...Es Jeruk Mang Iwan...
"Mama gimana?" tanya Nara.
"Mama lanjut ke kios daging tuh! Disitu! Nara tunggu di kios es jeruk aja. Nanti mama nyusul, sekalian pesenin mama satu!" mama menyerahkan selembar uang biru pada Nara berikut kresek belanjaan.
"Ya udah, mama hati-hati. Nara duluan!"
Keduanya berpisah disana, gadis itu mempercepat langkahnya demi bisa duduk dan melepaskan beban di kaki dan tangannya. Rasanya kaki juga tangannya serasa mau copot kaya lego yang dipretelin berjalan jauh dengan membawa beban berat.
"Mang, es jeruknya 2 ya!" Nara memiringkan kepala ke arah si penjual.
"Siap neng, di bungkus apa minum disini?" ia bertanya seraya mengelap bekas cipratan perasan jeruk.
Nara duduk di salah satu kursi plastik, "disini aja," katanya sambil menaruh dan menempatkan belanjaan mama di dekat jangkauan kakinya.
Dua gelas mug bening es jeruk tersaji di meja kayu, dengan dindinh gelas yang mengembun akibat dari dinginnya es batu, membuat Nara menelan salivanya sulit. Es jeruk ini lebih dari cukup untuk mengusir dahaga diantara tenggorokan yang kering. Diantara ramainya pasar, dan asiknya seruputan es jeruk, Nara mengedarkan pandangannya ke sekeliling pasar, hingga netra indahnya menangkap pemandangan beberapa anak muda bergerombol layaknya gerombolan bebek yang sedang mencari makan. Nara meneliti mereka dari ujung rambut hingga serpihan daki, dari pakaian yang dikenakan sepertinya mereka semacam preman atau berandal, ya! Preman pasar sini kayanya, macam beberapa film yg sering muncul di tv.
Nara membalikkan badannya hingga membelakangi arah masuk saat mengetahui jika segerombol pemuda tadi mulai mengarah ke kios es jeruk, berharap ia akan selalu ada dalam lindungan Tuhan. Otak encernya mulai berpikir, bagaimana pelarian tercepat jika sampai mereka macam-macam.
Benar saja, derap langkah kaki itu semakin dekat, nyalinya mendadak menciut sebesar biji korek, mungkin ia akan berlindung di ketek si penjual es jeruk saja.
"Assalamualaikum ! mang Iwan, gimana aman mang ?" tanya salah satu nya, masuk menyibakkan spanduk penutup roda es jeruk.
Nara mengerutkan dahinya dengan bibir yang masih menempel di sedotan, "bentar---bentar gue ngga salah? nih preman ngucap salam, emang ada orang mau malak ngucap assalamualaikum, preman macam apa?" batinnya bergumam dengan wajah nyinyir nan julid.
"Aman dong Ram, orang yang jagainnya juga jawara..oh ya! Ini nitip buat si Abah sama ambu di rumah," si tukang es jeruk menyodorkan beberapa bungkus es jeruk pada si ketua preman.
"Eh, naon ieu mang ? Jangan, ga usah ngerepotin," ucapnya, menolak bungkusan es jeruk yang sudah dengan sengaja dibungkuskan. (apa ini)
"Engga Ram, ga repot. Ini tuh sengaja mamang bikin buat Abah sama ambu di rumah," si penjual memaksa memberikan bungkusan es jeruk.
"Makasih kalau gitu, ikhlas kan diterima sama saya, Alhamdulillah, rezeki anak soleh!" ucapnya dengan kekehan pada teman-temannya.
"Mang Iwan, cuma Rama doang nih yang dikasih?" kelakar Bayu.
"Ah, mang Iwan mah pilih kasih---" ujar Ridwan mengehkeh.
"Oh abay sama 'Wan mau juga?" tawarnya.
"Rugi mang, kalo mereka yang minta bisa minta tambah se drum!" sela Gilang.
"Ngga deh mang, cuma becanda jangan dianggap serius !" kekeh Abay menjadi malu sendiri, niatnya sih hanya bercanda saja.
Wait a minute, Nara merasa mengenali suara suara dibelakangnya, ia mencoba berbalik.
"Kamu!"
"Loe!" ia tersenyum menyeringai.
"Uhuyyy ! Pucuk dicinta ulam pun tiba," ucap Gilang menaik turunkan alisnya.
"Tuh kan bener! Dibilangin juga ada bidadari tak bersayap nyangkut disini!" gumam Milan.
"Ya iya atuh tak bersayap da yang bersayap mah roti jepang buat perempuan!" jawab Bayu.
"Itu mah buat nampung iler si Iko!" tawa Gilang.
"Si@lan!" desis Iko.
Rama menarik kursi dan langsung duduk disebelah Nara, "bener ternyata kata si Milan! Ada bidadari jatuh dari surga ke kios es jeruk nih," gombalan recehnya.
Nara mengernyitkan dahinya, merasa awkward saja dengan ucapan pemuda di sampingnya.
"Kamu lagi ngapain disini? Belanja ya? wahhhh calon istri idaman," ucap Rama, disoraki teman temannya, "pepet terus jangan kasih kendor..." sahut Ridwan.
Mulai Risih, Nara bangkit dari duduknya, "mang yang ini bungkus aja ya jadinya. Ini uangnya!" Nara menyerahkan uang yang tadi ia dapatkan dari mama.
"Eh, ngga usah bayar! Biar aku yang bayarin!" ujar Rama.
"Ngga perlu!" tolak Nara cepat ingin segera pergi dari sana.
"Mang bisa minta tolong 'ga ?" pintanya pada penjual es jeruk.
"Mau minta tolong apa atuh? Sini biar aku aja," potong Rama.
"Ekhhmm, akhiwww !" deheman teman-teman nya.
"Ga perlu ih! Dibilangin juga," gadis itu menolak, seolah tidak ingin memperdulikan Rama dengan alasan antara takut dan kesal, Nara hanya melihat ke arah pedagang es jeruk, "mang saya mau nitip belanjaan ya, saya mau masuk dulu menyusul mamah saya ke dalam," ucapnya pelan.
"Boleh neng," ucap si penjual es terkekeh.
"Oh kamu mau ke dalem hayu atuh aku anter," jawab Rama.
"Wan, ajak yg lain duluan ke masjid, udah dzuhur soalnya. Nanti gue nyusul, nganter dulu calon, takut digondol kucing !" kekeh Rama, membuat yang lain tertawa.
"Ih dibilangin ngga usah!" sewotnya lagi, namun belum gadis itu melangkah Rama menarik tangannya paksa.
"Ha-ha-ha, Rama jangan terlalu ngegas atuh, selow aja selow," pekik mereka, sedangkan Rama hanya tersenyum manis tanpa merasa berdosa.
"Lepasin gue!" Nara mencoba menarik tangannya dari cekalan Rama, namun percuma--si preman pasar ini begitu erat menggenggam tangan Nara.
"Calon mertuaku--eh mamahmu mau beli apa?" ucapnya bertanya.
"Daging," cicit Nara.
"Oh.."
Ditatapnya Rama dari samping meski dengan perasaan tak suka, sebenarnya pemuda ini cukup tampan, wajahnya begitu meneduhkan, dan anehnya disaat ia menyunggingkan senyumannya ada rasa-rasa yang tak bisa Nara jelaskan seperti manis, hangat, dan----
"Aku ganteng ya, diliatin terus?!" Nara tersentak dengan pertanyaan Rama, sikap gombal dan usilnya itu menutupi semua kebaikan hidupnya.
"Itu deretan kios daging," tunjuknya ke depan, Nara ikut menoleh, dari pandangannya sesosok ibu dengan pakaian berwarna tosca dan coklat tengah berdiri memilih-milih daging.
"Mamah!" panggil Nara melepaskan genggaman Rama.
Mamah menoleh, begitupun bapak paruh baya berpeci hitam dengan bordel emas yang sedang memotong-motong daging, dengan sesekali bercanda dengan mamah Nara.
"Assalamu'alaikum, bah....ibu," salam Rama pada si bapak itu, rupanya ia masih mengikuti Nara.
"Wa'alaikumsalam,"
"Eh, ko nyusul katanya kakinya pegel?" tanya mamah mengerutkan dahinya.
"Abisnya mama lama," jawab Nara.
"Loe ngapain masih disini?" tanya Nara sengit.
"Mau salim dulu sama calon mertua," bisik Rama terkekeh usil.
"Aduhhh ini anak ibu? Wah! cantik begini," ucap si bapak itu.
"Bah haji!" sapa orang yang melintas. Sepertinya, dia sosok lama disini. Terlihat dari semua pedagang dan pembeli yang menyapanya menghormati.
"Tuh kalo itu bocah yang nganter si neng barusan, anak saya--namanya Ramadhan," ucap si Abah haji memperkenalkan Rama, Rama pun salim pada mamah.
"Whatt ?! jadi, bapaknya pedagang daging disini?!" Nara hampir saja memuntahkan bola matanya keluar.
"A..tolong ambilin stok daging dari rumah jagal, Wawan sudah abah hubungi, nanti tinggal bawa aja," pinta Abah.
"Siap Abah, tapi Rama ke mushola dulu sebentar, belum dzuhur !" jawabnya.
"Eh aku duluan ya, udah ketemu kan sama mamahnya, assalamualaikum !" ucapnya berlalu.
"Waalaikumsalam," gumam mereka.
"Sopannya, "ucap mamah memuji membuat abah haji tersenyum, "oh harus atuh bu! Kalo ngga sopan mah udah saya pites lehernya!" kelakar abah haji.
Nara melihat ke arah perginya Rama, siapa tadi namanya? Ramadhan?! Hm---
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Ma'e Dina
ini tuh udh ke tiga kali aku baca tp gk bosen malah kangen trs bawaany😂berasa muda lagi
2023-10-04
5
Ney Maniez
cieeee,, dah mulai nihhh
2023-09-21
1
Sandisalbiah
iya Ramadhan.. tuh Nara... calon imam..
2023-04-15
2