Aku melenguh pelan, berusaha mengumpulkan kesadaran sepenuhnya dengan membuka mata.
Sekujur tubuhku terasa sakit dan berat, sungguh membuatku merasa tersiksa.
Meski berat, aku berhasil membuka mataku dan mendapati diriku tengah berada di ruangan serba putih yang terasa amat asing.
"Sha, lo nggak apa-apa?" Carly bertanya khawatir, di belakangnya sudah ada Dimas yang juga memandangku khawatir.
"Gue kenapa, Car?"
"Lo tadi pingsan di kelas, Sha. Kenapa, lo sakit? Mau pulang aja? biar Dimas aja yang anterin, sumpah muka lo pucat banget," Carly berceloteh khawatir membuatku tersenyum lemah, bersyukur memiliki teman yang sebaik Carly di sini.
"Iya badan gue rasanya nggak karuan banget, Car. Dimas, lo serius nggak apa-apa kalau anterin gue pulang?" aku memandang Carly dan Dimas bergantian.
"Nggak apa-apa, Sha. Mau pulang sekarang? Ayo deh gue anterin," tawar Dimas dengan air muka khawatir.
Dengan hati-hati, Carly membantu aku untuk bangkit dari posisi tiduran di atas bangsal unit kesehatan mahasiswa sementara Dimas pergi ke kelas untuk mengambil tasku.
"Lo kenapa sih bisa jadi begini?" Carly tak henti-henti merasa khawatir.
Aku menggeleng lemah, tak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan Carly.
Aku mana mungkin bilang padanya kalau ini semua terjadi karena aku diganggu oleh makhluk halus bergaun hitam yang tengah memandangku penuh dendam dari sudut ruangan itu.
Wanita muda berwajah Belanda itu terus memandangku dingin, seringaian mengerikan juga terlukis dengan begitu kentara di wajahnya yang amat pucat.
Aku harus segera pulang, menceritakan semuanya pada Luccane dan mencari tahu siapa sebenarnya sosok itu dan apa yang dia inginkan dariku.
"Lo bisa jalan nggak, Sha? Kalau nggak bisa jalan sini gue gendong," Dimas yang sudah datang dengan tasku menyembulkan kepalanya di pintu.
"Nggak usah, Dim. Gue masih bisa jalan sendiri kok. Makasih ya kalian berdua udah perhatian banget sama gue," ucapku berterima kasih.
Dimas menggamit tanganku. "udah sepatutnya sebagai teman kita saling bantu. Teman-teman sekelas yang lain juga khawatir banget sama lo, yaudah yuk buruan gue anterin lo pulang biar bisa langsung istirahat.
Aku tidak mau membantah ucapan Dimas, mengikuti langkahnya mengitari koridor utama universitas menuju lapangan parkir di depan Fakultas Teknik.
Hanya Luccane satu-satunya yang bisa aku andalkan untuk menyelesaikan permasalah ini, kuharap tidak akan terjadi sesuatu yang buruk kepadaku setelah ini.
...****************...
"Luccane! Luccane!" panggilku lemah berusaha menemukan keberadaan Luccane setibanya di rumahku.
"Ada apa, sayang? Kenapa kamu pucat begitu? Bukankah ini masih jam kuliah? Tapi kenapa kamu malah sudah pulang?"
Rentetan pertanyaan Luccane membuatku makin sebal. Aku mendudukkan diri di atas sofa, sementara ia memilih untuk duduk bersila di depanku.
"Apa kau tahu bahwa aku sedang diganggu oleh seorang gadis Belanda bergaun hitam?" tanyaku ketus setelah Luccane memusatkan atensinya padaku.
Luccane mengernyitkan dahi. "gadis Belanda bergaun hitam? Apa yang dia lakukan padamu?"
"Dia terus mengganggu dan mengikuti kemana pun aku pergi, Luccane. Dia memandangku penuh dendam seolah ingin membunuhku!"
Sepasang obsidian biru milik Luccane nampak menerawang jauh, sepertinya sedang menelusuri jejak masa lalunya dengan sosok yang aku maksud.
"Jolanda... sepertinya dia yang kamu maksud. Dia seperti itu karena dulu tergila-gila padaku," balas Luccane setelah hening beberapa saat.
"Memangnya apa salahku sampai dia berniat mencelakakan aku seperti ini? Aku tidak pernah mengusik dirinya sama sekali, Luccane..." lirihku frustasi.
Bagaimana tidak? Dia sudah mengganggu ketenangan hidupku selama lebih dari satu pekan!
Dia hanya tidak muncul saat Luccane sedang ada di dekatku bagaimana aku bisa tenang?!
"Kamu sama sekali tidak melakukan kesalahan, sepertinya dia begitu karena merasa cemburu setelah mengetahui kamu menjalin kasih denganku. Aku akan berusaha menyelesaikannya segera kamu tidak perlu khawatir, tetaplah berdoa dan beribadah karena Tuhan pasti akan selalu melindungi kamu," papar Luccane sambil mendekap tubuhku berusaha membuatku merasa tenang.
"Kalau begitu bisa kau ceritakan siapa sebenarnya Jolanda itu?" aku memberanikan diri untuk bertanya.
Siapa tahu dengan begitu aku bisa mencari kelemahan sosok itu. Aku harus mengumpulkan informasi sebanyak mungkin tentang dirinya bagaimana pun caranya.
"Jolanda Van Kessel adalah putri semata wayang dari seorang pengusaha sukses yang menjadi rekan bisnis Papa di masa lalu," tutur Luccane memulai ceritanya.
"Usia Jolanda itu satu tahun lebih muda dariku, dan kami juga bersekolah di sekolah yang sama. Dia sering mengirimkan surat cinta untukku tapi aku sama sekali tidak memiliki perasaan yang romantis padanya jadi aku sama sekali tidak mau membalas suratnya. Tapi di dunia ini tidak semua hal bisa berjalan sesuai keinginan kita bukan? Dia yang sangat menyukai aku rela melakukan segala cara untuk tetap dekat denganku bahkan Papanya mengatakan hal itu kepada Papaku," Luccane berkisah mengenang Jolanda.
"Lalu apa Papamu juga menyetujui hal itu?"
Luccane menggeleng. "tidak. Papa tidak setuju untuk menjodohkan aku dengan Jolanda dengan dalih aku harus melanjutkan pendidikan ke Netherland. padahal sebetulnya Papa tahu tabiat keluarga Van Kessel yang kejam tanpa pandang bulu tetapi beliau mencoba mencari jalan untuk menolak secara halus tawaran perjodohan itu."
Aku memijat pelipis, pening mendengar kisah orang kaya Belanda yang ternyata membuat mereka kesulitan bahkan setelah kematian mereka.
Walau begitu aku setuju dengan keputusan dari Papa Luccane yang lebih mementingkan keselamatan anaknya ketimbang kemajuan bisnisnya.
"Lalu apa yang terjadi? Kenapa Jolanda mati penasaran seperti itu?"
"Setelah tahu bahwa Papaku tidak menyetujui untuk melakukan perjodohan, Jolanda sangat marah sekaligus kecewa. Dia pergi ke paviliun belakang rumahnya dengan seutas tali dan tanpa pikir panjang langsung menggantung dirinya hingga tewas tanpa sepengetahuan siapa pun. Jasad Jolanda baru ditemukan tiga hari setelahnya," Papar Luccane dengan wajah sedih.
"Padahal aku menganggap Jolanda sebagai sahabat yang baik, aku jadi tak habis pikir kenap dia malah mengakhiri hidupnya secara sia-sia seperti itu," imbuh Luccane setelah menyelesaikan kisahnya.
Aku pun tak habis pikir kenapa sejak dulu orang-orang kerap kali mengakhiri hidup mereka yang berharga seperti itu?
"Mungkin dia memang sangat menyukaimu sampai-sampai enggan untuk berkencan dengan lelaki lain," ucapku mencoba menerka isi hati Jolanda kala itu.
Luccane tersenyum miris. "bagiku nyawa adalah hal yang paling berharga di dunia ini, aku saja sampai menyesal kenapa bisa mati muda tanpa sempat menjadi anak kebanggaan orang tuaku dan suami yang baik untuk istriku."
"Ya, karena seharusnya kau menikah denganku, Luccane! Bukan malah menjalin kasih dengan manusia seperti dia!"
Sebuah teriakan memekakkan telinga menguar begitu saja membuatku terlonjak kaget.
Tiba-tiba sosok Jolanda sudah memandangku penuh dendam dari ambang pintu gudang yang menghadap langsung ke ruang tamu tempat aku dan Luccane duduk berhadapan.
"Cepat atau lambat, kau harus mati di tanganku, Vishabea! Jika aku tidak bisa memiliki Luccane maka jangan pernah bermimpi untuk terus bersamanya, manusia rendahan!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments