"Kalau yang ungu adalah kesukaanmu, maka yang merah adalah simbol dari perasaanku kepadamu. Aku berharap kamu menyukaiku seperti kamu menyukai mawar ungu itu," Luccane berujar dengan sorot serius sambil menggenggam tangan kiriku.
Darahku berdesir hebat hingga sukses membuat semua bulu roma di sekujur tubuhku meremang. Jantungku berdebar hebat, memompa darah ke seluruh tubuhku dengan terburu-buru.
Entah mengapa perasaanku kali ini terasa menggebu-gebu, sangat tidak biasa saat kedua netraku beradu pandang dengan sepasang obsidian biru milik Luccane yang amat menawan.
Sorot mata Luccane saat memandangku terlihat begitu lembut penuh kasih, seolah menarik atensiku untuk tidak mengalihkan pandangan ke arah lain.
Sialnya aku merasa mataku benar-benar terkunci oleh tatapannya yang membuat hatiku terasa meleleh bagaikan cokelat yang sedang dipanaskan.
"Kalau begitu bolehkah aku memilih keduanya? Aku sangat menyukai mawar ungu ini dan juga menyukaimu, sama seperti aku menyukai mawar ungu yang cantik ini," tuturku apa adanya, mengikuti apa kata hatiku yang selama ini selalu aku sangkal.
Aku tidak peduli akan jadi apa kedepannya kalau aku mencintai Luccane yang jelas-jelas bukanlah seorang manusia, tetapi aku tidak bisa terus membohongi perasaanku.
Mau bagaimana pun aku mencari jawabannya, hatiku tetap saja mengatakan kalau ia memilih Luccane secara tulus tanpa alasan mendasar.
Sekeras apa pun usahaku untuk berhenti memikirkan perasaanku pada Luccane, semuanya tetap terasa sia-sia membuatku mau tak mau mengakui perasaanku seperti ini bak orang yang sudah kehilangan kewarasannya.
Memangnya aku waras kalau mencintai hantu seperti Luccane? Tentu saja aku tidak waras, bukan begitu?
"Ya. Kamu boleh memiliki keduanya, aku atau pun mawar ungu ini," bisik Luccane tepat di sebelah telinga kananku.
Kini Luccane sudah duduk tepat di depanku, di atas sofa dengan pandangan lembut yang terlihat begitu mendambakan diriku.
Aku mengangguk mengerti, membiarkan Luccane semakin memangkas jarak di antara kami.
Luccane merengkuh erat tubuhku, membawanya ke dalam dekapannya yang rasanya begitu sulit aku deskripsikan dengan kata-kata.
Pelukan paling hangat serta nyaman yang pernah aku rasakan seumur hidupku, terasa jauh berbeda dibandingkan dengan pelukan yang pernah aku rasakan sebelumnya.
Beberapa saat berlalu hingga akhirnya Luccane mengendurkan pelukannya, kembali memandangku lamat-lamat setenang air danau.
Dia mengangkat daguku menggunakan jari telunjuknya "apakah boleh aku melakukannya?"
Tanpa pikir panjang, hanya dengan beradu pandang dengannya saja aku sudah yakin untuk mengangguk memberikan persetujuanku kepadanya.
"Terima kasih," bisik Luccane dalam jarak yang tak sampai satu jengkal lagi dari wajahku.
Aku memejamkan mataku sementara Luccane perlahan menghapus jarak di antara kami berdua.
Sepersekian detik berikutnya aku dapat merasakan benda kenyal dan lembut namun terasa manis menyesap bibirku.
Rasanya begitu memabukkan, sampai-sampai aku merasa lututku lemas kehilangan semua tenaganya hingga tak mampu lagi menopang berat tubuhku.
Darahku berdesir hebat, seiring dengan debaran jantungku yang semakin menggila.
Sekujur tubuhku terasa memanas seperti sedang terserang demam, tetapi aku memilih untuk tidak mempedulikannya dan menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh Luccane.
Aroma wangi khas Luccane yang menguar menyapa indera pembauanku juga tak luput membuatku semakin jatuh ke dalam pesona sang hantu tampan, ya, pertahananku akhirnya hanya bisa sampai di sini.
Luccane melepas pagutannya, mengelap bibirku dengan ibu jarinya kemudian.
"terima kasih telah membalas perasaanku."
Oh, Luccane... apakah aku bisa hidup dengan tenang setelah ini?
...****************...
Sang maha luas cakrawala hari ini terlihat biru nan cerah, meski aku dapat melihat beberapa titik awan kecil yang berwarna sedikit kelabu.
Angin juga bertiup tenang, cukup menyejukkan perjalananku hari ini.
Mengingat sekarang sudah hari kamis, aku baru saja pulang dari pasar untuk membeli bahan-bahan yang aku perlukan untuk acara orientasi mahasiswa baru yang akan digelar beberapa hari lagi.
Meski aku tinggal tidak jauh dari pusat kota Bandung, tapi entah mengapa kawasan perumahan tempatku tinggal ini memiliki banyak rumah tua kosong dengan gaya arsitektur Art Deco khas zaman Belanda.
Dan lagi, kompleks perumahan tempatku tinggal juga terbilang cukup sepi tidak seperti bagian lainnya di kota Bandung selama aku mengamatinya sambil berjalan-jalan.
Tiba di halaman rumah, aku langsung memarkirkan motorku dan membawa masuk kantong belanjaanku yang sangat penuh dengan hati-hati ke ruang tengah.
"Kamu dari mana?" tanya Luccane yang baru memunculkan batang hidungnya dari kamarnya.
Ya, kamar itu memang terkunci hanya dia yang bisa keluar masuk dari sana dengan cara menembus pintunya. Hantu mah bebas.
"Seperti yang bisa Anda lihat, Tuan Luccane, saya baru pulang berbelanja dari pasar," jawabku dengan senyuman paksa, memilah barang-barang belanjaanku sesuai kategorinya masing-masing.
"Maaf ya..."
Aku langsung mengangkat kepalaku, memandang pemuda hantu itu dengan pandangan bingung.
Untuk apa dia meminta maaf padahal sama sekali tidak melakukan kesalahan?
"Maaf karena aku tidak bisa menggandeng tanganmu saat sedang berada di luar, maaf karena kita tidak bisa berkencan dengan normal seperti pasangan lainnya di luar sana..." lirih Luccane sembari memandang lantai.
Ya, kakinya bahkan tidak menapak di atas tanah.
Aku bisa saja pergi jalan-jalan dengan Luccane seperti pasangan pada umumnya, tetapi jika kami bergandengan tangan yang terlihat di mata orang lain hanyalah aku yang berjalan sendirian sambil memegang udara.
Cinta yang rumit tapi dengan bodohnya aku malah menikmati perbedaan yang membentang luas di antara aku dan Luccane.
"Masa bodoh, 'kan aku hanya mencintaimu. Jadi untuk apa kau memikirkan hal-hal rumit seperti itu? Jalani saja jika kau memang mencintai aku," sahutku tak mau ambil pusing.
Toh, itu sudah menjadi pilihanku sendiri untuk menjalani hubungan ini dengan Luccane.
Dia bisa bersentuhan denganku saja rasanya sudah lebih dari cukup, untuk apa aku memikirkan hal-hal menyakitkan seperti itu?
Luccane beringsut mendekat kepadaku, dia lantas duduk bersila di depanku yang masih sibuk memilah barang belanjaanku.
"Kenapa kamu menyukai aku sampai sebegitunya?"
Aku mengernyitkan dahi. "itu karena kau menyukai aku lebih dulu. jika saja kau masih hidup aku pasti akan menghubungi kedua orang tuaku untuk menikahkan aku denganmu."
Luccane meringis lucu. "andai saja waktu bisa berputar kembali lalu aku bisa kembali menjadi manusia yang bisa menikahi kamu, pasti aku akan merasa sangat bahagia."
"Luccane?"
"Ya? Ada apa?"
Aku memandang lurus pemuda itu.
"cintai saja aku dengan caramu sendiri. jangan pikirkan hal-hal yang tidak perlu seperti tadi."
Luccane mengusap lembut puncak kepalaku.
"baiklah jika kamu yang memintanya, mari jalani hubungan kita dengan penuh cinta!"
Di balik anggukan dan senyumanku yang lebar setelah mendengar perkataan penuh tekad dari Luccane, diam-diam aku juga memikirkan hal yang aku sebut tidak perlu tadi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Qian
waduh... jadian dong?!
2023-03-17
0