Rama tersenyum hangat pada beberapa anak yang seakan berebut punggung tangannya untuk disalami, "awas jangan lupa, hari ini ngajinya jam----?!!" Rama menaikkan kedua alisnya.
"Setengah Tujuhhhh !!" jawab mereka berseru bersama.
"Pinter!" Rama mengusap puncak kepala mereka satu persatu.
"A, jangan lupa lanjutan cerita nabi Yusuf-nya!" ucap salah satu bocah lelaki dengan baju berwarna biru dan ompong satu di bagian depan.
"Siap! Tapi jangan lupa hafalan suratnya juga," balas Rama.
"Iyaa A!" jawab mereka kembali menghambur berlarian.
Motor Rika dan Gilang kini silih berdatangan berada bersampingan, "beuhh aa ustadz--aa ustadz! Banyak fansnya," ucap Vina.
Sejenak Nara tertegun menatap pemuda yang berada di depannya, "aa ustadz? Dia? Yang bener aja?!"
"Buru atuh Ram! Nanti keburu penuh sama ibu-ibu kalo jam segini mah," Rika melirik jam di tangannya.
"Iya--iya. Sok atuh duluan," pinta Rama mempersilahkan mereka untuk duluan.
Motor kembali bergerak, hingga sebuah warung baso sederhana hanya berada di halaman rumah dengan gerobak biru sebagai iconnya, dan spanduk besar yang menutupi di atas gerobak.
..."Baso Wong Solo Khas Mas Nana"...
Dilihatnya Rika dan Gilang memarkirkan motornya di depan sana, begitupun Vina yang sudah turun menyapa si pedagang.
Nara turun dari motor Rama dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling warung baso dengan tatapan meneliti.
"Kenapa ngga suka ya ?" tanya Rama melepas helmnya.
Nara menggeleng, "suka kok!"
"Suka aku?" tanya nya lagi, membuat pandangan Nara teralihkan, "enggak!" jawabnya tanpa berpikir. Rama terkekeh.
"Ra! Sini masuk," teriak Vina melambaikan tangannya.
"Iya!" Nara berlari kecil ikut masuk, gadis itu sedikit membungkukkan kepalanya agar tak menyentuh spanduk.
Vina dan Rika tertawa lepas hingga terbahak-bahak karena humor receh Gilang dan si tukang baso.
Nara jadi teringat teman-teman komplek-nya yang boro-boro datang ke tempat seperti ini sambil tertawa lepas bersama tukang baso, melihat alamatnya saja mungkin mereka sudah mengatakan BIG NO!
Nara duduk di kursi plastik sejuta umat, tepat di samping Vina, begitupun Rama yang ikut duduk di depan Nara.
"Pesen dulu Ra!" Vina sudah membawa mangkok berisi mie baso miliknya dan mencicipi hasil racikan bumbunya.
"Biar ku pesenin!" Rama langsung beranjak, kali ini gadis itu tak melawan apalagi menolak. Rasanya sekuat apapun ia mencoba galak, jutek dan sewot, pemuda ini malah semakin gencar menggodanya. Ia merasa sudah lelah untuk melawan. Toh, Rama pun tak berbuat yang aneh-aneh dan merugikan Nara, justru ia yang terlihat sebagai orang jahat disini.
"Aduh a Rama itu teh pacar? Cantik pisan a," ucap mas Nana.
"Uhukk!" Rika sampai tersedak namun ia mesem-mesem sendiri padahal pandangannya pada mangkok baso, "beuhh pedes!" ucapnya mengipasi mulut.
"Keselek? Minum air aki!" ujar Gilang.
"Loe dulu yang minum, baru nyuruh orang!" desis Vina. Mas Nana tertawa renyah, "aduh! Peje atuh nih?" ia menaik turunkan alisnya.
"Kenapa cuma segini? Abay sama Ridwan mana, ngga ikutan ngerasain peje?!" tanya mas Nana.
"Saya bukan pacar Rama, mas." Jawab Nara bersuara.
"Belum mas, do'ain aja. Siapa tau pulang dari sini jadi pacar!" Rama mengalihkan pandangannya pada Nara, ia mengernyit. Tanpa permisi tangannya terulur membersihkan noda kuah baso di dagu Nara.
"Orang cantik mah makan belepotan aja tetep cantik!" imbuh Rama, Nara benar-benar sudah spechless dibuatnya, tak bisa berkata-kata, tak bisa berbuat apapun selain menerima perlakuan Rama.
"Ekhem--ekhem. Uhuk!!"
"Air mana air!" salting Vina.
"Tuh!" tunjuk Gilang pada ember bekas cucian mangkok, membuat Rika tertawa dan Vina yang memukul lengannya sambil berdesis.
"Gue bisa sendiri," ucap Nara, wajahnya telah memerah malu.
Semangkuk baso telah habis, hanya tersisa kuah baso yang tinggal setengahnya.
Gilang bersendawa, "alhamdulillah! Udah gini enaknya tiduran!"
"Penyakit orang pemalesan!" sarkas Vina.
Rika melirik jam di tangannya, "udah jam segini ih! Takut si mamah keburu marah, soalnya janji ngga lama."
"Hayu atuh pulang, udah mendung lagi. Kaya mau ujan!" Vina sudah melongokkan kepalanya ke luar warung demi melihat langit.
"Ra, mau langsung pulang?" tanya Vina.
"Dianter apa dijemput?" tanya Rika meneruskan.
"Bareng gue. Perginya kan bareng gue--pulangnya ya harus bareng gue juga!" tukas Rama kembali setelah membayar baso, membuat Nara menelan kembali ucapannya.
"Kalo gitu gue duluan Ram, kasian si Wawan sendirian di RPH--" Rama mengangguk, "ya."
Vina membonceng Rika sementara di sisi lain Gilang membawa motornya sendiri.
"Lo turun dimana, Ka?" tanya Gilang.
"Di gang depan," jawabnya singkat, sementara Gilang berohria seiring dengan tatapan matanya pada Vina.
"Apa sih kode--kode? Mau janjian?!" tebak Rika tepat sasaran.
"Dih, amit--amit!" Vina mencebik dan melajukan motornya duluan.
"Naik," pinta Rama. Tanpa perdebatan lagi Nara menurut untuk naik ke atas motornya.
"Mau keliling kampung sini ngga sebelum pulang, biar tau rumah temen-temen kelas?" tawar Rama.
"Emang mereka tinggal disini?" tanya Nara, mulai penasaran.
"Ngga semua, tapi ada beberapa." Nara menimang-nimang, sepertinya cukup menarik.
"Boleh!" jawabnya.
Rama menyalakan sepeda motornya, membawa Nara berkeliling kampung.
"Nih, gang yang ini! Rumah ketiga dari sini, tuh yang catnya biru, rumahnya Andy! Kalo jam segini paling lagi bantu bapaknya ngasih pakan bebek," tunjuk Rama diangguki Nara.
"Oh, emang bapaknya Andi punya bebek?"
"Iya, biasanya suka dibikin telor asin, kalo engga memang masok buat beberapa rumah makan, warung sama usaha lain yang make telor bebek buat bahan bakunya," jawab Rama, beralih dari rumah Andi mereka menyambangi rumah teman lain meski tak masuk atau berniat mampir.
Bentangan sawah dan kebun sayur menjadi pemandangan memukau di mata Nara, ada beberapa juga milik abah-nya, Rama menunjuk itu.
Sepertinya dibanding komplek tempat Nara tinggal, lebih bagus disini. Tak ada tembok-tembok tinggi penghalang rumah satu dengan lainnya untuk saling berinteraksi. Sesekali Rama mengeluarkan jurus candaannya membawa Nara ikut hanyut dalam tawa riang, hingga tak sadar gadis itu menaruh dagunya di pundak Rama dan melingkarkan tangannya di perut Rama.
"A Rama!" pekik beberapa anak laki-laki yang sedang bermain kelereng di lapangan tanah merah.
"Ayo a main!" ajak mereka.
"Mau turun?" tanya Rama menghentikkan laju motornya sejenak meminta saran pada Nara.
"Emang kamu bisa, main begituan?" tanya Nara meremehkan.
"Ck, ngeremehin. Liat nanti!" Rama menurunkan standar motornya lalu turun, menarik pergelangan tangan Nara untuk ikut bergabung disana meski hanya menjadi anak bawang.
"Asik, a Rama ikutan!" seru mereka.
"Sok sini, punya Idan--aa beli 2 ribu'eun!" ujar Rama mengeluarkan uang pecahan 2 ribu selembar dari saku celananya. Si anak memberikan beberapa buah kelereng pada Rama. Belum apa-apa Nara sudah tertaea kecil, melihat kedekatan Rama dengan anak-anak.
Tangan besarnya beradu kelereng dengan tangan-tangan kecil, mencetak kelereng miliknya hingga mengenai beberapa kelereng yang dipasang di tanah sana.
"Yeee! Dapet banyak!" Nara menepuk-nepuk pundak Rama ikut gemas saat Rama menang dan anak-anak itu menthe'sah kecewa karena kelerengnya diambil si pemenang.
"Astaga sorry-sorry, refleks!" Nara nyengir salah tingkah.
Gludukkk!
Suara menggelegar petir membawa serta guyuran hujan yang tiba-tiba lebat saja, membuat mereka berhamburan mencari tempat berteduh.
Rama refleks melepas jaket miliknya demi memayungi Nara.
"Ke rumahku dulu, buat neduh!" ucapnya.
"Boleh, emang deket?" tanya Nara dibawah payungan jaket jeans milik Rama.
"Iya, itu ujung gang," jawabnya. Dibawah guyuran air hujan, keduanya malah cekikikan keasyikan macam bocah dengan masa kecil kurang bahagia di atas motor, hingga sampai di depan sebuah rumah besar, atau lebih tepatnya paling besar yang ada di deretan gang ini dengan pagar menjulang tinggi berwarna hitam.
Nara mengernyitkan dahinya aneh, "ini rumah siapa?"
.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Lia Bagus
rumah camer
2024-06-09
0
Ney 🐌
rumah masa depan🤭🤭
2023-09-22
2
fiendry🇵🇸
rumah calon mertua Nara...
2023-02-19
1