"Saya mohon... Jangan bawa anak saya..."
"Enyah kau! Untuk apa mempertahankan anak yang tidak berguna ini?!"
"Mama! Papa!"
"Luccane! Tidak, saya mohon tolong jangan bawa Luccane kami!"
"Anak ini akan lebih bermanfaat jika dijadikan sebagai makanan untuk hiu!"
"Tidak! Mama! Papa!"
"Luccane, lari sejauh yang kau bisa, anakku! Tetaplah bertahan hidup!"
Aku terbangun dengan kepala berdenyut serta tubuh yang basah oleh keringat dingin setelah mengalami mimpi menyeramkan itu.
Masih pukul tiga dini hari membuatku menghela napas panjang, tak habis pikir.
Entah sudah yang ke berapa kalinya, aku memimpikan kejadian saat Luccane dipisahkan secara paksa dengan kedua orang tuanya oleh para serdadu Jepang.
Kejadian itu sangat memilukan, membuatku rasanya enggan untuk mengingatnya kembali namun sialnya mimpi itu terus saja menghantui aku tanpa henti-hentinya selama satu pekan belakangan ini.
Suasana sunyi menemani aku dini hari ini, seperti biasanya. Karena kesunyian yang sangat kentara aku bahkan dapat mendengar suara detak jantungku dengan sangat jelas tanpa bantuan stetoskop.
"Kamu kenapa? Wajah kamu kok pucat sekali?"
Aku menghela napas panjang lagi, menoleh kepada Luccane yang sudah duduk di meja belajarku sambil memandangku khawatir.
Namun malam ini Luccane terlihat sedikit berbeda.
"Sudah satu pekan ini aku selalu memimpikan saat kau dipisahkan secara paksa dengan kedua orang tuamu, itu membuat tidurku sangat tidak nyaman," aku menjelaskan dengan lesu.
Luccane bangkit dari duduknya, memelukku erat berusaha memberikan ketenangan dan kenyamanan. Perlahan, aku berusaha mengatur napasku yang menjadi tak teratur.
Tak hanya tubuhku yang lelah, kini batinku juga terasa cukup lelah karena ada beberapa kuntilanak yang terus mengikuti aku kemana pun aku pergi seperti ekor.
Sungguh, itu bukanlah hal yang bagus untukku yang sangat ingin memiliki hidup tenang jauh dari gangguan entitas fenomenal khas Indonesia yang satu itu.
Setiap kali aku bertanya dengan lantang apa yang menjadi tujuan mereka mengikuti aku, hanya tawa melengking yang memekakkan telinga yang aku dengar dari para kuntilanak.
Hah... Dasar hantu menyebalkan!
"Berbaringlah lagi, sekarang bukan saatnya untuk kamu bangun," kata Luccane dengan lembut.
Meski rasa kantuk di mataku benar-benar sirna, aku tetap memejamkan mataku berusaha untuk kembali tertidur demi kesehatan tubuhku.
"Tidurlah, kamu tidak perlu memikirkan hal yang tidak sepatutnya menjadi urusanmu. Biarkan aku yang menyelesaikannya dengan tanganku sendiri," ucapan Luccane entah mengapa membuat mataku kembali dihinggapi rasa kantuk yang luar biasa.
Tak tahu apa yang akan terjadi setelah ini namun perasaanku terasa sangat tidak tenang meski Luccane mengucapkan setiap kata-katanya dengan lembut seperti biasanya.
Meski terdengar sangat lembut, entah mengapa kali ini aku merasakan ada dendam yang sangat dalam dari setiap kata yang Luccane ucapakan barusan.
"Pejamkan matamu dan tidurlah, kekasihku. Tak usah risaukan mimpi-mimpi itu semuanya hanya bunga tidur biasa."
Setelah kata-kata yang diucapkan oleh Luccane berganti menjadi kesunyian, aku benar-benar jatuh terlelap ke alam mimpi tanpa aku sadari.
Luccane, semoga apa yang akan terjadi bukanlah yang selama ini aku khawatirkan.
Ya, aku harap begitu.
...****************...
"Lo kenapa dah minggu lalu ninggalin gue gitu aja?" tanya Carly sebal setibanya aku di bangku tempat dudukku sebelum mata kuliah dimulai.
Aku cengengesan mendengar pertanyaan Carly, menggaruk tengkuk yang tidak gatal sama sekali.
"Anu, gue kebelet boker jadi nggak sempat pamitan sama lo," ucapku berdusta.
Ya mana mungkin aku bilang pada Carly kalau aku mendengar bisikan ghaib? Bisa-bisa gadis blasteran itu berpikir yang tidak-tidak.
"Ah elah, gue pikir lo ngeliat dedemit," gadis itu mencebik, duduk di sebelahku kemudian.
Andai saja aku bisa menjawab Carly dengan jujur namun mana mungkin aku menjawabnya dengan jujur, yang ada akan timbul masalah baru.
Aku menggeleng, tersenyum tipis kemudian.
"Nggak kok, Car. Gue cuma kebelet mau boker aja kok jadi lo nggak usah mikir yang aneh-aneh."
Tak lama kemudian, dosen yang mengajar lantas memasuki ruang kelas dan langsung memulai mata kuliah hari ini.
Dengan pikiranku bercabang, aku berusaha untuk berkonsentrasi mengikuti mata kuliah yang dibawakan oleh sang dosen.
Aku mencatat materi yang dituliskan di papan tulis walau pikiranku tidak berada dalam tempatnya.
Ucapan Luccane semalam dan bisikan misterius itu terus saja mengganggu pikiranku membuat perasaanku tak tenang.
Apa suara wanita yang membisikkan hal yang sama setiap hari selama seminggu ini ada kaitannya dengan masa lalu Luccane?
Hah... Kenapa aku malah terjebak dalam situasi yang rumit seperti ini tanpa bisa melakukan apa-apa sih?
Di sudut belakang kelas, saat aku mengalihkan pandangan dari papan tulis lagi-lagi aku dikagetkan oleh sesosok kuntilanak bergaun merah yang berdiri di sana.
Mata kuntilanak itu sama merahnya dengan gaun yang ia pakai, memandangku tajam seolah memiliki dendam kesumat yang telah dia pendam selama puluhan tahun. Sungguh aneh, padahal aku juga tak pernah melakukan kesalahan apa pun padanya.
Aku yang tidak mau berurusan dengannya buru-buru kembali memusatkan perhatianku ke depan kelas, berusaha fokus dan tak mengindahkan eksistensi makhluk astral yang kini terang-terangan kerap mengikuti diriku itu.
"Visha, bisa kamu gambarkan diagram hasil risetmu kemarin ke papan tulis?" pinta Bu Dita sang dosen.
Untung saja aku mengerjakan tugas kemarin dengan konsentrasi penuh, jadi aku bisa kembali mengerjakannya dengan mudah.
Kedua tungkaiku melangkah maju menuju papan tulis kapur di depan kelas dan meraih sebatang kapur untuk mulai menggambar diagram hasil risetku kemarin.
Dengan yakin aku mulai menggambar, tak mengindahkan seringaian seram dari sang kuntilanak yang kini berpindah tempat ke dekat pintu kelas.
Entah niat apa yang ada di benak sang kuntilanak hingga ia memandangku dengan begitu menyeramkan seperti itu.
"Diagram ini saya buat sesuai dengan data yang saya himpun dari berbagai sumber," ucapku setelah selesai membuat diagram sesuai perintah Bu Dita.
"Bagus sekali, Visha. Saya harap teman-teman sekalian bisa membuat diagram yang menggunakan data valid seperti milik Visha nantinya. silakan kembali duduk," ucap Bu Dita.
Aku mengangguk sopan, beringsut kembali ke tempat dudukku dengan pikiran berkecamuk.
Bisikan misterius itu kembali terdengar, menyuruhku untuk menjauhi Luccane.
Merasa kepalaku pening, aku lantas duduk dengan menyandarkan kepalaku di atas meja.
Kepalaku rasanya berat sekali seperti sedang menjunjung sebuah batu besar.
"Sha, lo kenapa?" tanya Dimas khawatir dengan suara berbisik.
"Kepala gue sakit banget, Dim. Rasanya berat gitu nggak sanggup gue mau ngangkat kepala," jawabku lirih masih dengan wajah tersandar pada meja.
Dari ekor mataku dapat kulihat dengan jelas bahwa ada sosok wanita berambut panjang nan pirang mengenakan pakaian serba hitam menatapku dengan begitu tajam, berdiri dalam jaram beberapa meter dariku.
"Bukankah aku sudah memperingatkan kau lebih awal untuk menjauhi Luccane, Vishabea? Jangan memaksakan diri kalau kau tidak mau mati sia-sia!"
Ucapan dingin dari wanita berpakaian serba hitam itu membuatku dapat menarik kesimpulan bahwa sosok itu memang merupakan bagian dari masa lalu Luccane saat masih hidup dulu.
Tubuhku yang sudah basah oleh keringat dingin hanya bisa memandangnya bingung, memangnya apa salahku sampai wanita itu berani mengusik kehidupanku seperti ini?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments