"Vishabea, apa kamu nggak peka sama usaha seseorang?"
Pertanyaan bernada tenang itu terkesan menyudutkan diriku, membuat aku mengerlingkan pandangan kepada sang pemilik pertanyaan.
Eliezer menatapku penuh harap, membuatku tak punya alasan lain selain memberikan sikap tegas padanya agar tak bertindak lebih jauh karena aku merasa pemuda itu tertarik padaku.
"Memangnya kakak lagi usaha apaan sih?" aku balik bertanya dengan senyuman dingin, berusaha pura-pura tidak tahu arah pembicaraannya.
"Ya aku berusaha buat lebih dekat sama kamu, apa boleh?"
Carly dan Kak Juna nampaknya merasa tak enak hati namun hanya duduk terpaku di tempat masing-masing, memperhatikan interaksi antara aku dan Kak Eliezer.
"Memangnya itu wajar untuk dilakukan sekarang, kak? Maaf ya, tapi saya buru-buru karena ada urusan mendadak di rumah. Permisi," ucapku menutup pembicaraan.
"Carly, gue duluan ya lo hati-hati pulangnya."
Carly mengangguk menanggapi membuatku tanpa pikir panjang aku langsung bangkit dari duduk, beranjak pergi dari kantin dengan langkah tergesa enggan berurusan lebih lama dengan Kak Eliezer.
Apa-apaan senior itu? Dia jelas hanya memandang rupa fisikku saja, kalau tidak mana mungkin dia langsung berani menyatakan keinginannya untuk lebih dekat denganku? Huh, ada-ada saja.
Aku harap laki-laki satu itu tidak akan melakukan hal-hal buruk yang bisa mempengaruhi masa belajarku selama di sini.
Mentari yang bersinar terlalu cerah berhasil membuat kepalaku terasa agak pusing hingga memutuskan untuk pulang meski sebenarnya tadi aku ingin mampir ke rumah makan padang lebih dahulu untuk makan di rumah.
Ya, aku takut pingsan di tengah jalan karena memaksakan diri jadi aku lebih memilih untuk langsung pulang demi keselamatan diriku sendiri.
...****************...
Usai mengucapkan salam, aku beringsut masuk ke dalam kamar dengan langkah gontai.
Panasnya sengatan matahari hari ini sungguh berhasil mengacaukan sistem kerja di otakku.
Kepalaku terasa sangat berat seperti sedang menjunjung sebuah batu besar serta berdenyut, membuatku mau tak mau langsung membaringkan diri di atas kasur.
"Kamu kenapa?" suara lembut itu bertanya tatkala aku memejamkan mataku.
"Nggak tahu, rasanya kepalaku berat banget. Apa ada sesuatu?"
Luccane mendengus kesal, mematik rasa bingungku hingga akhirnya kembali membuka mata dan memandangnya penuh tanya sambil berbaring.
"Ada apa, Luccane?"
"Apa kamu tidak sadar? Ada 'seseorang' yang membuat kamu jadi begini," ungkap Luccane dengan wajah kesalnya.
"Hah? Apa iya? Memang sih di gedung rektorat tadi aku lihat pemuda Belanda yang tampan sekali dengan pakaian setelan jas mewah berwarna putih," kataku setelah mencoba mengingat-ingat.
"Nah, sebagian besar gedung tua yang ada di kampus kamu itu memang merupakan bangunan peninggalan Belanda. Dan yang kamu lihat itu adalah Tuan tanah dari tanah tempat universitas itu berdiri," terang Luccane tanpa aku minta.
Tuan Tanah? Entitas yang kulihat itu bahkan terlihat sangat muda mungkin berusia sekitar dua puluh lima sampai tiga puluh tahun. Hebat sekali kalau dia sudah menjadi Tuan tanah.
"Namanya Vincent De Kerkoof, saudagar muda kaya raya yang juga hidup di zaman yang sama denganku. Dulu saat masih hidup kami sempat bertemu beberapa kali karena dia melakukan kerja sama bisnis dengan Papaku," tambah Luccane, memperjelas keterangannya.
"Lalu kenapa dia bisa meninggal?"
Luccane mengusap dagunya dengan jari telunjuknya, berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi pada saudagar muda itu.
"Aku dengar, sebelum pembantaian yang dilakukan oleh para prajurit Jepang sampai ke sini dia dieksekusi mati dengan cara dipenggal oleh orang-orang kerdil bengis itu," Luccane menuturkan dengan serius.
Aku menelan ludah. "Apakah kau ingat detail ceritanya mengenai kejadian itu?"
"Dulu Meneer Kerkoof dipaksa untuk memberikan tanahnya yang sekarang menjadi lahan universitas tempatmu belajar secara cuma-cuma kepada Jepang untuk dibangun benteng."
Kedua manik biru nan jernih milik Luccane memandang padaku, membuat aku mengangguk karena ingin tahu kelanjutan ceritanya.
"Tentu saja dengan tegas Meneer Kerkoof menolak, dan akhirnya beliau kehilangan nyawanya dengan cara yang begitu mengenaskan. Kalau dia melihat ke arahmu dengan penampilannya yang tampan itu artinya dia tertarik kepadamu," papar Luccane dengan air muka masam.
Aku mengangkat kedua alisku. "memangnya kenapa kalau dia tertarik padaku? Bukannya bagus karena aku bisa memanfaatkan dia selama berada di kampus?"
Luccane mendecak sebal. "kenapa sih, kamu menyebalkan sekali?"
Lagi pula aku memang cukup terkesima dengan penampilan Meneer Kerkoof yang terlihat begitu gagah serta menawan dengan rambut pirangnya sambil menatapku hangat dari atas tangga gedung rektorat selama masa orientasi mahasiswa baru hari pertama digelar tadi.
Aku tidak bercanda, penampakan Meneer Kerkoof sama sekali tidak menyeramkan, dia terlihat begitu mempesona dengan penampilan mewahnya yang terlihat begitu khas.
"Oh, jangan bilang kamu sedang memikirkan Meneer Kerkoof itu karena dia memperlihatkan dirinya padamu dalam wujud tampan?" selidik Luccane sambil memandangiku dengan air muka masam.
"Memangnya kamu tidak akan melakukannya?" ledekku, mengingat Luccane juga selalu muncul dalam wujudnya yang menawan.
Luccane tersenyum masam. "apakah kamu tidak sadar kalau aku sekarang sedang cemburu serta khawatir?"
Aku melotot kaget. "apa? cemburu? aku baru tahu kalau hantu juga merasakan cemburu."
Luccane mengangguk tanpa setitik pun keraguan.
"Meneer Kerkoof itu sangat tertarik padamu sampai-sampai dia melakukan itu, kalau dia tidak merasakan ketertarikan mana mau dia muncul dengan wujud tampan seperti itu."
Aku terkekeh geli, oh, ternyata Luccane juga bisa merasakan cemburu seperti itu.
"Tapi Meneer Kerkoof tidak mengajakku berinteraksi jadi kurasa itu bukan hal yang perlu kau khawatirkan apalagi sampai cemburu begitu," kataku mengemukakan pendapat.
Alis Luccane menukik. "justru itu karena dia sedang berusaha mengenali kepribadianmu lebih dulu sebelum melakukan interaksi."
Aku memandang lurus kepada Luccane yang nampak cemberut, sepertinya dia memang benar-benar cemburu setelah mendengar cerita dariku barusan.
Sebuah kejadian langka pemuda itu dapat menunjukkan perasaannya dengan raut muka masam seperti itu.
"Baiklah, jadi apa yang harus aku lakukan?" tanyaku pura-pura lugu. Ya walau pun sejujurnya aku suka melihat Luccane cemburu seperti itu.
"Sebisa mungkin jaga jarak dengan Meneer Kerkoof itu! Aku tidak mau kalau sampai kamu juga menyukainya, hantu bangsawan itu sudah banyak memikat hati wanita," gerutu Luccane dengan bibir mengerucut.
"Bagaimana bisa kau tahu akan hal itu?" pancingku mencoba semakin memanas-manasi Luccane.
Luccane mendecak sebal. "tentu saja aku tahu! pokoknya kalau hantu yang memiliki darah Belanda aku mengenal semuanya."
Aku tersenyum simpul, senang melihat Luccane yang seperti itu. Dia terlihat lebih jujur dengan mengungkapkan perasaannya dengan raut wajah, berbeda dengan sebelumnya yang selalu dia lakukan di balik senyuman.
Karena senang melihatnya yang seperti itu, aku jadi terpikirkan satu ide yang nampaknya akan sangat menyenangkan jika aku jalankan segera.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Qian
nagih banget bacanya
2023-03-17
0
Sahrul Lurhas
lanjutin lagi kak, kepo banget terusannya gimana
2022-12-26
2