Bersama dengan ketiga teman seguru seilmu, setanah berpijak, Rama menelusuri jalanan kota menuju sekolah.
Meskipun bukan motor bagus nan mahal, mereka berasa jadi orang paling keren se-Bandung raya, bak Arjuna mencari cinta kalo kata Dewa mah!! Duduk gagah mengendarai motor diantara jalanan kota ter-romantis, adalah sesuatu yang membanggakan buat anak muda seusia Rama, berasa jalanan milik sendiri dan yang lain cuma numpang lewat.
Hari ini ia sengaja memarkirkan motor di depan warung kopi babeh, nongkrong pagi-pagi kaya sultan, dunia berasa indah banget! "Beh nitip motor disini ya! Males masuk ke sekolah lah!" teriaknya meminta ijin pada pemilik warung.
"Mangga Ram," jawabnya.
"Kenapa A ngga dibawa ke parkiran sekolah?" tanya Bayu.
"Lagi pengen jalan lah biar sekalian olahraga!" alasannya.
"Pa! Ikut bareng," teriak Mutiara berlarian membuat tas dan isinya ikut berguncang.
"Ti--tumben jam segini?!" tanya Ridwan.
"Mau nagih uang kas, kamu belum Wan? Cepet bayar ih!" seru Mutiara memaksa.
"Ntar lah, ngga bawa uang kecil!" alasannya nyengir.
"Uang gede juga diterima, ada kembaliannya yang penting jangan uang hasil korupsi aja," jawab Mutia.
"Yang kecil aja ngga ada apalagi yang gede!" tawa Bayu ditertawai pula oleh lainnya.
"Ram! Tumben jalan euy, si papatong mogok?" tanya Rifal ikut bergabung dari arah belakang mencangklok tas di sebelah pundaknya, dengan rambut yang masih basah, keliatan banget baru bangun terus mandinya.
"Enggak. Parkir di warung babeh!" jawab Rama.
"Papa!!!" teriak Yusuf bersama Rio, Andi dan Fajar.
"Nih, anak-anak kamvrett pada datang!" kekeh Gilang.
"Njirrr ih!" Tasya mencebik kesal saat tasnya ditarik Tian hingga gadis itu terhenti mendadak dari langkahnya.
"Raksasaaaa!" sementara Tian tertawa seraya menyusul teman-temannya.
Lain Rama lain Nara, perjalanannya ke sekolah begitu senyap kaya lagi hari raya nyepi, Nara melirik satu persatu teman-temannya di dalam mobil. Mereka sibuk dengan dunianya sendiri, lama-lama ia bakar juga nih jok mobil biar rame!
Inggrid masih dengan cermin dan liptinnya yang ngga kelar-kelar dari awal gerbang komplek sampai sini, masih sibuk molesin bibir pake liptin, belum lagi seperangkat alat bedaknya--kalau diukur-ukur ketebalan bedaknya saja sudah setebal buku tafsir. Dea asik dengan ponselnya. Begitupun Willy yang fokus pada jalanan dan Gibran heboh sendiri dengan game onlinenya.
"Guys, menurut loe warnanya bagus 'ga buat gue ?" tanya Inggrid buka suara menunjukan bibirnya yang ia cecapkan demi meratakan liptin.
"Hm," jawaban Dea menggumam semi malas, ia melirik sebentar lalu fokus kembali pada ponselnya, ia menggeser-geser layar sentuh lalu cekikikan sendiri seperti orang gila. Nara layaknya patung yang dipajang menjadi penengah keduanya saja di bangku tengah tanpa bicara ataupun melakukan hal yang berfaedah.
"Will, Gib--bagus engga?" tanya Inggrid menyentuh pundak kedua teman lelakinya itu secara kasar.
"Iya serah loe deh Grid, kalo menurut loe bagus, menurut kita juga bagus," jawaban keduanya tanpa mengalihkan pandangan, membuat Inggrid mencebik.
"Gimana Ra?" tanya nya penuh harap. Nara melirik dan tersenyum kaku, "cocok!" angguknya singkat, sebenarnya Nara tak peduli juga mau itu cocok apa tidak karena pada dasarnya ia tak terlalu suka dengan perintilan make up.
"Njirrrr! Gila, gue udah nge-push rank lagi dong Will !" ucap Gibran heboh seraya tertawa, menunjukan ponselnya pada Willy yang tengah menyetir.
"Heboh banget!" sarkas Inggrid mendumel kecil.
Nara hanya diam, pandangannya jatuh ke arah luar kaca mobil, teman-teman sekelasnya termasuk geng anak-anak Rama berjalan bersama menuju sekolah, sesekali mereka tertawa terbahak-bahak, seperti hari-hari mereka begitu ramai dan menyenangkan, bahkan dengan melihat mereka bersenda gurau saja mampu membuat Nara ikut tersenyum.
"Will, liat nih gue push rank ampe dua kali loh !" Gibran menunjukkan ponsel nya di hadapan wajah Willy, membuat pandangan Willy terhalang. Mobil sedikit oleng karena kejadian itu.
"Awas Ran! Loe ngalangin mata gue be go!" sarkas Willy.
Kejadian yang tak diduga akhirnya terjadi di depan mata. Mobil keluaran terbaru yang dipakai Willy sebagai pendongkrak popularitas nya sebagai anak borjuis bin hedon melintasi kubangan air kotor dan mencipratkan airnya ke arah beberapa siswa yang berjalan.
Crattt!
"Astagfirullah!" mereka semua menghentikkan langkahnya melihat kejadian itu, Muti dan Tasya bahkan sudah memegang dadanya kaget.
"Aaaa! Aduhhhh!" teriakan dan aduhan mereka yang kena imbasnya.
"Shittt!" umpat Willy saat mengetahui ban mobil mengenai genangan dan mencipratkan air.
"Will, gimana sih !" gerutu Inggrid, "tuh ah! Jadi ini lipstik nya kemana mana!" omelnya mengelap coretan liptin yang melebar ke luar garis bibir.
"Sorry--sorry. Ini si Gibran nih."
Willy akhirnya menepikan mobil, lalu mereka keluar dari mobil.
"Tanggung jawab dong, kotor tuh !" ucap beberapa anak yang ada disana, khususnya mereka prihatin pada teman yang terkena cipratan parah, sampai roknya kotor setengahnya.
"Wah parah!" pekik Abay maju melangkah lebih cepat hendak menegur mereka, namun tangan Rama menahannya, "kita liat setelah ini apa yang bakal terjadi,"
"Aduh sorry ya, gue ga sengaja," ucap Willy mengatupkan kedua tangannya di depan.
Gadis itu mendongak dengan wajah kesal, tapi sejurus kemudian raut wajahnya berubah ketika melihat siapa yang ada di depannya, "iya. Aku ngga apa-apa kok," senyumnya manis ia lemparkan pada Willy.
"Alahh! Baru juga segitu, ini mah dibersihin pake air juga bersih!"ucap Inggrid, nampak sangat terlihat keangkuhannya.
"Lebay banget sih! Lagian seragam loe juga palingan beli di pasar nih gue ganti," ucap Dea mengeluarkan selembar uang seratus ribu dan melemparkannya ke wajah si gadis.
"Astaga!" Nara sampai menutup mulutnya dengan sebelah tangan tak percaya dengan perlakuan mereka.
Hati Nara berbicara, ia mendekati gadis itu, diambilnya tissue dari dalam tas untuk membantu gadis di depannya, "kamu ga apa-apa, maaf ya temenku 'ga sengaja. Nih ada tissue, aku bantu bersiin ya?!"
Baru saja tangannya hendak menyentuh area kotor di rok gadis itu Inggrid menahan tangannya, "Eits, Nara sayang.. loe mau ngapain?! Jangan bilang, loe mau bantuin dia ?! Aduh please deh udah yuk!" Inggrid menarik tangan Nara dengan cepat.
"Wah gilakkk! Duo nenek lampir parah banget!" omel Tasya dan Tiara.
"Orang kaya gitu mesti dikasih pelajaran tau nggak! Biar gue sikat aja, tuman!" ujar Tasya sudah berapi-api, tapi lengannya ditahan Tian.
"Mau kemana, boncel diem aja disini! Ngga usah ikut campur! Nanti malah jadi maen jambak-jambakan lagi!" Tian memajukan wajahnya dan mendorong pelan jidat gadis itu, memintanya agar tidak mencampuri urusan dengan geng kuaci Rebo.
"Mereka kurang aj ar! Ngga bisa dibiarin!" balas Tasya sengit.
Langkah Rama dan teman-temannya kini sudah menghampiri, tindakan mereka sudah benar-benar keterlaluan.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Ney Maniez
hajarrr ajj
2023-09-21
1
Renjani Soraya
cerita ini ulangan y thor.. kirainklanjutan nya rama dan nara, crita tntang anak" ny gitu
2023-02-25
1
fiendry🇵🇸
jajan dari orang tua aja sombongnya minta ampun..
2023-02-19
1