Bab 19 : Bukan Sekedar Ancaman

"Saya mohon... Jangan bawa anak saya..."

"Enyah kau! Untuk apa mempertahankan anak yang tidak berguna ini?!"

"Mama! Papa!"

"Luccane! Tidak, saya mohon tolong jangan bawa Luccane kami!"

"Anak ini akan lebih bermanfaat jika dijadikan sebagai makanan untuk hiu!"

"Tidak! Mama! Papa!"

"Luccane, lari sejauh yang kau bisa, anakku! Tetaplah bertahan hidup!"

Aku terbangun dengan kepala berdenyut serta tubuh yang basah oleh keringat dingin setelah mengalami mimpi menyeramkan itu.

Masih pukul tiga dini hari membuatku menghela napas panjang, tak habis pikir.

Entah sudah yang ke berapa kalinya, aku memimpikan kejadian saat Luccane dipisahkan secara paksa dengan kedua orang tuanya oleh para serdadu Jepang.

Kejadian itu sangat memilukan, membuatku rasanya enggan untuk mengingatnya kembali namun sialnya mimpi itu terus saja menghantui aku tanpa henti-hentinya selama satu pekan belakangan ini.

Suasana sunyi menemani aku dini hari ini, seperti biasanya. Karena kesunyian yang sangat kentara aku bahkan dapat mendengar suara detak jantungku dengan sangat jelas tanpa bantuan stetoskop.

"Kamu kenapa? Wajah kamu kok pucat sekali?"

Aku menghela napas panjang lagi, menoleh kepada Luccane yang sudah duduk di meja belajarku sambil memandangku khawatir.

Namun malam ini Luccane terlihat sedikit berbeda.

"Sudah satu pekan ini aku selalu memimpikan saat kau dipisahkan secara paksa dengan kedua orang tuamu, itu membuat tidurku sangat tidak nyaman," aku menjelaskan dengan lesu.

Luccane bangkit dari duduknya, memelukku erat berusaha memberikan ketenangan dan kenyamanan. Perlahan, aku berusaha mengatur napasku yang menjadi tak teratur.

Tak hanya tubuhku yang lelah, kini batinku juga terasa cukup lelah karena ada beberapa kuntilanak yang terus mengikuti aku kemana pun aku pergi seperti ekor.

Sungguh, itu bukanlah hal yang bagus untukku yang sangat ingin memiliki hidup tenang jauh dari gangguan entitas fenomenal khas Indonesia yang satu itu.

Setiap kali aku bertanya dengan lantang apa yang menjadi tujuan mereka mengikuti aku, hanya tawa melengking yang memekakkan telinga yang aku dengar dari para kuntilanak.

Hah... Dasar hantu menyebalkan!

"Berbaringlah lagi, sekarang bukan saatnya untuk kamu bangun," kata Luccane dengan lembut.

Meski rasa kantuk di mataku benar-benar sirna, aku tetap memejamkan mataku berusaha untuk kembali tertidur demi kesehatan tubuhku.

"Tidurlah, kamu tidak perlu memikirkan hal yang tidak sepatutnya menjadi urusanmu. Biarkan aku yang menyelesaikannya dengan tanganku sendiri," ucapan Luccane entah mengapa membuat mataku kembali dihinggapi rasa kantuk yang luar biasa.

Tak tahu apa yang akan terjadi setelah ini namun perasaanku terasa sangat tidak tenang meski Luccane mengucapkan setiap kata-katanya dengan lembut seperti biasanya.

Meski terdengar sangat lembut, entah mengapa kali ini aku merasakan ada dendam yang sangat dalam dari setiap kata yang Luccane ucapakan barusan.

"Pejamkan matamu dan tidurlah, kekasihku. Tak usah risaukan mimpi-mimpi itu semuanya hanya bunga tidur biasa."

Setelah kata-kata yang diucapkan oleh Luccane berganti menjadi kesunyian, aku benar-benar jatuh terlelap ke alam mimpi tanpa aku sadari.

Luccane, semoga apa yang akan terjadi bukanlah yang selama ini aku khawatirkan.

Ya, aku harap begitu.

...****************...

"Lo kenapa dah minggu lalu ninggalin gue gitu aja?" tanya Carly sebal setibanya aku di bangku tempat dudukku sebelum mata kuliah dimulai.

Aku cengengesan mendengar pertanyaan Carly, menggaruk tengkuk yang tidak gatal sama sekali.

"Anu, gue kebelet boker jadi nggak sempat pamitan sama lo," ucapku berdusta.

Ya mana mungkin aku bilang pada Carly kalau aku mendengar bisikan ghaib? Bisa-bisa gadis blasteran itu berpikir yang tidak-tidak.

"Ah elah, gue pikir lo ngeliat dedemit," gadis itu mencebik, duduk di sebelahku kemudian.

Andai saja aku bisa menjawab Carly dengan jujur namun mana mungkin aku menjawabnya dengan jujur, yang ada akan timbul masalah baru.

Aku menggeleng, tersenyum tipis kemudian.

"Nggak kok, Car. Gue cuma kebelet mau boker aja kok jadi lo nggak usah mikir yang aneh-aneh."

Tak lama kemudian, dosen yang mengajar lantas memasuki ruang kelas dan langsung memulai mata kuliah hari ini.

Dengan pikiranku bercabang, aku berusaha untuk berkonsentrasi mengikuti mata kuliah yang dibawakan oleh sang dosen.

Aku mencatat materi yang dituliskan di papan tulis walau pikiranku tidak berada dalam tempatnya.

Ucapan Luccane semalam dan bisikan misterius itu terus saja mengganggu pikiranku membuat perasaanku tak tenang.

Apa suara wanita yang membisikkan hal yang sama setiap hari selama seminggu ini ada kaitannya dengan masa lalu Luccane?

Hah... Kenapa aku malah terjebak dalam situasi yang rumit seperti ini tanpa bisa melakukan apa-apa sih?

Di sudut belakang kelas, saat aku mengalihkan pandangan dari papan tulis lagi-lagi aku dikagetkan oleh sesosok kuntilanak bergaun merah yang berdiri di sana.

Mata kuntilanak itu sama merahnya dengan gaun yang ia pakai, memandangku tajam seolah memiliki dendam kesumat yang telah dia pendam selama puluhan tahun. Sungguh aneh, padahal aku juga tak pernah melakukan kesalahan apa pun padanya.

Aku yang tidak mau berurusan dengannya buru-buru kembali memusatkan perhatianku ke depan kelas, berusaha fokus dan tak mengindahkan eksistensi makhluk astral yang kini terang-terangan kerap mengikuti diriku itu.

"Visha, bisa kamu gambarkan diagram hasil risetmu kemarin ke papan tulis?" pinta Bu Dita sang dosen.

Untung saja aku mengerjakan tugas kemarin dengan konsentrasi penuh, jadi aku bisa kembali mengerjakannya dengan mudah.

Kedua tungkaiku melangkah maju menuju papan tulis kapur di depan kelas dan meraih sebatang kapur untuk mulai menggambar diagram hasil risetku kemarin.

Dengan yakin aku mulai menggambar, tak mengindahkan seringaian seram dari sang kuntilanak yang kini berpindah tempat ke dekat pintu kelas.

Entah niat apa yang ada di benak sang kuntilanak hingga ia memandangku dengan begitu menyeramkan seperti itu.

"Diagram ini saya buat sesuai dengan data yang saya himpun dari berbagai sumber," ucapku setelah selesai membuat diagram sesuai perintah Bu Dita.

"Bagus sekali, Visha. Saya harap teman-teman sekalian bisa membuat diagram yang menggunakan data valid seperti milik Visha nantinya. silakan kembali duduk," ucap Bu Dita.

Aku mengangguk sopan, beringsut kembali ke tempat dudukku dengan pikiran berkecamuk.

Bisikan misterius itu kembali terdengar, menyuruhku untuk menjauhi Luccane.

Merasa kepalaku pening, aku lantas duduk dengan menyandarkan kepalaku di atas meja.

Kepalaku rasanya berat sekali seperti sedang menjunjung sebuah batu besar.

"Sha, lo kenapa?" tanya Dimas khawatir dengan suara berbisik.

"Kepala gue sakit banget, Dim. Rasanya berat gitu nggak sanggup gue mau ngangkat kepala," jawabku lirih masih dengan wajah tersandar pada meja.

Dari ekor mataku dapat kulihat dengan jelas bahwa ada sosok wanita berambut panjang nan pirang mengenakan pakaian serba hitam menatapku dengan begitu tajam, berdiri dalam jaram beberapa meter dariku.

"Bukankah aku sudah memperingatkan kau lebih awal untuk menjauhi Luccane, Vishabea? Jangan memaksakan diri kalau kau tidak mau mati sia-sia!"

Ucapan dingin dari wanita berpakaian serba hitam itu membuatku dapat menarik kesimpulan bahwa sosok itu memang merupakan bagian dari masa lalu Luccane saat masih hidup dulu.

Tubuhku yang sudah basah oleh keringat dingin hanya bisa memandangnya bingung, memangnya apa salahku sampai wanita itu berani mengusik kehidupanku seperti ini?

Episodes
1 Bab 1 : Dinginnya Hembusan Napas sang Malam
2 Bab 2 : Dia, Luccane.
3 Bab 3 : Lentera Merah
4 Bab 4 : Perbincangan di Tengah Kelam
5 Bab 5 : Luccane dan Sejuta Misteri
6 Bab 6 : Keseharian Di Rumah
7 Bab 7 : Perjalanan Ajaib
8 Bab 8 : Het Bloeien van Rozen
9 Bab 9 : Paars en Rood
10 Bab 10 : Hari Pertama di Kampus
11 Bab 11 : Cemburu
12 Bab 12 : Meneer Kerkoof
13 Bab 13 : Kebun Bunga Luccane
14 Bab 14 : Indahnya Bintang di Multiverse
15 Bab 15 : Kisah Dibalik Sepotong Kue Kastengel
16 Bab 16 : Benang Merah Pengikat Takdir
17 Bab 17 : Pilar Penyanggah Keluarga
18 Bab 18 : Romansa Dua Dunia
19 Bab 19 : Bukan Sekedar Ancaman
20 Bab 20 : Dimulainya Gangguan
21 Bab 21 : Senandung Pembawa Petaka
22 Bab 22 : Mawar Hitam Yang Layu
23 Bab 23 : Amarah Sang Mawar Hitam
24 Bab 24 : Kekhawatiran Luccane
25 Bab 25 : Air Mata Kepedihan Luccane
26 Bab 26 : Pembalasan Luccane
27 Bab 27 : Langit Bandung yang Kelam
28 Bab 28 : Mencari Alasan
29 Bab 29 : Masa Pemulihan
30 Bab 30 : Regen in Stukjes Hart
31 Bab 31 : Akhir Masa Pemulihan
32 Bab 32 : Misteri Baru
33 Bab 33 : Kesaksian Jansen
34 Bab 34 : Kembali ke Rutinitas
35 Bab 35 : Keraguan Besar
36 Bab 36 : Zwart Gordijn
37 Bab 37 : Tangis sang Mawar Ungu
38 Bab 38 : Semerbak Wangi Cinta
39 Bab 39 : Kehidupan Seorang Sinyo
40 Bab 40 : Berkencan Dalam Dimensi yang Berbeda
41 Bab 41 : Buku Harian
42 Bab 42 : Godaan
43 Bab 43 : Siapa itu Vin?
44 Bab 44 : Kelam?
45 Bab 45 : Kebenaran Tak Terduga
46 Bab 46 : Mengenang Kembali
47 Bab 47 : Paris van Java
48 Bab 48 : Pure Liefde in Parijs van Java
49 Bab 49 : Di Bawah Cakrawala Bandung
50 Bab 50 : Perpisahan Yang Perih
51 Bab 51 : Petunjuk Dari Buku Tua
52 Bab 52 : Darah Dari Masa Kelam
53 Bab 53 : Mula Investigasi
54 Bab 54 : Penuntun Misterius
55 Bab 55 : Sepasang Netra Penghubung Jiwa
56 Bab 56 : Satu Titik Kebenaran
57 Bab 57 : Tersingkapnya Tirai Kebenaran
58 Bab 58 : Keputusan Yang Berat
59 Bab 59 : Membiasakan Diri
60 Bab 60 : Hartverscheurend Liefdesverhaal
Episodes

Updated 60 Episodes

1
Bab 1 : Dinginnya Hembusan Napas sang Malam
2
Bab 2 : Dia, Luccane.
3
Bab 3 : Lentera Merah
4
Bab 4 : Perbincangan di Tengah Kelam
5
Bab 5 : Luccane dan Sejuta Misteri
6
Bab 6 : Keseharian Di Rumah
7
Bab 7 : Perjalanan Ajaib
8
Bab 8 : Het Bloeien van Rozen
9
Bab 9 : Paars en Rood
10
Bab 10 : Hari Pertama di Kampus
11
Bab 11 : Cemburu
12
Bab 12 : Meneer Kerkoof
13
Bab 13 : Kebun Bunga Luccane
14
Bab 14 : Indahnya Bintang di Multiverse
15
Bab 15 : Kisah Dibalik Sepotong Kue Kastengel
16
Bab 16 : Benang Merah Pengikat Takdir
17
Bab 17 : Pilar Penyanggah Keluarga
18
Bab 18 : Romansa Dua Dunia
19
Bab 19 : Bukan Sekedar Ancaman
20
Bab 20 : Dimulainya Gangguan
21
Bab 21 : Senandung Pembawa Petaka
22
Bab 22 : Mawar Hitam Yang Layu
23
Bab 23 : Amarah Sang Mawar Hitam
24
Bab 24 : Kekhawatiran Luccane
25
Bab 25 : Air Mata Kepedihan Luccane
26
Bab 26 : Pembalasan Luccane
27
Bab 27 : Langit Bandung yang Kelam
28
Bab 28 : Mencari Alasan
29
Bab 29 : Masa Pemulihan
30
Bab 30 : Regen in Stukjes Hart
31
Bab 31 : Akhir Masa Pemulihan
32
Bab 32 : Misteri Baru
33
Bab 33 : Kesaksian Jansen
34
Bab 34 : Kembali ke Rutinitas
35
Bab 35 : Keraguan Besar
36
Bab 36 : Zwart Gordijn
37
Bab 37 : Tangis sang Mawar Ungu
38
Bab 38 : Semerbak Wangi Cinta
39
Bab 39 : Kehidupan Seorang Sinyo
40
Bab 40 : Berkencan Dalam Dimensi yang Berbeda
41
Bab 41 : Buku Harian
42
Bab 42 : Godaan
43
Bab 43 : Siapa itu Vin?
44
Bab 44 : Kelam?
45
Bab 45 : Kebenaran Tak Terduga
46
Bab 46 : Mengenang Kembali
47
Bab 47 : Paris van Java
48
Bab 48 : Pure Liefde in Parijs van Java
49
Bab 49 : Di Bawah Cakrawala Bandung
50
Bab 50 : Perpisahan Yang Perih
51
Bab 51 : Petunjuk Dari Buku Tua
52
Bab 52 : Darah Dari Masa Kelam
53
Bab 53 : Mula Investigasi
54
Bab 54 : Penuntun Misterius
55
Bab 55 : Sepasang Netra Penghubung Jiwa
56
Bab 56 : Satu Titik Kebenaran
57
Bab 57 : Tersingkapnya Tirai Kebenaran
58
Bab 58 : Keputusan Yang Berat
59
Bab 59 : Membiasakan Diri
60
Bab 60 : Hartverscheurend Liefdesverhaal

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!