"Atas alasan apa Anda sampai menemui saya dengan cara seperti ini, Meneer?"
Aku memberanikan diri bertanya setelah betul-betul yakin kalau Andri sudah naik ke kamarnya. Sosok berwajah pucat pasi itu beringsut pelan mendekat ke arahku, membuat jantungku bergemuruh.
"Sepertinya kamu sudah bertemu dengan istri saya sampai syok begitu, mohon maafkan penampilannya yang cukup menyeramkan," ucap sosok pria Belanda itu lirih.
Cukup menyeramkan apanya? Dia adalah makhluk astral paling menyeramkan yang pernah aku lihat seumur hidupku tahu!
Bagaimana mungkin kamu tidak merasa kaget setelah melihat hantu wanita yang menenteng kepalanya sendiri dengan tubuh bersimbah darah?!
Aku menghela, menatap lurus hantu pria Belanda yang tengah berdiri di depanku tersebut.
"Baiklah tak masalah saya sudah tidak apa-apa sekarang. Apa yang Anda inginkan dari saya, Meneer?"
Pria itu memandangku dengan sorot mata kosongnya, membuat bulu kudukku meremang.
"Kami mengendus aroma putra kami darimu, apa kamu mengenal Luccane? Dia adalah anak yang selama ini kami cari."
Pertanyaan entitas tampan dengan tatapan kosong itu membuatku tercekat. Apa mungkin mereka memang benar-benar kedua orang tua Luccane yang selama ini selalu dirindukan anak itu?
Walau pria itu nampak sangat mirip dengan Luccane, aku tetap harus mendapatkan bukti yang valid sebelum mengambil langkah selanjutnya.
"Apa buktinya kalau Anda benar-benar Papa Luccane?" tantangku setelah berpikir singkat.
Pria Belanda itu berbalik, menunjukkan tiga buah lubang di belakang kepalanya.
"Istri saya mati mengenaskan karena tubuhnya tergilas oleh kereta api sementara saya ditembak sebanyak tiga kali sampai kehilangan nyawa sebelum bisa memeluk anak saya," lirih pria itu, terdengar begitu pilu menyayat hati.
"Saya tahu penampakan istri saya terlalu menyeramkan untuk menceritakan semuanya kepada kamu, maka dari itu saya memutuskan untuk datang kemari," tambahnya setelah kembali menghadapkan wajahnya padaku.
Seperti Luccane yang terlihat sangat tampan dengan pakaian khas bangsawan Belanda era kolonial, pria itu juga berpenampilan mirip.
Hanya saja jika pakaian Luccane serba hitam, pria itu mengenakan pakaian serba putih.
Aku mengangguk. "kalau begitu boleh saya tahu siapa nama Anda, Meneer? Saya tidak mau mengambil keputusan gegabah, setidaknya Luccane harus tahu lebih dahulu."
"Namaku Willem dan istriku Sulastri. Tolong sampaikan salam rindu kami kepada Luccane, aku juga sangat menyesal telah mendoktrin anak malang itu untuk selalu menjadi nomor satu," Meneer Willem mengatakan semuanya dengan penuh sesal, membuat hatiku serasa diremat.
Penyesalan mendalam tergambar jelas di wajah pucat Meneer Willem.
Aku dapat melihat dengan jelas betapa dalam kasih sayang yang terpancar di wajah sosok ayah Belanda itu.
Meski Luccane kerap kali berkata bahwa ayahnya adalah sosok yang sangat dingin dan tegas, tetapi aku pun dapat merasakan bahwa pria di hadapanku ini hanya mau memberikan yang terbaik untuk anak dan istrinya.
"Kami tidak bisa pergi dari rumah ini karena terkunci untuk selamanya di rumah ini. Maka dari itu saya dan istri tidak bisa menemukan Luccane walau ratusan tahun telah berlalu."
"Saya akan menyampaikannya saat saya sudah pulang ke rumah dan bertemu dengan Luccane, Meneer."
...****************...
Setelah merasa tubuhku membaik, pukul sepuluh pagi aku pamit pulang pada Mang Ujang dan Bibi.
Meski aku harus menyakinkan mereka dengan susah payah untuk dapat mengizinkan aku pulang.
Usai mendapatkan persetujuan dari Mang Ujang, aku akhirnya dapat mengendarai sepeda motorku menuju rumah. Luccane pasti khawatir karena aku tidak pulang semalam.
Jalanan kota Bandung di akhir pekan seperti biasanya terpantau padat, membuat laju sepeda motorku tidak bisa bertambah.
Jalanan padat merayap membuatku resah ingin segera tiba di rumah.
Melewati pusat kota, aku dapat melihat gedung Sate di sisi jalan arteri yang berdiri dengan begitu kokoh sebagai ikon kota Bandung.
Bangunan megah itu berdiri dengan gaya arsitektur campuran khas Eropa dan Nusantara, memiliki daya tariknya tersendiri.
"Kenapa kamu tidak pulang semalam?" tanya Luccane sinis setibanya aku di dalam rumah.
"Aku menginap di rumah pamanku, memangnya kenapa?" aku balas bertanya dengan sinis.
"Kenapa kamu tidak bilang padaku?"
Aku mengangkat kedua bahu acuh.
"aku juga tidak menyangka kalau akan menginap karena ada kejadian diluar nalar yang begitu mengejutkan di sana."
Alis Luccane menukik. "memangnya apa yang terjadi di sana?"
"Aku bertemu dengan wanita yang kepalanya putus sampai syok hingga pingsan," jawabku sambil melenggang masuk ke dalam rumah.
Setelah aku mendudukkan diri di atas sofa, Luccane yang penasaran memilih untuk duduk bersila di atas karpet.
"Ceritakan kejadian lengkapnya padaku," tuntut Luccane.
Aku menghela. "apa benar Papamu bernama Willem dan Mamamu bernama Sulastri?"
Luccane tersentak mendengar pertanyaanku, nampak begitu kaget mendengar apa yang aku tanyakan.
"Benar... tapi dari mana kamu tahu soal itu?"
"Mereka ada di rumah pamanku, Luccane. Mamamu meninggal karena tergilas kereta api sedangkan Papamu meninggal karena ditembak oleh serdadu Jepang. Mereka sangat merindukanmu, bahkan Papamu berkata sangat menyesal telah mendidik kamu dengan terlalu keras," paparku sambil memandang Luccane lurus.
Air mata nampak menggenangi kedua pelupuk mata indah milik Luccane, menyiratkan kerinduan kepada kedua orang tuanya setelah berpisah sekian dekade.
Luccane yang kembali ke rumah tempat tinggal mereka setelah kematiannya malah tak bisa bertemu dengan Papa dan Mamanya yang tersesat di area lain.
"Mereka juga menitipkan salam rindu kepadamu namun sayang mereka tidak bisa kembali kesini sendiri. Apa kau mau pergi menemui mereka?"
Luccane mengangguk. "tentu saja, biar bagaimana pun mereka adalah orang tua yang menghantarkan aku ke dunia ini."
Baiklah jika keputusan Luccane demikian aku hanya bisa mendukung pilihannya, sekarang tugasku adalah menyatukan keluarga yang telah berpisah sejak lama itu.
"Lantas, apa kau bisa mengubah wujud Mamamu saat bertemu denganku? Aku sangat takut melihat penampakannya yang sangat malang itu..." cicitku kemudian, kembali teringat pada sosok Ibu Sulastri yang wujudnya sangat mengerikan.
Dia tersenyum. "tentu saja aku bisa memperbaikinya. Mama tidak boleh tampil menyeramkan lagi di depan calon menantunya, bukan?"
Candaan Luccane membuatku terkekeh geli.
"Apa iya beliau mau menerima kalau anaknya menikah dengan seorang manusia?"
"Mama adalah sosok ibu yang sangat baik, selalu mendukung apa pun yang menjadi pilihanku tanpa banyak protes. Mama juga selalu mengajari aku berbagai hal-hal baik terlepas bagaimana buruknya orang-orang Belanda memperlakukan diri dulu," ujar Luccane mengenang kembali sosok sang Mama.
Andai saja penampakan beliau tidak terlalu menyeramkan seperti itu, aku pasti akan mau berbicara dengannya dalam keadaan tenang.
Untung saja Papa Luccane masih memiliki wujud yang layak walau bau anyir darah terendus dengan begitu tajam dari sekujur tubuhnya.
"Beliau adalah orang yang sangat baik, wajar jika kau sangat menyayanginya. Oh, dan Papamu ternyata lebih tampan darimu," balasku dengan senyuman menggoda.
"Apa?! Kemari, aku harus menghukum kekasihku yang berani-beraninya ingin menggoda Papaku sendiri!"
"Hahahaha! Tidak mau, enyah kau sana dasar hantu genit!"
Luccane sayang, jika kebahagiaanmu datang maka aku dengan senang hati akan menemanimu untuk menjemputnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments