tua itu berlantai dua dengan cat merah muda sebagai pemanisnya, lengkap dengan pekarangan rumah yang luas nan asri dengan berbagai tanaman menghiasi serta ayunan besi usang di sisi kiri halaman.
Terdapat juga sebuah pohon asam besar yang sepertinya sudah sangat tua di sebelah ayunan besi itu berdiri. Setelah memarkirkan motorku di dalam pagar rumah, aku menyadari ada sosok yang sejak tadi mengawasi pergerakanku dari balik besarnya pohon asam tua tersebut.
"Assalamualaikum, Mang!" panggilku seraya mengetuk pintu utama rumah.
Dua daun pintu besar itu mungkin tingginya sekitar dua meter dengan bahan kayu yang anehnya terasa sama kokohnya dengan tembok yang terbuat dari batu.
"Waalaikumsalam, mari masuk, Neng! Udah ditunggu sama Andri dan Bibi di dalam," ajak Mang Ujang mempersilakan aku masuk ke dalam rumah.
Ini adalah kunjungan pertamaku ke rumah keluarga Mang Ujang setelah sekian lama. Rumah ini terasa jauh lebih tua dibandingkan rumahku, terlebih aku juga merasakan atmosfer yang berbeda dari rumah ini.
Lantai rumah ini dilapisi oleh material teraso yang membuat ruangan terasa lebih sejuk, menyesuaikan dengan iklim tropis Indonesia.
"Ngomong-ngomong ada acara apa sampai Mamang mengundang saya datang kemari?" tanyaku setelah kami tiba di ruang tamu.
"Hari ini Andri ulang tahun, dia bilang ingin makan-makan bersama keluarga jadi rasanya kurang kalau Neng Visha nggak datang juga," jelas Mang Ujang.
"Wah, Visha udah datang? Ayo langsung ke ruang makan, Ibu udah menyiapkan makan malamnya di dalam," ajak Andri yang langsung menggamit tanganku.
Aku menurut, mengikuti langkah Andri masuk ke dalam ruang makan. Benar saja, nampak Bibi sedang sibuk menata piring-piring besar berisi lauk pauk serta nasi di atas meja makan.
Berbagai macam masakan khas Nusantara tersaji dengan nikmat di atas meja, membuat nafsu makanku seketika meningkat.
"Ayo duduk, sayang! Bibi sudah menyiapkan banyak makanan enak yang pastinya kamu rindukan di Palembang," Bibi berujar dibubuhi seulas senyum hangat khas seorang ibu.
"Terima kasih, Mamang dan Bibi. Selamat tahun buat kamu, Andri. Semoga panjang umur serta segala keinginan kamu lekas tercapai," kataku sambil mengambil posisi duduk di seberang Andri.
Berbeda dengan wajahku yang nampak seperti orang Tiongkok, Andri memiliki wajah yang cenderung terlihat mirip dengan orang Eropa dengan tulang hidungnya yang juga tinggi.
Setelah berbincang ringan serta membaca doa, kami lantas makan bersama menikmati nikmatnya masakan Bibi yang sudah tersaji.
Mataku secara otomatis mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan, dan boom! Betapa terkejutnya aku saat melihat sosok hantu wanita yang sedang menenteng kepalanya sendiri tengah berdiri di sudut ruangan.
Melihat hal mengejutkan itu, aku kontan tersedak membuat semua orang kaget sekaligus khawatir. Bibi yang duduk di sisi kanan tubuhku dengan sigap menyodorkan segelas air putih padaku seraya menepuk-nepuk pelan punggungku.
Hantu wanita itu mengenakan gaun khas zaman kolonial Belanda berwarna pink dengan motif bunga-bunga, namun ia bukanlah orang Belanda.
"Mevrouw.... Apa kau tahu dimana Luccane anakku berada?"
Belum sempat aku menjawab pertanyaan wanita dengan kepala terputus itu, pengelihatanku tiba-tiba menjadi gelap.
...****************...
Napasku terengah-engah sesaat setelah aku membuka mata, mendapati diriku berada di dalam kamar tamu rumah keluarga Mang Ujang.
Keringat dingin membasahi tubuhku, membuat perasaanku makin tak menentu dengan jantung berdebar tak karuan. Buru-buru aku mengedarkan pandangan guna mencari sosok itu lagi namun aku tak berhasil menemukan eksistensi sosok itu.
"Visha, kamu sudah sadar?" tanya Andri khawatir dari ambang pintu kamar yang terbuka.
"Memangnya apa yang terjadi padaku, Andri?"
Andri datang menghampiriku, kemudian duduk di sudut ranjang dengan sorot mata khawatir.
"Kamu tadi tersedak saat kita sedang makan bersama tapi setelah itu kamu tiba-tiba pingsan. Memangnya apa yang kamu lihat?"
Aku memandang Andri lurus. Agaknya dia tahu kalau aku dapat melihat hal-hal yang tak kasat mata sehingga menanyakan hal seperti itu.
Aku mengangguk lesu. "aku melihat sosok wanita pribumi, tanpa kepala... Apa kamu tahu siapa sosok itu?"
Andri terlihat berpikir keras, memandangku lamat-lamat kemudian.
"Aku sudah menduga kalau kamu melihat 'dia'. Sebenarnya di rumah ini memang ada sepasang suami istri yang meninggal karena kekejaman tentara Jepang. Suami beliau adalah orang Belanda, kudengar mereka dipisahkan secara paksa dangan anak laki-laki mereka," papar Andri yang malah semakin menguatkan ingatanku pada Luccane.
Apa iya pasang suami istri itu adalah orang tua yang selama ini dicari oleh Luccane? Kalau wanita itu meregang nyawa karena kepalanya putus, bagaimana dengan nasib suaminya? Aku harus tahu semuanya dengan jelas.
"Apa kamu bisa melihat apa yang aku lihat?"
Andri menggeleng. "sayang sekali tidak bisa, tapi aku bisa merasakan kehadiran 'mereka' meski tidak sepeka kamu."
Untuk pertama kalinya, aku merasa seseorang bisa mengerti kelebihanku dengan baik tanpa pandangan mencemooh seperti orang lainnya.
"Katakan padaku kalau kamu melihat sesuatu. Malam ini kamu tidak usah pulang, bermalam saja di sini kami sangat mengkhawatirkan kamu," ucap Andri seraya menutup tirai jendela besar yang ada di sisi kiri ranjang.
Rembulan bersinar terang, sinarnya bahkan masih dapat menembus tirai putih yang menutupi semua bagian jendela. Angin bertiup kencang, pertanda hujan badai akan segera turun membuatku lebih memahami maksud Mang Ujang dan Bibi untuk menyuruhku menginap malam ini.
"Lihat? Akan bahaya jika kamu memaksakan diri untuk mengendarai sepeda motor sendiri dalam cuaca seperti itu," imbuh Andri setelah menyadari arah pandanganku.
Kalau sudah begini aku tidak bisa mengelak lagi. Mau tak mau aku harus bermalam di rumah ini seraya mencari tahu siapa sebenarnya pasangan suami istri yang diceritakan oleh Andri barusan.
"Baiklah, baiklah. Kalau begitu kamu juga harus istirahat, Andri," ucapku mengalah.
Andri tersenyum lantas mengangguk.
"tentu. kalau begitu selamat beristirahat, Visha."
Andri keluar dari kamar, tak lupa menutup pintunya. Setelah aku yakin dia sudah kembali ke kamarnya, aku kembali curi-curi pandang ke sudut kamarku dimana ada sosok pria Belanda dengan rambut cokelat terang berdiri.
Sosok itu berwajah dingin dengan tatapan kosong yang terpancar dari dua netra biru miliknya, kulitnya putih pucat nyaris seperti kapas membuat aku jadi semakin meyakini sesuatu.
"Atas alasan apa Anda sampai menemui saya dengan cara seperti ini, Meneer?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Patrish
bisa ditemukan dengan Luccan kah
2023-01-31
1