Tittt!
Suara klakson mobil berbunyi di depan pagar rumah Nara, gadis itu sedang memakai sepatunya.
"Nara, come on! Ntar kita telat!" pekik Dea dari dalam mobil, dengan menyembulkan kepalanya dari keca jendela mobil.
"Iya!" jawab Nara mencangklok tas punggung.
"Ma! Nara berangkat ya!" gadis itu berlari kecil membuat rambut ikal gantungnya bergerak layaknya per. Gadis itu masuk ke dalam bangku penumpang, sepertinya ia mulai biasa bersama anak-anak ini, entah memaksakan diri.
"Eh, guys! Malam ini malam minggu, jalan yu !" ajak Inggrid sedikit merengek manja.
Mereka mengangguk, "boleh! Gimana kalau dugem ?" tanya Gibran menoleh ke belakang.
"Boleh tuh, katanya DJ nya baru loh keren !" jawab Dea berseru.
"Mau---mau !" ucap Inggrid antusias, Nara menatap satu persatu ekspresi mereka, rupanya hobby mereka cukup membuat alis Nara terangkat, jujur saja ia adalah gadis yang tak pernah masuk dunia malam seperti itu.
Willy menatapnya dari kaca spion "Ra, loe ikut kan ?" tanya nya menyentak lamunan Nara.
"Ayo Ra, seru tau !" ajak yang lain, Dea bahkan sudah mengguncang-guncang bahu Nara.
"Aduhh, gue 'ga biasa datang ke tempat begituan," jawabnya terbata.
"Ya Nara, ngga seru nih! Ayolah, kita ga ngapa-ngapain kok, cuma joget aja di lantai dansa, kalo loe 'ga biasa dan 'ga bisa minum, softdrink aja Ra atau jus ?!" tawar Dea memberikan option.
"Iya Ra, ayo biar seru kalo rame-rame !" pinta yang lain.
Nara sedikit kebingungan, pasalnya ia tak pernah keluar rumah malam-malam, apalagi jika tau tempat tujuan mereka---auto digantung Akhsan dan papa.
Nara meringis setengah ragu, "gue takut dimarahin kalo pulang kemaleman," alasannya lagi demi menolak.
"Ngga usah terlalu malem juga, jam 10 deh ! Atau jam 11," jawab Inggrid meyakinkan.
Nara sampai menggaruk kepalanya tak gatal, ia tidak mengiyakan namun tak menolak juga.
.............
"Ra, hati-hati! Jangan terlalu deketlah sama si cowok preman itu, dia "ga baik!" Inggrid mewanti-wanti.
"Bukan dia doang Ing, tapi juga penghuni MIPA 3 tuh emang ngga ada yang bener!" ralat Dea merotasi bola matanya. Oke kini dia tau jika ia berada di tengah-tengah perseteruan mereka.
"Kenapa emangnya?" tanya Nara.
"Aduhhh, pokonya engga banget lah! Mereka tuh---terlalu kampungan, bar-bar pokoknya ngga baik buat ditemenin lah!" ujarnya seperti MIPA 3 adalah penghuni bumi paling buruk di dunia.
Karena arah kelas yang berbeda, Nara pamit berpisah di ujung belokan.
"Gue ke kelas dulu!"
"Bye!"
Nara berjalan masuk ke kelas, tapi baru saja masuk ia sudah dikejutkan dengan kehadiran Rama, "assalamualaikum sayang!"
"Bisa ngga sih, panggilnya jangan sayang?! Gue ngga mau orang-orang salah paham," kesalnya dihempaskannya pan tat di bangku.
"Loh kan itu mau kamu sendiri," jawabnya ikut duduk di samping Nara dengan santainya.
"Kapan?" tanya Nara sewot, kalo liat Rama bawaannya itu marah, kesal, dan males.
"Kamu punya penyakit amnesia ya?" tanya nya menopang dagunya diatas meja demi melihat Nara lebih dekat.
"Udah to the point aja !" sengit Nara, sebelum kepalanya meledak karena pemuda ini.
"Waktu pertama kenalan, katanya terserah mau panggil apa aja," jawabnya.
"Ih, maksud gue kan terserah itu--- udah lah, percuma juga gue debat sama loe," Nara menyerah mendebat pemuda yang memang tak mau kalah, semakin dilawan maka ia akan semakin menyebalkan. Rama tersenyum penuh kemenangan.
"Gimana batagornya enak ?" tanya Rama.
"Oh, jadi loe yang semalem ke rumah gue? Ngirimin batagor terus ngaku-ngaku jadi ahli gizi gue?" ia malah tertawa seraya menganggukan kepalanya. Nara melihat Rama dengan wajah malasnya, mencoba menyelami pikiran Rama. Apa yang sedang pemuda ini lakukan untuknya? Selama mengenalnya bahkan Nara tak pernah sekalipun tersenyum untuk Rama, tapi pemuda ini begitu pantang untuk mundur.
"Enak," jawabnya singkat mengakhiri pandangannya terhadap Rama dan memilih sibuk dengan tas miliknya.
"Mau lagi ngga ? Kalau mau aku kirimin lagi ?!" Rama menawarkan.
Nara mengangkat alisnya, bahkan saat yang ia temui adalah Akhsan, pemuda ini seolah tak memiliki kata kapok, "emang berani? Kakakku galak, dia overprotektif. Selama ini 'ga ada teman laki-laki yang berani datang ke rumah!" Nara berkata begini, siapa tau setelah ini nyali Rama ciut.
"Berani ! Semalem aja aku masih bisa pulang dalam keadaan sehat wal'afiat," ucapnya dengan yakin, membuat Nara tersentak.
Tapi sedetik kemudian ia menggidikkan bahunya acuh, "ngga usah lah !"
"Kenapa ? Kan katanya enak ?"
"Takut ngerepotin, takut kamu minta balasan juga!" jawab Nara ketus.
"Dih, suudzon. Aku ikhlas kok, buat sayangku mah.. apa sih yg ngga!" kekehnya, Nara tak menanggapi ucapan Rama dengan serius, ia hanya menganggapnya pemuda gesrek.
____________________
Langkah kaki seorang guru perempuan masuk ke dalam kelas.
"Oyy, bu Yati! Masuk!" Tama sang ketua kelas memanggil sisa penghuni kelas legend di sekolah ini.
Mereka memang masuk ke dalam kelas, tapi sepertinya gai rah belajar mereka memang sudah mentok di perempatan.
Saat bu Yati mengajarkan tentang perbandingan atau skala lalu mean, median bukannya mendengarkan tapi mereka malah sibuk sendiri.
"Jadi tugasnya untuk minggu depan adalah mencari perbandingan harga antara pasar tradisional dan supermarket, setelah ini dibuat skala perbandingan dan juga semua yang tertera di tugas halaman 56! Dilakukan berkelompok!"
Nara tak banyak bergeming, baginya dengan siapapun ia nantinya. Tak akan mengubah kualitas diri.
"Oy kelompok 3 mana suaranya, tunjukkan pan tatmu!" teriak Andi.
"Saravv njirrr ih!"
"Ahh, bu! Masa saya harus sama si boncel!" keluh Tian, yang jelas-jelas satu kelompok dengan si gadis mungil pencuri hati membuatnya senang.
Tasya mencebik, "idih! Siapa juga yang mau bareng raksasa---ngabisin jatah ongkos angkot!" teriaknya membalas, padahal dalam hati ia sudah tertawa-tawa, gue pembohong sejati.
"Heyy sudah--sudah! Dengan siapapun sama saja,"
"Asikk sama yayang Muti! Ayang kita kerkom sambil pacaran!"
"Idih cupid, kelaott sono!"
"Sono pacaran cup! Nanti gue laporin pak Rt,"
"Pacaran---utang kantin bayar Cup!" ujar Rifal.
"Wah, om Fal bawa-bawa aib lah!"
"Sudah--sudah Harap bertenang! Warga-wargaku sekalian," Rio berdiri yang malah dilempari gulungan kertas oleh siswa lain lalu mereka tertawa.
"Njirrr lah!" umpat Rio. Bu Yati sudah menggelengkan kepalanya pusing menghadapi mereka.
Nara melihat kembali namanya yang ditulis oleh Dian di papan tulis, tercetak jelas namanya satu kelompok dengan Rama.
"Sayang, nanti bareng sama aku!" ucapnya.
"Cieee---akhiwww! Papa, dedek ikut pa!!"
"Bocah mah diem Cup, ngga usah banyak bertingkah. Papa lagi cari mama baru!" sahut Gilang.
"Dedek ngga mau mama bauu pah!" timpal Yusuf lagi.
"Ha-ha-ha! Saravv ihh!" mereka tertawa.
Pukk--puk--pukkk!!!
Bu Yati memukul-mukul penggaris di meja, "udah debat keluarganya ini teh?! Mau lanjut belajarnya lagi ngga?"
"Dedek lelah bu!" jawab Yusuf. Rama tertawa renyah, "lelah? Minum racun Cup,"
Bu Yati menaruh kepalanya di meja, ia angkat tangan dengan kelas ini. Ada segaris senyuman dan tawa tanpa suara dari Nara, ia mulai nyaman dengan kelasnya yang ramai dan seru.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Ney Maniez
gesrek semua 🤣🤣🤣🤣🤣
2023-09-21
2
Humay Uum
wkwkwk seru wlpun ngulang lg bcay
2023-02-03
1
'Nchie
cie Nara udah mulai betah nih dikelas
2023-01-28
2