"Aku bisa melakukan apa saja yang kamu mau, kamu hanya perlu mengatakannya," Luccane berujar dengan seulas senyuman yang sarat akan misteri.
Rasa ingin tahuku kembali membuncah, terasa jauh lebih kuat dari pada biasanya membuat aku memandang hantu berwarna super duper rupawan itu lekat-lekat.
"Kau tidak sedang bercanda, bukan?" tanyaku sangsi, menaikkan satu alisku.
Luccane mengangkat kedua bahunya acuh.
"bahkan kalau kamu mau aku juga bisa membuktikannya kepadamu sekarang juga."
Perutku terasa mulas namun bukanlah rasa mulas pada umumnya, tergelitik mendengar ucapan Luccane yang seolah menantang tingginya rasa ingin tahuku saat ini.
Darahku berdesir tatkala Luccane menggamit pergelangan tanganku seraya menatapku dengan begitu lembut.
"kamu mau melihatnya sekarang? sepertinya 'itu' akan jauh lebih menyenangkan ketimbang kamu tidur seharian penuh."
Tanpa pikir panjang aku langsung mengangguk, senyuman Luccane lantas tersungging.
"kalau begitu tutuplah matamu sebentar."
Sepersekian detik berikutnya aku merasa ada angin yang sangat sejuk berhembus menerpa wajahku, membuat mataku terasa sangat mengantuk.
Namun disaat bersamaan aku merasa telapak tangan Luccane seperti sedang mencabut sesuatu dari ubun-ubunku.
"Nah, kamu sudah boleh membuka matamu sekarang," titah Luccane.
Tiba-tiba rasa kantuk yang sempat mendera kedua kelopak mataku seketika sirna. Aku memandang ke sekeliling, mendapati pemandangan yang seratus delapan puluh derajat berbeda dari pada yang sebelumnya aku lihat.
"Kita di mana, Luccane?!" tanyaku panik.
"Bukankah kamu ingin melihat suasana di zaman kolonial dulu?" Luccane balik bertanya.
"Tapi kenapa kita ada di sini segala?"
Luccane menunjuk ke arah depannya, tepat di belakang punggungku.
"kita sedang berada di portal residual energi, secara sederhana kamu bisa menyebutnya sebagai dunia ingatanku semasa aku masih hidup dulu."
Aku mengedarkan pandangan seiring dengan penjelasan Luccane yang untungnya kali ini terdengar lebih sederhana dan mudah untuk aku pahami. Kalau dilihat-lihat aku memang berada di rumahku namun dalam tatanan waktu yang jauh berbeda.
Furniture serta tata letak ruangan di rumah ini nampak sangat berbeda, nampak vintage dengan berbagai perabotan rumah berbahan kayu jati yang klasik dan mewah. Bahkan sampai gorden rumah ini pun berwarna kuning keemasan, begitu mewah menggambarkan dengan baik status sosial yang pemilik rumah.
Yang lebih ajaibnya lagi, tubuhku dan Luccane terlihat transparan hampir sama beningnya dengan udara di sekitar kami. Suara lagu Belanda nampak mengalun merdu dari sebuah gramophone di sudut ruangan membuatku semakin percaya bahwa aku sedang berada di alam lain.
"Baiklah, Nona Vishabea mari kita mulai Time Travel Tour kita yang pertama," Luccane berujar penuh antusias, menarik lembut tanganku untuk mengikuti langkahnya.
"Sebelum menunjukkan kehidupan masyarakat di luar, aku harus menunjukkan semua penjuru rumah ini terlebih dahulu," kata Luccane sambil menuntunku untuk masuk lebih dalam ke dalam rumah.
"Kalau ini ruang kerja Papa," Luccane menunju ke arah ruangan pertama tak jauh dari ruang tamu.
Ruangan itu tidak bisa dibuka sekarang karena dikunci oleh si pemilik rumah, tapi saat ini aku dapat melihat sebuah meja kerja berbahan kayu jati dengan sebuah kursi besar nan mewah.
Setumpuk dokumen juga nampak menghiasi meja berbentuk persegi panjang itu, di beberapa sudut ruangan nampak foto keluarga Luccane namun sialnya aku tak dapat melihat wajah kedua orang tua Luccane dengan jelas.
Rumah itu juga terlihat cukup ramai, banyak pelayan yang berlalu lalang menyelesaikan berbagai pekerjaan rumah tangga. Kalau sudah melihatnya sendiri seperti ini, aku yakin betul kalau Luccane memang bukanlah berasal dari keluarga sembarangan.
Setelah merasa cukup melihat-lihat, Luccane membawaku masuk lebih dalam ke dalam rumah.
"pintu yang di sebelah kiri itu kamarku, yang sebelah kanan yang sekarang kamu pakai sebagai kamarmu itu kamar orang tuaku."
Aku mengangguk, menikmati dengan penuh kekaguman perjalanan ajaib yang selama ini hanya bisa aku dapatkan gambarannya dari film.
Sungguh aku tak menyangka kalau hal seperti ini bisa benar-benar terjadi.
Tiba di dapur, aku tak melihat banyak perbedaan signifikan. Hanya saja dapur yang sekarang aku gunakan menggunakan perabotan yang lebih modern. Mulai dari warna cat dinding, lantai hingga tata letak lemari piring dan kabinet letaknya sama sekali tidak berubah.
Di halaman belakang rumah, dengan jelas aku dapat melihat seorang wanita cantik berwajah Eropa dengan gaun biru muda khas era kolonial nampak sibuk menyapu dedaunan kering yang terjatuh dari pohon besar di ujung halaman yang sampai sekarang masih ada.
Suara sapu lidi yang digunakan gadis itu terdengar begitu nyaring, semakin nyaring dan nyaring hingga akhirnya pengelihatanku sepenuhnya menjadi gelap.
...****************...
Aku menyerjapkan mata perlahan, membiasakan cahaya yang masuk ke dalam retina mataku.
Apa yang terjadi? Kenapa aku ada di kamarku? Jadi semua kejadian itu hanya mimpi? Tapi kenapa rasanya sangat nyata?
Merasakan hal yang janggal, mataku mengitari segala penjuru ruangan untuk menemukan Luccane. Aku harus tahu apa maksudnya semua ini, hanya dia yang bisa menjelaskan semuanya kepadaku.
"Kamu sudah bangun?"
Aku terlonjak kaget mendengar suara Luccane yang tiba-tiba muncul dengan cara menembus dinding kamarku tanpa permisi.
"Sepertinya kau benar-benar ingin membuatku mati karena serangan jantung ya, Luccane!"
Mendengar ocehanku, hantu tampan itu meringis.
"bukan begitu, yang ada aku malah sangat khawatir padamu."
"Kalau begitu tolong jelaskan semuanya padaku secara gamblang," tuntutku seraya menelisik setiap inchi wajah Luccane yang sialnya benar-benar memiliki ketampanan diluar nalar.
"Apanya yang harus aku jelaskan?" tanya Luccane dengan wajah tanpa dosanya.
"Jelaskan secara rinci tentang peristiwa yang tadi atau aku akan melakukan ritual pengusiran setan untuk mengusirmu?" ancaman mau tak mau harus aku lontarkan.
Luccane bergidik ngeri. "baiklah, baiklah! tapi berjanjilah kamu tidak akan melakukan ritual pengusiran setan."
Aku mengangguk mantap. "deal!"
"Yang tadi itu bukanlah mimpi. Aku sungguhan membawa kamu melintasi batas waktu dengan kemampuan khusus yang aku miliki. Tapi sayangnya waktu penggunaannya saat terbatas," papar Luccane dengan air muka serius.
"Makanya kamu bisa tiba-tiba pingsan seperti itu, karena efek sampingnya," tambah Luccane.
Mataku terbelalak tak percaya. "jadi aku bisa melakukan perjalanan ajaib ke masa lalu, Luccane?"
"Bisa dengan bantuanku. Selain sebagai perantara aku juga harus menjagamu selama melakukannya, karena bisa saja ada seseorang atau sesuatu yang menyadari keberadanmu lantas membuatmu celaka," Luccane menjelaskan masih dengan sorot seriusnya.
"Tapi ngomong-ngomong, siapa gadis bergaun biru muda itu? kenapa dia ada di sana?" tanyaku yang penasaran pada sosok wanita Belanda cantik yang sempat menarik perhatianku tadi.
"Dia namanya Dorothy, salah seorang kakak sepupuku yang juga sempat tinggal di rumah ini. Dia terpaksa datang jauh-jauh dari Belanda dengan menumpang kapal lebih dari tiga bulan lamanya hanya demi menikahi salah seorang petinggi VOC mengikuti anjuran dari pemerintah," terang Luccane dengan suara lembut khasnya namun entah kenapa kali ini terdengar begitu sendu.
"Naik kapal selama lebih dari tiga bulan?"
"Ya. Dulu semua orang Belanda selalu melakukan perjalanan jarak jauh menggunakan jalur laut. Baik untuk mengirimkan komoditas pertanian atau pun mengantar orang."
Lagi-lagi aku mendapatkan ilmu pengetahuan baru.
"lalu apakah Dorothy benar-benar menikah dengan pria itu?"
"Ya. Sebuah pernikahan politik yang menyedihkan. Pada masa itu orang-orang dengan kedudukan tinggi menikah semata untuk membuat bisnis atau jabatan mereka semakin melesat," jelas Luccane.
"Kalau seandainya kau masih hidup, apa kau akan melakukan pernikahan seperti itu juga?" aku bertanya karena penasaran.
Luccane tersenyum manis. "aku lebih memilih untuk mati dan bertemu denganmu seperti ini ketimbang harus menjalani pernikahan yang menyedihkan."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Qian
ululu so sweet banget sih
2023-03-17
0
pecinta novel
maaf lucanne ini apakah terinspirasi dari cerita kak nadia omara "KHW part 80" dengan judul "jatuh cinta dengan Lucanne" atau apakah kak author ini pemilik asli cerita kisah nyata si tampan lucanne alias kak anna? karna memang lucanne itu adalah kisah nyata dari salah seorang narasumber kak nadia omara, meski di cerita kak nadia omara tidak mendetail,, tp pada intinya vishabea lazuardi (anna dikisah nyata) saling mencintai dengan lucanne , anna juga seorang indigo bisa melihat hantu hantu lainnya juga...
2022-12-21
3
Siska
mana lanjutanya
2022-12-21
1