"Hai, bagaimana pacar blasteran Belanda kamu itu? apa dia lebih keren dari pada aku?"
Aku sontak terperanjat kaget dengan keberadaan Luccane yang suka datang dan pergi tiba-tiba seperti angin. Mataku mendelik kesal ke arahnya, sementara Luccane hanya menatapku dengan air muka santai seolah tak berdosa.
"Kenapa kau selalu muncul seperti hantu begitu!" teriakku murka.
Luccane cengengesan mendengar perkataan konyolku. "aku memang hantu kalau kamu lupa."
"Sial, aku selalu lupa soal itu karena wajahmu terlalu manusiawi," balasku ketus sambil merapikan peralatan ibadahku kembali ke tempatnya.
Jemari kokoh milik Luccane membetulkan kancing teratas kemeja satin miliknya yang terbuka, sedikit menampakkan dada bidangnya. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku cepat berusaha mengendalikan diri agar tidak menjadi gila karena godaan dari Luccane.
"Kalau begitu apakah kamu mau melihat wajah terakhirku saat meregang nyawa?"
Aku bergidik ngeri. "kurasa tidak perlu, itu pasti sangat menyeramkan."
"Apa kamu tidak merasa penasaran bagaimana aku mati kala itu? dari sekian banyak anak indigo yang kutemui semuanya menanyakan soal itu," Luccane bertanya sambil menyugar rambut coklat terangnya kebelakang menggunakan jemari.
Dilihat dari sisi mana pun, sosok pria astral itu sama sekali tidak nampak seperti hantu.
Luccane memiliki mata yang sangat hidup berwarna biru bagaikan air laut yang jernih, rambut serta alis tebal berwarna cokelat terang yang menawan sangat berbeda dengan wujud penampakan hantu yang umumnya menyeramkan dengan wajah hancur serta bau anyir darah yang menyengat dari tubuh mereka.
Belum sempat aku menjawab ucapan Luccane, lagi-lagi aku dikagetkan dengan listrik yang tiba-tiba padam membuatku kelimpungan karena takut dengan kegelapan.
Aku yang takut sekaligus panik hanya bisa berteriak heboh sambil berusaha menemukan ponselku.
"Luccane! tolong nyalakan sesuatu untuk penerangan, aku takut gelap!" teriakku histeris.
Belum ada sepuluh detik berlalu, cahaya remang-remang nampak muncul membuat napasku yang tadinya memburu hebat menjadi sedikit lebih tenang. Ternyata cahaya itu berasal dari lentera kecil berwarna merah yang entah dimana Luccane menemukannya, sebuah lentera zaman dulu yang sudah tak pernah aku lihat bentuk aslinya selain dari buku-buku sejarah yang kupelajari.
"Kamu merasa lebih baik?" Luccane bertanya dengan lembut, menaruh lentera merahnya di atas meja tak jauh dari posisi kami berdua duduk.
"Iya, terima kasih."
Meski dalam cahaya temaram wajah Luccane masih nampak begitu memukau, terlihat amat kontras dengan kegelapan yang menyelimutinya.
Wajah rupawan itu mengulas senyuman lembut yang menenangkan membuatku terpaku dengan mata yang hanya tertuju padanya.
"Jadi, kamu mau mendengarkan cerita kematianku atau tidak nona Vishabea?"
Pertanyaan Luccane dengan nada tenang serta suara beratnya yang lembut membuatku kembali fokus. "ah, ya kau boleh menceritakannya. karena kamu menyinggungnya sekarang aku juga jadi penasaran."
"Aku mengingat semua kejadian hari itu secara detail," Luccane memulai ceritanya. "waktu itu hari senin, aku pulang sekolah seperti biasa dengan berjalan kaki sendirian karena tidak mempunyai teman. lalu secara tiba-tiba datang lima orang tentara Jepang yang menyeretku secara paksa untuk ikut dengan mereka. aku yang tidak punya pilihan lain hanya bisa mengikuti mereka dengan harapan bisa pulang dengan selamat."
Pandangan Luccane nampak menerawang, mengingat-ingat kembali masa lalunya.
"bukannya pulang dengan selamat, aku malah menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri ketika para tentara Jepang yang sudah menduduki rumahku menembaki kedua orang tuaku serta semua orang yang tinggal di sekitar rumahku secara membabi-buta. tidak sampai disitu, aku dan beberapa anak Belanda lain yang telah mereka kumpulkan dibawa naik ke atas sebuah kapal perang dengan benda pemberat di masing-masing kaki kami. tak ada yang bisa kami lakukan selain pasrah kala itu, kami sama sekali tak dapat melawan para tentara Jepang berbekal persenjataan lengkap tersebut. setibanya di tengah laut lepas, satu persatu dari kami mulai diceburkan ke dalam laut dengan entengnya seperti sedang membuang sampah."
Aku sama sekali tidak menyela cerita Luccane yang ia ceritakan dengan air mata menggenangi kedua pelupuk matanya. Luka serta dukanya melebur menjadi satu yang aku yakini terasa benar-benar sakit dan menyiksa batin Luccane.
Aku termangu membiarkan Luccane melanjutkan ceritanya seraya menghapus jejak air matanya dengan punggung tangannya cepat-cepat.
Luccane memandangku dengan sorot penuh luka.
"dan ya, aku lalu mati tenggelam karena kedua kakiku sudah dipasangi pemberat yang sama sekali tak mampu aku lepaskan. sebuah kematian yang sangat tidak adil bagi seorang pemuda sembilan belas tahun yang sangat ingin membahagiakan ibunya yang merupakan seorang pribumi."
Aku mengusap bahu dingin Luccane dengan lembut, tak kuasa berkata apa-apa. Cerita itu teramat memilukan bahkan untukku yang hanya mendengarnya membuat hatiku serasa diremat.
"Kami tahu? lentera merah ini adalah hasil buatan tanganku sendiri yang dulunya ingin kuberikan untuk ibuku, namun aku bersyukur akhirnya benda ini bisa berguna," tambah Luccane dengan tangganya yang mengusap pinggiran lentera merah itu. senyuman terukir di wajahnya namun aku yakin itu bukanlah senyuman yang menggambarkan kebahagiaan.
Aku tertunduk lesu. "maafkan aku, Luccane. seharusnya aku tidak memintamu untuk menceritakan masa kelam itu."
"Tidak masalah, itu karena aku yang ingin menceritakannya sendiri."
Suara guntur disertai dengan deru angin kencang terdengar mengoyak kesunyian malam ini. Sepertinya hujan disertai badai akan datang sebentar lagi membuatku menjadi was-was takut kalau listrik tak segera kembali menyala saat badai datang nanti.
"Listriknya akan padam dalam waktu yang lama," ucap Luccane sekonyong-konyong seperti dapat membaca isi pikiranku. "tapi kamu tidak perlu takut, lentera merah itu tidak akan padam sampai listrik menyala."
"Tapi aku mulai kedinginan," cicitku, enggan menatap mata Luccane yang tertuju padaku.
Suara kekehan ringan menguar dari Luccane kemudian. "kenapa tidak bilang? aku bisa mengambilkan semua yang kamu butuhkan."
"Kalau begitu bisakah kau mengambilkan bantal dan selimutku?"
"Kamu tidak mau tidur di kamar?" Luccane bertanya heran.
"Ya, pocong dengan wajah gosong dan mata semerah darah itu terus menatapku tajam dari balik jendela. itu sangat menyeramkan dan membuatku merasa terganggu," aku mengungkapkan kekesalanku pada sosok pocong berwajah seram yang sangat menganggu dengan tatapannya yang tajam serta penuh dendam.
Luccane mengangguk paham. "ya sudah kalau begitu untuk malam ini kamu tidur saja disini. soal pocong kurang ajar itu aku akan mengurusnya segera."
Sepeninggal Luccane, aku memandang lentera merah yang penuh dengan ukiran tangan itu dengan kagum. "ternyata Luccane sangat menyayangi ibunya lebih dari pada aku menyayangi ibuku. dia bahkan rela mengerjakan ukiran rumit seperti itu untuk membuat ibunya bahagia."
"Kamu boleh menyimpan lentera merah itu kalau kamu mau. lagi pula selain ibuku, kamu juga layak memiliki lentera merah yang aku buat dengan sepenuh hati itu."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Qian
Luccane so sweet banget 😢
2023-03-17
0
Patrish
kematian yang memilukan.. ini bisa benar benar terjadi di dunia nyata saat itu... 😢😢
2022-12-21
1