Bab 18 : Romansa Dua Dunia

Malam ini, bulan bersinar terang benderang yang nampak amat cantik membuat senyumku merekah.

Di sebelahku sudah ada Luccane yang tersenyum manis seraya menggandeng tanganku.

Berduaan, aku dan Luccane berjalan kaki mengitari jalanan yang sudah sepi ditengah malam.

Sekarang sudah nyaris pukul satu dini hari, tiada siapa pun selain aku dan Luccane di jalan kompleks perumahan tempatku tinggal ini.

"Maaf aku hanya bisa berjalan berdua denganmu di luar rumah saat tengah malam begini," Luccane berkata seraya mengecup tanganku yang berada dalam genggamannya.

Malam ini bulan purnama, dari yang aku ketahui malam ini menjadi malam yang sangat membahagiakan bagi para bangsa lelembut karena kekuatan mereka mencapai puncak maksimal pada saat bulan purnama seperti sekarang.

Aku mengulas senyum tipis menanggapi.

"apa boleh buat. ini adalah salah satu resiko untukku karena mau berkencan dengan seorang hantu sepertimu."

Di setiap langkah kami, Luccane menceritakan bagaimana kisah bangunan-bangunan bergaya arsitektur Art Deco khas zaman Belanda itu berdiri di sepanjang jalan.

Rumah-rumah tua yang menghuni sebagian besar perumahan ini ternyata memang dulu adalah kawasan permukiman orang-orang Belanda.

"Dulu, di lapangan besar itu ada pabrik gula milik Papa. Tapi setelah kemerdekaan dan pabriknya sudah tidak difungsikan sampai akhirnya dirobohkan," terang Luccane sambil menunjuk sebuah lapangan besar di tengah-tengah perumahan.

"Aku sedih karena mati sebelum bisa melakukan apa pun untuk Papa," imbuh Luccane dengan air muka sedih.

Setelah merasa cukup lelah, aku meminta Luccane untuk beristirahat sejenak di sebuah bangku taman yang terbuat dari batu di sisi kiri lapangan.

Lapangan itu dipagari oleh pohon-pohon angsana besar dengan tinggi yang mencapai puluhan meter.

"Luccane, semua hal yang terjadi di dunia ini sudah menjadi garis takdir Tuhan. Berhentilah menyesali sesuatu yang bukanlah kesalahanmu," tuturku memberikan nasihat seraya memandang lurus ke depan, mengamati kumpulan kuntilanak yang sedang bergerombol di sudut lapangan.

Luccane tersenyum masam. "harusnya kita berkencan dengan romantis bukan malah membahas hal yang tidak perlu, bukan?"

Dilihat dari sudut mana pun Luccane memanglah seorang pemuda yang sangat baik, selalu memikirkan orang lain. Tak heran aku jadi jatuh cinta kepadanya, mengesampingkan fakta bahwa dia berbeda alam denganku.

"Ya, seharusnya," aku tergelak halus, meraih rahang tegas milik Luccane lantas membelainya lembut.

Dalam hati aku terus berandai-andai, membayangkan bagaimana jika seandainya Luccane bukanlah seorang hantu melainkan manusia sama seperti aku.

Bisa berkencan dengannya secara normal seperti orang lain seperti yang tempo hari pernah dikatakan oleh Luccane pasti akan sangat menyenangkan, tak terbayang bagaimana bahagianya aku jika Luccane benar-benar bisa mewujudkan itu semua.

Yang jelas, aku yakin dia pasti akan sangat populer karena ketampanannya yang sangat luar biasa ini.

Meski semua yang menjadi khayalanku itu tak mungkin menjadi nyata, aku sama sekali tak merasa berkecil hati.

Luccane memandangku lamat-lamat.

"andai saja aku bisa menikahi kamu, Vishabea."

Aku menaruh jari telunjuk pada bibir ranum milik Luccane. "berhentilah mengatakan hal yang tidak-tidak, Luccane."

Luccane merengkuh tubuhku yang ringkih, membawaku ke dalam dekapannya yang entah bagaimana bisa terasa begitu hangat dan nyaman sehingga sejenak aku lupa bahwa dia bukanlah seorang manusia.

"Demi semesta al

m dan segala isinya, aku mencintaimu, Vishabea Lazuardi," bisik Luccane penuh peneguhan tepat di telingaku malam itu.

...****************...

"Visha, lo gimana ceritanya sih bisa dapet nilai sempurna begitu?" tanya Carly kepo setelah dosen mata kuliah Sejarah Indonesia membagikan nilai tugas kami sepersekian saat lalu.

Diantara dua puluh mahasiswa, hanya aku sendiri yang mendapatkan nilai A+ membuat semua orang di dalam kelas memandangku kagum mengingat penilaian sang dosen sangatlah kritis.

"Gue 'kan udah bilang kalau gue punya sumber referensi yang terpercaya yang super jitu," kelakarku dengan senyuman penuh.

Padahal 'kan memang aku mengerjakan tugas ini dibantu oleh Luccane bahkan sampai melakukan Time Travel untuk mendapatkan hasil yang maksimal tapi mana mungkin aku menceritakan hal itu kepada Carly.

"Emangnya siapa sih sumber referensi lo?" kini gantian Dimas yang bertanya, ikut menimbrung dalam perbincangan aku dan Carly.

"Pacar gue. Kebetulan kakek dia dulu salah satu pengusaha sukses di Hindia Belanda jadi gue dapat gambar yang perfect," jawabku cepat setengah berdusta.

"Widihh keren banget dah, jadi pacar lo blasteran apa Belanda tulen nih?"

Dimas yang semakin kepo malah dihadiahi dengan jitakan mesra dari Carly.

"Hush! Jangan kepo!" pekik Carly tertahan membuat aku terkekeh geli melihat interaksi mereka berdua.

Jadwal perkuliahan hari ini sudah rampung, kini hari sudah beranjak malam namun Carly dan Dimas terus saja berdebat mengenai asal-usul pacarku.

"Kalian ini ribut banget lama-lama ntar gue panggilin bokap gue loh," ancam Tania yang sudah geram dengan keributan antara Dimas dan Carly.

"Emangnya bokap lu siapa? Kenapa gue sama Carly harus takut?" tantang Dimas.

"Bokap gue penghulu! Mau lo berdua kalo gue nyuruh bokap gue buat bikin lu berdua jadi suami istri?" sahut Tania ditimpali oleh gelak tawaku dan teman-teman sekelas.

Biar pun tak banyak, tapi aku bersyukur jurusanku memiliki mahasiswa yang menyenangkan serta cerdas seperti teman-temanku ini.

Buku-buku bawaanku sudah aku susun dengan rapi di dalam tas jinjing milikku, bersiap untuk pulang.

Alunan ayat-ayat suci Al-Qur'an sudah samar-samar terdengar dari masjid terdekat menandakan senja akan segera berganti menjadi malam.

Berbarengan dengan Carly, aku berjalan melintasi koridor utama kampus menuju parkiran Fakultas Teknik tempat aku dan Carly biasa memarkirkan motor kami.

Diselingi perbincangan ringan serta canda tawa, kami berdua berjalan melalui setiap fakultas yang berjajar sepanjang area universitas.

"Lo serius nggak ada tertarik sama Kak Eliezer? Sumpah ya dia itu nanyain lo terus ke gue sama anak-anak kelas yang lain," pancing Carly tiba-tiba setelah kami mendapati Kak Eliezer baru saja keluar dari area kampus dengan motornya.

"Nggak ada, Car. Gue 'kan udah punya pacar ngapain lagi nanggepin cowok lain? Gue nggak mau bikin semua orang salah paham terus mikir yang enggak-enggak soal gue," pungkasku seraya memakai helm setibanya di motorku.

"Ya iya sih. Cuma gue rada kasian aja ngeliat usaha Kak Eliezer yang kayaknya segitu naksirnya sama lo," ucap Carly membeberkan pendapatnya.

"Justru karena dia terlalu usaha begitu gue jadinya ilfeel," dalihku mencoba memberikan alasan yang paling masuk akal.

Habisnya, setiap kali aku memberikan alasan sudah memiliki pacar teman-temanku malah semakin tinggi antusiasmenya untuk mendekatkan aku dengan Kak Eliezer.

Entah apa yang mereka pikirkan, yang jelas setiap kali aku menanyakan alasannya mereka selalu bilang kalau aku dan Kak Eliezer terlihat sangat serasi.

Saat Carly membuka mulutnya untuk membalas ucapanku, tiba-tiba aku merasa suhu udara di sekitarku terasa sangat dingin serta tidak nyaman membuat bulu kudukku berdiri.

"Jauhilah Luccane sebelum kau menyesal nantinya, Vishabea Lazuardi."

Sebuah suara tak bertuan berujar dengan penuh penekanan serta intonasi yang begitu dingin membuat aku tanpa pikir panjang langsung meninggalkan lapangan parkir tanpa mempedulikan panggilan Carly yang kebingungan.

Terpopuler

Comments

Patrish

Patrish

keroof pasti

2023-01-31

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Dinginnya Hembusan Napas sang Malam
2 Bab 2 : Dia, Luccane.
3 Bab 3 : Lentera Merah
4 Bab 4 : Perbincangan di Tengah Kelam
5 Bab 5 : Luccane dan Sejuta Misteri
6 Bab 6 : Keseharian Di Rumah
7 Bab 7 : Perjalanan Ajaib
8 Bab 8 : Het Bloeien van Rozen
9 Bab 9 : Paars en Rood
10 Bab 10 : Hari Pertama di Kampus
11 Bab 11 : Cemburu
12 Bab 12 : Meneer Kerkoof
13 Bab 13 : Kebun Bunga Luccane
14 Bab 14 : Indahnya Bintang di Multiverse
15 Bab 15 : Kisah Dibalik Sepotong Kue Kastengel
16 Bab 16 : Benang Merah Pengikat Takdir
17 Bab 17 : Pilar Penyanggah Keluarga
18 Bab 18 : Romansa Dua Dunia
19 Bab 19 : Bukan Sekedar Ancaman
20 Bab 20 : Dimulainya Gangguan
21 Bab 21 : Senandung Pembawa Petaka
22 Bab 22 : Mawar Hitam Yang Layu
23 Bab 23 : Amarah Sang Mawar Hitam
24 Bab 24 : Kekhawatiran Luccane
25 Bab 25 : Air Mata Kepedihan Luccane
26 Bab 26 : Pembalasan Luccane
27 Bab 27 : Langit Bandung yang Kelam
28 Bab 28 : Mencari Alasan
29 Bab 29 : Masa Pemulihan
30 Bab 30 : Regen in Stukjes Hart
31 Bab 31 : Akhir Masa Pemulihan
32 Bab 32 : Misteri Baru
33 Bab 33 : Kesaksian Jansen
34 Bab 34 : Kembali ke Rutinitas
35 Bab 35 : Keraguan Besar
36 Bab 36 : Zwart Gordijn
37 Bab 37 : Tangis sang Mawar Ungu
38 Bab 38 : Semerbak Wangi Cinta
39 Bab 39 : Kehidupan Seorang Sinyo
40 Bab 40 : Berkencan Dalam Dimensi yang Berbeda
41 Bab 41 : Buku Harian
42 Bab 42 : Godaan
43 Bab 43 : Siapa itu Vin?
44 Bab 44 : Kelam?
45 Bab 45 : Kebenaran Tak Terduga
46 Bab 46 : Mengenang Kembali
47 Bab 47 : Paris van Java
48 Bab 48 : Pure Liefde in Parijs van Java
49 Bab 49 : Di Bawah Cakrawala Bandung
50 Bab 50 : Perpisahan Yang Perih
51 Bab 51 : Petunjuk Dari Buku Tua
52 Bab 52 : Darah Dari Masa Kelam
53 Bab 53 : Mula Investigasi
54 Bab 54 : Penuntun Misterius
55 Bab 55 : Sepasang Netra Penghubung Jiwa
56 Bab 56 : Satu Titik Kebenaran
57 Bab 57 : Tersingkapnya Tirai Kebenaran
58 Bab 58 : Keputusan Yang Berat
59 Bab 59 : Membiasakan Diri
60 Bab 60 : Hartverscheurend Liefdesverhaal
Episodes

Updated 60 Episodes

1
Bab 1 : Dinginnya Hembusan Napas sang Malam
2
Bab 2 : Dia, Luccane.
3
Bab 3 : Lentera Merah
4
Bab 4 : Perbincangan di Tengah Kelam
5
Bab 5 : Luccane dan Sejuta Misteri
6
Bab 6 : Keseharian Di Rumah
7
Bab 7 : Perjalanan Ajaib
8
Bab 8 : Het Bloeien van Rozen
9
Bab 9 : Paars en Rood
10
Bab 10 : Hari Pertama di Kampus
11
Bab 11 : Cemburu
12
Bab 12 : Meneer Kerkoof
13
Bab 13 : Kebun Bunga Luccane
14
Bab 14 : Indahnya Bintang di Multiverse
15
Bab 15 : Kisah Dibalik Sepotong Kue Kastengel
16
Bab 16 : Benang Merah Pengikat Takdir
17
Bab 17 : Pilar Penyanggah Keluarga
18
Bab 18 : Romansa Dua Dunia
19
Bab 19 : Bukan Sekedar Ancaman
20
Bab 20 : Dimulainya Gangguan
21
Bab 21 : Senandung Pembawa Petaka
22
Bab 22 : Mawar Hitam Yang Layu
23
Bab 23 : Amarah Sang Mawar Hitam
24
Bab 24 : Kekhawatiran Luccane
25
Bab 25 : Air Mata Kepedihan Luccane
26
Bab 26 : Pembalasan Luccane
27
Bab 27 : Langit Bandung yang Kelam
28
Bab 28 : Mencari Alasan
29
Bab 29 : Masa Pemulihan
30
Bab 30 : Regen in Stukjes Hart
31
Bab 31 : Akhir Masa Pemulihan
32
Bab 32 : Misteri Baru
33
Bab 33 : Kesaksian Jansen
34
Bab 34 : Kembali ke Rutinitas
35
Bab 35 : Keraguan Besar
36
Bab 36 : Zwart Gordijn
37
Bab 37 : Tangis sang Mawar Ungu
38
Bab 38 : Semerbak Wangi Cinta
39
Bab 39 : Kehidupan Seorang Sinyo
40
Bab 40 : Berkencan Dalam Dimensi yang Berbeda
41
Bab 41 : Buku Harian
42
Bab 42 : Godaan
43
Bab 43 : Siapa itu Vin?
44
Bab 44 : Kelam?
45
Bab 45 : Kebenaran Tak Terduga
46
Bab 46 : Mengenang Kembali
47
Bab 47 : Paris van Java
48
Bab 48 : Pure Liefde in Parijs van Java
49
Bab 49 : Di Bawah Cakrawala Bandung
50
Bab 50 : Perpisahan Yang Perih
51
Bab 51 : Petunjuk Dari Buku Tua
52
Bab 52 : Darah Dari Masa Kelam
53
Bab 53 : Mula Investigasi
54
Bab 54 : Penuntun Misterius
55
Bab 55 : Sepasang Netra Penghubung Jiwa
56
Bab 56 : Satu Titik Kebenaran
57
Bab 57 : Tersingkapnya Tirai Kebenaran
58
Bab 58 : Keputusan Yang Berat
59
Bab 59 : Membiasakan Diri
60
Bab 60 : Hartverscheurend Liefdesverhaal

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!