Alhasil Nara pulang memakai baju, dan celana milik teh Ayu, lalu jaket milik Rama. Sementara pakaiannya, ia bungkus ke dalam kantong kresek karena basah.
Rama tertawa melihat tangan Nara yang tenggelam di dalam swetter hoddie miliknya, begitupun ukuran badannya yang lebih kecil dari swetter Rama, membuatnya mirip orang-orangan sawah.
"Abah kamu lucu," Nara masih cengengesan hingga keluar dari rumah.
Rama mengernyit tak percaya, "hah! Masa? Jadi menurut kamu, yang kumisan terus rambutnya penuh sama uban gitu lucu?" tanya Rama dengan senyuman usilnya.
Nara merengut, "ih! Bukan, maksudku sifat nya! Humoris," jawab Nara, karena kesal ia mencubit pinggang Rama, pemuda itu bukannya marah, ia malah tertawa.
Udara sore sehabis hujan menambah hawa dingin di kota ini. Refleks, Nara merapatkan duduknya demi mencari kehangatan.
"Dingin ya?" tanya Rama. Merasa duduknya terlalu riskan, gadis itu sedikit mundur, "eh--sorry, sorry!" Nara menunduk malu ketauan merapat, jangan sampai Rama menilainya gadis ganjen.
Rama menyunggingkan senyumnya, dengan sengaja ia malah menarik tangan Nara dan memasukkannya ke dalam saku jaket yang ia pakai, agar tangan Nara terbungkus saku jaketnya. Gaya tarikan yang tak diberi aba-aba itu sontak membuat Nara tersentak maju ke depan hingga dirinya lebih dekat. Bahkan aroma tubuh Rama dapat ia rasakan begitu memenuhi penciumannya, pemuda ini, wangi!
Terjadi moment saling diam diantara mereka, padahal sebelumnya kedua insan ini saling bercanda. Hanya suara deru mesin motor dan suasana jalanan yang bergema keras. Hingga perjalanan mereka harus berakhir di depan gerbang rumah Nara, seolah sedang menyelami pikiran masing-masing Nara dan Rama sedikit lama tersadar jika keduanya sudah sampai di depan pagar rumah.
Nara berdehem tersadar, dengan segera ia menarik kedua tangannya dari saku Rama," aku cuci dulu ya jaketnya," ucap Nara turun dari motor, ia jadi salah tingkah, apa yang harus ia lakukan terlebih dahulu---masuk ke dalam area halaman dulu atau berterima kasih dulu, ck!
"Jangan, biarin aja. Biar bau aroma parfum kamu, biar nanti pas aku tidur melukin jaket itu, aku lagi berasa meluk kamu," jawabnya terkekeh mulai kembali ke mode gombalnya.
Nara membalasnya dengan tawa serenyah cookies coklat. Ngomong-ngomong, sejak kapan ia mau ketawa-ketiwi kamvrett sama Rama?
"Karena sekarang kita belum sah, belum halal, jadi ngga apa-apa parfum nya aja dulu. Next time orangnya yang aku kekepin seharian," ujarnya.
"Ih pede, emangnya kita bakalan jodoh?!" tanya Nara melengkungkan bibirnya angkuh.
"Insyaallah, Allah pasti mengijinkan!" jawabnya memaksakan.
"Soalnya kalau nanti kamu nolak aku, rumah kamu pasti di demo sama pedagang-pedagang dari pasar," jelas Rama mengancam, sontak saja gadis ini menaikkan alisnya, "kenapa?"
"Mereka demo sambil bawa spanduk, Sama papan! Tulisannya---"
"Turunkan harga diri! Eh salah--- terima Rama! Dia anak baik, cowo kaya dia tuh satu banding seribu di dunia! " gaya bicaranya di mirip-miripkan dengan cara bicara ibu-ibu kalo lagi demo.
"Masa sampe kaya gitu? Ngga mungkin!" galaknya pada Rama, tapi gadis itu sudah tersenyum geli.
Rama ikut tertawa renyah, "ya udah masuk gih! Sebelum aku berubah pikiran buat nyulik kamu, terus bawa kamu ke KUA!" ancamnya berkelakar.
"Uhhhh---takut!" balas Nara tertawa, gadis itu membalikkan badannya melangkah menuju pintu rumah.
Di luar ekspektasi, gadis itu melambaikan tangannya, "bye!"
Tentu saja Rama tak menyia-nyiakan moment langka se-langka bunga raflesia. Ia membalasnya lalu ia menghidupkan mesin motor dan pergi.
Nara membuka pintu dengan senyuman yang tak pernah luntur meskipun udah keujanan.
"Ekhem! Ohokk!" dari balik pintu, si abang tembok Berlin ternyata sudah menunggu seraya melipat kedua tangannya di dada, memandang Nara penuh analisa.
"Kenapa, loe batuk bang? Apa tenggorokan loe gatel ?" tanya Nara polos.
"Darimana aja barusan sama Rama?" tanya nya seperti biasa, namun tatapan matanya itu loh! Mirip mak emak julid.
"Nara makan bakso dulu terus keujanan, jadinya neduh dulu dirumah Rama, nih! Baju aja pake punya kakaknya Rama," jawab Nara menunjukkan baju yang dipakainya, lalu duduk di sofa tengah dimana mama sedang duduk sambil menonton.
"Eh, baru pulang," sambut mama.
"Iya mah tadi neduh dulu di rumah Rama," jawabnya lagi untuk kedua kalinya.
"Oh--abah haji?" tanya nya memastikan.
Nara mengangguk setuju, "katanya nitip salam buat mama sama papa."
"Wa'alaikumsalam," jawab papa.
"Papa jadi penasaran, sama abah haji. Kapan-kapan deh papah nemuin abah haji sekalian ngobrolin kerja sama," ucap papa ikut bergabung.
"Eh swetter siapa tuh yang loe pake?" tanya Akhsan menyipitkan matanya.
"Ck, dibilangin punya Rama, tadi kan Nara udah bilang keujanan, jadinya pake baju punya kakaknya Rama, nah ini swetter punya Rama," jelas Nara panjang lebar sedikit ngegas, agar si tembok Berlin posesif ini tak lagi bertanya.
"Ngga tau malu pake baju orang," omelnya.
"Biarin! Yang punya-nya aja ikhlas kok. Udah ah! Nara ke kamar dulu," gadis itu beranjak meninggalkan ruang tengah menuju kamar.
Ia menutup pintunya dan menjatuhkan tubuhnya begitu saja di atas ranjang, sesekali ia tertawa sendiri mirip orang gila mengingat moment-moment lucu tadi, "udah gila kali ya gue jadi inget terus cowo nyebelin itu!" gumamnya bermonolog, seolah di atap plafon kamarnya saat ini adalah wajah Rama, sebesar itu bayangannya di mata Nara. Ia yang masih memakai sweeter Rama kemudian menyesapi aromanya dan memeluk dirinya sendiri.
Gadis itu gemas sendiri dan menenggelamkan wajahnya ke dalam bantal sambil memekik tertahan, "ahhh! Gila!" teriaknya teredam bantal.
Malam mulai menunjukkan eksistensinya, Nara sudah mengganti pakaiannya dengan piyama, dan kini gadis itu masih duduk di meja belajarnya ditemani pijar dari lampu belajar. Bersama bolpoint di tangan yang sesekali ia gigit ujungnya demi merasa pusing memikirkan jawaban dari soal-soal yang tercatat di buku catatan.
Drtt..
Drtt...
Getaran ponsel terasa sampai menggetarkan meja. Matanya melirik malas ke arah layar ponsel, terlihat notif dari Willy cs disana, mulutnya berdecih malas, ia memilih tak mengindahkannya.
Getaran berikutnya adalah sebuah panggilan, alisnya terangkat melihat nama yang tertera disana, "Rama?"
Nara menggeser tombol hijau ke tengah.
"Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumsalam," jawab Nara.
"Kamu udah solat isya?" tanya nya dari ujung telfon.
"Udah,"
"Udah makan?" tanya nya lagi
"Udah,"
"Aku tebak sekarang kamu pasti lagi nyiumin swetter aku," tembaknya membuat seketika bibir Nara melengkung demi tersenyum geli, ia bahkan sudah menggigiti gemas bolpointnya sampai berbekas penyok.
"Ih geer!" jawab Nara, padahal hatinya sudah kelojotan ingin membenarkan ucapan Rama.
"Geer itu hanya untuk orang yang percaya dirinya berlebihan," balasnya.
"Terus?" tanya Nara.
"Ya sekarang percaya diriku sedang berlebihan," jawabnya membuat Nara tertawa renyah, ia bahkan sudah menggeser kursi dan berdiri, melangkah menuju jendela demi memandang langit malam di balik jendela kamar, ia tersenyum padahal langit malam ngga indah-indah banget.
"Kalau gitu langsung bobo ya, mau aku nina boboin?"
"Ih, emangnya aku anak kecil!" jawab Nara sewot namun senangnya bukan main.
"Ini udah malem cepet bobo, aku nyanyiin!" perintah Rama.
"Nara bobo oh---Nara Bobo kalau tidak bobo digigit Rama."
"Dih! Kok Rama?"
"Iya kalo nyamuk, nyamuk nya keenakan maen gigit kamu, aku juga pengen!"
"Ya udah. Malem sayang. Semoga mimpiin aku ya, jangan mimpiin abah."
"ha-ha-ha! Emangnya kenapa kalo Abah?"
"Kalo Abah nanti Ambu marah, kalo aku ngga akan ada yang marah!"
"Masa?!" tanya Nara tak percaya, pemuda penggombal seperti Rama pasti banyak pacarnya.
"Mimpiin abah ah!" goda Nara.
"Ya udah silahkan aja, tapi jangan nyesel kalo nanti ambu datang ke rumah terus getok kamu pake centong!" jawab Rama membuat Nara cekikikan.
"Ya udah sana tidur, aku tutup telfonnya ya, assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumsalam,"
Hoammmzz! Mendadak rasa kantuk menyerangnya, setelah menutup panggilan dari Rama, Nara langsung merangkak ke atas tempat tidur, tak lupa membereskan peralatan sekolahnya.
"Malam Rama," gumamnya memejamkan mata.
🌟 Di tempat yang berbeda
Dibawah sinar rembulan yang ngga terang-terang amat, hanya beralaskan tikar sambil duduk gaya lesehan di dalam rumah pohon dari bambu, para pemuda sedang nongkrong sambil menghibur diri.
"Di malam yang dingin dan gelap sunyi, pernahku melayang pada kisah cinta terlalu manis untuk dilupakan---" beberapa anak bernyanyi ria meskipun suaranya macam kaleng yang dipukul secara sembarang, ngga berirama.
"Ram! Sini atuh jangan ngelamun sendiri sambil cengengesan sendiri nanti dikira gila!" ajak Bayu.
"Kamu ngga gila kan Ram?" tanya Ridwan yang bangkit dari posisi berbaring nya menyentuh kening Rama, memastikan pemuda ini masih sehat atau sudah gila.
"Apa hubungannya gila sama suhu badan?" tanya Rama menepiskan tangan Ridwan, Rama belum sempat pulang, bajunya saja maaih memakai koko dan sarungan.
"Papa-nya MIPA 3 memang udah gila, tapi gilanya sama cewek!" ucap Gilang mencibir.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Elizabeth Zulfa
setiap candaan & gombalan recehnya kluar a pasti jdi ikutan ketiwi2 😁😁😁
2024-11-17
0
Dia Amalia
auto buncin nnti nara sama rama😂🤣😂🤣
2023-10-31
2
Ney 🐌
gila krn nara🤭🤭
2023-09-22
1