Bab 14 : Indahnya Bintang di Multiverse

"Ya, tetapi tidak bisa menandingi keindahan dirimu Vishabea pujaan hatiku."

Ucapan Luccane hanya bisa aku tanggapi dengan seulas senyum, aku terlalu salah tingkah hanya untuk sekedar membalas perkataannya dengan beberapa patah kata.

"Berhubung hari juga sudah mau senja apa kamu mau melihat langit malam di sini?" tawar Luccane sambil menunjuk ke arah barat, tempat matahari akan terbenam sebentar lagi.

"Tawaran yang sangat menarik," aku menyahut penuh antusias, memandang ke arah yang ditunjukkan oleh Luccane.

Perlahan namun pasti, warna jingga keemasan yang menghiasi langit mulai memudar berganti menjadi langit kelam yang kini menaungi kami berdua.

Dalam diam aku mengagumi keindahan matahari terbenam yang pertama kalinya dapat aku lihat dari zaman yang berbeda dari tempat asalku.

Luccane pun nampak menikmati pemandangan itu, membuatku menghela samar.

"Apa kau memikirkan sesuatu?" aku memberanikan diri bertanya setelah keheningan cukup lama menyelimuti kami berdua.

Suara jangkrik samar-samar terdengar yang menandakan bahwa kebun bunga milik Luccane masih begitu alami.

Hantu tampan itu tersenyum sendu.

"aku hanya sedikit merindukan Mama dan Papa setelah sekian lama tidak kemari untuk mengobati rasa rinduku."

"Apa yang kau lakukan jika sedang kembali ke masa lalu seperti ini?"

"Aku akan duduk diam, memperhatikan gerak-gerik semua orang dari tempat yang paling aku sukai seperti di kebun bunga ini atau sudut-sudut tertentu di dalam rumahku. Jika beruntung aku bisa melihat diriku sendiri yang pulang dari sekolah dengan muka masam, atau Mama yang sedang sibuk memasak di dapur kadang juga aku melihat Papa sibuk bekerja di ruang kerjanya."

Aku yakin perasaan Luccane tidak baik-baik saja setelah menceritakan semua itu tetapi senyum pemuda tampan itu tak juga pudar.

"Andai aku tahu kalau aku akan mati di usia muda dengan cara mengenaskan seperti itu pasti aku tidak akan pulang dari sekolah sambil menggerutu," imbuh Luccane seraya menunjuk dirinya sendiri saat masih hidup yang sedang berjalan masuk ke dalam rumah.

Wajah Luccane yang ada di sana memang terlihat masam saat hendak masuk ke dalam rumah tetapi di ambang pintu gerbang sudah ada sang Mama yang menyambut putranya itu dengan senyuman hangat khas seorang ibu.

"Kenapa kau pulang selarut itu, Luccane?"

Sepasang obsidian biru milik Luccane masih enggan berpaling dari dirinya di ambang gerbang rumah yang sedang bercengkrama dengan sang Mama.

"Demi memenuhi ekspektasi Papa yang sangat tinggi aku belajar dengan begitu keras bahkan setelah jam pelajaran di sekolah sudah usai. Karena pada zaman itu belum ada bimbingan belajar maka aku belajar sepulang sekolah di perpustakaan," terang Luccane setelah dirinya dan sang Mama benar-benar masuk ke dalam rumah.

"Biasanya kalau sudah menunggu aku pulang di depan gerbang seperti itu, kami akan makan malam bersama. Ya, walau Papa terus saja bertanya soal urusan sekolahku tanpa mempedulikan bagaimana perasaanku tetapi aku tetap menikmatinya dan menganggap semua itu sebagai interaksi antar keluarga."

Aku meraih tangan besar Luccane, mengusap lembut tangan dingin itu berusaha menyalurkan energi positif kepadanya.

Luccane menghela, memandang langit dengan pandangan menerawang.

"Papa orangnya sangat dingin dan tegas. Aku sampai heran kenapa Mama sampai mau menikah dengan pria yang terlampau kaku seperti Papa."

Aku mendengus geli. "tak ada seorang pun yang bisa mengendalikan perasaannya, Luccane."

Senyum Luccane merekah. "ya walau begitu aku tetap bangga menjadi anak mereka meski aku harus sering diperlakukan kurang menyenangkan karena aku adalah seorang 'Sinyo'. Bersyukurlah kamu lahir di zaman yang semuanya sudah menjadi lebih baik."

"Andai kita bisa bertemu lebih awal..." cicitku sambil turut memandangi sang maha luas cakrawala.

Bintang malam ini amat banyak bertaburan, menghiasi setiap jengkal langit pekat yang membuatku terpana akan keindahannya.

"Sangat menyedihkan memang karena kita harus menjalani hubungan yang seperti ini. Tulang belulang milikku bahkan masih ada di dasar laut tanpa ada seorang pun yang tahu entah masih utuh atau tidak."

Aku tertunduk lesu. "maaf tidak bisa melakukan apa pun untukmu."

"Kamu tidak perlu meminta maaf untuk sesuatu yang jelas bukan salahmu. Cepat pejamkan matamu, kita harus segera kembali."

...****************...

Tanpa terasa hari sudah berganti menjadi hari minggu dan dengan bangga aku mengatakan bahwa semua tugas makalah yang harus aku kumpulkan sudah tuntas aku kerjakan tanpa satu pun kesulitan.

Berkat bantuan sumber sejarah yang konkret serta bukti visual yang bisa aku lihat dan dengarkan dengan mata kepalaku sendiri aku yakin nilai tugasku akan sangat memuaskan.

Luccane memang luar biasa!

"Ini hari minggu, kamu mau masak apa?" tanya Luccane yang sedang sibuk membuka-buka sebuah buku usang.

"Aku sudah masak lauk dan nasi tadi pagi-pagi sekali. Kalau begitu apa kau bisa berikan ide camilan untukku hari ini?"

Luccane mengalihkan atensinya padaku, mengusap dagunya dengan ibu jari dan telunjuknya nampak sedang berpikir keras.

"Aku tidak tahu banyak soal camilan masa kini. Apa tidak masalah kalau aku memberikan ide dengan camilan khas zaman dulu?"

Aku terkekeh, namun tak punya pilihan lain selain mengangguk menyetujui.

"Tentu saja, Luccane. berikan aku ide camilan yang nikmat pada zamanmu hidup dulu."

"Jika kamu sering makan nastar, apa kamu juga tidak asing dengan Kastengel?" kata Luccane dengan mata berbinar.

"Kastengel? Ya, aku sering memakannya apa kau tahu resep?"

Luccane cengengesan. "itu persoalan mudah. aku akan membacakan bahan-bahannya lalu kamu catat dan silakan beli."

Dengan penuh semangat, aku mengambil secarik kertas dan sebuah pena lantas mencatat dengan teliti semua bahan-bahan yang disebutkan oleh Luccane.

"Ini adalah resep asli dari Belanda yang dibawa oleh Tante adiknya Papa yang dulu tinggal di Batavia, aku jamin resep ini rasanya akan sangat enak dan dengan rasa yang sedikit berbeda dari resep lokal," ucap Luccane dengan senyuman percaya diri.

"Baiklah, sekarang beritahu padaku bagaimana cara memasaknya dengan baik dan benar agar menjadi senikmat katamu itu."

Luccane mengangguk. "siap, laksanakan! Kita langsung mulai saja kalau begitu."

"Ngomong-ngomong kalau Tante itu berasal dari bahasa Belanda, apa Oom juga berasal dari bahasa Belanda?"

"Iya, artinya Bibi dan Paman. Kalau Oma dan Opa artinya Nenek dan Kakek."

"Wah, ilmu baru yang sangat bermanfaat haha terima kasih, Luccane-ku sayang!"

Aku beruntung memiliki Luccane di sisiku. Dia memang bukanlah seorang manusia yang bisa menjanjikan hubungan serius dengan masa depan cerah kepadaku setidaknya kini dia bisa menjadi sosok yang membuatku merasa bahagia.

Menjalin hubungan asmara dengan makhluk selain dari manusia memang bukanlah langkah yang baik dan aku pun tidak merekomendasikan itu kepada kalian namun sungguh, hanya Luccane yang bisa membuatmu merasakan apa itu tentram di tengah besar serta dalamnya jurang perbedaan yang membentang di antara kami

Terpopuler

Comments

Qian

Qian

berat banget hubungannya:(

2023-03-17

0

Patrish

Patrish

di alam nyata sangat mustahil ya...

2023-01-31

1

aku gk tau

aku gk tau

kk lanjutin

2023-01-02

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Dinginnya Hembusan Napas sang Malam
2 Bab 2 : Dia, Luccane.
3 Bab 3 : Lentera Merah
4 Bab 4 : Perbincangan di Tengah Kelam
5 Bab 5 : Luccane dan Sejuta Misteri
6 Bab 6 : Keseharian Di Rumah
7 Bab 7 : Perjalanan Ajaib
8 Bab 8 : Het Bloeien van Rozen
9 Bab 9 : Paars en Rood
10 Bab 10 : Hari Pertama di Kampus
11 Bab 11 : Cemburu
12 Bab 12 : Meneer Kerkoof
13 Bab 13 : Kebun Bunga Luccane
14 Bab 14 : Indahnya Bintang di Multiverse
15 Bab 15 : Kisah Dibalik Sepotong Kue Kastengel
16 Bab 16 : Benang Merah Pengikat Takdir
17 Bab 17 : Pilar Penyanggah Keluarga
18 Bab 18 : Romansa Dua Dunia
19 Bab 19 : Bukan Sekedar Ancaman
20 Bab 20 : Dimulainya Gangguan
21 Bab 21 : Senandung Pembawa Petaka
22 Bab 22 : Mawar Hitam Yang Layu
23 Bab 23 : Amarah Sang Mawar Hitam
24 Bab 24 : Kekhawatiran Luccane
25 Bab 25 : Air Mata Kepedihan Luccane
26 Bab 26 : Pembalasan Luccane
27 Bab 27 : Langit Bandung yang Kelam
28 Bab 28 : Mencari Alasan
29 Bab 29 : Masa Pemulihan
30 Bab 30 : Regen in Stukjes Hart
31 Bab 31 : Akhir Masa Pemulihan
32 Bab 32 : Misteri Baru
33 Bab 33 : Kesaksian Jansen
34 Bab 34 : Kembali ke Rutinitas
35 Bab 35 : Keraguan Besar
36 Bab 36 : Zwart Gordijn
37 Bab 37 : Tangis sang Mawar Ungu
38 Bab 38 : Semerbak Wangi Cinta
39 Bab 39 : Kehidupan Seorang Sinyo
40 Bab 40 : Berkencan Dalam Dimensi yang Berbeda
41 Bab 41 : Buku Harian
42 Bab 42 : Godaan
43 Bab 43 : Siapa itu Vin?
44 Bab 44 : Kelam?
45 Bab 45 : Kebenaran Tak Terduga
46 Bab 46 : Mengenang Kembali
47 Bab 47 : Paris van Java
48 Bab 48 : Pure Liefde in Parijs van Java
49 Bab 49 : Di Bawah Cakrawala Bandung
50 Bab 50 : Perpisahan Yang Perih
51 Bab 51 : Petunjuk Dari Buku Tua
52 Bab 52 : Darah Dari Masa Kelam
53 Bab 53 : Mula Investigasi
54 Bab 54 : Penuntun Misterius
55 Bab 55 : Sepasang Netra Penghubung Jiwa
56 Bab 56 : Satu Titik Kebenaran
57 Bab 57 : Tersingkapnya Tirai Kebenaran
58 Bab 58 : Keputusan Yang Berat
59 Bab 59 : Membiasakan Diri
60 Bab 60 : Hartverscheurend Liefdesverhaal
Episodes

Updated 60 Episodes

1
Bab 1 : Dinginnya Hembusan Napas sang Malam
2
Bab 2 : Dia, Luccane.
3
Bab 3 : Lentera Merah
4
Bab 4 : Perbincangan di Tengah Kelam
5
Bab 5 : Luccane dan Sejuta Misteri
6
Bab 6 : Keseharian Di Rumah
7
Bab 7 : Perjalanan Ajaib
8
Bab 8 : Het Bloeien van Rozen
9
Bab 9 : Paars en Rood
10
Bab 10 : Hari Pertama di Kampus
11
Bab 11 : Cemburu
12
Bab 12 : Meneer Kerkoof
13
Bab 13 : Kebun Bunga Luccane
14
Bab 14 : Indahnya Bintang di Multiverse
15
Bab 15 : Kisah Dibalik Sepotong Kue Kastengel
16
Bab 16 : Benang Merah Pengikat Takdir
17
Bab 17 : Pilar Penyanggah Keluarga
18
Bab 18 : Romansa Dua Dunia
19
Bab 19 : Bukan Sekedar Ancaman
20
Bab 20 : Dimulainya Gangguan
21
Bab 21 : Senandung Pembawa Petaka
22
Bab 22 : Mawar Hitam Yang Layu
23
Bab 23 : Amarah Sang Mawar Hitam
24
Bab 24 : Kekhawatiran Luccane
25
Bab 25 : Air Mata Kepedihan Luccane
26
Bab 26 : Pembalasan Luccane
27
Bab 27 : Langit Bandung yang Kelam
28
Bab 28 : Mencari Alasan
29
Bab 29 : Masa Pemulihan
30
Bab 30 : Regen in Stukjes Hart
31
Bab 31 : Akhir Masa Pemulihan
32
Bab 32 : Misteri Baru
33
Bab 33 : Kesaksian Jansen
34
Bab 34 : Kembali ke Rutinitas
35
Bab 35 : Keraguan Besar
36
Bab 36 : Zwart Gordijn
37
Bab 37 : Tangis sang Mawar Ungu
38
Bab 38 : Semerbak Wangi Cinta
39
Bab 39 : Kehidupan Seorang Sinyo
40
Bab 40 : Berkencan Dalam Dimensi yang Berbeda
41
Bab 41 : Buku Harian
42
Bab 42 : Godaan
43
Bab 43 : Siapa itu Vin?
44
Bab 44 : Kelam?
45
Bab 45 : Kebenaran Tak Terduga
46
Bab 46 : Mengenang Kembali
47
Bab 47 : Paris van Java
48
Bab 48 : Pure Liefde in Parijs van Java
49
Bab 49 : Di Bawah Cakrawala Bandung
50
Bab 50 : Perpisahan Yang Perih
51
Bab 51 : Petunjuk Dari Buku Tua
52
Bab 52 : Darah Dari Masa Kelam
53
Bab 53 : Mula Investigasi
54
Bab 54 : Penuntun Misterius
55
Bab 55 : Sepasang Netra Penghubung Jiwa
56
Bab 56 : Satu Titik Kebenaran
57
Bab 57 : Tersingkapnya Tirai Kebenaran
58
Bab 58 : Keputusan Yang Berat
59
Bab 59 : Membiasakan Diri
60
Bab 60 : Hartverscheurend Liefdesverhaal

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!