Rama turun untuk membuka pagarnya dan meminta Nara untuk masuk duluan, "cepet masuk Ra, ujannya makin deras!" Nara mengiyakan dan berlari kecil diantara genangan air membuat cipratan kecil di sekitarnya.
Rama mengekori Nara yang sudah masuk lalu menutup kembali pagarnya.
Bukannya mencari tempat berteduh, Nara malah berhenti setelah melewati pagar rumah yang langsung di suguhi rumah mewah dan ornamen taman dan kolam ikan kecil dengan hiasan batuan sungai membentuk air terjun mini, teras samping rumah terdapat jalan setapak ke arah halaman. Bukan halaman depannya yang besar, namun di samping rumah terdapat lapangan yang cukup luas, seperti lapang voli atau bulu tangkis, melihat ada dua tiang sepertinya untuk membentangkan net. Di samping kanan tepat di dinding tembok, sebuah ring basket tertempel sempurna. Lapang ini macam lapangan olahraga serba guna.
"Kenapa berenti, ayo masuk!"
"Iya," gadis itu mengangguk cepat dan masuk ke teras, melepaskan jaket Rama dan menaruhnya di kursi teras depan. Matanya mengikuti pergerakan Rama. Penasaran, ia lantas berjalan ke samping demi mengikuti Rama melewati lapangan samping rumah, Nara dibuat terkesima dengan luas dan megahnya rumah ini, tepat di ujung sana ada gazzebo yang bersampingan dengan garasi terbuka, wadidawww! Mobil yang terparkir disana bukan hanya 1 melainkan 2. Gazebbo ini juga berbatasan langsung dengan pintu dapur. Ini sih, definisi orang kaya tapi merendah sebenarnya.
Rama kembali menghampiri Nara yang masih melongo setelah menaruh motor di samping mobil dan motor lainnya.
"Rumah kamu gede Ram," ucap Nara bisa dikatakan sebuah pujian.
Rama terkekeh, "aku ngga punya apa-apa Nara, ini semua punya abah sama ambu. Aku cuma numpang idup disini!" jawabnya.
Merendah untuk meroket!
"Masuk yuk! Dingin," ia sampai menggigil karena basah kuyup, jelas saja ia memberikan jaketnya pada Nara.
"Assalamu'alaikum!" Rama membuka pintu.
Belum ada jawaban, Nara memakluminya--toh rumahnya cukup besar lebih besar dari rumahnya juga rumah-rumah teman kompleknya, butuh waktu atau ruang demi bisa mendengar siapa yang datang.
"Ambuu!" teriak Rama masuk lebih dalam, sementara Nara menunggu di ruang tamu, ia belum berani duduk sebelum dipersilahkan oleh pemilik rumah.
"Eh bungsu dateng!" kelakar ambu setengah mencibir anak lelakinya ini, jika dibandingkan dengan Nia si bungsu sesungguhnya, Rama memang seperti seorang anak bungsu yang lebih membutuhkan perhatian, lebih butuh kesabaran untuk menghadapinya, dan lebih butuh omelan pedas untuk memarahinya.
Nia yang ada di meja makan tertawa mendengar kakaknya dibilang bungsu.
"Mbu, ada temen aa di depan!" ucapnya.
"Ah! Paling juga a Abay, kalo ngga a Ridwan sama a Gilang!" decih Nia melengkungkan bibirnya.
"Bukan! Ngga tau kan aa punya temen bidadari?!" balas Rama.
"Meni kasian ih, masih muda udah kebanyakan halusinasi!" ejek Nia.
Rama mendengus, "kalo ngga percaya liat aja ke depan!"
"Siapa a?" tanya wanita separuh baya dengan jilbab instannya.
"Liat aja,"
Karena penasaran ambu akhirnya menemui Nara di ruang tamu, jika biasanya ambu hanya akan menemui Rama membawa ketiga kawan ambyarnya, lain dengan hari ini. Padahal jarang-jarang, bahkan baru kali ini lagi Rama membawa teman perempuan selain Kirana, itupun dulu saat masih berteman dengan Willy.
"Eh, ada tamu!" serunya membuat Nara sedikit terkejut.
"Eh, siang ibu," Nara mengangguk sopan.
"Siapa ini teh namanya? Cantik gini?!" tanya ambu mengusap tangan Nara yang belum dilepaskannya setelah gadis itu salim takzim tadi.
"Nara bu."
Rama tersenyum di gawang pintu, lalu ia berlalu meninggalkan ambu dan Nara ke kamarnya untuk mengganti pakaian yang sudah kuyup.
"MasyaAllah!" decaknya tersenyum hangat.
Tapi kemudian ia mengerutkan dahi, "ini teh ujan-ujanan? Meni pada basah gini?!" tanya nya.
Nara mengangguk mengiyakan, "iya, tadi keujanan di jalan. Jadi ikut neduh dulu disini," jawabnya.
"Aa!" teriaknya memanggil Rama.
"Ya?!" Rama menyahut dan turun dengan pakaian keringnya.
"Ini si neng teh keujanan, kasian atuh nanti masuk angin! Kayanya baju teh Ayu atau bajunya Nia ada yang cukup!" teriaknya lagi.
"Eh, ngga usah bu! Ngga apa-apa. Nanti juga kering," tolak Nara tak enak hati jika merepotkan.
"Eh jangan atuh! Nanti sakit, yang itu bajunya di keringin dulu! Nanti pulangnya kalo udah kering ganti lagi, atau ngga dibungkus aja," titahnya memaksa.
Atas paksaan ambu, akhirnya Nara mengganti pakaiannya dengan milik teh Ayu semasa muda.
"Teh Nara, kenalin aku Rania! Panggil aja Nia," sapa Nia memperkenalkan diri, adik Rama yang masih duduk di bangku smp.
"Panggil aja si teledor! Si bongsor! Atau si gede kentut!" cibir Rama yang sontak saja mendapatkan hadiah pukulan dari adiknya itu.
"Narasheila," balas Nara.
"Awas teh, jangan mau di deketin aa. Nanti gatel-gatel!" Nia tertawa seraya kabur kembali ke ruang tengah.
"Neng Nara, temen sekolah atau temen main, aa?" tanya ambu.
"Temen!"
"Calon istri!"
Ucap Nara dan Rama bersamaan, membuat ambu tertawa, "dasar jodo!" kekehnya. Ambu pamit kembali ke dapur, menyisakan Nara dan Rama disana.
Beberapa lama Nara disana, kebanyakan sih ia diam dan sesekali menimpali ocehan Rama.
"Ram, kayanya udah sore. Aku mesti pulang," ucap Nara pada Rama.
"Bentar aku liat dulu ujannya, udah reda apa belum," ujarnya melengos dan membuka pintu rumah demi melihat langit sekitar, apakah masih menurunkan kawanan hujan-nya atau tidak.
Tapi tak lama dari itu, terdengar suara deru mesin mobil yang baru datang dari arah luar masuk ke halaman rumah.
"*Bah, tadi ada Gilang ngga di RPH*?"
"*Ada, barusan pulang bareng abah*!"
"Ra, ujannya udah reda. Mau pulang sekarang?" tanya Rama masuk, diikuti sosok lainnya yang Nara sudah kenal, bertemu 2 kali dengannya tak mungkin Nara lupa.
"Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumsalam."
"Abahhh!" Nia menyeru dari ruang tengah ke ruang tamu, mendapati abahnya baru saja pulang.
"Eh ada si neng calon menantu!" ucapnya, melihat Nara.
"Sudah lama?" tanya nya.
"Udah bah, tadi keujanan di deket sini, jadinya ikut neduh dulu disini. Tapi ini udah mau pulang," jelas Nara.
"Loh, kok cepet-cepet pulang? Tenang aja da abah mah tidak menggigit sudah jinak!"candanya, membuat Nara dan anak-anaknya tertawa.
"Abah mah ngga gigit teh, cuma *nyered* aja kumisnya kaya tawon!" tawa Nia. (**menyengat**)
"Kapan ayah ibu mu ada waktu ?" tanya abah haji, pada Nara.
Gadis itu mengerutkan dahi tak mengerti, "kenapa memangnya bah?" tanya Nara.
"Iya--kapan ada waktu? Abah mau kesana bawa seserahan, mau melamar kamu untuk anak abah Ramadhan," tawanya membuat kedua anaknya tertawa lagi demi melihat ekspresi Nara yang tersenyum getir atas kelakar abahnya.
"Boleh gitu bah ?" tanya Rama.
Raut wajahnya mendadak berubah tegas, "sekolah dulu!! Jangan mikir nikah! Belum tentu si neng ini mau sama kamu yg kaya preman," sarkasnya membuat Nia makin tergelak.
"Tapi da neng, anak abah mah luarnya saja yang kaya preman dalamnya mah sholeh," ucap Abah beralih menatap Nara.
"Huuuu! Abah mah promosi!" seru Nia.
.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Elizabeth Zulfa
pepeeeeeeettt terus raaaaaaam... sampai neng Nara klepek-klepek 🤣🤣🤣
2024-11-17
0
makin kagum sama si Rama 😍
2024-12-21
1
Dia Amalia
sedap x krlga aa rama eeihhh
2023-10-31
2