Bab 2 : Dia, Luccane.

"Kamu boleh percaya atau tidak tapi aku merasa sangat tertarik dan ingin sekali selalu berada di sisimu, nona Vishabea."

Mendengar jawaban dengan seulas senyum yang amat lembut itu membuatku semakin memandang hantu tampan itu dengan curiga.

"Oh, jadi kau adalah penyebab kenapa rumah ini sampai disewakan dengan harga yang sangat miring oleh pemiliknya?"

Luccane tergelak. "menampakkan diri di depan manusia yang tidak bisa melihat makhluk astral adalah hal yang sangat ceroboh."

Kedua alisku bertaut bingung. "apa maksudmu?"

"Kami, para hantu perlu mengeluarkan sangat banyak energi jika ingin berinteraksi dengan manusia yang tidak bisa melihat kami," jelas Luccane seraya memandangku lurus. "kamu spesial, karena dapat menyentuhku juga seperti tadi."

"Apa aku akan jatuh sakit setelah ini?" tanyaku polos, mengingat banyaknya kasus orang yang sampai jatuh sakit setelah tak sengaja 'tersenggol' oleh makhluk astral.

Luccane menggeleng. "tidak. bukankah aku sudah bilang kalau kamu itu spesial?"

Aku memandang mata biru milik Luccane lamat-lamat. "kalau begitu bisa kau beritahu siapa nama lengkapmu? kau sungguh membuatku merasa penasaran."

Pandangan Luccane turun, menautkan kedua tangannya seperti orang yang hendak berdoa.

"maaf aku tidak bisa memberitahukan hal spesifik itu kepada kamu karena keluargaku memiliki kaitan erat dengan sejarah bangsa ini."

Aku tercenung, menelisik setiap titik dari tubuh Luccane dengan seksama guna mencari celah bagaimana bisa sosok setampan ini tidak diberikan kesempatan untuk melanjutkan hidupnya kala itu.

"lalu kenapa kau memilih untuk menetap di sini?"

"Seperti yang kamu lihat, gaya bangunan rumah ini bergaya kuno sudah pasti rumah ini sudah ada sejak Belanda yang merupakan leluhurku. Dulunya, Ayahku membeli rumah ini untuk Ibuku sebagai hadiah karena kelahiranku sebagai anak laki-laki yang sangat diinginkan oleh Ayah serta keluarga besarnya untuk melanjutkan bisnis keluarga kelak," Luccane mulai bercerita mengenai masa lalunya.

"Ibuku adalah seorang pribumi, 'Nyai' yang dulunya bekerja sebagai pembantu namun sangat dicintai oleh Ayahku. Ayah dan Ibu tidak terikat pernikahan secara sah sebelum aku lahir hingga akhirnya mereka memutuskan menikah secara sah setelah aku lahir."

"Apa ibumu berasal dari kota ini?"

Luccane mengangguk. "ya. ibuku adalah wanita asli Bandung yang terpaksa dijual oleh orang tuanya sendiri kepada Ayahku karena terlilit hutang yang jumlahnya cukup besar."

"Tetapi kehidupan sebagai seorang 'Sinyo' tidaklah semudah kehidupan di zaman sekarang yang terkadang membuatku merasa iri," tambah Luccane dengan sorot mata sendu yang membuatku merasa tak tega untuk membiarkan dia terus menceritakan masa lalunya.

"Kita bisa bahas itu lagi lain kali, Luccane. sekarang aku sudah ngantuk, aku perlu tidur dulu sebelum pergi ke kampus besok siang untuk mengurus berkas perkuliahan."

Luccane tidak menjawab, dia hanya menyunggingkan seulas senyum dengan sorot mata yang terlihat sangat sedih serta terluka yang entah mengapa membuat hatiku merasakan sesuatu yang sangat berbeda.

...****************...

"Oh, jadi lo yang namanya Vishabea Lazuardi? gila sih emang cantik banget pantesan followers Instagram lo sampai tiga puluh lima ribu lebih," seorang gadis berambut ikal dengan hebohnya datang padaku yang baru saja keluar dari ruangan dekan setelah menyerahkan beberapa berkas penting sebagai persyaratan untuk universitas.

Menanggapinya, aku hanya tersenyum kikuk sembari berusaha mengendalikan ekspresi wajahku yang merasa agak risih dengan tingkahnya.

"Kenalin nama gue Carly," katanya sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.

"Hai, lo udah tahu nama gue 'kan?" aku menimpali dengan senyuman tipis, menjabat tangannya sebentar.

Kalau dilihat-lihat wajah Carly itu cukup cantik dengan paras mirip bule membuatnya agak mencolok diantara mahasiswa lainnya.

Tubuhnya juga menjulang tinggi, mungkin nyaris sekitar seratus tujuh puluh sentimeter dengan.

"Gue juga follow Instagram lo, jangan lupa follow back ya," ucap Carly sambil menunjukkan laman Instagram milikku.

"Iya," sahutku sekenanya.

"Kulit lo bagus banget deh, iri gue," mata kecoklatan milik Carly memandang seksama wajahku, makin membuatku merasa risih.

Ya, sebagai gadis keturunan Tionghoa kurasa aku tidak jauh berbeda dengan keturunan etnis Tionghoa lainya dengan kulit putih sebagai ciri khasnya. Namun yang agak berbeda yaitu mataku yang cukup bulat, tak jarang aku kerap dijuluki sebagai Si Mata Boneka oleh teman-temanku.

"Lo ada keturunan bule gitu ya?" aku balik bertanya, mencoba mencari tahu mengingat dia memang akan menjadi salah satu teman sekelasku.

Carly memandangku dengan penuh antusias.

"iya, kakek dari sebelah Papi gue orang Italia. kalau lo gimana? kayaknya Chinese ya?"

Aku mengangguk membenarkan.

"ada keturunan aja sih."

"By the way lo udah punya pacar? katanya kakak tingkat jurusan kita pada cakep-cakep tuh," goda Carly sesaat setelah Kak Eliezer yang merupakan salah satu kakak tingkat populer di jurusan kami melintas.

Pertanyaan Carly entah mengapa malah membuatku teringat pada Luccane dan tanpa sadar malah berujar. "punya, cowok gue blasteran Belanda."

"Wah, gila keren banget sih lo! kapan-kapan kenalin ke gue ya. kalau gitu gue pamit pulang duluan ya, hati-hati lo," tukas Carly sambil bergegas pergi setelah ponselnya berdering.

Pacar blasteran Belanda apanya? punya pacar pun tidak! huh, kenapa aku bisa-bisanya bilang begitu pada Carly? Sepertinya aku harus segera pulang mengingat hari sudah mulai beranjak sore, aku tidak mau melewatkan waktu maghrib di jalan.

Buru-buru aku melenggang menuju parkiran Fakultas Teknik yang letaknya di area paling depan kampus bermaksud untuk segera pulang menggunakan motorku.

"Dek, calon mahasiswa baru ya?"

Kak Eliezer, cowok yang tadi disinggung oleh Carly kini menyapaku lebih dulu setibanya aku di lapangan parkir.

"Eh? iya kenapa, Kak?"

"Salam kenal ya, nama aku Eliezer. nanti kita bakal ketemu lagi pas ospek. nama kamu siapa?"

Kak Eliezer memang nampak menawan dengan rambut sekelam langit malam miliknya yang berkilauan, hidung mancung serta alis tebal yang membingkai wajahnya. Kulitnya berwarna kecoklatan, namun tidak begitu gelap membuatnya juga tak bosan untuk dipandang.

"Panggil aja Visha, Kak. sorry ya nggak bisa ngobrol lama-lama soalnya mau langsung pulang. mari, Kak," tutupku mengakhiri perbincangan.

Setelah mengenakan helm aku langsung tancap gas menuju rumah yang sekali lagi aku syukuri tak jauh dari kampus meski aku mendapati lebih dari empat makhluk astral yang tinggal di sekitaran rumahku.

Tapi ya sudahlah apa boleh buat, Papaku sudah kepalang membayar sewa sampai empat tahun jadi aku hanya bisa berharap kehidupanku kedepannya bisa selalu aman dari gangguan mereka.

Tiba di rumah aku lantas segera membersihkan diri tak lupa langsung melaksanakan ibadah sholat maghrib dengan khusyuk di ruang tengah.

Usai memanjatkan doa kepada sang maha kuasa aku dikagetkan dengan kehadiran Luccane yang memandangku dengan senyuman manis sambil duduk bersila di depanku.

"Hai, bagaimana pacar blasteran Belanda kamu itu? apa dia lebih keren dari pada aku?"

Episodes
1 Bab 1 : Dinginnya Hembusan Napas sang Malam
2 Bab 2 : Dia, Luccane.
3 Bab 3 : Lentera Merah
4 Bab 4 : Perbincangan di Tengah Kelam
5 Bab 5 : Luccane dan Sejuta Misteri
6 Bab 6 : Keseharian Di Rumah
7 Bab 7 : Perjalanan Ajaib
8 Bab 8 : Het Bloeien van Rozen
9 Bab 9 : Paars en Rood
10 Bab 10 : Hari Pertama di Kampus
11 Bab 11 : Cemburu
12 Bab 12 : Meneer Kerkoof
13 Bab 13 : Kebun Bunga Luccane
14 Bab 14 : Indahnya Bintang di Multiverse
15 Bab 15 : Kisah Dibalik Sepotong Kue Kastengel
16 Bab 16 : Benang Merah Pengikat Takdir
17 Bab 17 : Pilar Penyanggah Keluarga
18 Bab 18 : Romansa Dua Dunia
19 Bab 19 : Bukan Sekedar Ancaman
20 Bab 20 : Dimulainya Gangguan
21 Bab 21 : Senandung Pembawa Petaka
22 Bab 22 : Mawar Hitam Yang Layu
23 Bab 23 : Amarah Sang Mawar Hitam
24 Bab 24 : Kekhawatiran Luccane
25 Bab 25 : Air Mata Kepedihan Luccane
26 Bab 26 : Pembalasan Luccane
27 Bab 27 : Langit Bandung yang Kelam
28 Bab 28 : Mencari Alasan
29 Bab 29 : Masa Pemulihan
30 Bab 30 : Regen in Stukjes Hart
31 Bab 31 : Akhir Masa Pemulihan
32 Bab 32 : Misteri Baru
33 Bab 33 : Kesaksian Jansen
34 Bab 34 : Kembali ke Rutinitas
35 Bab 35 : Keraguan Besar
36 Bab 36 : Zwart Gordijn
37 Bab 37 : Tangis sang Mawar Ungu
38 Bab 38 : Semerbak Wangi Cinta
39 Bab 39 : Kehidupan Seorang Sinyo
40 Bab 40 : Berkencan Dalam Dimensi yang Berbeda
41 Bab 41 : Buku Harian
42 Bab 42 : Godaan
43 Bab 43 : Siapa itu Vin?
44 Bab 44 : Kelam?
45 Bab 45 : Kebenaran Tak Terduga
46 Bab 46 : Mengenang Kembali
47 Bab 47 : Paris van Java
48 Bab 48 : Pure Liefde in Parijs van Java
49 Bab 49 : Di Bawah Cakrawala Bandung
50 Bab 50 : Perpisahan Yang Perih
51 Bab 51 : Petunjuk Dari Buku Tua
52 Bab 52 : Darah Dari Masa Kelam
53 Bab 53 : Mula Investigasi
54 Bab 54 : Penuntun Misterius
55 Bab 55 : Sepasang Netra Penghubung Jiwa
56 Bab 56 : Satu Titik Kebenaran
57 Bab 57 : Tersingkapnya Tirai Kebenaran
58 Bab 58 : Keputusan Yang Berat
59 Bab 59 : Membiasakan Diri
60 Bab 60 : Hartverscheurend Liefdesverhaal
Episodes

Updated 60 Episodes

1
Bab 1 : Dinginnya Hembusan Napas sang Malam
2
Bab 2 : Dia, Luccane.
3
Bab 3 : Lentera Merah
4
Bab 4 : Perbincangan di Tengah Kelam
5
Bab 5 : Luccane dan Sejuta Misteri
6
Bab 6 : Keseharian Di Rumah
7
Bab 7 : Perjalanan Ajaib
8
Bab 8 : Het Bloeien van Rozen
9
Bab 9 : Paars en Rood
10
Bab 10 : Hari Pertama di Kampus
11
Bab 11 : Cemburu
12
Bab 12 : Meneer Kerkoof
13
Bab 13 : Kebun Bunga Luccane
14
Bab 14 : Indahnya Bintang di Multiverse
15
Bab 15 : Kisah Dibalik Sepotong Kue Kastengel
16
Bab 16 : Benang Merah Pengikat Takdir
17
Bab 17 : Pilar Penyanggah Keluarga
18
Bab 18 : Romansa Dua Dunia
19
Bab 19 : Bukan Sekedar Ancaman
20
Bab 20 : Dimulainya Gangguan
21
Bab 21 : Senandung Pembawa Petaka
22
Bab 22 : Mawar Hitam Yang Layu
23
Bab 23 : Amarah Sang Mawar Hitam
24
Bab 24 : Kekhawatiran Luccane
25
Bab 25 : Air Mata Kepedihan Luccane
26
Bab 26 : Pembalasan Luccane
27
Bab 27 : Langit Bandung yang Kelam
28
Bab 28 : Mencari Alasan
29
Bab 29 : Masa Pemulihan
30
Bab 30 : Regen in Stukjes Hart
31
Bab 31 : Akhir Masa Pemulihan
32
Bab 32 : Misteri Baru
33
Bab 33 : Kesaksian Jansen
34
Bab 34 : Kembali ke Rutinitas
35
Bab 35 : Keraguan Besar
36
Bab 36 : Zwart Gordijn
37
Bab 37 : Tangis sang Mawar Ungu
38
Bab 38 : Semerbak Wangi Cinta
39
Bab 39 : Kehidupan Seorang Sinyo
40
Bab 40 : Berkencan Dalam Dimensi yang Berbeda
41
Bab 41 : Buku Harian
42
Bab 42 : Godaan
43
Bab 43 : Siapa itu Vin?
44
Bab 44 : Kelam?
45
Bab 45 : Kebenaran Tak Terduga
46
Bab 46 : Mengenang Kembali
47
Bab 47 : Paris van Java
48
Bab 48 : Pure Liefde in Parijs van Java
49
Bab 49 : Di Bawah Cakrawala Bandung
50
Bab 50 : Perpisahan Yang Perih
51
Bab 51 : Petunjuk Dari Buku Tua
52
Bab 52 : Darah Dari Masa Kelam
53
Bab 53 : Mula Investigasi
54
Bab 54 : Penuntun Misterius
55
Bab 55 : Sepasang Netra Penghubung Jiwa
56
Bab 56 : Satu Titik Kebenaran
57
Bab 57 : Tersingkapnya Tirai Kebenaran
58
Bab 58 : Keputusan Yang Berat
59
Bab 59 : Membiasakan Diri
60
Bab 60 : Hartverscheurend Liefdesverhaal

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!