Hari ini kegiatan masa orientasi mahasiswa baru berjalan dengan lancar meski pun berakhir lebih lambat dari pada perkiraanku.
Sekarang sudah pukul enam sore, sudah hampir memasuki waktu sholat maghrib.
Berhubung tidak mau melewatkan ibadah sholat maghrib di jalan, aku memutuskan untuk menunaikan kewajibanku di masjid kampus.
Masjid kampus memiliki bangunan yang cukup megah dan besar dengan dominasi warna putih dan hijau yang menghiasinya setiap permukaan bangunannya, lebih bagus dari pada dugaanku.
Tiba di masjid setelah berjalan beberapa ratus meter dari gedung rektorat, aku langsung menaruh tasku dan mengambil air wudhu untuk mensucikan diri sebelum menunaikan ibadah sholat maghrib.
Cukup banyak mahasiswa yang datang kemari untuk menunaikan ibadah sholat maghrib berjamaah, membuat hatiku terasa lebih tentram.
Setelah memasuki waktu ibadah, bersama para mahasiswa dan dosen yang ada di dalam masjid aku menunaikan ibadah dengan khusyuk hingga selesai.
"Loh, Visha? Kok belum pulang?"
Diluar dugaanku, aku malah bertemu dengan salah seorang senior dari jurusan yang sama.
"Ini juga mau pulang, Kak Bella," jawabku berusaha ramah sambil mengulas senyuman.
Usai basa-basi sedikit dengan Kak Bella, aku langsung pamit undur diri dan keluar dari masjid.
Dengan langkah pelan, aku menyusuri jalan setapak yang menghubungkan masjid kampus dengan gedung fakultas ekonomi.
Aku bersenandung kecil menikmati perjalananku yang entah mengapa terasa jauh sekali padahal gedung fakultas ekonomi sudah nampak di depan mata tapi tak tahu kenapa terasa amat jauh.
"Diluar dugaanku kita malah bertemu disini, Mevrouw Vishabea yang cantik dan anggun seperti sekuntum bunga lili putih."
Sebuah suara berat sukses menghentikan langkahku, membuat kedua kakiku terasa sangat berat seolah terpaku di atas bumi.
Suara siapa itu? Entah mengapa terdengar cukup menyeramkan hingga sukses membuat bulu kudukku berdiri padahal aku sanggup mengabaikan penampakan entitas lain yang sejak tadi melintas di hadapanku.
"Memangnya siapa kau? Berani-beraninya memanggilku dengan sebutan Belanda seperti itu," tekanku dengan air muka masam.
"Aku adalah Meneer Kerkoof, penguasa lahan ini."
Sekonyong-konyong seorang pria berwajah Eropa dengan rambut pirang berdiri di hadapanku dengan wajah yang begitu tenang.
Sepasang manik hijau danau miliknya juga menatapku dengan tatapan tak kalah tenang.
"Lalu apa maumu sampai kau menganggu aku seperti ini?"
Aku harus tegas. Walau aku memang memiliki rasa penasaran terhadap dirinya aku harus tetap berhati-hati pada hantu bangsawan itu.
"Sejujurnya aku tidak berniat untuk mengganggumu sama sekali, Mevrouw."
Kalau Meneer dalam bahasa Belanda berarti Tuan, maka Mevrouw berarti Nona.
"Lalu apa tujuanmu, Meneer?"
Hantu tampan itu mengangkat kedua bahunya acuh masih dengan pandangan tertuju padaku.
"berbicara denganmu, tentu saja."
Suara burung hantu yang entah bersumber dari mana terdengar, seolah memberikan sinyal padaku untuk berhati-hati terhadap Tuan Belanda yang satu ini.
Hm, jadi dia penguasa lahan ini?
Sepertinya aku bisa sedikit memanfaatkannya untuk berjaga-jaga kalau suatu saat ada hal yang tidak mengenakkan terjadi padaku.
"Bagaimana kau bisa tahu kalau aku dapat melihat keberadaanmu walau pun aku bisa membodohi hantu-hantu lainnya?"
Meneer Kerkoof menanggapi pertanyaanku dengan seulas senyum manis.
"Sama seperti kekasihmu, aku juga memiliki sesuatu yang berbeda dengan hantu lainnya."
Jadi dia tahu kalau Luccane adalah kekasihku?
"Jonge Meester Luccane memang berasal dari keluarga bangsawan terpandang sekaligus kaya raya yang tercatat dalam sejarah Indonesia tetapi dia masih terlalu muda untuk bersaing denganku," ucap Meneer Kerkoof tegas.
Jonge Meester artinya Tuan Muda.
Baiklah dari sini aku bisa menebak setinggi apa kedudukan sekaligus status sosial mereka saat masih hidup.
"Lalu kenapa? Bukankah kalian berdua sudah sama-sama mati? Enyah dari hadapanku sebelum aku melakukan ritual pengusiran roh jahat kepadamu," balasku sinis.
"Janganlah sinis begitu. Apakah Anda tidak mau berdansa denganku?"
Tawaran aneh apalagi itu? Berdansa katanya?
Bisa-bisanya aku yang disebut gila kalau berdansa seorang diri malam-malam begini di tempat gelap.
"Aku tidak bisa berdansa. Tolong minggir karena aku harus pulang, pikirkanlah selagi aku bicara baik-baik."
"Sayang sekali, Mevrouw. Aku harap Anda tidak menyesal lalu berpaling kepadaku."
Dasar hantu aneh, kuharap tidak akan terjadi apa-apa setelah ini.
...****************...
Berbeda dari malam biasanya, malam ini Luccane tidak nampak keberadaannya entah kemana perginya hantu pemuda tampan itu.
Karena malas mencari keberadaan Luccane, aku memilih untuk membaca buku tua pemberian Luccane beberapa waktu yang lalu.
Kertas-kertas di buku sudah nampak menguning termakan usia tetapi masih terlihat bagus.
"Daftar bangsawan terpandang? Apa maksudnya Luccane memberikan ini kepadaku?" gumamku sambil membuka lembar demi lembar buku tua itu.
Dengan teliti aku menelisik isi buku itu, membaca kata demi kata yang tertuang dalam buku itu dengan konsentrasi penuh.
Menarik, sesuai judulnya buku ini memang memuat nama-nama bangsawan Belanda dengan gelar serta status sosial yang sangat tinggi serta informasi umum mengenai setiap sosok yang tercatat di sana.
Mulai dari pejabat VOC, pejabat pemerintahan, bahkan sampai komandan pasukan militer kala itu semuanya tertulis di buku itu.
"Jadi apa ya tujuan Meneer Kerkoof sampai menemui aku tadi?" tanyaku pada diriku sendiri setelah melihat informasi mengenai Meneer Kerkoof yang ternyata seumur hidupnya merupakan orang yang luar biasa berpengaruh.
"Kalau waktu itu dia mati karena terpenggal, sepertinya ada dua alasan mengapa dia masih gentayangan seperti itu," lagi-lagi aku bergumam sambil membaca buku itu.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Luccane yang tiba-tiba muncul di balik pintu utama rumahku.
"Kau bisa melihat bukan kalau aku sedang membaca buku tua ini?" aku balas bertanya dengan ketus.
"Tidak kusangka kamu tertarik dengan buku tua seperti itu," ucap Luccane sambil mendudukkan dirinya di sebelah kanan tubuhku.
"Aku membacanya karena suatu hal," sahutku sambil menutup buku tua yang cukup tebal itu.
"Katakan padaku apa yang membuat kamu menjadi penasaran seperti itu."
"Luccane, bukankah kau bilang padaku kalau Meneer Kerkoof itu mati karena kepalanya dipenggal?"
"Betul. Memangnya kenapa?"
"Tadi dia mendatangi aku saat sedang dalam perjalanan pulang."
Luccane melotot mendengar pengakuan dariku, sepertinya tak percaya akan mendengar kalimat seperti itu secepat ini.
"Apa yang dia katakan?" Luccane bertanya dengan sorot mata seriusnya.
Sepasang obsidian birunya menelisik setiap sudut mataku, lagi-lagi membuatku tak bisa asal memberikan jawaban padanya.
Aku balas memandang Luccane.
"dia menyebutmu sebagai Jonge Meester apa itu berarti Tuan Muda dalam arti yang aku pikirkan?"
Luccane menghela. "sepertinya cepat atau lambat aku memang harus menjelaskannya padamu."
"Maka jelaskan semuanya padaku, Luccane."
"Jadi seperti yang kamu tahu aku memang merupakan pewaris tunggal atas semua kekayaan Ayahku maka dari itu orang-orang memanggilku dengan sebutan Jonge Meester yang artinya Tuan Muda dalam bahasa Indonesia walau aku hidup dengan tidak cukup bahagia karena banyaknya diskriminasi yang aku alami," terang Luccane.
"Tapi kenapa orang-orang memanggil Kerkoof dengan sebutan Meneer? Padahal menurut pengamatanku harta Ayahmu berkali lipat lebih banyak ketimbang miliknya," ucapku mengemukakan pendapat.
"Karena semua harta milik Kerkoof benar-benar merupakan hasil dari jerih payahnya sendiri sementara aku belum memiliki semuanya secara sah."
Ternyata sistem kasta dalam era kolonial Belanda lebih rumit dari pada yang aku pikirkan selama ini.
Tak cuma berdasarkan berapa banyak kekayaan yang mereka punya tetapi juga berdasarkan bagaimana cara mendapatkannya pula.
Tapi agaknya apa hal yang membuat Meneer Kerkoof sampai menemui aku seperti tadi ya?
Apa mungkin ini semua ada hubungannya dengan kematiannya yang dengan cara di penggal itu?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
aku gk tau
lnjut dong kk
2022-12-28
1