Rama memajukan kepalanya hingga sejajar dengan Nara, "Kalau memang sudah jodoh, ga akan kemana. Allah itu selalu nunjukin jalannya buat kita," ucap Rama berbisik, membuat tawa dan senyuman Nara luntur seketika kaya celana jeans yang kelamaan direndem.
"Eeeaa ! Pepet terus jangan kasih kendor," ucap Gilang menimpali.
"Lama-lama juga luluh," tambah Ridwan dan Bayu.
"Beuhh, usahanya wedan-edanan gitu, Ram!" timpal Rifal.
Sementara Nara yang wajahnya sudah memerah, hanya diam seribu bahasa dengan bibir yang dimanyunkan dan raut wajah tertekuk.
"He-he-he, sabar ya Ra!" Mita menoleh.
"Tapi menurut ku, kamu cocok sama Rama kok. Dia orangnya baik, ngga seperti yang terlihat, kamu hanya belum mengenalnya," lanjutnya.
"Apaan sih Mita ! Ko malah jadi main cocok-cocok aja, kamu ikut kubunya dia nih, dikasih apa ?!" jawab Nara ketus, ia sudah benar-benar malu.
"Peace Ra !" Mita nyengir dan membetulkan letak kacamatanya.
Vina keluar dari bangkunya, "Hay Nara--beluk sempet kenalan. Gue Vina!" gadis itu mengulurkan tangannya menggeser tempat duduk Rama dengan seenaknya.
"Vin, naon atuh, main geser-geser aja! Bukan mahrom," ujar Rama.
"Bentar atuh Ram, ikut dulu mau kenalan sama Nara," Vina nyengir.
"Jangan mau Ra, kenalan sama emaknya nenek sihir!" Gilang sudsh menjitak kepala Vina melewati kepala Rama.
"Ihhh!" geram Vina mengepalkan tangannya pada Gilang dan melotot.
"Weyy--weyyy!" Rama yang berada di tengah berdiri.
"Sayang jangan cemburu ya, Vina sama Gilang kok!" ucapnya membuat Nara mengangkat kedua alisnya.
"Naon sih?! Amit!"
"Amit-amit!"
Rika yang menyusul sampai tersandung kaki Bayu, "ihhh Abay! Kaki kamu! Meni ngalangin jalan! Injek nih!" omelnya.
"Sorry-sorry!" tawa Bayu.
"Aku Rika," gadis lainnya mengulurkan tangan untuk berkenalan.
Nara menyambutnya dengan senyuman.
"Nara berarti hari minggu pagi kita ke pasar ya," ujar Vina.
"Iya," jawab Nara.
"Biar masalah pasar mah jadi urusan kita, gampang lah !" kata Gilang.
"Taulah yang kuli pasar!" jawab Rika.
"Nanti kamu, aku jemput," tukas Rama.
"Ngga usah!" Nara menggeleng, "nanti aku bareng Vina sama Rika aja." tolaknya.
"Oke." Angguk Rama pasti.
"Tumben banget, dia ga ada alibi buat ga setuju. Biasanya dia suka maksa," Nara menggidikkan bahunya acuh, lebih pada bersyukur.
Bel istirahat sudah berbunyi ke dua kalinya,
Nara cepat-cepat merapikan buku dan alat tulisnya, ia segera beranjak dari bangku, Rama yang melihat itu semua segera menahan tangan Nara, "kamu mau kemana ?" tanya Rama hingga langkah Nara terhenti.
"Mau kemana pun bukan urusanmu!" sengitnya jutek.
"Sekarang jadi urusanku," jawabnya semprul, sontak saja Nara menautkan alisnya.
Sejak kapan urusannya jadi urusan pemuda satu ini, jangan mentang-mentang karena teman sekelas dan satu kelompok, ia jadi bisa seenaknya berbuat, "minggir !" usirnya.
"Aku mau ke kantin !" teriak Nara jengkel, sudah 2 minggu ia diam baru kali ini berani meneriaki pemuda di depannya yang menurut Nara senang bertindak sesuka hati.
"Mundur atau gue gigit tangan loe?!" ancamnya.
Ia menyeringai, "gigit aja, siapa tau jadi vampire!" ia malah tertawa.
"Ihh rese!"
"Ram!" Gilang berlari membuat perhatian Rama teralihkan, disaat itu pula Nara berontak dan melepaskan cengkraman Rama.
"Nara !!" teriaknya memanggil. Ia kecolongan Nara. Gadis itu memang menoleh tapi untuk sekedar memeletkan lidahnya pada Rama sebagai tindakan mengejek.
"Awas ya Ra," Rama tersenyum penuh arti.
"Ram, ada berita penting!" ucap Gilang.
"Harus lebih penting dari gempa bumi Lang, soalnya gara-gara loe dateng Nara sampe lolos *yeuh*!" omel Rama duduk di depan kelas bergabung dengan Tian, Andi, dan Rio yang tengah asik bermain game online.
"*Geng balakaciprut* mau ngajak si Nara ke *night club*!" Rama mengangkat alisnya, "serius?"
Gilang mengangguk, "serius. Tadi denger mereka lagi pada ngobrol di kantin, tanya si Abay kalo ngga percaya!"
"Wah gawat atuh Ram, circle anak-anak itu mah emang terkenal ngga bener, kata Alisha kelas IPS 2. Dia kan suka ikut gabung juga," tembak Tian menyambar obrolan mereka.
"Hooh! 2in kata Tian, Ram. Sebandel-bandelnya kita--sebandel-bandelnya anak cewek MIPA 3 ngga pernah sampe masuk klub malam. Dulu aja waktu Mery gabung anak Alisha kita pantau kan?!" sahut Andi.
"Kira-kira night club mana yang mereka datengin?" tanya Rama.
"Tanya Rifal atau Vian!"
Rama mengangguk, ia pun bukan tak tau klub malam yang sering di datangi Willy karena sejujurnya Rana pun dulu sering kesana, hanya saja ia akan lebih meminta info lagi, kalau-kalau Willy cs memiliki tempat main baru.
Nara berjalan cepat menuju kantin menemui Willy cs.
Dilihatnya keempat anak itu sedang mengobrol sambil cekikikan di depan mangkok bakmie.
"Hay! Sorry lama ya? Udah pesen makanan?" Nara langsung duduk ikut bergabung.
"Eh, engga kok! Baru aja," jawab Dea.
"Sengaja nunggu kamu dulu, mau pesen apa?" tanya Willy.
"Cieee--ekhem! Ekhem! Seret nih tenggorokan!" cibir Gibran dan Inggrid.
"Gimana Ra, jadi ikut kan?! Ayolah, jadi ya?! Pokoknya harus jadi!" paksa Dea mendesak.
Sebenarnya Nara tak yakin, tapi----mulutnya seolah tak bisa menolak demi terjalinnya sebuah pertemanan.
Lama Nara menatap mangkok bakmie yang baru saja ia lahap isinya, sekali-kali jiwa mudanya harus diisi dengan hal-hal begini juga kan biar ngga kaku? Hidup cuma sekali! Gadis itu mencoba meyakinkan diri dengan keputusannya.
"Assalamualaikum,"
"Wa'alaikumsalam,"
Seperti biasa, di rumah ini selalu sepi di hari senin sampai jum'at di jam segini. Hanya ada asisten rumah tangga saja yang menemani Nara.
"Bapak titip pesen katanya pulang aga telat neng," bi Asih menaruh mangkok tumisan di meja makan.
"Iya bi," Nara berjongkok mengambil air dingin dari kulkas lalu menuangkannya ke dalam gelas dan meneguknya.
"Kalo gitu Nara ke atas dulu ya bi," gadis itu langsung naik ke lantai atas. Ia menaruh tas gendong yang berisi beban buku pelajaran seberat beban dosa umat Muhammad, lalu membaringkan tubuhnya di ranjang. Netranya melihat langit-langit kamar, tak sulit untuknya langsung tidur, sekejap saja ia sudah terlelap.
Perlahan namun pasti, matanya mengerjap. Sayup-satup suara aktivitas di lantai bawah mulai terdengar di pendengarannya.
"Jam berapa sih ini?" Nara meraba-raba mencari ponsel di atas ranjang yang tadi sempat ia keluarkan dari saku seragam.
"Ck! Udah jam 4 aja," decaknya, lantas alisnya terangkat saat mendapati notifikasi di ponsel jika nomor seseorang mengiriminya pesan.
0812xxxxxxxx
Sayang, nanti aku ke rumahmu ya, tunggu.
"Nomor siapa nih?" alisnya berkerut, jika diteliti lebih lagi. Tak ada yang memanggil Nara dengan sapaan sayang selain pemuda absurd itu.
_Narasheila_
Aku mau pergi, ga usah ke rumah aku ga ada.
Nara melemparkan ponselnya di atas ranjang lalu beranjak keluar kamar, langkah kakinya gontai menuju lantai bawah seraya mengucek mata.
"Akhirnya putri tidur bangun juga, dasar ratu tidur ! Ikut kontes tidur sana pasti menang !" cecar Akhsan.
"Dan loe bang! Lambe nyinyir, ikutan akun lambe turah julid sana, pasti banyak haters nya !" jawab Nara tak kalah sengit, gadis itu masuk kamar mandi.
"Enak aja nih bocil ! Gue mah orangnya kalem kalo diluar, mulut gue kaya gini kalo lagi bareng loe doang !" teriak Akhsan.
Selepas isya Nara sudah bersiap-siap, ia bahkan mengacak-acak lemarinya agar dapat mendapatkan outfit yang cocok untuknya malam ini.
"Nara!" panggil mereka dari luar. Akhsan yang kebetulan ada di sofa tengah mendengar mereka.
Handle pintu ia buka menampilkan pemandangan keempat anak komplek lengkap dengan baju rapi dan wewangian.
"Malem abang ganteng!" sapa Inggrid dan Dea.
"Bang, Nara'nya ada?" tanya Gibran.
Alis si tembok Berlin terangkat sebelah, "ada."
"Malam minggu bang, mau jalan---jajan di seputaran Braga!" alasan mereka, sebenarnya memang benar tujuan mereka ke daerah sana untuk jalan-jalan menghabiskan waktu weekend, sambil jajan pula. Namun mereka skip tujuan utamanya.
Nara turun dari kamar, "ma! Nara keluar dulu sama yang lain!" pamitnya setengah hati---ada rasa tak enak dan berdosa karena sudah berbohong, tapi---setan amat pintar mengelabui hati manusia.
"Tante, om, abang! Pamit dulu," Inggrid dan Gibran membungkukkan badan.
"Iya hati-hati ya!" balas mama. Nara hendak masuk ke dalam bangku penumpang, tapi Gibran sudsh menyerobot terlebih dahulu, "eits! Khusus mulai hari ini, Nara duduk di depan!" tukasnya meminta Nara duduk di sebelah Willy.
"Loh, kenapa?"
Keempat temannya itu tersenyum geli, "engga apa-apa! Si Gibran cuma lagi pengen duduk diantara dua cewek!" kelakar Willy.
"Bisa aja ngelesnya om Will!" Dea bicara namun pandangannya ke lain arah.
"Ngga apa-apa Ra. Bosen aja!" jawab Gibran. Tanpa berpikir panjang dan berlama-lama lagi karena waktu yang terus bergulir Nara masuk ke dalam kursi samping pengemudi.
Gadis itu mengalihkan wajah ke arah jendela, dapat ia rasakan jika Willy sejak tadi mencuri-curi pandang padanya.
"Suka ngga sama Bandung malam hari?" tanya nya membuka suara, sementara di kursi belakang ketiga temannya yang lain sudah sibuk sendiri-sendiri.
Nara mengangguk singkat, "suka."
"Aku lebih suka kamu," jawab Willy.
"Uhukk! Uhukk! Keselek om Will," Dea menyahuti.
"Om Will lagi gombal," kekeh Inggrid.
"Sirik aja loe berdua!" Gibran mendorong kepala kedua temannya itu. Nara hanya diam tanpa menjawab, tangannya sudah panas dingin ingin segera keluar dari situasi awkward ini.
Akhirnya mobil memasuki jalanan, dimana bangunannya berjejer seperti bangunan ruko tapi sedikit tertutup. Bernamakan **southbang club**, salah satu night club ter-hits di Bandung katanya!
Hingar bingar club sudah mulai terasa dari awal pintu masuk.
.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Elizabeth Zulfa
klo mau ngenalin pertemanan za gak usah ngikutin ke night club juga Nara.. tpi kamu klo gak ngalamin hal2 zg sesuatu gitu kyaknya gak bakalan prcaya klo mreka semua tuh minus akhlak & pakai topeng kebaikan didpnmu aja...
2024-11-17
0
Lia Bagus
ternyata kalian jodoh 😅
2024-06-04
0
Ney Maniez
ishhh,, jgn mau ya neng nara
2023-09-21
1