"Baiklah, sampai disini saja kelas hari ini jangan lupa untuk mengumpulkan tugas makalah kalian minggu depan. Selamat sore," tutup Pak Bian, dosen mata kuliah Sejarah Indonesia.
"Terima kasih, Pak," sahut aku dan teman sekelas berbarengan.
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya tempatku menuntut ilmu memang tidak terlalu memiliki banyak peminat seperti fakultas papan atas misalnya Fakultas Teknik atau Fakultas Keguruan di universitas ini.
Teman seangkatanku bahkan tidak sampai lima puluh orang, sangat berbanding terbalik dengan dua fakultas tetangga yang aku sebutkan tadi yang bahkan mahasiswa barunya mencapai ratusan orang.
Walau begitu semua teman-temanku yang berada dalam satu kelas denganku memiliki minat yang tulus dalam ilmu studi yang mereka pelajari sama halnya denganku.
"Lo mau kerjain makalahnya sama siapa, Sha?" tanya Carly padaku setelah usai merapikan isi tasnya.
Jadwal perkuliahan hari ini sangat padat, cukup membuatku penat karena hampir seharian penuh berada di lingkungan kampus.
"Gue kerjain sendiri aja, Car. Soalnya semua poin materi yang harus dimuat di makalah itu gue punya banyak referensi sumber yang akurat," jawabku santai mengingat aku memiliki Luccane sebagai sumber informasi yang paling akurat tanpa harus bersusah payah membaca buku-buku tebal.
"Serius lo? Apa nggak pusing?" Carly bertanya memastikan.
"Iya, santai ajalah. Lo mau kerja kelompok?"
Carly mengangguk. "iya, gue mau kerja kelompok sama si kembar Bagus dan Nayla."
"Yaudah kalo gitu bagus deh. Gue cabut duluan ya lo baliknya hati-hati," kataku berpamitan sambil beringsut keluar dari kelas.
Sudah pukul lima sore, semua gedung dan kawasan universitas sudah nampak sepi membuatku mempercepat langkah enggan kalau sampai bertemu dengan hantu Meneer Kerkoof lagi.
Aku bukannya membenci hantu bangsawan tampan itu, hanya saja aku malas berurusan dengannya lagi karena aku yakin sekali berurusan dengan makhluk astral satu itu akan menjadi panjang.
Napas lega akhirnya dapat aku hembuskan setelah aku tidak melihat tanda-tanda kehadiran makhluk astral hingga di parkiran. Tanpa mau membuang lebih banyak waktu, aku langsung tancap gas menuju rumah.
...****************...
"Kamu sudah makan malam?" tanya Luccane setelah aku membuka laptop di atas meja belajar bermaksud mulai mengerjakan tugas makalah.
"Sudah kok," jawabku dengan mata terpaku pada laptop, mulai mengetik kata pengantar.
"Apa yang sedang kamu kerjakan?" Luccane yang kepo langsung berdiri di belakangku, melihat aku mengerjakan tugas dengan seksama.
"Sejarah Indonesia? Era penjajahan Belanda? Kalau kamu mau kita bisa melakukan Time Travel supaya kamu bisa mendapatkan nilai paling tinggi," ucap Luccane kalem sambil memusatkan perhatiannya pada laptopku.
"Aku memang mau minta bantuanmu, kalau begitu bisa kau bawa aku ke era Belanda?"
"Era yang mana?" Luccane bertanya, membuatku teringat kalau memang era kolonial Belanda memiliki beberapa zaman periode.
"Era sebelum Jepang melakukan invasi, saat kehidupanmu masih berjalan dengan baik," ucapku berusaha menjaga perasaan Luccane.
Luccane tersenyum. "baiklah. kalau begitu pejamkan matamu terlebih dahulu."
Aku memejamkan mata, merasakan jemari Luccane yang menyentuh ubun-ubunku seiring dengan berhembusnya udara dingin yang terasa sangat tidak biasa.
"Buka matamu kita sudah sampai," titah Luccane sesaat setelah aku merasakan atmosfer yang tidak biasa di sekitarku.
Perlahan aku membuka mata dan betapa kagetnya aku saat menyaksikan pemandangan yang jauh berbeda dibandingkan dengan zaman tempatku tinggal saat ini.
Orang-orang terlihat berlalu lalang dengan berjalan kaki ditengah cuaca yang terik, nampak juga beberapa orang Belanda yang melintas menggunakan kereta kuda, ada pula yang menggunakan mobil tua tak jauh dari tempat aku dan Luccane berdiri.
Pakaian orang-orang disana nampak jauh berbeda dengan di masa depan, semua wanita Belanda yang kulihat menggunakan gaun cantik yang minimalis sementara para pribumi terlihat mengenakan pakaian sederhana yang lusuh.
"Biasanya jam segini anak-anak Belanda atau para anak bangsawan pribumi terpandang akan menghabiskan waktu di sekolah sampai siang, makanya kamu hanya bisa melihat orang dewasa atau anak-anak yang tidak sekolah seperti mereka yang ada di seberang jalan itu," terang Luccane sambil memimpin jalan.
Bangunan-bangunan bergaya arsitektur Art Deco nampak berjajar rapi di sepanjang jalan, membuatku merasa seperti sedang berada di Eropa. Berbeda dengan bangunan di masa depan yang berwarna warni, bangunan di masa ini lebih banyak yang berwarna putih.
Anak-anak yang dimaksud oleh Luccane adalah anak-anak pribumi yang sedang berupaya menjajakan dagangannya, mereka membawa dagangan dengan cara dipanggul di bahu mereka.
Miris melihatnya, anak-anak itu berjalan di tengah panasnya sengatan matahari tanpa alas kaki dengan beban barang dagangannya yang dapat aku pastikan tidaklah ringan.
"Kenapa mereka sampai harus bekerja keras begitu, Luccane?" tanyaku sedih melihat anak-anak itu.
"Karena mereka tidak memiliki pilihan lain, Visha. Orang tua mereka pasti sangat miskin atau malah mereka adalah anak terlantar yang tidak memiliki orang tua lagi," jawab Luccane dengan suara lembutnya, terlihat sangat bersimpati pada anak-anak malang itu.
"Kamu pernah minum es limun?" tanya Luccane tiba-tiba saat melihat seorang pedagang es limun lewat dengan sepedanya.
"Aku pernah meminumnya, tapi tidak sering. Memangnya kenapa?"
"Dulu aku sering minum es limun diam-diam tanpa sepengetahuan Papa haha habisnya rasanya enak banget. Bagaimana menurut kamu?"
Aku mengangguk setuju. "ya, rasanya enak dan segar. wajar kalau kau suka meminumnya diam-diam."
Aku dan Luccane berjalan beriringan hingga akhirnya tiba di sebuah rumah kaca, letaknya tak jauh dari rumah Luccane yang kini menjadi rumahku.
Rumah kaca itu berbentuk elips, berisi beraneka ragam bunga mulai dari tanaman tropis hingga tanaman yang belum pernah aku lihat sebelumnya nampak berbaris dengan cantik di dalamnya.
"Mari masuk, ini kebun bunga yang dulu selalu aku rawat bersama Mama."
Aku terkesima melihat keindahan taman bunga yang sangat indah serta mengeluarkan aroma semerbak wangi dari bermacam-macam koleksi bunga di dalamnya.
Di tengah taman, nampak sebuah pohon Wisteria cantik dengan bunga berwarna violet yang menjuntai begitu menawan.
Pohon Wisteria memiliki daun menyirip, sekilas seperti tidak memiliki daun.
"Kamu sudah mendapatkan materi yang kamu butuhkan untuk tugasmu, bukan? Sekarang nikmatilah dulu pemandangan di kebun bungaku."
Luccane dan aku duduk berhadapan di atas batu giok yang sudah dipahat dalam bentuk persegi di depan pohon Wisteria.
Mataku melemparkan pandangan ke segala penjuru kebun bunga menikmati keindahan seisi kebun bunga milik keluarga Luccane.
"Kebun ini sangat indah, Luccane. Andai saja kebun bunga ini tidak digusur di masa depan," balasku dengan seulas senyum.
"Tunggu sebentar," kata Luccane sambil bangkit dari duduknya.
Berbeda dengan kota Bandung di zamanku, kota Bandung pada zaman ini terlihat lebih lengang dengan temperatur udara yang sejuk.
"Bunga apa ini, Luccane?" tanyaku saat Luccane menyodorkan tiga kuntum bunga cantik berwarna persik keemasan.
"Ini adalah Mawar Juliet, bunga paling mahal yang ada di masa ini. Kamu tahu? Mawar Juliet hanya bisa tumbuh beberapa tahun sekali," terang Luccane terlihat antusias saat aku menyunggingkan senyum.
Bunga Mawar Juliet memang sangat cantik dengan kelopak yang tersusun rapi dengan warna persik keemasan, satu jenis bunga yang tak pernah aku temui sebelum.
"Bunga itu sama cantiknya dengan kamu, Vishabea. Aku harap kamu menyukainya."
"Terima kasih, Luccane."
Luccane tersenyum. "jika di masa depan kita tidak bisa berkencan, maka di sini kita bisa berkencan seperti pasangan pada umumnya."
Langit yang tadinya berwarna biru terang kini perlahan bertukar menjadi jingga, membuat senyumku kembali terukir.
"Langitnya sangat indah, Luccane."
"Ya, tetapi tidak bisa menandingi keindahan dirimu Vishabea pujaan hatiku."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
aku gk tau
lnjut kk
2022-12-29
1