Bab 11 : Cemburu

"Vishabea, apa kamu nggak peka sama usaha seseorang?"

Pertanyaan bernada tenang itu terkesan menyudutkan diriku, membuat aku mengerlingkan pandangan kepada sang pemilik pertanyaan.

Eliezer menatapku penuh harap, membuatku tak punya alasan lain selain memberikan sikap tegas padanya agar tak bertindak lebih jauh karena aku merasa pemuda itu tertarik padaku.

"Memangnya kakak lagi usaha apaan sih?" aku balik bertanya dengan senyuman dingin, berusaha pura-pura tidak tahu arah pembicaraannya.

"Ya aku berusaha buat lebih dekat sama kamu, apa boleh?"

Carly dan Kak Juna nampaknya merasa tak enak hati namun hanya duduk terpaku di tempat masing-masing, memperhatikan interaksi antara aku dan Kak Eliezer.

"Memangnya itu wajar untuk dilakukan sekarang, kak? Maaf ya, tapi saya buru-buru karena ada urusan mendadak di rumah. Permisi," ucapku menutup pembicaraan.

"Carly, gue duluan ya lo hati-hati pulangnya."

Carly mengangguk menanggapi membuatku tanpa pikir panjang aku langsung bangkit dari duduk, beranjak pergi dari kantin dengan langkah tergesa enggan berurusan lebih lama dengan Kak Eliezer.

Apa-apaan senior itu? Dia jelas hanya memandang rupa fisikku saja, kalau tidak mana mungkin dia langsung berani menyatakan keinginannya untuk lebih dekat denganku? Huh, ada-ada saja.

Aku harap laki-laki satu itu tidak akan melakukan hal-hal buruk yang bisa mempengaruhi masa belajarku selama di sini.

Mentari yang bersinar terlalu cerah berhasil membuat kepalaku terasa agak pusing hingga memutuskan untuk pulang meski sebenarnya tadi aku ingin mampir ke rumah makan padang lebih dahulu untuk makan di rumah.

Ya, aku takut pingsan di tengah jalan karena memaksakan diri jadi aku lebih memilih untuk langsung pulang demi keselamatan diriku sendiri.

...****************...

Usai mengucapkan salam, aku beringsut masuk ke dalam kamar dengan langkah gontai.

Panasnya sengatan matahari hari ini sungguh berhasil mengacaukan sistem kerja di otakku.

Kepalaku terasa sangat berat seperti sedang menjunjung sebuah batu besar serta berdenyut, membuatku mau tak mau langsung membaringkan diri di atas kasur.

"Kamu kenapa?" suara lembut itu bertanya tatkala aku memejamkan mataku.

"Nggak tahu, rasanya kepalaku berat banget. Apa ada sesuatu?"

Luccane mendengus kesal, mematik rasa bingungku hingga akhirnya kembali membuka mata dan memandangnya penuh tanya sambil berbaring.

"Ada apa, Luccane?"

"Apa kamu tidak sadar? Ada 'seseorang' yang membuat kamu jadi begini," ungkap Luccane dengan wajah kesalnya.

"Hah? Apa iya? Memang sih di gedung rektorat tadi aku lihat pemuda Belanda yang tampan sekali dengan pakaian setelan jas mewah berwarna putih," kataku setelah mencoba mengingat-ingat.

"Nah, sebagian besar gedung tua yang ada di kampus kamu itu memang merupakan bangunan peninggalan Belanda. Dan yang kamu lihat itu adalah Tuan tanah dari tanah tempat universitas itu berdiri," terang Luccane tanpa aku minta.

Tuan Tanah? Entitas yang kulihat itu bahkan terlihat sangat muda mungkin berusia sekitar dua puluh lima sampai tiga puluh tahun. Hebat sekali kalau dia sudah menjadi Tuan tanah.

"Namanya Vincent De Kerkoof, saudagar muda kaya raya yang juga hidup di zaman yang sama denganku. Dulu saat masih hidup kami sempat bertemu beberapa kali karena dia melakukan kerja sama bisnis dengan Papaku," tambah Luccane, memperjelas keterangannya.

"Lalu kenapa dia bisa meninggal?"

Luccane mengusap dagunya dengan jari telunjuknya, berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi pada saudagar muda itu.

"Aku dengar, sebelum pembantaian yang dilakukan oleh para prajurit Jepang sampai ke sini dia dieksekusi mati dengan cara dipenggal oleh orang-orang kerdil bengis itu," Luccane menuturkan dengan serius.

Aku menelan ludah. "Apakah kau ingat detail ceritanya mengenai kejadian itu?"

"Dulu Meneer Kerkoof dipaksa untuk memberikan tanahnya yang sekarang menjadi lahan universitas tempatmu belajar secara cuma-cuma kepada Jepang untuk dibangun benteng."

Kedua manik biru nan jernih milik Luccane memandang padaku, membuat aku mengangguk karena ingin tahu kelanjutan ceritanya.

"Tentu saja dengan tegas Meneer Kerkoof menolak, dan akhirnya beliau kehilangan nyawanya dengan cara yang begitu mengenaskan. Kalau dia melihat ke arahmu dengan penampilannya yang tampan itu artinya dia tertarik kepadamu," papar Luccane dengan air muka masam.

Aku mengangkat kedua alisku. "memangnya kenapa kalau dia tertarik padaku? Bukannya bagus karena aku bisa memanfaatkan dia selama berada di kampus?"

Luccane mendecak sebal. "kenapa sih, kamu menyebalkan sekali?"

Lagi pula aku memang cukup terkesima dengan penampilan Meneer Kerkoof yang terlihat begitu gagah serta menawan dengan rambut pirangnya sambil menatapku hangat dari atas tangga gedung rektorat selama masa orientasi mahasiswa baru hari pertama digelar tadi.

Aku tidak bercanda, penampakan Meneer Kerkoof sama sekali tidak menyeramkan, dia terlihat begitu mempesona dengan penampilan mewahnya yang terlihat begitu khas.

"Oh, jangan bilang kamu sedang memikirkan Meneer Kerkoof itu karena dia memperlihatkan dirinya padamu dalam wujud tampan?" selidik Luccane sambil memandangiku dengan air muka masam.

"Memangnya kamu tidak akan melakukannya?" ledekku, mengingat Luccane juga selalu muncul dalam wujudnya yang menawan.

Luccane tersenyum masam. "apakah kamu tidak sadar kalau aku sekarang sedang cemburu serta khawatir?"

Aku melotot kaget. "apa? cemburu? aku baru tahu kalau hantu juga merasakan cemburu."

Luccane mengangguk tanpa setitik pun keraguan.

"Meneer Kerkoof itu sangat tertarik padamu sampai-sampai dia melakukan itu, kalau dia tidak merasakan ketertarikan mana mau dia muncul dengan wujud tampan seperti itu."

Aku terkekeh geli, oh, ternyata Luccane juga bisa merasakan cemburu seperti itu.

"Tapi Meneer Kerkoof tidak mengajakku berinteraksi jadi kurasa itu bukan hal yang perlu kau khawatirkan apalagi sampai cemburu begitu," kataku mengemukakan pendapat.

Alis Luccane menukik. "justru itu karena dia sedang berusaha mengenali kepribadianmu lebih dulu sebelum melakukan interaksi."

Aku memandang lurus kepada Luccane yang nampak cemberut, sepertinya dia memang benar-benar cemburu setelah mendengar cerita dariku barusan.

Sebuah kejadian langka pemuda itu dapat menunjukkan perasaannya dengan raut muka masam seperti itu.

"Baiklah, jadi apa yang harus aku lakukan?" tanyaku pura-pura lugu. Ya walau pun sejujurnya aku suka melihat Luccane cemburu seperti itu.

"Sebisa mungkin jaga jarak dengan Meneer Kerkoof itu! Aku tidak mau kalau sampai kamu juga menyukainya, hantu bangsawan itu sudah banyak memikat hati wanita," gerutu Luccane dengan bibir mengerucut.

"Bagaimana bisa kau tahu akan hal itu?" pancingku mencoba semakin memanas-manasi Luccane.

Luccane mendecak sebal. "tentu saja aku tahu! pokoknya kalau hantu yang memiliki darah Belanda aku mengenal semuanya."

Aku tersenyum simpul, senang melihat Luccane yang seperti itu. Dia terlihat lebih jujur dengan mengungkapkan perasaannya dengan raut wajah, berbeda dengan sebelumnya yang selalu dia lakukan di balik senyuman.

Karena senang melihatnya yang seperti itu, aku jadi terpikirkan satu ide yang nampaknya akan sangat menyenangkan jika aku jalankan segera.

Terpopuler

Comments

Qian

Qian

nagih banget bacanya

2023-03-17

0

Sahrul Lurhas

Sahrul Lurhas

lanjutin lagi kak, kepo banget terusannya gimana

2022-12-26

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Dinginnya Hembusan Napas sang Malam
2 Bab 2 : Dia, Luccane.
3 Bab 3 : Lentera Merah
4 Bab 4 : Perbincangan di Tengah Kelam
5 Bab 5 : Luccane dan Sejuta Misteri
6 Bab 6 : Keseharian Di Rumah
7 Bab 7 : Perjalanan Ajaib
8 Bab 8 : Het Bloeien van Rozen
9 Bab 9 : Paars en Rood
10 Bab 10 : Hari Pertama di Kampus
11 Bab 11 : Cemburu
12 Bab 12 : Meneer Kerkoof
13 Bab 13 : Kebun Bunga Luccane
14 Bab 14 : Indahnya Bintang di Multiverse
15 Bab 15 : Kisah Dibalik Sepotong Kue Kastengel
16 Bab 16 : Benang Merah Pengikat Takdir
17 Bab 17 : Pilar Penyanggah Keluarga
18 Bab 18 : Romansa Dua Dunia
19 Bab 19 : Bukan Sekedar Ancaman
20 Bab 20 : Dimulainya Gangguan
21 Bab 21 : Senandung Pembawa Petaka
22 Bab 22 : Mawar Hitam Yang Layu
23 Bab 23 : Amarah Sang Mawar Hitam
24 Bab 24 : Kekhawatiran Luccane
25 Bab 25 : Air Mata Kepedihan Luccane
26 Bab 26 : Pembalasan Luccane
27 Bab 27 : Langit Bandung yang Kelam
28 Bab 28 : Mencari Alasan
29 Bab 29 : Masa Pemulihan
30 Bab 30 : Regen in Stukjes Hart
31 Bab 31 : Akhir Masa Pemulihan
32 Bab 32 : Misteri Baru
33 Bab 33 : Kesaksian Jansen
34 Bab 34 : Kembali ke Rutinitas
35 Bab 35 : Keraguan Besar
36 Bab 36 : Zwart Gordijn
37 Bab 37 : Tangis sang Mawar Ungu
38 Bab 38 : Semerbak Wangi Cinta
39 Bab 39 : Kehidupan Seorang Sinyo
40 Bab 40 : Berkencan Dalam Dimensi yang Berbeda
41 Bab 41 : Buku Harian
42 Bab 42 : Godaan
43 Bab 43 : Siapa itu Vin?
44 Bab 44 : Kelam?
45 Bab 45 : Kebenaran Tak Terduga
46 Bab 46 : Mengenang Kembali
47 Bab 47 : Paris van Java
48 Bab 48 : Pure Liefde in Parijs van Java
49 Bab 49 : Di Bawah Cakrawala Bandung
50 Bab 50 : Perpisahan Yang Perih
51 Bab 51 : Petunjuk Dari Buku Tua
52 Bab 52 : Darah Dari Masa Kelam
53 Bab 53 : Mula Investigasi
54 Bab 54 : Penuntun Misterius
55 Bab 55 : Sepasang Netra Penghubung Jiwa
56 Bab 56 : Satu Titik Kebenaran
57 Bab 57 : Tersingkapnya Tirai Kebenaran
58 Bab 58 : Keputusan Yang Berat
59 Bab 59 : Membiasakan Diri
60 Bab 60 : Hartverscheurend Liefdesverhaal
Episodes

Updated 60 Episodes

1
Bab 1 : Dinginnya Hembusan Napas sang Malam
2
Bab 2 : Dia, Luccane.
3
Bab 3 : Lentera Merah
4
Bab 4 : Perbincangan di Tengah Kelam
5
Bab 5 : Luccane dan Sejuta Misteri
6
Bab 6 : Keseharian Di Rumah
7
Bab 7 : Perjalanan Ajaib
8
Bab 8 : Het Bloeien van Rozen
9
Bab 9 : Paars en Rood
10
Bab 10 : Hari Pertama di Kampus
11
Bab 11 : Cemburu
12
Bab 12 : Meneer Kerkoof
13
Bab 13 : Kebun Bunga Luccane
14
Bab 14 : Indahnya Bintang di Multiverse
15
Bab 15 : Kisah Dibalik Sepotong Kue Kastengel
16
Bab 16 : Benang Merah Pengikat Takdir
17
Bab 17 : Pilar Penyanggah Keluarga
18
Bab 18 : Romansa Dua Dunia
19
Bab 19 : Bukan Sekedar Ancaman
20
Bab 20 : Dimulainya Gangguan
21
Bab 21 : Senandung Pembawa Petaka
22
Bab 22 : Mawar Hitam Yang Layu
23
Bab 23 : Amarah Sang Mawar Hitam
24
Bab 24 : Kekhawatiran Luccane
25
Bab 25 : Air Mata Kepedihan Luccane
26
Bab 26 : Pembalasan Luccane
27
Bab 27 : Langit Bandung yang Kelam
28
Bab 28 : Mencari Alasan
29
Bab 29 : Masa Pemulihan
30
Bab 30 : Regen in Stukjes Hart
31
Bab 31 : Akhir Masa Pemulihan
32
Bab 32 : Misteri Baru
33
Bab 33 : Kesaksian Jansen
34
Bab 34 : Kembali ke Rutinitas
35
Bab 35 : Keraguan Besar
36
Bab 36 : Zwart Gordijn
37
Bab 37 : Tangis sang Mawar Ungu
38
Bab 38 : Semerbak Wangi Cinta
39
Bab 39 : Kehidupan Seorang Sinyo
40
Bab 40 : Berkencan Dalam Dimensi yang Berbeda
41
Bab 41 : Buku Harian
42
Bab 42 : Godaan
43
Bab 43 : Siapa itu Vin?
44
Bab 44 : Kelam?
45
Bab 45 : Kebenaran Tak Terduga
46
Bab 46 : Mengenang Kembali
47
Bab 47 : Paris van Java
48
Bab 48 : Pure Liefde in Parijs van Java
49
Bab 49 : Di Bawah Cakrawala Bandung
50
Bab 50 : Perpisahan Yang Perih
51
Bab 51 : Petunjuk Dari Buku Tua
52
Bab 52 : Darah Dari Masa Kelam
53
Bab 53 : Mula Investigasi
54
Bab 54 : Penuntun Misterius
55
Bab 55 : Sepasang Netra Penghubung Jiwa
56
Bab 56 : Satu Titik Kebenaran
57
Bab 57 : Tersingkapnya Tirai Kebenaran
58
Bab 58 : Keputusan Yang Berat
59
Bab 59 : Membiasakan Diri
60
Bab 60 : Hartverscheurend Liefdesverhaal

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!