Malam ini, bulan bersinar terang benderang yang nampak amat cantik membuat senyumku merekah.
Di sebelahku sudah ada Luccane yang tersenyum manis seraya menggandeng tanganku.
Berduaan, aku dan Luccane berjalan kaki mengitari jalanan yang sudah sepi ditengah malam.
Sekarang sudah nyaris pukul satu dini hari, tiada siapa pun selain aku dan Luccane di jalan kompleks perumahan tempatku tinggal ini.
"Maaf aku hanya bisa berjalan berdua denganmu di luar rumah saat tengah malam begini," Luccane berkata seraya mengecup tanganku yang berada dalam genggamannya.
Malam ini bulan purnama, dari yang aku ketahui malam ini menjadi malam yang sangat membahagiakan bagi para bangsa lelembut karena kekuatan mereka mencapai puncak maksimal pada saat bulan purnama seperti sekarang.
Aku mengulas senyum tipis menanggapi.
"apa boleh buat. ini adalah salah satu resiko untukku karena mau berkencan dengan seorang hantu sepertimu."
Di setiap langkah kami, Luccane menceritakan bagaimana kisah bangunan-bangunan bergaya arsitektur Art Deco khas zaman Belanda itu berdiri di sepanjang jalan.
Rumah-rumah tua yang menghuni sebagian besar perumahan ini ternyata memang dulu adalah kawasan permukiman orang-orang Belanda.
"Dulu, di lapangan besar itu ada pabrik gula milik Papa. Tapi setelah kemerdekaan dan pabriknya sudah tidak difungsikan sampai akhirnya dirobohkan," terang Luccane sambil menunjuk sebuah lapangan besar di tengah-tengah perumahan.
"Aku sedih karena mati sebelum bisa melakukan apa pun untuk Papa," imbuh Luccane dengan air muka sedih.
Setelah merasa cukup lelah, aku meminta Luccane untuk beristirahat sejenak di sebuah bangku taman yang terbuat dari batu di sisi kiri lapangan.
Lapangan itu dipagari oleh pohon-pohon angsana besar dengan tinggi yang mencapai puluhan meter.
"Luccane, semua hal yang terjadi di dunia ini sudah menjadi garis takdir Tuhan. Berhentilah menyesali sesuatu yang bukanlah kesalahanmu," tuturku memberikan nasihat seraya memandang lurus ke depan, mengamati kumpulan kuntilanak yang sedang bergerombol di sudut lapangan.
Luccane tersenyum masam. "harusnya kita berkencan dengan romantis bukan malah membahas hal yang tidak perlu, bukan?"
Dilihat dari sudut mana pun Luccane memanglah seorang pemuda yang sangat baik, selalu memikirkan orang lain. Tak heran aku jadi jatuh cinta kepadanya, mengesampingkan fakta bahwa dia berbeda alam denganku.
"Ya, seharusnya," aku tergelak halus, meraih rahang tegas milik Luccane lantas membelainya lembut.
Dalam hati aku terus berandai-andai, membayangkan bagaimana jika seandainya Luccane bukanlah seorang hantu melainkan manusia sama seperti aku.
Bisa berkencan dengannya secara normal seperti orang lain seperti yang tempo hari pernah dikatakan oleh Luccane pasti akan sangat menyenangkan, tak terbayang bagaimana bahagianya aku jika Luccane benar-benar bisa mewujudkan itu semua.
Yang jelas, aku yakin dia pasti akan sangat populer karena ketampanannya yang sangat luar biasa ini.
Meski semua yang menjadi khayalanku itu tak mungkin menjadi nyata, aku sama sekali tak merasa berkecil hati.
Luccane memandangku lamat-lamat.
"andai saja aku bisa menikahi kamu, Vishabea."
Aku menaruh jari telunjuk pada bibir ranum milik Luccane. "berhentilah mengatakan hal yang tidak-tidak, Luccane."
Luccane merengkuh tubuhku yang ringkih, membawaku ke dalam dekapannya yang entah bagaimana bisa terasa begitu hangat dan nyaman sehingga sejenak aku lupa bahwa dia bukanlah seorang manusia.
"Demi semesta al
m dan segala isinya, aku mencintaimu, Vishabea Lazuardi," bisik Luccane penuh peneguhan tepat di telingaku malam itu.
...****************...
"Visha, lo gimana ceritanya sih bisa dapet nilai sempurna begitu?" tanya Carly kepo setelah dosen mata kuliah Sejarah Indonesia membagikan nilai tugas kami sepersekian saat lalu.
Diantara dua puluh mahasiswa, hanya aku sendiri yang mendapatkan nilai A+ membuat semua orang di dalam kelas memandangku kagum mengingat penilaian sang dosen sangatlah kritis.
"Gue 'kan udah bilang kalau gue punya sumber referensi yang terpercaya yang super jitu," kelakarku dengan senyuman penuh.
Padahal 'kan memang aku mengerjakan tugas ini dibantu oleh Luccane bahkan sampai melakukan Time Travel untuk mendapatkan hasil yang maksimal tapi mana mungkin aku menceritakan hal itu kepada Carly.
"Emangnya siapa sih sumber referensi lo?" kini gantian Dimas yang bertanya, ikut menimbrung dalam perbincangan aku dan Carly.
"Pacar gue. Kebetulan kakek dia dulu salah satu pengusaha sukses di Hindia Belanda jadi gue dapat gambar yang perfect," jawabku cepat setengah berdusta.
"Widihh keren banget dah, jadi pacar lo blasteran apa Belanda tulen nih?"
Dimas yang semakin kepo malah dihadiahi dengan jitakan mesra dari Carly.
"Hush! Jangan kepo!" pekik Carly tertahan membuat aku terkekeh geli melihat interaksi mereka berdua.
Jadwal perkuliahan hari ini sudah rampung, kini hari sudah beranjak malam namun Carly dan Dimas terus saja berdebat mengenai asal-usul pacarku.
"Kalian ini ribut banget lama-lama ntar gue panggilin bokap gue loh," ancam Tania yang sudah geram dengan keributan antara Dimas dan Carly.
"Emangnya bokap lu siapa? Kenapa gue sama Carly harus takut?" tantang Dimas.
"Bokap gue penghulu! Mau lo berdua kalo gue nyuruh bokap gue buat bikin lu berdua jadi suami istri?" sahut Tania ditimpali oleh gelak tawaku dan teman-teman sekelas.
Biar pun tak banyak, tapi aku bersyukur jurusanku memiliki mahasiswa yang menyenangkan serta cerdas seperti teman-temanku ini.
Buku-buku bawaanku sudah aku susun dengan rapi di dalam tas jinjing milikku, bersiap untuk pulang.
Alunan ayat-ayat suci Al-Qur'an sudah samar-samar terdengar dari masjid terdekat menandakan senja akan segera berganti menjadi malam.
Berbarengan dengan Carly, aku berjalan melintasi koridor utama kampus menuju parkiran Fakultas Teknik tempat aku dan Carly biasa memarkirkan motor kami.
Diselingi perbincangan ringan serta canda tawa, kami berdua berjalan melalui setiap fakultas yang berjajar sepanjang area universitas.
"Lo serius nggak ada tertarik sama Kak Eliezer? Sumpah ya dia itu nanyain lo terus ke gue sama anak-anak kelas yang lain," pancing Carly tiba-tiba setelah kami mendapati Kak Eliezer baru saja keluar dari area kampus dengan motornya.
"Nggak ada, Car. Gue 'kan udah punya pacar ngapain lagi nanggepin cowok lain? Gue nggak mau bikin semua orang salah paham terus mikir yang enggak-enggak soal gue," pungkasku seraya memakai helm setibanya di motorku.
"Ya iya sih. Cuma gue rada kasian aja ngeliat usaha Kak Eliezer yang kayaknya segitu naksirnya sama lo," ucap Carly membeberkan pendapatnya.
"Justru karena dia terlalu usaha begitu gue jadinya ilfeel," dalihku mencoba memberikan alasan yang paling masuk akal.
Habisnya, setiap kali aku memberikan alasan sudah memiliki pacar teman-temanku malah semakin tinggi antusiasmenya untuk mendekatkan aku dengan Kak Eliezer.
Entah apa yang mereka pikirkan, yang jelas setiap kali aku menanyakan alasannya mereka selalu bilang kalau aku dan Kak Eliezer terlihat sangat serasi.
Saat Carly membuka mulutnya untuk membalas ucapanku, tiba-tiba aku merasa suhu udara di sekitarku terasa sangat dingin serta tidak nyaman membuat bulu kudukku berdiri.
"Jauhilah Luccane sebelum kau menyesal nantinya, Vishabea Lazuardi."
Sebuah suara tak bertuan berujar dengan penuh penekanan serta intonasi yang begitu dingin membuat aku tanpa pikir panjang langsung meninggalkan lapangan parkir tanpa mempedulikan panggilan Carly yang kebingungan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Patrish
keroof pasti
2023-01-31
1