'Tiin! Tiin! Tinn!'
Jalan arteri kota Bandung yang padat merayap membuatku hanya bisa mendengus kesal mengingat waktu jam kumpul mahasiswa baru yang telah ditentukan sudah sangat mepet.
Kampus dan rumahku letaknya memang tidak begitu jauh tapi ya kalau jalannya macet begini apa bedanya? Huh!
Sambil menggerutu dalam hati aku menjalankan motorku sedikit demi sedikit mencoba melintasi salah satu jalan terpadat di kota Bandung itu dengan segera.
Perjalananku kembali lancar setelah polisi lalu lintas turun tangan untuk membantu menertibkan lalu lintas yang agak runyam pagi itu.
Syukurlah, dengan begini aku bisa sampai di kampus tepat waktu.
Beberapa saat berlalu, motorku akhirnya berhasil tiba di lapangan parkir utama universitas yang letaknya paling luar di area kampus. Aku terpaksa menaruh motorku di sini karena parkiran di dalam sepertinya juga sudah penuh sesak.
"Visha, ya?"
Aku tersentak kecil tatkala sebuah suara berat menyebut namaku. Aku menoleh ke sumber suara di belakangku lalu mendapati seorang pemuda dengan seulas senyum manis.
"Mau ke gedung rektorat bareng? Aku juga kebetulan salah satu senior pembimbing kamu selama masa orientasi mahasiswa baru ini," tuturnya setelah beradu pandang denganku.
"Memangnya boleh, Kak?"
Pemuda itu mengangguk pasti.
"iya dong. ayo buruan masuk keburu nanti telat!"
Hiruk-pikuk mahasiswa dari berbagai jurusan di universitas negeri terbaik di kota Kembang ini sungguh luar biasa, cukup membuatku takjub akan keramaiannya yang tidak biasa.
"Kalau nggak barengan kamu bisa beneran nyasar ditengah keramaian begini," tambah pemuda beralis tebal itu sambil memimpin jalan di depanku.
Kenapa aku merasa familiar dengan pemuda ini ya? Tapi dimana aku pernah bertemu dengan dia sebelumnya?
Setelah melewati pusat keramaian di gedung utama, kami akhirnya berhasil tiba di gedung rektorat tepat waktu.
"Eliezer, siapa tuh?" goda salah seorang pemuda yang sepertinya juga salah satu senior pembimbingku dalam masa orientasi mahasiswa baru ini.
"Namanya Visha, mahasiswa baru jurusan sejarah," jawab pemuda yang tadi datang bersamaku acuh.
Eliezer? Oh, jadi dia pemuda yang disebut-sebut sebagai salah satu kakak tingkat idola di kampus ini toh. Wajar sih, kalau dilihat-lihat dia memang cukup tampan dengan wajah khas Nusantara miliknya yang memesona.
"Semuanya sudah kumpul 'kan? Kalau begitu langsung saja kita mulai acara masa orientasi mahasiswa baru hari ini!"
...****************...
"Haduh, capek banget memang ada gila-gilanya itu pada senior," keluh Carly sesaat setelah kami selesai mengikuti kegiatan masa orientasi mahasiswa.
Beriringan dengan Carly, aku berjalan menuju kantin hendak mengisi perut yang sudah keroncongan parah meronta minta diisi.
Diluar dugaanku, kantin di kampus malah cenderung sepi berbeda dengan suasana di gedung utama tadi yang amat penuh keramaian.
"Haha ya mau gimana lagi, kita mahasiswa baru cuma bisa nurut aja 'kan?" aku menyahut setelah mendapatkan meja kosong yang kurasa paling cocok untuk santap siangku kali ini.
"Sha, emangnya lo nggak sadar apa kalau dari tadi Kak Eliezer itu ngeliatin lo terus?"
Aku mendelik mendengar pertanyaan Carly yang terdengar mengada-ada itu. Ya mana kutahu kemana arah mata pemuda itu memandang toh aku juga tidak peduli.
Setelah memesan makanan, aku dengan santai menggeleng menanggapi ucapan Carly.
"gue nggak tahu dan nggak peduli juga. toh gue udah punya pacar yang jauh lebih keren."
Luccane jelas lebih keren!
Tubuh menjulang tinggi dengan rambut cokelat terang serta sepasang netra biru seindah samudera, mana ada yang menandingi dirinya.
"Oh iya ya, cowok lo blasteran Belanda itu 'kan ya. Gue jadi kepo deh sekeren apa itu cowok sampai bisa bikin lo sama sekali nggak noleh ke Kak Eliezer," cerocos Carly setelah mendengar ucapanku.
Aku menggigit bibir bawahku, andai saja aku bisa melakukan itu dengan bangga tentu saja aku akan memamerkan Luccane ke semua orang.
"Nantilah kapan-kapan kalau dia pulang ke Indonesia gue bakal kenalin dia ke lo," sahutku dengan seulas senyum canggung.
"Oh, memangnya dia kemana?"
Aku mengaduk batagor milikku yang baru saja di antar oleh pemilik kedai batagor.
"di Belanda, dia juga kuliah sama kayak di sana kita jadi jarang kemari."
Carly mengangguk-angguk penuh antusias.
"wajar kalau lo jadi bucin banget gini, kalau gitu gue doain semoga hubungan lo sama mas pacar langgeng terus ya."
Berbeda denganku yang cenderung malas bicara, Carly malah tipikal cewek yang suka bicara mengenai hal apa saja membuatku merasa dia akan menjadi teman baikku selama menuntut ilmu di sini.
Carly adalah gadis yang mampu menghidupkan suasa dan mampu memecah rasa canggung itu yang membuatku tertarik untuk berteman dengannya.
"Amin, makasih ya. By the way, lo punya pacar nggak?" kini aku yang kepo pada gadis berambut ikal itu.
Carly mengerucutkan bibirnya.
"belum nih, lo mau bantuin gue cari pacar nggak?"
Aku terkekeh geli. "yaelah lo 'kan cantik, cari aja sendiri ngapain minta cariin pacar sama gue?"
Sambil makan, aku dan Carly terus bercanda sembari saling melemparkan ejekan.
Bukankah pertemanan baru terasa seru kalau sudah saling mengejek seperti itu? Haha.
"Wah, kayaknya kalian bercandanya seru banget. Boleh kita gabung?"
Tawaku dan Carly seketika terhenti saat Kak Eliezer dan Kak Juna yang merupakan kakak tingkat kami datang menyapa dengan senyuman khas mereka yang disebut-sebut memukau itu.
"Eh, gimana?" bisik Carly.
Setelah aku celingukan melihat keadaan sekitar, semua meja kantin memang sudah penuh terisi oleh empat orang selain meja yang aku tempati dengan Carly. Ya, apa boleh buat.
"Ya udah kalau mau duduk di sini nggak apa-apa toh saya sama Carly juga udah mau selesai makannya kok, Kakak-kakak sekalian," balasku yang seketika langsung dipelototi oleh Carly.
"Makasih ya, tapi kamu juga makannya nggak usah buru-buru gitu nanti malah keselek," kata Eliezer sambil menyodorkan minuman dingin untukku dan Carly.
"Aduh, kakak pengertian banget sih, makasih!" Carly berujar heboh, menarik perhatian para mahasiswi yang duduk di sekitar kami.
Aduh! Dasar bodoh!
Aku dengan kecepatan seribu kali cahaya langsung menyudahi ritual mengisi perutku hingga semua batagor di dalam piring itu ludes berpindah ke dalam lambungku tanpa terkecuali.
"Makasih buat minumannya tapi saya bawa air minum sendiri kok, Kak Eliezer," ujarku kalem sambil meminum air yang aku keluarkan dari dalam ranselku.
"Waduh, sayang banget padahal Eliezer sengaja beliin minumannya buat kalian berdua juga," timpal Kak Juna, si pemuda berkacamata dengan pesona cowok cerdas yang begitu melekat padanya.
"Saya udah kenyang dan kembung, kak. Makasih buat perhatiannya ya," pungkasku seraya memasukkan kembali botol minuman milikku ke dalam ransel dengan gerakan terburu-buru.
"Carly, gue duluan ya harus langsung pulang karena harus telepon nyokap. Dah!" semua kata dalam itu aku selesaikan dengan cepat, berbalik tanpa menunggu jawaban dari Carly
"Vishabea, apa kamu nggak peka sama usaha seseorang?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Qian
wah wah... ada saingan luccane nih??
2023-03-17
0