Bab 20 : Dimulainya Gangguan

Aku melenguh pelan, berusaha mengumpulkan kesadaran sepenuhnya dengan membuka mata.

Sekujur tubuhku terasa sakit dan berat, sungguh membuatku merasa tersiksa.

Meski berat, aku berhasil membuka mataku dan mendapati diriku tengah berada di ruangan serba putih yang terasa amat asing.

"Sha, lo nggak apa-apa?" Carly bertanya khawatir, di belakangnya sudah ada Dimas yang juga memandangku khawatir.

"Gue kenapa, Car?"

"Lo tadi pingsan di kelas, Sha. Kenapa, lo sakit? Mau pulang aja? biar Dimas aja yang anterin, sumpah muka lo pucat banget," Carly berceloteh khawatir membuatku tersenyum lemah, bersyukur memiliki teman yang sebaik Carly di sini.

"Iya badan gue rasanya nggak karuan banget, Car. Dimas, lo serius nggak apa-apa kalau anterin gue pulang?" aku memandang Carly dan Dimas bergantian.

"Nggak apa-apa, Sha. Mau pulang sekarang? Ayo deh gue anterin," tawar Dimas dengan air muka khawatir.

Dengan hati-hati, Carly membantu aku untuk bangkit dari posisi tiduran di atas bangsal unit kesehatan mahasiswa sementara Dimas pergi ke kelas untuk mengambil tasku.

"Lo kenapa sih bisa jadi begini?" Carly tak henti-henti merasa khawatir.

Aku menggeleng lemah, tak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan Carly.

Aku mana mungkin bilang padanya kalau ini semua terjadi karena aku diganggu oleh makhluk halus bergaun hitam yang tengah memandangku penuh dendam dari sudut ruangan itu.

Wanita muda berwajah Belanda itu terus memandangku dingin, seringaian mengerikan juga terlukis dengan begitu kentara di wajahnya yang amat pucat.

Aku harus segera pulang, menceritakan semuanya pada Luccane dan mencari tahu siapa sebenarnya sosok itu dan apa yang dia inginkan dariku.

"Lo bisa jalan nggak, Sha? Kalau nggak bisa jalan sini gue gendong," Dimas yang sudah datang dengan tasku menyembulkan kepalanya di pintu.

"Nggak usah, Dim. Gue masih bisa jalan sendiri kok. Makasih ya kalian berdua udah perhatian banget sama gue," ucapku berterima kasih.

Dimas menggamit tanganku. "udah sepatutnya sebagai teman kita saling bantu. Teman-teman sekelas yang lain juga khawatir banget sama lo, yaudah yuk buruan gue anterin lo pulang biar bisa langsung istirahat.

Aku tidak mau membantah ucapan Dimas, mengikuti langkahnya mengitari koridor utama universitas menuju lapangan parkir di depan Fakultas Teknik.

Hanya Luccane satu-satunya yang bisa aku andalkan untuk menyelesaikan permasalah ini, kuharap tidak akan terjadi sesuatu yang buruk kepadaku setelah ini.

...****************...

"Luccane! Luccane!" panggilku lemah berusaha menemukan keberadaan Luccane setibanya di rumahku.

"Ada apa, sayang? Kenapa kamu pucat begitu? Bukankah ini masih jam kuliah? Tapi kenapa kamu malah sudah pulang?"

Rentetan pertanyaan Luccane membuatku makin sebal. Aku mendudukkan diri di atas sofa, sementara ia memilih untuk duduk bersila di depanku.

"Apa kau tahu bahwa aku sedang diganggu oleh seorang gadis Belanda bergaun hitam?" tanyaku ketus setelah Luccane memusatkan atensinya padaku.

Luccane mengernyitkan dahi. "gadis Belanda bergaun hitam? Apa yang dia lakukan padamu?"

"Dia terus mengganggu dan mengikuti kemana pun aku pergi, Luccane. Dia memandangku penuh dendam seolah ingin membunuhku!"

Sepasang obsidian biru milik Luccane nampak menerawang jauh, sepertinya sedang menelusuri jejak masa lalunya dengan sosok yang aku maksud.

"Jolanda... sepertinya dia yang kamu maksud. Dia seperti itu karena dulu tergila-gila padaku," balas Luccane setelah hening beberapa saat.

"Memangnya apa salahku sampai dia berniat mencelakakan aku seperti ini? Aku tidak pernah mengusik dirinya sama sekali, Luccane..." lirihku frustasi.

Bagaimana tidak? Dia sudah mengganggu ketenangan hidupku selama lebih dari satu pekan!

Dia hanya tidak muncul saat Luccane sedang ada di dekatku bagaimana aku bisa tenang?!

"Kamu sama sekali tidak melakukan kesalahan, sepertinya dia begitu karena merasa cemburu setelah mengetahui kamu menjalin kasih denganku. Aku akan berusaha menyelesaikannya segera kamu tidak perlu khawatir, tetaplah berdoa dan beribadah karena Tuhan pasti akan selalu melindungi kamu," papar Luccane sambil mendekap tubuhku berusaha membuatku merasa tenang.

"Kalau begitu bisa kau ceritakan siapa sebenarnya Jolanda itu?" aku memberanikan diri untuk bertanya.

Siapa tahu dengan begitu aku bisa mencari kelemahan sosok itu. Aku harus mengumpulkan informasi sebanyak mungkin tentang dirinya bagaimana pun caranya.

"Jolanda Van Kessel adalah putri semata wayang dari seorang pengusaha sukses yang menjadi rekan bisnis Papa di masa lalu," tutur Luccane memulai ceritanya.

"Usia Jolanda itu satu tahun lebih muda dariku, dan kami juga bersekolah di sekolah yang sama. Dia sering mengirimkan surat cinta untukku tapi aku sama sekali tidak memiliki perasaan yang romantis padanya jadi aku sama sekali tidak mau membalas suratnya. Tapi di dunia ini tidak semua hal bisa berjalan sesuai keinginan kita bukan? Dia yang sangat menyukai aku rela melakukan segala cara untuk tetap dekat denganku bahkan Papanya mengatakan hal itu kepada Papaku," Luccane berkisah mengenang Jolanda.

"Lalu apa Papamu juga menyetujui hal itu?"

Luccane menggeleng. "tidak. Papa tidak setuju untuk menjodohkan aku dengan Jolanda dengan dalih aku harus melanjutkan pendidikan ke Netherland. padahal sebetulnya Papa tahu tabiat keluarga Van Kessel yang kejam tanpa pandang bulu tetapi beliau mencoba mencari jalan untuk menolak secara halus tawaran perjodohan itu."

Aku memijat pelipis, pening mendengar kisah orang kaya Belanda yang ternyata membuat mereka kesulitan bahkan setelah kematian mereka.

Walau begitu aku setuju dengan keputusan dari Papa Luccane yang lebih mementingkan keselamatan anaknya ketimbang kemajuan bisnisnya.

"Lalu apa yang terjadi? Kenapa Jolanda mati penasaran seperti itu?"

"Setelah tahu bahwa Papaku tidak menyetujui untuk melakukan perjodohan, Jolanda sangat marah sekaligus kecewa. Dia pergi ke paviliun belakang rumahnya dengan seutas tali dan tanpa pikir panjang langsung menggantung dirinya hingga tewas tanpa sepengetahuan siapa pun. Jasad Jolanda baru ditemukan tiga hari setelahnya," Papar Luccane dengan wajah sedih.

"Padahal aku menganggap Jolanda sebagai sahabat yang baik, aku jadi tak habis pikir kenap dia malah mengakhiri hidupnya secara sia-sia seperti itu," imbuh Luccane setelah menyelesaikan kisahnya.

Aku pun tak habis pikir kenapa sejak dulu orang-orang kerap kali mengakhiri hidup mereka yang berharga seperti itu?

"Mungkin dia memang sangat menyukaimu sampai-sampai enggan untuk berkencan dengan lelaki lain," ucapku mencoba menerka isi hati Jolanda kala itu.

Luccane tersenyum miris. "bagiku nyawa adalah hal yang paling berharga di dunia ini, aku saja sampai menyesal kenapa bisa mati muda tanpa sempat menjadi anak kebanggaan orang tuaku dan suami yang baik untuk istriku."

"Ya, karena seharusnya kau menikah denganku, Luccane! Bukan malah menjalin kasih dengan manusia seperti dia!"

Sebuah teriakan memekakkan telinga menguar begitu saja membuatku terlonjak kaget.

Tiba-tiba sosok Jolanda sudah memandangku penuh dendam dari ambang pintu gudang yang menghadap langsung ke ruang tamu tempat aku dan Luccane duduk berhadapan.

"Cepat atau lambat, kau harus mati di tanganku, Vishabea! Jika aku tidak bisa memiliki Luccane maka jangan pernah bermimpi untuk terus bersamanya, manusia rendahan!"

Episodes
1 Bab 1 : Dinginnya Hembusan Napas sang Malam
2 Bab 2 : Dia, Luccane.
3 Bab 3 : Lentera Merah
4 Bab 4 : Perbincangan di Tengah Kelam
5 Bab 5 : Luccane dan Sejuta Misteri
6 Bab 6 : Keseharian Di Rumah
7 Bab 7 : Perjalanan Ajaib
8 Bab 8 : Het Bloeien van Rozen
9 Bab 9 : Paars en Rood
10 Bab 10 : Hari Pertama di Kampus
11 Bab 11 : Cemburu
12 Bab 12 : Meneer Kerkoof
13 Bab 13 : Kebun Bunga Luccane
14 Bab 14 : Indahnya Bintang di Multiverse
15 Bab 15 : Kisah Dibalik Sepotong Kue Kastengel
16 Bab 16 : Benang Merah Pengikat Takdir
17 Bab 17 : Pilar Penyanggah Keluarga
18 Bab 18 : Romansa Dua Dunia
19 Bab 19 : Bukan Sekedar Ancaman
20 Bab 20 : Dimulainya Gangguan
21 Bab 21 : Senandung Pembawa Petaka
22 Bab 22 : Mawar Hitam Yang Layu
23 Bab 23 : Amarah Sang Mawar Hitam
24 Bab 24 : Kekhawatiran Luccane
25 Bab 25 : Air Mata Kepedihan Luccane
26 Bab 26 : Pembalasan Luccane
27 Bab 27 : Langit Bandung yang Kelam
28 Bab 28 : Mencari Alasan
29 Bab 29 : Masa Pemulihan
30 Bab 30 : Regen in Stukjes Hart
31 Bab 31 : Akhir Masa Pemulihan
32 Bab 32 : Misteri Baru
33 Bab 33 : Kesaksian Jansen
34 Bab 34 : Kembali ke Rutinitas
35 Bab 35 : Keraguan Besar
36 Bab 36 : Zwart Gordijn
37 Bab 37 : Tangis sang Mawar Ungu
38 Bab 38 : Semerbak Wangi Cinta
39 Bab 39 : Kehidupan Seorang Sinyo
40 Bab 40 : Berkencan Dalam Dimensi yang Berbeda
41 Bab 41 : Buku Harian
42 Bab 42 : Godaan
43 Bab 43 : Siapa itu Vin?
44 Bab 44 : Kelam?
45 Bab 45 : Kebenaran Tak Terduga
46 Bab 46 : Mengenang Kembali
47 Bab 47 : Paris van Java
48 Bab 48 : Pure Liefde in Parijs van Java
49 Bab 49 : Di Bawah Cakrawala Bandung
50 Bab 50 : Perpisahan Yang Perih
51 Bab 51 : Petunjuk Dari Buku Tua
52 Bab 52 : Darah Dari Masa Kelam
53 Bab 53 : Mula Investigasi
54 Bab 54 : Penuntun Misterius
55 Bab 55 : Sepasang Netra Penghubung Jiwa
56 Bab 56 : Satu Titik Kebenaran
57 Bab 57 : Tersingkapnya Tirai Kebenaran
58 Bab 58 : Keputusan Yang Berat
59 Bab 59 : Membiasakan Diri
60 Bab 60 : Hartverscheurend Liefdesverhaal
Episodes

Updated 60 Episodes

1
Bab 1 : Dinginnya Hembusan Napas sang Malam
2
Bab 2 : Dia, Luccane.
3
Bab 3 : Lentera Merah
4
Bab 4 : Perbincangan di Tengah Kelam
5
Bab 5 : Luccane dan Sejuta Misteri
6
Bab 6 : Keseharian Di Rumah
7
Bab 7 : Perjalanan Ajaib
8
Bab 8 : Het Bloeien van Rozen
9
Bab 9 : Paars en Rood
10
Bab 10 : Hari Pertama di Kampus
11
Bab 11 : Cemburu
12
Bab 12 : Meneer Kerkoof
13
Bab 13 : Kebun Bunga Luccane
14
Bab 14 : Indahnya Bintang di Multiverse
15
Bab 15 : Kisah Dibalik Sepotong Kue Kastengel
16
Bab 16 : Benang Merah Pengikat Takdir
17
Bab 17 : Pilar Penyanggah Keluarga
18
Bab 18 : Romansa Dua Dunia
19
Bab 19 : Bukan Sekedar Ancaman
20
Bab 20 : Dimulainya Gangguan
21
Bab 21 : Senandung Pembawa Petaka
22
Bab 22 : Mawar Hitam Yang Layu
23
Bab 23 : Amarah Sang Mawar Hitam
24
Bab 24 : Kekhawatiran Luccane
25
Bab 25 : Air Mata Kepedihan Luccane
26
Bab 26 : Pembalasan Luccane
27
Bab 27 : Langit Bandung yang Kelam
28
Bab 28 : Mencari Alasan
29
Bab 29 : Masa Pemulihan
30
Bab 30 : Regen in Stukjes Hart
31
Bab 31 : Akhir Masa Pemulihan
32
Bab 32 : Misteri Baru
33
Bab 33 : Kesaksian Jansen
34
Bab 34 : Kembali ke Rutinitas
35
Bab 35 : Keraguan Besar
36
Bab 36 : Zwart Gordijn
37
Bab 37 : Tangis sang Mawar Ungu
38
Bab 38 : Semerbak Wangi Cinta
39
Bab 39 : Kehidupan Seorang Sinyo
40
Bab 40 : Berkencan Dalam Dimensi yang Berbeda
41
Bab 41 : Buku Harian
42
Bab 42 : Godaan
43
Bab 43 : Siapa itu Vin?
44
Bab 44 : Kelam?
45
Bab 45 : Kebenaran Tak Terduga
46
Bab 46 : Mengenang Kembali
47
Bab 47 : Paris van Java
48
Bab 48 : Pure Liefde in Parijs van Java
49
Bab 49 : Di Bawah Cakrawala Bandung
50
Bab 50 : Perpisahan Yang Perih
51
Bab 51 : Petunjuk Dari Buku Tua
52
Bab 52 : Darah Dari Masa Kelam
53
Bab 53 : Mula Investigasi
54
Bab 54 : Penuntun Misterius
55
Bab 55 : Sepasang Netra Penghubung Jiwa
56
Bab 56 : Satu Titik Kebenaran
57
Bab 57 : Tersingkapnya Tirai Kebenaran
58
Bab 58 : Keputusan Yang Berat
59
Bab 59 : Membiasakan Diri
60
Bab 60 : Hartverscheurend Liefdesverhaal

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!