"Narasheila Caramelia Yudhistira" Rama bergumam dalam hati.
Sejak tadi pemuda ini tak mengalihkan pandangannya dari si pemilik nama ter-sweet menurutnya, se-sweet gula karamel. Bibirnya melengkung seperti pelangi abis ujan akibat senyum-senyum sendiri melihat belakang kepala Nara, apakah di kepala Nara ada kutu yang lagi konser, sampai-sampai bu Fatima yang sedang mengajar saja dianggap papan reklame, ada tapi tak dianggap. Jangan lupakan wangi aroma parfum yang dipakainya, hmm ya Allah! Wangi aroma-aroma taman surga, tidak seperti kebanyakan gadis-gadis di luaran sana yang bau parfumnya kaya cewek di warung remang-remang, keliatan banget parfum diskonan.
Timbul rasa ingin mengganggu hingga gadis itu marah-marah, rasa ingin mendapatkan perhatiannya sampai ia tertarik, tapi sepertinya itu tak 'kan mudah.
Sadar akan sikap Rama yang terlihat memandangi Nara terus menerus, Bayu mencondongkan badannya ke arah Rama, "A, kalo diliatin terus tuh punggung cewek lama-lama bolong!" bisik Abay.
"Bwahahahaha!" tawa Ridwan dan Gilang menggelegar memecah diantara damainya kelas, membuat semua termasuk Nara menoleh ke arah mereka.
"Eyy, ada apa atuh, kalo ada yang lucu bagi-bagi!" sahut Tian.
"Nonton bok3p ya pa, dede ikutan!" seru Yusuf.
"Rama! Bayu, Gilang, Ridwan?!" panggil bu Fatima, terlihat jelas sudah di ambang batas kesabaran level manusia.
"Berdiri di depan!"
"Apa bu?! Saya mah enggak. Nih Mereka bertiga," tunjuk Rama.
"Bohong bu bohong, pasti biang masalahnya papa Rama nih!" kekeh Tasya.
Wajah cantik nan judes itu tak ada sekalipun raut tersenyum, membuat Rama semakin gemas saja ingin mendekapnya.
"Sok majuu, cepet!!" pekik bu Fatima mulai gemas karena kesal, akhirnya mau tak mau ke empatnya maju ke depan.
"Alhamdulillah! Terimakasih bu sudah mengerti kondisi hati saya, berkat di hukum di sini, jadinya saya ngga usah repot-repot manggil sayang biar bisa liat wajah cantiknya!" bukannya menyesal atau merasa malu, di luar nalar manusia ia malah senang tak terkira.
"Huu! Si papa, pepet teruuusss jangan kasih kendor!" seruan teman sekelas, gadis ini semakin manyun saja bikin gemas.
"Kamu ini kerjaannya kalo ngga bikin rusuh, bikin tensian guru pada naik, kaya yang mau bayarin biaya dokter aja!" sewot bu Fatima.
"Ke puskesmas aja atuh bu, murah cuma bayar daftarnya aja pake ktp beres!" jawabnya seraya maju ke depan kelas bersama ketiga temannya.
"Nah ngejawab lagi!" bu Fatima menjewer kuping Rama.
"Tarik bu! Tarik sampe jalan Merdeka!" teriak Tiara.
Nara terlihat tak nyaman, bisa dilihat dari cara duduknya sekarang yang bergeser tak karuan. Ia tau jika sekarang Rama memandanginya lekat tanpa jeda. Sesekali pandangan keduanya bertemu, lalu kemudian Nara kembali membuang pandangannya ke lain arah. Konsentrasinya memang sudah pecah sejak awal masuk kesini. Ia tak yakin akan bisa melewati pelajaran dengan benar jika begini.
"A, info Bandung kota bilang kalo tadi pagi dia bareng Willy cs," bisik Ridwan di samping Rama.
Rama mengangguk, dipandangnya kembali sosok Narasheila dari depan kelas, wajah se-ayu itu, sudah pasti akan banyak kumbang yang hinggap.
Bel istirahat akhirnya berbunyi, anak-anak menutup buku yang sebenarnya sudah mereka tutup sejak 10 menit yang lalu.
"*Mangan--mangan, arep mangan*!!! Cacing di perut udah pada jungkir balik minta asupan!"
(**Makan--makan, pengen makan**)
"Sya, cakwe yukk!" ajak Mutia merapikan rambutnya.
"Si boncel mah jajannya juga permen kaki, biar kakinya tinggian!" kelakar Tian yang selalu menggoda Tasya. Ada rasa selalu ingin mengganggu gadis ini, entah kenapa bagi Tian mengganggu si mungilnya kelas MIPA 3 ini begitu asyik, karena gadis ini adalah lawan yang tangguh untuknya.
"Si raksasa apalagi! Jajannya daging manusia, soalnya kani bal!" balasnya tak kalah sengit. Tian tergelak, kata-kata gadis ini selalu out of the box, tak seperti gadis lain yang selalu *glenyean*, apalagi saat dulu, semasa ia jadi anggota tim basket ternama, para gadis senang menempel padanya persis daki.
"Aduhhh! Ini berantem terus, di kawinin *gera*!" sahut Dian.
"Kawinin aja lah! Mau tau gue kalo kurcaci sama raksasa merit anaknya kaya apa? Apa nanti kakinya jinjit sebelah?" tawa Vian.
"Kakak pertama! Gue ngikut lah ke ruang guru, mau ketemu pak Dayat!" teriak Fajar.
"Buru, kakak kedua!" balas Tama si ketua kelas.
"Ha-ha, govlok ceu pat kayyy!" tawa Mery.
"Warung babeh--oh warung babeh! I'm cominggggg!"
"Mabar Ian!" Andi dan Rio bangkit, ketiga trio libel ini game online lovers memang.
"Kuy!" angguk Tian.
"Pa, main ps di babeh nggak?" tanya Vian.
Jika bel istirahat begini, anak-anak keluar dari kelas layaknya pasukan meerkat yang hendak mencari makan, destinasi mereka ialah kantin, deretan foodcourt ala-ala pedagang kaki lima dan juga lapangan. Tapi ada tujuan lain bagi anak-anak MIPA 3 dan beberapa anak IPS yaitu warung babeh, sebuah warung mie dan kopi yang ada di sebrang sekolah.
"Sok duluan aja, lapar gue!" jawab Rama kembali ke bangkunya, sementara Nara sudah beranjak bersama Mita dari bangkunya. Rasa penasaran melingkupi hati, kemana kiranya si bidadari ini hendak pergi?
"Mita, kalo kantin tuh dimana ya? Terus kalo aku mau ke toilet harus belok kemana?" tanya Nara pada Mita.
"Kutemenin yuk!" Rama menaik turunkan alisnya mencegat langkah Nara di ambang pintu kelas, sontak gadis itu memundurkan badannya.
"Ngga usah, makasih! Gue bareng Mita," desisnya sekasar kulit kaki yang pecah-pecah, ia memberanikan diri melawan Rama sampai tak sadar Nara mencengkram pergelangan tangan Mita, mungkin karena ia sedikit gemas dan sedikit takut.
Wajah galaknya itu membuat Rama terkekeh, "gemes!"
"Loe ganggu gue sekali lagi, gue ngga segan-segan lapor guru! Pergi! Gue tendang nih?!" ancamnya sudah memanjangkan kaki, membuat Rama bersorak ria.
"Uhhhh, takutttt! Galaknya," ia kemudian tertawa.
"Ram ih!" tegur Mita menukkikan alis dibalik bingkai kacamatanya.
"Udah A, jangan diganggu! Tuh liat mukanya udah merah gitu," tepuk Gilang di pundak Rama.
"Ya udah atuh ngga mau dianter tour sekolah mah, padahal mau sambil nawarin jajan loh!" balasnya.
"Ngga usah!" sengaknya cepat begitu jutek nan galak.
"Warung babeh A, jajan mie!" ajak Ridwan dan Bayu diangguki Rama.
"Calon makmum duluan," Rama tersenyum mempersilahkan keduanya berjalan, meski tatapan tak suka masih dilemparkan Nara padanya.
"Jadi kalo ke kantin, nanti kamu jalan aja lurus ke arah deretan kelas X tinggal belok kanan lewatin perpus---" Mita menerangkan dengan terperinci seraya berjalan bersama Nara, mengelilingi area sekolah yang luas mengadakan tour kecil-kecilan.
Baru saja Nara dan Mita berjalan beberapa meter dari kelas, langkah mereka sudah dihadang oleh Willy dan teman-temannya.
"Hay Ra!"
"Ini ngapain kamu maen sama k3coa gini?!" tangan Dea bahkan dengan kasarnya menyingkirkan Mita tanpa aba-aba dari samping Nara. Inggrid mengalungkan tangannya di pundak Nara, sebenarnya gadis itu cukup terkejut dengan perlakuan mereka.
"Aduuhh!" Mita mengaduh sewot, "ngga usah kasar atuh!"
"Eh-" refleks Nara tersentak.
"Ra, kamu kelas apa?" tanya Inggrid.
"MIPA 3," jawabnya sedikit risih dengan tangan Inggrid namun ia tak memindahkannya selama itu masih oke-oke saja.
"Ya ampunnn! Baby, kamu sekelas sama anak-anak kampungan? Anak-anak perusuh? Kamu ngga tau aja kelas kamu itu kelas terburuk sepanjang sejarah per MIPA-an," ujar Dea.
"Eh hati-hati ya kalo ngomong! Dijaga tuh ba cottnya! Dari tadi disabarin malah ngelunjak!" Mita berujar dengan alis menukik.
"Loe yang harusnya jaga ba cottt!" Gibran ikut maju, Nara sontak saja melepaskan tangannya dan memegang tangan Mita. Tapi baru saja akan menjadi penengah antara Mita dan Gibran, Bayu sudah menarik Mita ke belakang badannya, begitupun Rama yang kini berada di depan Nara tepat di depan wajah Gibran.
"Ngga usah ganggu MIPA 3, atau loe berhadapan sama gue," katanya dengan wajah serius. Ridwan membawa Mita ke belakang badannya, "ngga apa-apa?" tanya Ridwan, Mita menggeleng, ada segaris senyuman tipis di bibir Mita mendapatkan perhatian Ridwan. Diantara ke4 pemuda yang satu kampung bahkan satu rw dengannya itu, memang Ridwan lah yang paling kalem. Kalem-kalem nusuk.
Gibran memundurkan badannya seraya tersenyum merendahkan, "Will, sodara loe nih! So-so an jadi pahlawan kesiangan," tawanya mengejek.
"Preman pasar kampungan ini bukan sodara gue," katanya acuh dengan nada menusuk, Rama melirik Willy dengan tatapan getir.
"Wah!! Wahhh! Minta diacak-acak kelasnya!" Ridwan sudah ingin maju namun Gilang menahannya.
"Apa?!" Inggrid memajukan wajahnya menantang.
"Sayangnya loe cewek! Kalo cowok udah gue sikat!" pungkas Bayu ke arah Inggrid.
Nara menggoyangkan tangannya agar Rama mengendurkan cengkraman dan melepaskannya. Gadis ini mengerutkan jidatnya, melihat perdebatan sengit antara kubu Rama dan Willy cs. Diliriknya jam di tangan, terbuang habis separuh waktu istirahatnya gara-gara kejadian ini, padahal niatnya ingin berkeliling sekolah.
"Ini mereka malah berantem disini, terus gue kaya orang be go nontonin mereka debat," Nara menggeleng prihatin, kakinya melangkah menjauhi mereka semua dan memilih kembali saja ke kelas daripada harus nontonin orang berantem.
.
.
.
Note :
\*gera, kalimat spontan segera.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Elizabeth Zulfa
kelas mipa-2 tuh keknya kelas julit dech.. tuh buktinya mulut mreka suka ngerendahin orang dan bilang kelas mipa3 tub jampungan.. pdhl damai tinggal dikampung juga... 😒😒
klo kelas mipa-3 meski kelas legend too keknya solidaritasnya solit bnget..
2024-11-16
0
Ney 🐌
huhhh sombongg ny grup hedonn
2023-09-21
2
'Nchie
yg urakan blm tentu preman yg kalem blm tentu baik..iya kan Ra..blm ya b nyampe sana🤭🤭
2023-01-28
3