"Aku lebih memilih untuk mati dan bertemu denganmu seperti ini ketimbang harus menjalani pernikahan yang menyedihkan," Luccane menjawab pertanyaanku dengan dibubuhi seulas senyum manis.
Semburat merah padam menjalari pipiku kemudian, beserta dengan rasa panas tak biasa. Cepat-cepat aku menutupi kedua belah pipiku dengan telapak tangan, rasanya aku sangat malu serta tak tahu harus bagaimana untuk membalas kalimat Luccane.
Luccane meringis lucu. "kamu sungguh menggemaskan kalau salah tingkah begitu."
"Hen...tikan!"
"Lihat, pipimu merah sekali haha!"
Sungguh disayangkan pemuda setampan dan sehangat Luccane harus kehilangan nyawanya di usia yang masih sangat belia. Tetapi bila Luccane selamat pada masa itu, apa aku tetap bisa tertawa bersamanya seperti ini?
"Kamu tidak boleh memikirkan hal-hal yang serius," tegur Luccane yang sepertinya menyadari bahwa aku sedang melamun.
Aku terperanjat. "aku tidak memikirkan apa pun kok. hanya saja aku penasaran bagaimana bisa kau tidak nampak menyeramkan seperti entitas lain."
Luccane menduduki kursi meja belajarku, memandangku dengan serius dari sana.
"sepertinya Tuhan memang sengaja memberikan aku sebuah kekuatan magis yang berbeda dari pada 'mereka'."
"Bisakah kau menjelaskannya padaku dengan lebih detail?" lagi-lagi aku yang penasaran berusaha mengorek informasi lebih dalam mengenai siapa sosok hantu tampan di hadapanku ini.
"Aku bingung harus bagaimana menjelaskannya, karena pada dasarnya manusia yang masih hidup tidak akan mengerti akan hal itu," jawaban Luccane masih sarat akan misteri membuatku mengerucutkan bibir.
Aku menghela pendek. "dengan begitu kau tetap saja menyebalkan."
Merasa kesadaranku telah sepenuhnya pulih, aku bangkit dari posisi tiduran beringsut menuju dapur hendak mengisi bahan bakar perutku yang sejak tadi sudah meronta-ronta.
"Kau yakin hantu tidak perlu makan?" aku bertanya saat sudah berada di ambang pintu kamar.
Luccane menggaruk tengkuknya yang aku yakini sama sekali tidak gatal.
"sebenarnya sesekali perlu. memangnya boleh?"
Geram dengan Luccane yang bertele-tele aku lantas menarik tangan pemuda itu membawanya ke dapur. Aku hanya merasakan kulitnya yang dingin dan lembab seperti membeku namun anehnya tidak ada perasaan janggal yang aku rasakan.
"Duduklah," titahku setelah kami tiba di meja makan.
Luccane menurut tanpa protes, dia mengambil posisi duduk serta memperhatikan segala gerak-gerik diriku dalam diam.
Aku mengambil piring serta sendok, memberikannya pula kepada Luccane.
"Ambil sendiri makanannya karena aku sudah terlalu lapar untuk membantumu."
Lagi-lagi Luccane hanya mengangguk dengan seulas senyum, dia menggunakan sendok untuk mengambil nasi dan lauk yang sudah aku sediakan.
Kejadian yang aneh tapi nyata, melihat seorang hantu mengambil nasi dan lauk pauk sendiri untuk di makan.
"Secara fisik aku tidak akan memakan makanan ini, tetapi semua nutrisi dan sari pati dalam makanan inilah yang aku makan," Luccane memberikan penjelasan tanpa aku minta.
"Apa semua entitas begitu?"
Luccane mengangguk. "ya. hal seperti itu berlaku juga untuk sesajen yang kerap kali di taruh oleh manusia di tempat keramat."
Aku jadi lebih memahami tentang jagat lelembut tanpa disengaja melalui Luccane, ya selain mendapatkan banyak ilmu sejarah ternyata dia juga dapat memberikan aku pengetahuan mengenai dunia lintas alam.
...****************...
Hari dengan cepat sudah berganti menjadi malam tanpa terasa. Kini aku sedang duduk berhadap-hadapan dengan Luccane yang sedang sibuk menerangkan tentang resep asli kue kering Kastengel yang kerap kali aku jumpai pada berbagai perayaan hari besar.
"Jadi dulu kue kastengel itu toppingnya adalah rempah-rempah?" tanyaku setelah mendengar penjelasan lengkap dari Luccane.
Aku senang Luccane wajah nampak berseri-seri menjelaskan mengenai resep secara mendetail.
Sungguh pemuda yang manis.
"Iya! dulu orang-orang suka memakai cengkeh sebagai topping kue kastengel, belum banyak yang pakai keju pada masa itu," Luccane memberikan penjelasan dengan antusiasme tinggi.
"Kenapa cengkeh?"
"Seperti yang kamu tahu, Belanda datang menjajah Indonesia untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah milik Indonesia. Bagi orang-orang Belanda masa itu, rasa cengkeh yang khas dapat menambah selera makan dan ya, memiliki banyak khasiat lainnya untuk kesehatan," papar Luccane.
Dengan semangat aku mencatat ilmu pengetahuan yang bermanfaat itu di note book kecil yang sering aku bawa bepergian itu.
"Menurut sumber yang pernah aku baca, orang Belanda pada waktu itu katanya suka menanam bunga, apa itu benar?"
Mendengar pertanyaanku yang begitu menggebu-gebu Luccane tersenyum lebar.
"aku suka pada semangat belajarmu yang sangat tinggi itu. betul, pada masa itu hampir semua orang Belanda mempunyai taman untuk menanam bunga di rumah mereka."
"Lalu apa itu Babu dan Jongos?"
"Kalau Babu itu sebutan untuk pelayan wanita yang bekerja pada Tuan Belanda, nah maka Jongos adalah sebutan untuk kaum pria. Biasanya ada banyak sekali Babu dan Jongos yang bekerja pada satu Tuan, ada yang mengurus rumah dan ada pula yang bekerja di ladang milik si Tuan," terang Luccane lebih jelas dari pada yang aku pinta.
Sekarang aku malah berandai-andai bisa memiliki tutor pribadi seperti Luccane. Bagaimana tidak? Dengannya aku bisa belajar tanpa merasa terbebani sama sekali.
"Pada masa itu, para pribumi disebut sebagai Inlander oleh orang-orang Belanda. Dulu banyak kasus keluarga yang menjual anak mereka pada orang Belanda untuk dijadikan Nyai karena terlilit hutang, salah satu contoh kasusnya adalah Mamaku sendiri," tutur Luccane dengan seulas senyum lembut.
"Nyai yang beruntung bisa mendapatkan hati Tuan Belanda-nya bisa saja dinikahi atau diberikan harta serta status sosial yang tinggi seperti Mama. Dengan begitu, anak yang lahir dari pernikahan seperti itu bisa diperlakukan dengan lebih baik," tambah Luccane.
Aku mengerutkan dahi. "memangnya para Sinyo tidak diperlakukan sama dengan orang Belanda asli?"
Luccane menggeleng. "tentu saja tidak. aku sedikit lebih beruntung karena memiliki ayah yang kaya raya dengan status sosial tinggi. meski begitu, aku juga tetap sering mendapatkan perilaku diskriminasi yang kurang menyenangkan."
"Maaf telah mengungkit luka yang tidal menyenangkan untukmu," lirihku, memandang Luccane penuh sesal.
Senyuman lembut terpatri di wajah rupawan milik Luccane. "tidak masalah, semuanya sudah berlalu. Ngomong-ngomong, bunga apa yang paling kamu sukai?"
Aku mengusap dagu dengan telunjuk, menimbang sejenak mengingat aku cukup menyukai bunga.
"bunga mawar, aku suka mawar berwarna ungu yang langka itu."
"Tutup matamu dulu kalau begitu," titah Luccane yang anehnya langsung aku turuti tanpa curiga.
"Kamu suka bunga mawar ungu? tidak suka yang merah?" Luccane bertanya lembut.
Aku mengangguk. "aku juga suka. mawar merah adalah bunga yang romantis."
Luccane menggamit tanganku, membuka telapak tanganku kemudian.
"kamu sudah boleh membuka matamu sekarang."
Perlahan aku membuka mataku tatkala merasa telapak tanganku menggenggam sesuatu.
Mataku terbelalak tak percaya melihat dua kuntum bunga mawar berwarna ungu dan merah yang begitu segar serta cantik berada dalam genggaman tangan kananku.
"Kalau yang ungu adalah kesukaanmu, maka yang merah adalah simbol dari perasaanku kepadamu. Aku berharap kamu menyukaiku seperti kamu menyukai mawar ungu itu," Luccane berujar dengan sorot serius sambil menggenggam tangan kiriku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Qian
luccane tuh idaman banget padahal udah jadi hantu:(
2023-03-17
0