Luccane mendengus geli. "bukan apa-apa selain hantu yang tak mau menerima kenyataan bahwa dirinya sudah mati setelah bertemu dan jatuh cinta padamu, Vishabea."
Aku terhenyak mendengar perkataan Luccane, bingung tak tahu harus bagaimana menanggapinya.
Dibilang bercanda namun sorot mata birunya itu sangat serius, dibilang serius juga air mukanya nampak menggelikan.
"Kau ngomong apa sih?" aku akhirnya hanya bisa menanggapinya dengan ketus karena tak memiliki stok tanggapan lain.
Luccane mengerlingkan matanya.
"aku tahu kalau kamu sekarang sedang salah tingkah kamu tidak perlu repot-repot menutupinya segala, Nona Lazuardi."
Aku memalingkan wajah, merasakan sensasi hangat menjalar di kedua belah pipiku secara tiba-tiba. Jangan bilang aku jadi benar-benar salah tingkah sekarang?!
Kekehan pelan terdengar menguar di belakangku, membuat perasaanku makin tak menentu.
Bisa-bisanya Luccane malah tertawa saat aku sedang tidak tahu harus bagaimana begini!
"Mandilah terlebih dahulu, walau kamu mau bermalas-malasan hari ini setidaknya kamu harus tetap mandi," ledek Luccane yang membuat aku tanpa pikir panjang langsung beringsut menuju kamar mandi.
Berhubung kamar mandi terletak di bagian paling belakang rumah, aku berderap perlahan menyusuri lorong penghubung antara dapur dan kamar mandi.
Dari jendela, dapat kulihat para ibu-ibu tetangga yang sedang sibuk memilih sayuran di tukang sayur keliling tak jauh dari belakang rumahku.
Langit pagi ini nampak kelabu, semakin menambah rasa malasku untuk melakukan aktifitas di luar rumah. Ya, kurasa lebih baik aku beristirahat sambil mengumpulkan tenaga untuk kegiatan orientasi mahasiswa baru nantinya.
...****************...
Usai mandi dan mengeringkan rambut, aku pergi keluar rumah untuk membeli bahan masakan untuk hari ini. Ya, ini adalah salah satu bagian yang menyebalkan jika aku harus tinggal seorang diri di perantauan seperti ini.
"Sayur, Neng?" tawar si Mamang penjual sayur setibanya aku di depan gerobaknya.
"Sayur asem ada, Mang?" tanyaku seraya melihat-lihat isi gerobak sayur si Mamang.
"Ada atuh, Neng. Mau bumbunya sekalian?"
Aku mengangguk. "boleh, Mang."
Sambil memasukkan belanjaanku ke dalam kantong kresek, si Mamang menayaiku.
"si Neng memangnya tinggal di mana? Kok Mamang baru pertama kali lihat?"
Aku menunjuk ke arah rumahku.
"saya ngontrak di rumah itu, Mang. memang belum lama jadi belum sempat kenalan sama tetangga kanan kiri."
Wajah si Mamang nampak memucat.
"serius, Neng? tinggal di situ? memangnya tidak ada hantunya? Itu 'kan rumah angker atuh, Neng!"
Aku tersenyum tipis, menyerahkan selembar uang kepada si Mamang.
"yang penting kita tidak menggangu mereka, Mang. Insyaallah semuanya aman-aman saja."
Pria separuh baya itu memberikan barang belanjaanku serta kembaliannya.
"semoga aman-aman terus ya, Neng."
Aku kembali tersenyum. "iya. terima kasih ya, Mang. saya pulang dulu, mari."
Rumah angker? Ah, aku jadi penasaran apa saja yang dilakukan oleh penghuni rumah itu sampai-sampai orang lain menganggapnya seperti itu. Tak mau ambil pusing, aku lantas masuk ke dalam rumah lewat pintu belakang agar bisa langsung memasak di dapur.
"Kamu dari mana?" Luccane bertanya tatkala aku sudah kembali menutup pintu belakang.
"Meski pun aku malas tapi aku sadar bahwa aku juga perlu makan," jawabku sambil membuka kantong kresek belanjaan di samping westafel.
Aku mencuci sayuran yang aku beli dengan air keran yang mengalir, sementara Luccane sibuk memperhatikan setiap gerak gerik yang aku lakukan dalam diam seperti patung.
Setelah merasa semua sayurannya bersih, dengan cepat aku memotongnya sedemikian rupa sesuai selera lalu memasaknya sambil bersenandung.
Tak lama berselang, sayur asem buatanku akhirnya sudah siap tersaji di atas meja makan.
"Apa nama masakan itu?" tanya Luccane saat aku hendak mengambil piring.
"Ini namanya sayur asem. Kau pernah coba?"
"Sepertinya pernah, dulu Mama pernah memasak makanan itu untukku karena aromanya terasa sangat familiar," sahut Luccane dengan mata tertuju padaku.
"Kau mau memakannya lagi?" tawarku sambil menyodorkan piring pada Luccane.
Dia malah tergelak. "memangnya hantu perlu makan?"
Aku menepuk kening. "ah iya, aku lupa kalau kau bukan manusia yang perlu makan seperti aku."
Luccane tersenyum, memandangku yang sudah mulai makan. "lain kali aku akan memberi tahu resep masakan Belanda padamu."
"Memangnya kau tahu cara memasak?"
Luccane menopang dagunya, memandangku lurus.
"aku hampir bisa melakukan segala hal, dan memasak adalah salah satu hal yang paling aku gemari. Makanan Belanda apa saja yang ingin kamu makan, aku tahu semua resep serta cara memasaknya."
Aku jadi penasaran seberapa besar kapasitas memori otak Luccane sehingga ia mampu mengingat banyak sekali hal sepanjang hidupnya.
Andai aku juga punya kapasitas otak sebesar milik Luccane, huh.
"Kalau begitu kapan-kapan aku akan meminta resep darimu untuk membuktikan apakah resepnya benar," aku menyahut sesudah menghabiskan makananku.
Luccane terkekeh. "aku bisa membuktikannya padamu kok, kamu tidak akan kecewa kalau memasak menggunakan resepku nanti."
Benar saja dugaanku, hujan benar-benar turun dengan derasnya membuatku bersyukur tidak memiliki kegiatan di luar rumah hari ini.
Paling tidak aku tidak harus basah-basahan di luar hari ini.
"Apa makanan Belanda kesukaanmu semasa hidup?" tanyaku dengan pandangan terpaku pada jendela, yang menampilkan sebuah pohon besar nan rimbun di sisi kiri jalan terletak di halaman belakang rumahku.
"Aku paling suka Schotel," jawab Luccane, "tapi apakah kamu tahu kalau kue nastar yang isinya selai nanas itu juga berasal dari Belanda?"
Merasa mendapatkan informasi menarik, aku bermaksud kembali menggali informasi langsung dari sumbernya.
"benarkah? apa di resep aslinya orang Belanda memang menggunakan selai nanas sebagai isiannya?"
"Pada masa itu sebenarnya resep aslinya menggunakan selai strawberry atau persik, tapi karena nanas merupakan salah satu komoditas pertanian utama di Hindia Belanda maka resepnya dimodifikasi seperti itu," terang Luccane.
Aku mengangguk-angguk paham.
"lalu apa ada lagi makanan khas Belanda yang masih banyak diminati oleh rakyat Indonesia?"
"Perkedel? Itu juga salah satu olahan kentang khas Belanda," jawab Luccane berseri-seri.
Sepertinya dia suka membahas topik ini bersamaku.
"Kalau aku paling suka nastar, apalagi nastar buatan Mama uh rasanya sangat luar biasa!"
ucapku antusias mengingat-ingat bagaimana nikmatnya kue nastar buatan Mama di Palembang saat hari raya idul fitri tiba.
"Tidak heran, Mama kamu 'kan keturunan langsung dari salah satu pejabat tinggi Belanda," imbuh Luccane sambil memandang wajahku.
"Apa wajahku terlihat seperti orang Belanda?"
Ya, aku tahu kalau Mama memang memiliki sedikit darah Belanda dari pihak Kakek sementara Papa memiliki darah campuran Tiongkok.
"Wajahmu lebih dominan Asia," Luccane mengemukakan pendapatnya. "walau begitu kamu terlihat sangat cantik."
Aku tersipu-sipu. "terima kasih."
"Lain kali aku akan memperlihatkan bagaimana kondisi pada zaman kolonial padamu," Luccane berujar masih dengan pandangan tertuju padaku.
"Memangnya bisa?" tanyaku tak lantas percaya.
Pemuda tampan itu tersenyum penuh misteri.
"aku bisa melakukan apa saja yang kamu mau, kamu hanya perlu mengatakannya."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments