Bab 9 : Paars en Rood

"Kalau yang ungu adalah kesukaanmu, maka yang merah adalah simbol dari perasaanku kepadamu. Aku berharap kamu menyukaiku seperti kamu menyukai mawar ungu itu," Luccane berujar dengan sorot serius sambil menggenggam tangan kiriku.

Darahku berdesir hebat hingga sukses membuat semua bulu roma di sekujur tubuhku meremang. Jantungku berdebar hebat, memompa darah ke seluruh tubuhku dengan terburu-buru.

Entah mengapa perasaanku kali ini terasa menggebu-gebu, sangat tidak biasa saat kedua netraku beradu pandang dengan sepasang obsidian biru milik Luccane yang amat menawan.

Sorot mata Luccane saat memandangku terlihat begitu lembut penuh kasih, seolah menarik atensiku untuk tidak mengalihkan pandangan ke arah lain.

Sialnya aku merasa mataku benar-benar terkunci oleh tatapannya yang membuat hatiku terasa meleleh bagaikan cokelat yang sedang dipanaskan.

"Kalau begitu bolehkah aku memilih keduanya? Aku sangat menyukai mawar ungu ini dan juga menyukaimu, sama seperti aku menyukai mawar ungu yang cantik ini," tuturku apa adanya, mengikuti apa kata hatiku yang selama ini selalu aku sangkal.

Aku tidak peduli akan jadi apa kedepannya kalau aku mencintai Luccane yang jelas-jelas bukanlah seorang manusia, tetapi aku tidak bisa terus membohongi perasaanku.

Mau bagaimana pun aku mencari jawabannya, hatiku tetap saja mengatakan kalau ia memilih Luccane secara tulus tanpa alasan mendasar.

Sekeras apa pun usahaku untuk berhenti memikirkan perasaanku pada Luccane, semuanya tetap terasa sia-sia membuatku mau tak mau mengakui perasaanku seperti ini bak orang yang sudah kehilangan kewarasannya.

Memangnya aku waras kalau mencintai hantu seperti Luccane? Tentu saja aku tidak waras, bukan begitu?

"Ya. Kamu boleh memiliki keduanya, aku atau pun mawar ungu ini," bisik Luccane tepat di sebelah telinga kananku.

Kini Luccane sudah duduk tepat di depanku, di atas sofa dengan pandangan lembut yang terlihat begitu mendambakan diriku.

Aku mengangguk mengerti, membiarkan Luccane semakin memangkas jarak di antara kami.

Luccane merengkuh erat tubuhku, membawanya ke dalam dekapannya yang rasanya begitu sulit aku deskripsikan dengan kata-kata.

Pelukan paling hangat serta nyaman yang pernah aku rasakan seumur hidupku, terasa jauh berbeda dibandingkan dengan pelukan yang pernah aku rasakan sebelumnya.

Beberapa saat berlalu hingga akhirnya Luccane mengendurkan pelukannya, kembali memandangku lamat-lamat setenang air danau.

Dia mengangkat daguku menggunakan jari telunjuknya "apakah boleh aku melakukannya?"

Tanpa pikir panjang, hanya dengan beradu pandang dengannya saja aku sudah yakin untuk mengangguk memberikan persetujuanku kepadanya.

"Terima kasih," bisik Luccane dalam jarak yang tak sampai satu jengkal lagi dari wajahku.

Aku memejamkan mataku sementara Luccane perlahan menghapus jarak di antara kami berdua.

Sepersekian detik berikutnya aku dapat merasakan benda kenyal dan lembut namun terasa manis menyesap bibirku.

Rasanya begitu memabukkan, sampai-sampai aku merasa lututku lemas kehilangan semua tenaganya hingga tak mampu lagi menopang berat tubuhku.

Darahku berdesir hebat, seiring dengan debaran jantungku yang semakin menggila.

Sekujur tubuhku terasa memanas seperti sedang terserang demam, tetapi aku memilih untuk tidak mempedulikannya dan menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh Luccane.

Aroma wangi khas Luccane yang menguar menyapa indera pembauanku juga tak luput membuatku semakin jatuh ke dalam pesona sang hantu tampan, ya, pertahananku akhirnya hanya bisa sampai di sini.

Luccane melepas pagutannya, mengelap bibirku dengan ibu jarinya kemudian.

"terima kasih telah membalas perasaanku."

Oh, Luccane... apakah aku bisa hidup dengan tenang setelah ini?

...****************...

Sang maha luas cakrawala hari ini terlihat biru nan cerah, meski aku dapat melihat beberapa titik awan kecil yang berwarna sedikit kelabu.

Angin juga bertiup tenang, cukup menyejukkan perjalananku hari ini.

Mengingat sekarang sudah hari kamis, aku baru saja pulang dari pasar untuk membeli bahan-bahan yang aku perlukan untuk acara orientasi mahasiswa baru yang akan digelar beberapa hari lagi.

Meski aku tinggal tidak jauh dari pusat kota Bandung, tapi entah mengapa kawasan perumahan tempatku tinggal ini memiliki banyak rumah tua kosong dengan gaya arsitektur Art Deco khas zaman Belanda.

Dan lagi, kompleks perumahan tempatku tinggal juga terbilang cukup sepi tidak seperti bagian lainnya di kota Bandung selama aku mengamatinya sambil berjalan-jalan.

Tiba di halaman rumah, aku langsung memarkirkan motorku dan membawa masuk kantong belanjaanku yang sangat penuh dengan hati-hati ke ruang tengah.

"Kamu dari mana?" tanya Luccane yang baru memunculkan batang hidungnya dari kamarnya.

Ya, kamar itu memang terkunci hanya dia yang bisa keluar masuk dari sana dengan cara menembus pintunya. Hantu mah bebas.

"Seperti yang bisa Anda lihat, Tuan Luccane, saya baru pulang berbelanja dari pasar," jawabku dengan senyuman paksa, memilah barang-barang belanjaanku sesuai kategorinya masing-masing.

"Maaf ya..."

Aku langsung mengangkat kepalaku, memandang pemuda hantu itu dengan pandangan bingung.

Untuk apa dia meminta maaf padahal sama sekali tidak melakukan kesalahan?

"Maaf karena aku tidak bisa menggandeng tanganmu saat sedang berada di luar, maaf karena kita tidak bisa berkencan dengan normal seperti pasangan lainnya di luar sana..." lirih Luccane sembari memandang lantai.

Ya, kakinya bahkan tidak menapak di atas tanah.

Aku bisa saja pergi jalan-jalan dengan Luccane seperti pasangan pada umumnya, tetapi jika kami bergandengan tangan yang terlihat di mata orang lain hanyalah aku yang berjalan sendirian sambil memegang udara.

Cinta yang rumit tapi dengan bodohnya aku malah menikmati perbedaan yang membentang luas di antara aku dan Luccane.

"Masa bodoh, 'kan aku hanya mencintaimu. Jadi untuk apa kau memikirkan hal-hal rumit seperti itu? Jalani saja jika kau memang mencintai aku," sahutku tak mau ambil pusing.

Toh, itu sudah menjadi pilihanku sendiri untuk menjalani hubungan ini dengan Luccane.

Dia bisa bersentuhan denganku saja rasanya sudah lebih dari cukup, untuk apa aku memikirkan hal-hal menyakitkan seperti itu?

Luccane beringsut mendekat kepadaku, dia lantas duduk bersila di depanku yang masih sibuk memilah barang belanjaanku.

"Kenapa kamu menyukai aku sampai sebegitunya?"

Aku mengernyitkan dahi. "itu karena kau menyukai aku lebih dulu. jika saja kau masih hidup aku pasti akan menghubungi kedua orang tuaku untuk menikahkan aku denganmu."

Luccane meringis lucu. "andai saja waktu bisa berputar kembali lalu aku bisa kembali menjadi manusia yang bisa menikahi kamu, pasti aku akan merasa sangat bahagia."

"Luccane?"

"Ya? Ada apa?"

Aku memandang lurus pemuda itu.

"cintai saja aku dengan caramu sendiri. jangan pikirkan hal-hal yang tidak perlu seperti tadi."

Luccane mengusap lembut puncak kepalaku.

"baiklah jika kamu yang memintanya, mari jalani hubungan kita dengan penuh cinta!"

Di balik anggukan dan senyumanku yang lebar setelah mendengar perkataan penuh tekad dari Luccane, diam-diam aku juga memikirkan hal yang aku sebut tidak perlu tadi.

Terpopuler

Comments

Qian

Qian

waduh... jadian dong?!

2023-03-17

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Dinginnya Hembusan Napas sang Malam
2 Bab 2 : Dia, Luccane.
3 Bab 3 : Lentera Merah
4 Bab 4 : Perbincangan di Tengah Kelam
5 Bab 5 : Luccane dan Sejuta Misteri
6 Bab 6 : Keseharian Di Rumah
7 Bab 7 : Perjalanan Ajaib
8 Bab 8 : Het Bloeien van Rozen
9 Bab 9 : Paars en Rood
10 Bab 10 : Hari Pertama di Kampus
11 Bab 11 : Cemburu
12 Bab 12 : Meneer Kerkoof
13 Bab 13 : Kebun Bunga Luccane
14 Bab 14 : Indahnya Bintang di Multiverse
15 Bab 15 : Kisah Dibalik Sepotong Kue Kastengel
16 Bab 16 : Benang Merah Pengikat Takdir
17 Bab 17 : Pilar Penyanggah Keluarga
18 Bab 18 : Romansa Dua Dunia
19 Bab 19 : Bukan Sekedar Ancaman
20 Bab 20 : Dimulainya Gangguan
21 Bab 21 : Senandung Pembawa Petaka
22 Bab 22 : Mawar Hitam Yang Layu
23 Bab 23 : Amarah Sang Mawar Hitam
24 Bab 24 : Kekhawatiran Luccane
25 Bab 25 : Air Mata Kepedihan Luccane
26 Bab 26 : Pembalasan Luccane
27 Bab 27 : Langit Bandung yang Kelam
28 Bab 28 : Mencari Alasan
29 Bab 29 : Masa Pemulihan
30 Bab 30 : Regen in Stukjes Hart
31 Bab 31 : Akhir Masa Pemulihan
32 Bab 32 : Misteri Baru
33 Bab 33 : Kesaksian Jansen
34 Bab 34 : Kembali ke Rutinitas
35 Bab 35 : Keraguan Besar
36 Bab 36 : Zwart Gordijn
37 Bab 37 : Tangis sang Mawar Ungu
38 Bab 38 : Semerbak Wangi Cinta
39 Bab 39 : Kehidupan Seorang Sinyo
40 Bab 40 : Berkencan Dalam Dimensi yang Berbeda
41 Bab 41 : Buku Harian
42 Bab 42 : Godaan
43 Bab 43 : Siapa itu Vin?
44 Bab 44 : Kelam?
45 Bab 45 : Kebenaran Tak Terduga
46 Bab 46 : Mengenang Kembali
47 Bab 47 : Paris van Java
48 Bab 48 : Pure Liefde in Parijs van Java
49 Bab 49 : Di Bawah Cakrawala Bandung
50 Bab 50 : Perpisahan Yang Perih
51 Bab 51 : Petunjuk Dari Buku Tua
52 Bab 52 : Darah Dari Masa Kelam
53 Bab 53 : Mula Investigasi
54 Bab 54 : Penuntun Misterius
55 Bab 55 : Sepasang Netra Penghubung Jiwa
56 Bab 56 : Satu Titik Kebenaran
57 Bab 57 : Tersingkapnya Tirai Kebenaran
58 Bab 58 : Keputusan Yang Berat
59 Bab 59 : Membiasakan Diri
60 Bab 60 : Hartverscheurend Liefdesverhaal
Episodes

Updated 60 Episodes

1
Bab 1 : Dinginnya Hembusan Napas sang Malam
2
Bab 2 : Dia, Luccane.
3
Bab 3 : Lentera Merah
4
Bab 4 : Perbincangan di Tengah Kelam
5
Bab 5 : Luccane dan Sejuta Misteri
6
Bab 6 : Keseharian Di Rumah
7
Bab 7 : Perjalanan Ajaib
8
Bab 8 : Het Bloeien van Rozen
9
Bab 9 : Paars en Rood
10
Bab 10 : Hari Pertama di Kampus
11
Bab 11 : Cemburu
12
Bab 12 : Meneer Kerkoof
13
Bab 13 : Kebun Bunga Luccane
14
Bab 14 : Indahnya Bintang di Multiverse
15
Bab 15 : Kisah Dibalik Sepotong Kue Kastengel
16
Bab 16 : Benang Merah Pengikat Takdir
17
Bab 17 : Pilar Penyanggah Keluarga
18
Bab 18 : Romansa Dua Dunia
19
Bab 19 : Bukan Sekedar Ancaman
20
Bab 20 : Dimulainya Gangguan
21
Bab 21 : Senandung Pembawa Petaka
22
Bab 22 : Mawar Hitam Yang Layu
23
Bab 23 : Amarah Sang Mawar Hitam
24
Bab 24 : Kekhawatiran Luccane
25
Bab 25 : Air Mata Kepedihan Luccane
26
Bab 26 : Pembalasan Luccane
27
Bab 27 : Langit Bandung yang Kelam
28
Bab 28 : Mencari Alasan
29
Bab 29 : Masa Pemulihan
30
Bab 30 : Regen in Stukjes Hart
31
Bab 31 : Akhir Masa Pemulihan
32
Bab 32 : Misteri Baru
33
Bab 33 : Kesaksian Jansen
34
Bab 34 : Kembali ke Rutinitas
35
Bab 35 : Keraguan Besar
36
Bab 36 : Zwart Gordijn
37
Bab 37 : Tangis sang Mawar Ungu
38
Bab 38 : Semerbak Wangi Cinta
39
Bab 39 : Kehidupan Seorang Sinyo
40
Bab 40 : Berkencan Dalam Dimensi yang Berbeda
41
Bab 41 : Buku Harian
42
Bab 42 : Godaan
43
Bab 43 : Siapa itu Vin?
44
Bab 44 : Kelam?
45
Bab 45 : Kebenaran Tak Terduga
46
Bab 46 : Mengenang Kembali
47
Bab 47 : Paris van Java
48
Bab 48 : Pure Liefde in Parijs van Java
49
Bab 49 : Di Bawah Cakrawala Bandung
50
Bab 50 : Perpisahan Yang Perih
51
Bab 51 : Petunjuk Dari Buku Tua
52
Bab 52 : Darah Dari Masa Kelam
53
Bab 53 : Mula Investigasi
54
Bab 54 : Penuntun Misterius
55
Bab 55 : Sepasang Netra Penghubung Jiwa
56
Bab 56 : Satu Titik Kebenaran
57
Bab 57 : Tersingkapnya Tirai Kebenaran
58
Bab 58 : Keputusan Yang Berat
59
Bab 59 : Membiasakan Diri
60
Bab 60 : Hartverscheurend Liefdesverhaal

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!