"Kamu boleh percaya atau tidak tapi aku merasa sangat tertarik dan ingin sekali selalu berada di sisimu, nona Vishabea."
Mendengar jawaban dengan seulas senyum yang amat lembut itu membuatku semakin memandang hantu tampan itu dengan curiga.
"Oh, jadi kau adalah penyebab kenapa rumah ini sampai disewakan dengan harga yang sangat miring oleh pemiliknya?"
Luccane tergelak. "menampakkan diri di depan manusia yang tidak bisa melihat makhluk astral adalah hal yang sangat ceroboh."
Kedua alisku bertaut bingung. "apa maksudmu?"
"Kami, para hantu perlu mengeluarkan sangat banyak energi jika ingin berinteraksi dengan manusia yang tidak bisa melihat kami," jelas Luccane seraya memandangku lurus. "kamu spesial, karena dapat menyentuhku juga seperti tadi."
"Apa aku akan jatuh sakit setelah ini?" tanyaku polos, mengingat banyaknya kasus orang yang sampai jatuh sakit setelah tak sengaja 'tersenggol' oleh makhluk astral.
Luccane menggeleng. "tidak. bukankah aku sudah bilang kalau kamu itu spesial?"
Aku memandang mata biru milik Luccane lamat-lamat. "kalau begitu bisa kau beritahu siapa nama lengkapmu? kau sungguh membuatku merasa penasaran."
Pandangan Luccane turun, menautkan kedua tangannya seperti orang yang hendak berdoa.
"maaf aku tidak bisa memberitahukan hal spesifik itu kepada kamu karena keluargaku memiliki kaitan erat dengan sejarah bangsa ini."
Aku tercenung, menelisik setiap titik dari tubuh Luccane dengan seksama guna mencari celah bagaimana bisa sosok setampan ini tidak diberikan kesempatan untuk melanjutkan hidupnya kala itu.
"lalu kenapa kau memilih untuk menetap di sini?"
"Seperti yang kamu lihat, gaya bangunan rumah ini bergaya kuno sudah pasti rumah ini sudah ada sejak Belanda yang merupakan leluhurku. Dulunya, Ayahku membeli rumah ini untuk Ibuku sebagai hadiah karena kelahiranku sebagai anak laki-laki yang sangat diinginkan oleh Ayah serta keluarga besarnya untuk melanjutkan bisnis keluarga kelak," Luccane mulai bercerita mengenai masa lalunya.
"Ibuku adalah seorang pribumi, 'Nyai' yang dulunya bekerja sebagai pembantu namun sangat dicintai oleh Ayahku. Ayah dan Ibu tidak terikat pernikahan secara sah sebelum aku lahir hingga akhirnya mereka memutuskan menikah secara sah setelah aku lahir."
"Apa ibumu berasal dari kota ini?"
Luccane mengangguk. "ya. ibuku adalah wanita asli Bandung yang terpaksa dijual oleh orang tuanya sendiri kepada Ayahku karena terlilit hutang yang jumlahnya cukup besar."
"Tetapi kehidupan sebagai seorang 'Sinyo' tidaklah semudah kehidupan di zaman sekarang yang terkadang membuatku merasa iri," tambah Luccane dengan sorot mata sendu yang membuatku merasa tak tega untuk membiarkan dia terus menceritakan masa lalunya.
"Kita bisa bahas itu lagi lain kali, Luccane. sekarang aku sudah ngantuk, aku perlu tidur dulu sebelum pergi ke kampus besok siang untuk mengurus berkas perkuliahan."
Luccane tidak menjawab, dia hanya menyunggingkan seulas senyum dengan sorot mata yang terlihat sangat sedih serta terluka yang entah mengapa membuat hatiku merasakan sesuatu yang sangat berbeda.
...****************...
"Oh, jadi lo yang namanya Vishabea Lazuardi? gila sih emang cantik banget pantesan followers Instagram lo sampai tiga puluh lima ribu lebih," seorang gadis berambut ikal dengan hebohnya datang padaku yang baru saja keluar dari ruangan dekan setelah menyerahkan beberapa berkas penting sebagai persyaratan untuk universitas.
Menanggapinya, aku hanya tersenyum kikuk sembari berusaha mengendalikan ekspresi wajahku yang merasa agak risih dengan tingkahnya.
"Kenalin nama gue Carly," katanya sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
"Hai, lo udah tahu nama gue 'kan?" aku menimpali dengan senyuman tipis, menjabat tangannya sebentar.
Kalau dilihat-lihat wajah Carly itu cukup cantik dengan paras mirip bule membuatnya agak mencolok diantara mahasiswa lainnya.
Tubuhnya juga menjulang tinggi, mungkin nyaris sekitar seratus tujuh puluh sentimeter dengan.
"Gue juga follow Instagram lo, jangan lupa follow back ya," ucap Carly sambil menunjukkan laman Instagram milikku.
"Iya," sahutku sekenanya.
"Kulit lo bagus banget deh, iri gue," mata kecoklatan milik Carly memandang seksama wajahku, makin membuatku merasa risih.
Ya, sebagai gadis keturunan Tionghoa kurasa aku tidak jauh berbeda dengan keturunan etnis Tionghoa lainya dengan kulit putih sebagai ciri khasnya. Namun yang agak berbeda yaitu mataku yang cukup bulat, tak jarang aku kerap dijuluki sebagai Si Mata Boneka oleh teman-temanku.
"Lo ada keturunan bule gitu ya?" aku balik bertanya, mencoba mencari tahu mengingat dia memang akan menjadi salah satu teman sekelasku.
Carly memandangku dengan penuh antusias.
"iya, kakek dari sebelah Papi gue orang Italia. kalau lo gimana? kayaknya Chinese ya?"
Aku mengangguk membenarkan.
"ada keturunan aja sih."
"By the way lo udah punya pacar? katanya kakak tingkat jurusan kita pada cakep-cakep tuh," goda Carly sesaat setelah Kak Eliezer yang merupakan salah satu kakak tingkat populer di jurusan kami melintas.
Pertanyaan Carly entah mengapa malah membuatku teringat pada Luccane dan tanpa sadar malah berujar. "punya, cowok gue blasteran Belanda."
"Wah, gila keren banget sih lo! kapan-kapan kenalin ke gue ya. kalau gitu gue pamit pulang duluan ya, hati-hati lo," tukas Carly sambil bergegas pergi setelah ponselnya berdering.
Pacar blasteran Belanda apanya? punya pacar pun tidak! huh, kenapa aku bisa-bisanya bilang begitu pada Carly? Sepertinya aku harus segera pulang mengingat hari sudah mulai beranjak sore, aku tidak mau melewatkan waktu maghrib di jalan.
Buru-buru aku melenggang menuju parkiran Fakultas Teknik yang letaknya di area paling depan kampus bermaksud untuk segera pulang menggunakan motorku.
"Dek, calon mahasiswa baru ya?"
Kak Eliezer, cowok yang tadi disinggung oleh Carly kini menyapaku lebih dulu setibanya aku di lapangan parkir.
"Eh? iya kenapa, Kak?"
"Salam kenal ya, nama aku Eliezer. nanti kita bakal ketemu lagi pas ospek. nama kamu siapa?"
Kak Eliezer memang nampak menawan dengan rambut sekelam langit malam miliknya yang berkilauan, hidung mancung serta alis tebal yang membingkai wajahnya. Kulitnya berwarna kecoklatan, namun tidak begitu gelap membuatnya juga tak bosan untuk dipandang.
"Panggil aja Visha, Kak. sorry ya nggak bisa ngobrol lama-lama soalnya mau langsung pulang. mari, Kak," tutupku mengakhiri perbincangan.
Setelah mengenakan helm aku langsung tancap gas menuju rumah yang sekali lagi aku syukuri tak jauh dari kampus meski aku mendapati lebih dari empat makhluk astral yang tinggal di sekitaran rumahku.
Tapi ya sudahlah apa boleh buat, Papaku sudah kepalang membayar sewa sampai empat tahun jadi aku hanya bisa berharap kehidupanku kedepannya bisa selalu aman dari gangguan mereka.
Tiba di rumah aku lantas segera membersihkan diri tak lupa langsung melaksanakan ibadah sholat maghrib dengan khusyuk di ruang tengah.
Usai memanjatkan doa kepada sang maha kuasa aku dikagetkan dengan kehadiran Luccane yang memandangku dengan senyuman manis sambil duduk bersila di depanku.
"Hai, bagaimana pacar blasteran Belanda kamu itu? apa dia lebih keren dari pada aku?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments