Sepertinya menatap Rama lebih menarik hati bagi Nara ketimbang ikut menyimak obrolan Rika dan penjual sayuran. Interaksinya dengan pedagang membuat Nara ikut cengengesan sendiri saat mereka terlihat tertawa karena tingkah Rama yang konyol.
Suara seseorang membuat Nara terkejut sekaligus teralihkan, "neng, liatin a Rama ya? Neng suka ya?!" tebaknya dengan nada bercanda.
"Eh, engga pak! Cuma lagi liatin aja, kayanya ngobrolnya rame," jawab Nara, jika bukan orangtua sudah Nara sewoti dia, nebaknya kok makjleb bikin hati berdebur-debur kaya ombak.
"Emangnya bener, Rama keamanan disini pak?" tanya Nara pada si bapak penjual sayuran lainnya yang bejualan di samping narasumber tugas Nara.
"Iya neng. Yang namanya tempat umum, apalagi pasar suka ada aja berandalan, entah itu cuma buat ngamen, nongkrong atau bikin onar!" jawab si istri yang berada di samping si bapaknya ikut menyahuti.
"Nah a Rama, dia sama temen-temennya yang suka ikut jaga keamanan di pasar ini, biar yang pada belanja ngerasa aman, pedagang juga kan jadi laris manis dagangannya, neng. A Rama itu anaknya abah haji Nawir! Neng tau ngga abah haji?" tanya nya balik, belum Nara menjawab ia menjawabnya sendiri.
"Nih, yang punya jongko (kios) daging, abah juga punya RPH sendiri neng. A Rama mah jago berantem neng, baik, sholeh lagi--- Ibu mah kalo punya anak seumuran pengen punya menantu a Rama----" ia menjeda ceritanya karena hadirnya pembeli.
"Bu wortel sabaraha sakilo?"
(..)
Nara menyunggingkan senyumannya miring, ia memilih untuk kembali bergabung dengan Vina dan Rika.
Hanya berselang 15 menit, terlihat Rama dan Gilang kembali.
"Gimana, udah? Mau kemana lagi?" tanya Rama.
"Ke Hongkong!" jawab Vina galak dengan dengusan.
"Kalo ditanya tuh yang be..nerrr, mak 3rot!" Gilang mendorong kepala Vina membuat gadis berambut sebahu itu membalasnya tak kalah sadis.
"Lagian loe berdua malah kemana?! Ini mah bukan tugas kelompok, orang yang ngerjain cuma kita bertiga! Coret gera! Namanya dari kelompok! Mau enaknya aja," sungut Rika mengancam.
"Sorry--sorry, kebablasan kalo udah ngobrol. Ya udah, pas ini udah selesai, gue traktir deh!"ucap Rama menaik turunkan alisnya sontak membuat kedua gadis itu kegirangan.
"Asik! Bener ya?! awas aja kalo bohong! " desis Rika. Nara hanya menyimak saja rencana mereka, tapi pada akhirnya ia angkat bicara, "sekarang bagian pedagang daging."
"Wah! Ke lapak abah atuh ini mah!" seru Gilang.
"Yuk! Ketemu calon mertua yank," Rama mengulurkan tangannya berharap disambut Nara, tapi gayung tak bersambut, Nara melewati tangan Rama begitu saja, menciptakan gelak tawa dari Rika dan Vina.
"Uhhh, pesona papa MIPA 3 luntur guys!" cibir keduanya menyusul Nara.
Gilang menepuk pundak Rama, "keep fighting kakak seperguruan! Cinta butuh pengorbanan," pungkas Gilang menarik Rama untuk menyusul para ciwi.
"Assalamu'alaikum!"
Terlihat jelas abah sedang melayani pembeli seraya bercanda.
"Wa'alaikumsalam! *Euhh, budak ieu deui budak ieu deui*, mau pada apa ini teh?" sepertinya abah sudah mengenal semua teman Rama, ya jelas saja kenal! Toh mereka satu kampung, bertetangga.
(*Anak ini lagi, anak ini lagi*)
"Assalamu'alaikum bah!" Vina dan Rika tersenyum sopan nan hangat lalu menyalami abah haji. Nara melongokkan badannya dari balik badan Vina, membuat abah haji tersenyum lebar di balik kumis baplang layaknya sikat cuci.
"Eh! ada si neng *geulis* (**cantik**), mamah apa kabar?" tanya nya pada Nara.
"Alhamdulillah pak sehat," jawab Nara.
Ia mencebik, "jangan bapak atuh yang lain juga manggil abah!" ucapnya meminta, Nara tersenyum manis.
"Aduh! Meni manis senyumnya kaya gula kawung! *Kuat ka kareeut*! " ucap Abah yang senang bercanda, sepertinya Nara tau darimana gen suka bercandanya Rama.
(**Begitu manis legit**)
"Si abah lagi modus! Tau aja yang *geulis-geulis*!" ucap Gilang.
"Alaahhhh---saingan Rama!" tawa Vina.
Rama masuk ke dalam kios itu dan berbisik pada abah, "bah--bah! Kenalin atuh bah, itu calon menantu abah!" tunjuk Rama pada Nara yang ada di samping Vina.
"Ah boro\_kokok kamu mah! Tau aja anu geulis teh. Tapi ya sukur atuh kalo memang calon menantu mah, memperbaiki keturunan!" jawab abah berkelakar.
"Ha-ha-ha! Abah aja tau Ram, anaknya mirip jelangkung! " cibir Rika.
"Enak aja! Rama ngga kalah ganteng sama Zayn Malik, bah!"
Setelah menghabiskan waktu sampai bedug dzuhur, akhirnya tugas kelompok selesai juga meski harus melewati drama perdebatan.
"Traktirrr! Buru ah, perut udah minta jatah preman!" ujar Vina menarik resleting tas selempangnya.
"Asik! Nunggu ditraktir papa MIPA 3," kekeh Rika.
"Mau ditraktir dimana?" tanya Rama berniat menuntaskan janjinya tadi.
"Di warung baso mas Nana !" seru kedua gadis ini bersemangat.
"Meni ngga ada lagi jajanan teh, baso lagi, baso lagi!" decih Gilang tak mengerti dengan perempuan, tapi yeahh oke! Ia jadi tau kesukaan si mak 3rot sekarang.
"Biarin!" Vina mendelik.
"Aku ngga ikut deh!" Nara berujar, membuat mereka menoleh.
"Loh kenapa?" tanya Rika.
"Kalo kamu ngga ikut, traktiran hangus," Rama menyeringai, dengan kata lain ia memaksa Nara untuk mau ikut.
"Ih!" Rika dan Vina ber-ih ria, sementara Nara mendelik sinis pada Rama yang tersenyum usil.
"Kok gitu?!" Nara bertanya tak terima.
"Ya terserah yang punya uang lah, kalo masih mau lanjut traktirannya semua harus ikut! Kalo gugur satu ya traktiran gagal," ucapnya santai menggidikkan bahunya.
"Ihh--ya udah, ya udah!" gadis itu mencebik, mau tak mau harus ikut demi Vina dan Rika.
Vina dibonceng Rika memakai motor matic milik Rika, sedangkan Gilang membawa motornya sendiri. Kembali Nara menelan pil pahit harus dibonceng Rama.
"Sering keluar buat jalan-jalan?" tanya Rama sedikit menengadahkan kepalanya sedikit ke belakang demi mendekatkan suaranya agar terdengar Nara.
Nara menggeleng, "engga."
"Kapan-kapan, ku ajak jalan-jalan keliling Bandung! Naik si papatong hejo!" jawabnya menepuk speedometer motor.
"Ngga usah makasih," tolak Nara, membuat Rama mendengus terkekeh. Rupanya gadis ini masih memperkokoh benteng pertahanannya atas Rama.
"Kenapa? Takut ku culik?" tanyanya usil.
"Engga juga, males aja!" jawab Nara jutek.
"He-he-he, kamu jutek. Aku suka!" Rama semakin memundurkan punggungnya sehingga wajahnya lebih dekat lagi, Nara berdesis kencang seraya mendorong punggung Rama, "ishhh! Liatnya ke depan, nanti tabrakan!" gadis itu mengomel.
Motor berbelok dari jalan Raya ke arah kanan menuju satu perkampungan. Tidak kumuh, malah terkesan asri. Ban motor mulai menggelinding di jalanan setengah aspal dan setengah lagi masih jalanan tanah.
Sesekali hewan peliharaan warga berseliweran santai diantara pemukiman, bersahabat karib dengan warga.
Rama memelankan laju motornya, mengingat banyak-nya anak kecil berlarian kesana-kemari dengan riangnya.
"A Rama!" sapa salah seorang anak yang bermain sepeda.
"Eh, Yuda!" balas Rama ramah.
Sebagian anak berlari kencang seraya saling menepuk bagian tubuh pertanda ia *sang kucing*.
"Assalamu'alaikum---a Rama!"
See! Kembali anak-anak itu menyapa Rama. Oke! Mungkin itu tetangganya, hati Nara sedikit tergelitik saja melihat mereka begitu antusias menyapa Rama, apakah Rama adalah preman pecinta anak-anak?
"A Rama! A Rama!" suara kecil nan menggemaskan membuat Rama menghentikan motornya, di luar ekspektasi Nara si anak yang bisa ia tebak--mungkin usianya 3 atau 4 tahun itu mengulurkan tangan kecilnya menyambut tangan Rama dan salim takzim di punggung tangan Rama.
Alright! Kali ini Nara membuka mulutnya alias menganga dibuat oleh pemandangan di depannya .
.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Ney 🐌
aa Rama😍😍
2023-09-22
2
Efrida
ht2 mangap jgn lebar2 ra msk lalat nti kan kasian lalatnya bakal baku hantam sm rama 😅
2023-06-12
2
'Nchie
jangan melongo Nara nanti Aya laleur asup😂😂
2023-02-07
2