Bab 8 : Het Bloeien van Rozen

"Aku lebih memilih untuk mati dan bertemu denganmu seperti ini ketimbang harus menjalani pernikahan yang menyedihkan," Luccane menjawab pertanyaanku dengan dibubuhi seulas senyum manis.

Semburat merah padam menjalari pipiku kemudian, beserta dengan rasa panas tak biasa. Cepat-cepat aku menutupi kedua belah pipiku dengan telapak tangan, rasanya aku sangat malu serta tak tahu harus bagaimana untuk membalas kalimat Luccane.

Luccane meringis lucu. "kamu sungguh menggemaskan kalau salah tingkah begitu."

"Hen...tikan!"

"Lihat, pipimu merah sekali haha!"

Sungguh disayangkan pemuda setampan dan sehangat Luccane harus kehilangan nyawanya di usia yang masih sangat belia. Tetapi bila Luccane selamat pada masa itu, apa aku tetap bisa tertawa bersamanya seperti ini?

"Kamu tidak boleh memikirkan hal-hal yang serius," tegur Luccane yang sepertinya menyadari bahwa aku sedang melamun.

Aku terperanjat. "aku tidak memikirkan apa pun kok. hanya saja aku penasaran bagaimana bisa kau tidak nampak menyeramkan seperti entitas lain."

Luccane menduduki kursi meja belajarku, memandangku dengan serius dari sana.

"sepertinya Tuhan memang sengaja memberikan aku sebuah kekuatan magis yang berbeda dari pada 'mereka'."

"Bisakah kau menjelaskannya padaku dengan lebih detail?" lagi-lagi aku yang penasaran berusaha mengorek informasi lebih dalam mengenai siapa sosok hantu tampan di hadapanku ini.

"Aku bingung harus bagaimana menjelaskannya, karena pada dasarnya manusia yang masih hidup tidak akan mengerti akan hal itu," jawaban Luccane masih sarat akan misteri membuatku mengerucutkan bibir.

Aku menghela pendek. "dengan begitu kau tetap saja menyebalkan."

Merasa kesadaranku telah sepenuhnya pulih, aku bangkit dari posisi tiduran beringsut menuju dapur hendak mengisi bahan bakar perutku yang sejak tadi sudah meronta-ronta.

"Kau yakin hantu tidak perlu makan?" aku bertanya saat sudah berada di ambang pintu kamar.

Luccane menggaruk tengkuknya yang aku yakini sama sekali tidak gatal.

"sebenarnya sesekali perlu. memangnya boleh?"

Geram dengan Luccane yang bertele-tele aku lantas menarik tangan pemuda itu membawanya ke dapur. Aku hanya merasakan kulitnya yang dingin dan lembab seperti membeku namun anehnya tidak ada perasaan janggal yang aku rasakan.

"Duduklah," titahku setelah kami tiba di meja makan.

Luccane menurut tanpa protes, dia mengambil posisi duduk serta memperhatikan segala gerak-gerik diriku dalam diam.

Aku mengambil piring serta sendok, memberikannya pula kepada Luccane.

"Ambil sendiri makanannya karena aku sudah terlalu lapar untuk membantumu."

Lagi-lagi Luccane hanya mengangguk dengan seulas senyum, dia menggunakan sendok untuk mengambil nasi dan lauk yang sudah aku sediakan.

Kejadian yang aneh tapi nyata, melihat seorang hantu mengambil nasi dan lauk pauk sendiri untuk di makan.

"Secara fisik aku tidak akan memakan makanan ini, tetapi semua nutrisi dan sari pati dalam makanan inilah yang aku makan," Luccane memberikan penjelasan tanpa aku minta.

"Apa semua entitas begitu?"

Luccane mengangguk. "ya. hal seperti itu berlaku juga untuk sesajen yang kerap kali di taruh oleh manusia di tempat keramat."

Aku jadi lebih memahami tentang jagat lelembut tanpa disengaja melalui Luccane, ya selain mendapatkan banyak ilmu sejarah ternyata dia juga dapat memberikan aku pengetahuan mengenai dunia lintas alam.

...****************...

Hari dengan cepat sudah berganti menjadi malam tanpa terasa. Kini aku sedang duduk berhadap-hadapan dengan Luccane yang sedang sibuk menerangkan tentang resep asli kue kering Kastengel yang kerap kali aku jumpai pada berbagai perayaan hari besar.

"Jadi dulu kue kastengel itu toppingnya adalah rempah-rempah?" tanyaku setelah mendengar penjelasan lengkap dari Luccane.

Aku senang Luccane wajah nampak berseri-seri menjelaskan mengenai resep secara mendetail.

Sungguh pemuda yang manis.

"Iya! dulu orang-orang suka memakai cengkeh sebagai topping kue kastengel, belum banyak yang pakai keju pada masa itu," Luccane memberikan penjelasan dengan antusiasme tinggi.

"Kenapa cengkeh?"

"Seperti yang kamu tahu, Belanda datang menjajah Indonesia untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah milik Indonesia. Bagi orang-orang Belanda masa itu, rasa cengkeh yang khas dapat menambah selera makan dan ya, memiliki banyak khasiat lainnya untuk kesehatan," papar Luccane.

Dengan semangat aku mencatat ilmu pengetahuan yang bermanfaat itu di note book kecil yang sering aku bawa bepergian itu.

"Menurut sumber yang pernah aku baca, orang Belanda pada waktu itu katanya suka menanam bunga, apa itu benar?"

Mendengar pertanyaanku yang begitu menggebu-gebu Luccane tersenyum lebar.

"aku suka pada semangat belajarmu yang sangat tinggi itu. betul, pada masa itu hampir semua orang Belanda mempunyai taman untuk menanam bunga di rumah mereka."

"Lalu apa itu Babu dan Jongos?"

"Kalau Babu itu sebutan untuk pelayan wanita yang bekerja pada Tuan Belanda, nah maka Jongos adalah sebutan untuk kaum pria. Biasanya ada banyak sekali Babu dan Jongos yang bekerja pada satu Tuan, ada yang mengurus rumah dan ada pula yang bekerja di ladang milik si Tuan," terang Luccane lebih jelas dari pada yang aku pinta.

Sekarang aku malah berandai-andai bisa memiliki tutor pribadi seperti Luccane. Bagaimana tidak? Dengannya aku bisa belajar tanpa merasa terbebani sama sekali.

"Pada masa itu, para pribumi disebut sebagai Inlander oleh orang-orang Belanda. Dulu banyak kasus keluarga yang menjual anak mereka pada orang Belanda untuk dijadikan Nyai karena terlilit hutang, salah satu contoh kasusnya adalah Mamaku sendiri," tutur Luccane dengan seulas senyum lembut.

"Nyai yang beruntung bisa mendapatkan hati Tuan Belanda-nya bisa saja dinikahi atau diberikan harta serta status sosial yang tinggi seperti Mama. Dengan begitu, anak yang lahir dari pernikahan seperti itu bisa diperlakukan dengan lebih baik," tambah Luccane.

Aku mengerutkan dahi. "memangnya para Sinyo tidak diperlakukan sama dengan orang Belanda asli?"

Luccane menggeleng. "tentu saja tidak. aku sedikit lebih beruntung karena memiliki ayah yang kaya raya dengan status sosial tinggi. meski begitu, aku juga tetap sering mendapatkan perilaku diskriminasi yang kurang menyenangkan."

"Maaf telah mengungkit luka yang tidal menyenangkan untukmu," lirihku, memandang Luccane penuh sesal.

Senyuman lembut terpatri di wajah rupawan milik Luccane. "tidak masalah, semuanya sudah berlalu. Ngomong-ngomong, bunga apa yang paling kamu sukai?"

Aku mengusap dagu dengan telunjuk, menimbang sejenak mengingat aku cukup menyukai bunga.

"bunga mawar, aku suka mawar berwarna ungu yang langka itu."

"Tutup matamu dulu kalau begitu," titah Luccane yang anehnya langsung aku turuti tanpa curiga.

"Kamu suka bunga mawar ungu? tidak suka yang merah?" Luccane bertanya lembut.

Aku mengangguk. "aku juga suka. mawar merah adalah bunga yang romantis."

Luccane menggamit tanganku, membuka telapak tanganku kemudian.

"kamu sudah boleh membuka matamu sekarang."

Perlahan aku membuka mataku tatkala merasa telapak tanganku menggenggam sesuatu.

Mataku terbelalak tak percaya melihat dua kuntum bunga mawar berwarna ungu dan merah yang begitu segar serta cantik berada dalam genggaman tangan kananku.

"Kalau yang ungu adalah kesukaanmu, maka yang merah adalah simbol dari perasaanku kepadamu. Aku berharap kamu menyukaiku seperti kamu menyukai mawar ungu itu," Luccane berujar dengan sorot serius sambil menggenggam tangan kiriku.

Terpopuler

Comments

Qian

Qian

luccane tuh idaman banget padahal udah jadi hantu:(

2023-03-17

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Dinginnya Hembusan Napas sang Malam
2 Bab 2 : Dia, Luccane.
3 Bab 3 : Lentera Merah
4 Bab 4 : Perbincangan di Tengah Kelam
5 Bab 5 : Luccane dan Sejuta Misteri
6 Bab 6 : Keseharian Di Rumah
7 Bab 7 : Perjalanan Ajaib
8 Bab 8 : Het Bloeien van Rozen
9 Bab 9 : Paars en Rood
10 Bab 10 : Hari Pertama di Kampus
11 Bab 11 : Cemburu
12 Bab 12 : Meneer Kerkoof
13 Bab 13 : Kebun Bunga Luccane
14 Bab 14 : Indahnya Bintang di Multiverse
15 Bab 15 : Kisah Dibalik Sepotong Kue Kastengel
16 Bab 16 : Benang Merah Pengikat Takdir
17 Bab 17 : Pilar Penyanggah Keluarga
18 Bab 18 : Romansa Dua Dunia
19 Bab 19 : Bukan Sekedar Ancaman
20 Bab 20 : Dimulainya Gangguan
21 Bab 21 : Senandung Pembawa Petaka
22 Bab 22 : Mawar Hitam Yang Layu
23 Bab 23 : Amarah Sang Mawar Hitam
24 Bab 24 : Kekhawatiran Luccane
25 Bab 25 : Air Mata Kepedihan Luccane
26 Bab 26 : Pembalasan Luccane
27 Bab 27 : Langit Bandung yang Kelam
28 Bab 28 : Mencari Alasan
29 Bab 29 : Masa Pemulihan
30 Bab 30 : Regen in Stukjes Hart
31 Bab 31 : Akhir Masa Pemulihan
32 Bab 32 : Misteri Baru
33 Bab 33 : Kesaksian Jansen
34 Bab 34 : Kembali ke Rutinitas
35 Bab 35 : Keraguan Besar
36 Bab 36 : Zwart Gordijn
37 Bab 37 : Tangis sang Mawar Ungu
38 Bab 38 : Semerbak Wangi Cinta
39 Bab 39 : Kehidupan Seorang Sinyo
40 Bab 40 : Berkencan Dalam Dimensi yang Berbeda
41 Bab 41 : Buku Harian
42 Bab 42 : Godaan
43 Bab 43 : Siapa itu Vin?
44 Bab 44 : Kelam?
45 Bab 45 : Kebenaran Tak Terduga
46 Bab 46 : Mengenang Kembali
47 Bab 47 : Paris van Java
48 Bab 48 : Pure Liefde in Parijs van Java
49 Bab 49 : Di Bawah Cakrawala Bandung
50 Bab 50 : Perpisahan Yang Perih
51 Bab 51 : Petunjuk Dari Buku Tua
52 Bab 52 : Darah Dari Masa Kelam
53 Bab 53 : Mula Investigasi
54 Bab 54 : Penuntun Misterius
55 Bab 55 : Sepasang Netra Penghubung Jiwa
56 Bab 56 : Satu Titik Kebenaran
57 Bab 57 : Tersingkapnya Tirai Kebenaran
58 Bab 58 : Keputusan Yang Berat
59 Bab 59 : Membiasakan Diri
60 Bab 60 : Hartverscheurend Liefdesverhaal
Episodes

Updated 60 Episodes

1
Bab 1 : Dinginnya Hembusan Napas sang Malam
2
Bab 2 : Dia, Luccane.
3
Bab 3 : Lentera Merah
4
Bab 4 : Perbincangan di Tengah Kelam
5
Bab 5 : Luccane dan Sejuta Misteri
6
Bab 6 : Keseharian Di Rumah
7
Bab 7 : Perjalanan Ajaib
8
Bab 8 : Het Bloeien van Rozen
9
Bab 9 : Paars en Rood
10
Bab 10 : Hari Pertama di Kampus
11
Bab 11 : Cemburu
12
Bab 12 : Meneer Kerkoof
13
Bab 13 : Kebun Bunga Luccane
14
Bab 14 : Indahnya Bintang di Multiverse
15
Bab 15 : Kisah Dibalik Sepotong Kue Kastengel
16
Bab 16 : Benang Merah Pengikat Takdir
17
Bab 17 : Pilar Penyanggah Keluarga
18
Bab 18 : Romansa Dua Dunia
19
Bab 19 : Bukan Sekedar Ancaman
20
Bab 20 : Dimulainya Gangguan
21
Bab 21 : Senandung Pembawa Petaka
22
Bab 22 : Mawar Hitam Yang Layu
23
Bab 23 : Amarah Sang Mawar Hitam
24
Bab 24 : Kekhawatiran Luccane
25
Bab 25 : Air Mata Kepedihan Luccane
26
Bab 26 : Pembalasan Luccane
27
Bab 27 : Langit Bandung yang Kelam
28
Bab 28 : Mencari Alasan
29
Bab 29 : Masa Pemulihan
30
Bab 30 : Regen in Stukjes Hart
31
Bab 31 : Akhir Masa Pemulihan
32
Bab 32 : Misteri Baru
33
Bab 33 : Kesaksian Jansen
34
Bab 34 : Kembali ke Rutinitas
35
Bab 35 : Keraguan Besar
36
Bab 36 : Zwart Gordijn
37
Bab 37 : Tangis sang Mawar Ungu
38
Bab 38 : Semerbak Wangi Cinta
39
Bab 39 : Kehidupan Seorang Sinyo
40
Bab 40 : Berkencan Dalam Dimensi yang Berbeda
41
Bab 41 : Buku Harian
42
Bab 42 : Godaan
43
Bab 43 : Siapa itu Vin?
44
Bab 44 : Kelam?
45
Bab 45 : Kebenaran Tak Terduga
46
Bab 46 : Mengenang Kembali
47
Bab 47 : Paris van Java
48
Bab 48 : Pure Liefde in Parijs van Java
49
Bab 49 : Di Bawah Cakrawala Bandung
50
Bab 50 : Perpisahan Yang Perih
51
Bab 51 : Petunjuk Dari Buku Tua
52
Bab 52 : Darah Dari Masa Kelam
53
Bab 53 : Mula Investigasi
54
Bab 54 : Penuntun Misterius
55
Bab 55 : Sepasang Netra Penghubung Jiwa
56
Bab 56 : Satu Titik Kebenaran
57
Bab 57 : Tersingkapnya Tirai Kebenaran
58
Bab 58 : Keputusan Yang Berat
59
Bab 59 : Membiasakan Diri
60
Bab 60 : Hartverscheurend Liefdesverhaal

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!