"Ya, tetapi tidak bisa menandingi keindahan dirimu Vishabea pujaan hatiku."
Ucapan Luccane hanya bisa aku tanggapi dengan seulas senyum, aku terlalu salah tingkah hanya untuk sekedar membalas perkataannya dengan beberapa patah kata.
"Berhubung hari juga sudah mau senja apa kamu mau melihat langit malam di sini?" tawar Luccane sambil menunjuk ke arah barat, tempat matahari akan terbenam sebentar lagi.
"Tawaran yang sangat menarik," aku menyahut penuh antusias, memandang ke arah yang ditunjukkan oleh Luccane.
Perlahan namun pasti, warna jingga keemasan yang menghiasi langit mulai memudar berganti menjadi langit kelam yang kini menaungi kami berdua.
Dalam diam aku mengagumi keindahan matahari terbenam yang pertama kalinya dapat aku lihat dari zaman yang berbeda dari tempat asalku.
Luccane pun nampak menikmati pemandangan itu, membuatku menghela samar.
"Apa kau memikirkan sesuatu?" aku memberanikan diri bertanya setelah keheningan cukup lama menyelimuti kami berdua.
Suara jangkrik samar-samar terdengar yang menandakan bahwa kebun bunga milik Luccane masih begitu alami.
Hantu tampan itu tersenyum sendu.
"aku hanya sedikit merindukan Mama dan Papa setelah sekian lama tidak kemari untuk mengobati rasa rinduku."
"Apa yang kau lakukan jika sedang kembali ke masa lalu seperti ini?"
"Aku akan duduk diam, memperhatikan gerak-gerik semua orang dari tempat yang paling aku sukai seperti di kebun bunga ini atau sudut-sudut tertentu di dalam rumahku. Jika beruntung aku bisa melihat diriku sendiri yang pulang dari sekolah dengan muka masam, atau Mama yang sedang sibuk memasak di dapur kadang juga aku melihat Papa sibuk bekerja di ruang kerjanya."
Aku yakin perasaan Luccane tidak baik-baik saja setelah menceritakan semua itu tetapi senyum pemuda tampan itu tak juga pudar.
"Andai aku tahu kalau aku akan mati di usia muda dengan cara mengenaskan seperti itu pasti aku tidak akan pulang dari sekolah sambil menggerutu," imbuh Luccane seraya menunjuk dirinya sendiri saat masih hidup yang sedang berjalan masuk ke dalam rumah.
Wajah Luccane yang ada di sana memang terlihat masam saat hendak masuk ke dalam rumah tetapi di ambang pintu gerbang sudah ada sang Mama yang menyambut putranya itu dengan senyuman hangat khas seorang ibu.
"Kenapa kau pulang selarut itu, Luccane?"
Sepasang obsidian biru milik Luccane masih enggan berpaling dari dirinya di ambang gerbang rumah yang sedang bercengkrama dengan sang Mama.
"Demi memenuhi ekspektasi Papa yang sangat tinggi aku belajar dengan begitu keras bahkan setelah jam pelajaran di sekolah sudah usai. Karena pada zaman itu belum ada bimbingan belajar maka aku belajar sepulang sekolah di perpustakaan," terang Luccane setelah dirinya dan sang Mama benar-benar masuk ke dalam rumah.
"Biasanya kalau sudah menunggu aku pulang di depan gerbang seperti itu, kami akan makan malam bersama. Ya, walau Papa terus saja bertanya soal urusan sekolahku tanpa mempedulikan bagaimana perasaanku tetapi aku tetap menikmatinya dan menganggap semua itu sebagai interaksi antar keluarga."
Aku meraih tangan besar Luccane, mengusap lembut tangan dingin itu berusaha menyalurkan energi positif kepadanya.
Luccane menghela, memandang langit dengan pandangan menerawang.
"Papa orangnya sangat dingin dan tegas. Aku sampai heran kenapa Mama sampai mau menikah dengan pria yang terlampau kaku seperti Papa."
Aku mendengus geli. "tak ada seorang pun yang bisa mengendalikan perasaannya, Luccane."
Senyum Luccane merekah. "ya walau begitu aku tetap bangga menjadi anak mereka meski aku harus sering diperlakukan kurang menyenangkan karena aku adalah seorang 'Sinyo'. Bersyukurlah kamu lahir di zaman yang semuanya sudah menjadi lebih baik."
"Andai kita bisa bertemu lebih awal..." cicitku sambil turut memandangi sang maha luas cakrawala.
Bintang malam ini amat banyak bertaburan, menghiasi setiap jengkal langit pekat yang membuatku terpana akan keindahannya.
"Sangat menyedihkan memang karena kita harus menjalani hubungan yang seperti ini. Tulang belulang milikku bahkan masih ada di dasar laut tanpa ada seorang pun yang tahu entah masih utuh atau tidak."
Aku tertunduk lesu. "maaf tidak bisa melakukan apa pun untukmu."
"Kamu tidak perlu meminta maaf untuk sesuatu yang jelas bukan salahmu. Cepat pejamkan matamu, kita harus segera kembali."
...****************...
Tanpa terasa hari sudah berganti menjadi hari minggu dan dengan bangga aku mengatakan bahwa semua tugas makalah yang harus aku kumpulkan sudah tuntas aku kerjakan tanpa satu pun kesulitan.
Berkat bantuan sumber sejarah yang konkret serta bukti visual yang bisa aku lihat dan dengarkan dengan mata kepalaku sendiri aku yakin nilai tugasku akan sangat memuaskan.
Luccane memang luar biasa!
"Ini hari minggu, kamu mau masak apa?" tanya Luccane yang sedang sibuk membuka-buka sebuah buku usang.
"Aku sudah masak lauk dan nasi tadi pagi-pagi sekali. Kalau begitu apa kau bisa berikan ide camilan untukku hari ini?"
Luccane mengalihkan atensinya padaku, mengusap dagunya dengan ibu jari dan telunjuknya nampak sedang berpikir keras.
"Aku tidak tahu banyak soal camilan masa kini. Apa tidak masalah kalau aku memberikan ide dengan camilan khas zaman dulu?"
Aku terkekeh, namun tak punya pilihan lain selain mengangguk menyetujui.
"Tentu saja, Luccane. berikan aku ide camilan yang nikmat pada zamanmu hidup dulu."
"Jika kamu sering makan nastar, apa kamu juga tidak asing dengan Kastengel?" kata Luccane dengan mata berbinar.
"Kastengel? Ya, aku sering memakannya apa kau tahu resep?"
Luccane cengengesan. "itu persoalan mudah. aku akan membacakan bahan-bahannya lalu kamu catat dan silakan beli."
Dengan penuh semangat, aku mengambil secarik kertas dan sebuah pena lantas mencatat dengan teliti semua bahan-bahan yang disebutkan oleh Luccane.
"Ini adalah resep asli dari Belanda yang dibawa oleh Tante adiknya Papa yang dulu tinggal di Batavia, aku jamin resep ini rasanya akan sangat enak dan dengan rasa yang sedikit berbeda dari resep lokal," ucap Luccane dengan senyuman percaya diri.
"Baiklah, sekarang beritahu padaku bagaimana cara memasaknya dengan baik dan benar agar menjadi senikmat katamu itu."
Luccane mengangguk. "siap, laksanakan! Kita langsung mulai saja kalau begitu."
"Ngomong-ngomong kalau Tante itu berasal dari bahasa Belanda, apa Oom juga berasal dari bahasa Belanda?"
"Iya, artinya Bibi dan Paman. Kalau Oma dan Opa artinya Nenek dan Kakek."
"Wah, ilmu baru yang sangat bermanfaat haha terima kasih, Luccane-ku sayang!"
Aku beruntung memiliki Luccane di sisiku. Dia memang bukanlah seorang manusia yang bisa menjanjikan hubungan serius dengan masa depan cerah kepadaku setidaknya kini dia bisa menjadi sosok yang membuatku merasa bahagia.
Menjalin hubungan asmara dengan makhluk selain dari manusia memang bukanlah langkah yang baik dan aku pun tidak merekomendasikan itu kepada kalian namun sungguh, hanya Luccane yang bisa membuatmu merasakan apa itu tentram di tengah besar serta dalamnya jurang perbedaan yang membentang di antara kami
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Qian
berat banget hubungannya:(
2023-03-17
0
Patrish
di alam nyata sangat mustahil ya...
2023-01-31
1
aku gk tau
kk lanjutin
2023-01-02
2