"Apa begini cara kalian memperlakukan orang yang dizolimi?" tanyanya menatap satu persatu dengan alis menukik tajam, harga dirinya sebagai manusia ikut tercabik dengan kelakuan mereka.
"Uang tidak bisa membeli sikap, uang bukan segalanya, dimata Allah semua sama tidak ada orang kaya maupun miskin!" tambahnya.
"Beuhhh! Mau ceramah jangan disini pak ustadz!" sarkas Inggrid dan Dea, menatap jengah Rama.
"Udah yu cabut !!" keduanya menarik Nara untuk masuk kembali ke dalam mobil lagi penuh paksaan.
"Loe ga apa-apa kan ??" tanya Tasya dan Tiara pada gadis itu, ia menggeleng yakin, "gue ngga apa-apa." Meski mulut berkata tidak tapi mata dan sikapnya menunjukkan jika ia tidak dalam keadaan baik-baik saja.
"Gue ngga nyangka si Willy bisa dibutakan oleh sikap angkuhnya, kayanya mata hati dia udah ketutup !!" lirih Abay yang juga tak menyangka jika kebencian mampu membuat seseorang menjadi tak ber-hati. Mereka kembali berjalan menuju gerbang yang sudah di depan mata.
"Punya mobil gitu aja bangganya setengah mampoosss!" teriak Ridwan saking kesalnya.
"Mobil bagus tapi ngga mahir makenya, mendingan di rongsok aja! Uangnya pake buat kursus nyetir!" sahut Bayu.
"Sekali-kali tunjukin kemampuan ngedrift loe Ram sama mereka biar pada bungkam !!" kesal Rifal yang memang tau bagaimana Rama di luaran. Dari kejauhan ia menatap mobil Willy, dilihatnya 5 orang keluar termasuk Nara. Matanya jatuh tertumbuk pada gadis berbandana ungu, Deanada Karishma.
Apa kebiasaan orang jutek dan *introvert* itu cenderung lebih memilih buku untuk menjadi teman bermainnya? Karena itulah yang ia lakukan saat ini. Jika dia memang seseorang yang *introvert* maka pemuda ini adalah calon pasangan yang cocok untuknya.
Rama menyunggingkan senyumannya tatkala melihat Nara sudah duduk manis di bangkunya dengan sebuah buku di tangan. Begitu seriusnya membaca, sampai-sampai suara berisik para penghuni yang sudah menghebohkan jagat dunia nyata dan astral pun tak mengganggunya.
Baru saja Rama memiliki niat untuk mengganggu si cantik jutek, empunya kursi malah datang, Rama berdecak--kenapa Mita harus datang di waktu yang tak tepat!
"Ta, sekali-kali loe telat gitu datang ke sekolah bisa engga sih?" tanya Rama kesal.
"Dih, gejee!" sinis Mita.
"Loe pindah sama Ridwan dulu ya atau di kursi gue? Sebentar aja," ijin Rama pada Mita.
Mita mendelik sinis, sudah pasti pemuda ini berniat mengganggu hari cerah Nara, "bentar aja loh ya?! Awas!" Mita mengepalkan tangannya di depan Rama, lalu duduk di samping Ridwan karena Bayu yang biasa duduk disana sedang keluar. Rama duduk di bangku Mita, ia menopang dagunya dan memandang Nara, pemandangan yang tak ingin ia lewatkan.
"Assalamu'alaikum sayang !!" serunya usil mencoba menggoda Nara, senyumnya lebar selebar bahu jalan Ahmad Nasution.
Bukannya senang atau menjawab dengan kata-kata manis, Nara malah menggerutu kesal," pagi-pagi udah digangguin makhluk Venus aja !!" sarkasnya, benar-benar jauh dati ekspektasi Rama, tapi ia semakin penasaran.
Rama tergelak, baru kali ini ia menemukan perempuan yang menyebutnya makhluk Venus, jika alien saja seganteng Rama, mungkin semua kaum hawa di bumi akan berbondong-bondong mencari jodoh dari Venus...ada ada saja gadis ini.
"Dihh lagi datang bulan ya?" tebaknya so tau, so akrab, so baik.
"Atau karena belum dapet morning kiss dari aku, tapi jangan dulu deh kamu belum jadi mahromku ?!" kekeh Rama.
Matanya mengilat menatap Rama, seperti seekor serigala kalau daerah teritori nya diganggu hewan lain.
"Gue lagi ga mood buat berantem sama loe, pergi---sana !!" usir Nara memukul-mukul lengan Rama dengan buku demi mengusir pemuda ini.
"Iya deh, tapi awas kalo rindu ya?!" tuduhnya tersenyum geli, senyum yang bikin Nara meringis prihatin.
...***Bencilah aku agar setiap hari kamu memikirkanku ,sampai tiada hari tanpa memikirkan wajahku,sampai kamu lupa rasa benci itu sendiri***....
Bel istirahat berbunyi, namun Nara nampak diam saja di tempat tak seperti biasanya yang akan beredar mencari makanan.
"Ra, mau ke kantin apa jajan ke depan?" tanya Mita, mata Nara jatuh pada Rama yang juga melihatnya seolah sedang mengintai Nara, sejenak mood gadis itu hilang ditelan kucing.
"Engga ah, lagi males!" jawabnya.
"Ram!! kantin apa warung babeh ??' tanya Ridwan menyentak mengenyahkan pandangan Rama pada Nara.
"Kantin!" balas Rama tak memindahkan pandangannya dari sana, bukan hanya netranya saja yang jatuh tapi hatinya pun sudah jatuh---jatuh cinta.
Sampai waktu istirahat sudah lewat 15 menit, tapi Nara tidak terlihat jua masuk kantin. Padahal Rama sengaja jajan di kantin untuk bisa melihat gadis itu jajan.
"Bro, kalian disini dulu, gue ke kelas sebentar !!" ucap Rama sambil menenteng sepiring nasi goreng sosis berserta es jeruk yang telah ia pesan tadi tapi belum sempat ia makan, untung saja tidak dicomot Ridwan atau Bayu.
"Mau ngapain Ram?" tanya Gilang.
"Mau makan disana!" singkatnya melangkah menjauh dari tempat teman-temannya. Pemuda itu berjalan menyusuri selasar setiap ruangan kelas.
Senyumnya mengembang melihat si cantik nan jutek ada di depan mata, "nih dimakan aku tau kamu laper, tapi males ke kantin kan?" pemuda itu menaruh sepiring nasi goreng dan es jeruk itu di depan meja Nara, lalu ia sendiri duduk di depan Nara. Terang saja gadis itu melongo kebingungan, sedang apa kiranya pemuda tengil ini.
"Ciee ! jadi cuma Nara yang dibawain nih Ram?" imbuh Mita menggoda, ia bahkan sudah menaik turunkan alisnya di balik kacamata minusnya.
"Kamu mau?" tanya Rama, Mita mengangguk cepat.
"Beli sendiri! Masih ada anak-anak di kantin," jawabnya.
"Kalo beli ke kantin mah ngga ada yang bayarin atuh Ram," kekeh Mita.
"Ngutang dulu ngutang!" balas Rama.
"Masa ngutang ih!" cebik Mita.
"Ya udah sana, bilang ibu kantin nanti Rama yang bayar!" jawabnya biar cepat, berusaha semaksimal mungkin untuk mengusir Mita secara halus.
"Asikkk! Gitu atuh!" gadis berkaca mata itu beranjak mrmbuat reaksi sewot dari Nara.
"Mita! Gue masa ditinggal berduaan sama dia?" alisnya menukik tajam seolah memberikan Mita peringatan untuk tidak pergi, tapi Mita adalah teman yang cukup pengertian juga cukup lapar untuk tidak menolak tawaran Rama.
"Ngga apa-apa, dia mah ngga berani macem-macem. Kalo sampe macem-macem lapor aja nanti biar digebukin rame-rame!" ia malah pergi berlalu, membuat senyuman Rama semakin mengembang bak bolu ketan.
Kini hanya tinggal mereka berdua, dengan tatapan mata yang berbeda, jika Nara menatap penuh kecurigaan dan ketidaksukaan, lain halnya dengan pemuda absurd yang malah cengengesan sambil bertopang dagu kaya lagi nontonin wayang.
"Dimakan, tenang aja halal kok udah ada labelnya dari MUS. Majelis ulama sekolah,"
Tanpa berpikir dua kali, Nara menggidikkan bahunya tanda menolak, "gue ga mau !!" ucapnya tegas. Dimanapun dan kapanpun ia selalu menjunjung harga dirinya yang setinggi langit itu padahal terlihat jelas ia sangat tergoda dengan aroma dari nasi goreng ini.
Tapi memang dasar Rama, ia adalah pemuda yang tak gampang menyerah, tak ada yang mustahil baginya termasuk menaklukan Nara. Jika gadis di depannya tak mau makan sendiri, maka ia lah yang akan menyuapinya.
Disendoknya nasi goreng yang masih menguarkan aroma lezat nan hangat, "aaa! Pesawat mau masuk!"
"Apa sih, kaya anak bayi aja! Gue bisa sendiri, lagian juga gue ngga laper!" sarkasnya. Ketus, menggerutu dan galak, saat ini itulah reaksi yang di dapat Rama dari Nara.
"Tawaran makan sendiri sudah tidak berlaku, sekarang adanya disuapin!" bukan tawaran namun ini perintah sembari menyeringai, sampai mana ia mampu menolak Rama, jika tak mempan ditawarin maka paksaan yang dia dapat.
"Gue 'ga mau! Kalo gitu loe aja makan sendiri !!" sengitnya kekeh.
Tak kehilangan akal, Rama mencari ide lagi, "oke kalo loe ga mau, apa mau gue panggilin Gilang, Bayu sama Ridwan atau Ucup sama Tian biar nyuapin kamu dengan cara mereka dan dijamin kamu bakal nyesel !!" ucap Rama memajukan wajahnya sambil berbisik. Nara terlihat menelan salivanya sulit, mau tak mau ia sudah masuk permainan Rama, sejak ia menginjakkan kakinya di sekolah ini.
Masih belum bergeming, Rama melipat kedua tangannya di dada lalu bersiap berteriak memanggil kawan-kawannya. Nara bukan tidak tau kisah kelas MIPA 3 yang seperti mitos di sekolahnya dari Willy dan kawan-kawan, tidak menutup kemungkinan ia sebagai penghuni baru akan merasakan rujakan penghuni lamanya jika tak menurut, ditambah---perutnya malah berkhianat.
"Cuppp---"
"Iya udah! IYA--IYA!!!" jawabnya pasrah. Rama tersenyum penuh kemenangan, "nah gitu dong! Aaaa---" pintanya, mulut gadis ini menyambar suapan dari tangan Rama.
Akhirnya untuk pertama kalinya Nara menurut dan kalah, terdengar jahat dan usil memang tapi inilah Rama, dengan segala tekad dan akal bulus untuk mendapatkan sesuatu yang ia inginkan.
Terdengar suara langkah dan riuh canda dari luar menuju kelas, tapi langkah mereka tertahan di ambang kelas, "astaga!! Baru ditinggal sebentar udah pada main suap suapan aja!!" goda Gilang, membuat Narasheila menunduk malu.
"Pantesan diajak ke kantin ga mau, maunya disuapin Rama!!" seru Mita malah ikut menggoda Nara.
Nara benar-benar menenggelamkan wajahnya di samudra pasifik, pemuda ini! Nara menatap pemuda dengan tempelan anting hitam di telinganya begitu sengit sementara ia sendiri malah cengar-cengir mirip onta lagi nyemil.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Elizabeth Zulfa
seru loh klo punya cowok kek Rama gini 😁😁😁
2024-11-16
0
◌ᷟ⑅⃝ͩ● Marlina Bachtiar ●⑅⃝ᷟ◌ͩ
onta nyemil kurma 🤣🤣🤣
2023-09-24
4
Ney Maniez
😂😂😂🤣🤣🤣🤣
2023-09-21
0