Nara berjalan bersama Willy melewati beberapa ruangan di tengah keramaian sekolah. Ditatapnya anak-anak yang berlarian, bercanda dan mengobrol.
"Cupidddd ihhh!" teriak seorang gadis berpipi chubby, dengan poni sebatas bawah alis dengan jepitan pita di kedua sisi kepalanya berlarian mengejar siswa lain.
"Sini yank! Tangkap daku kau ku cipoxxx!" balasnya. Ini dia si usil jago nyepik lainnya, hanya saja kisah cinta bersama Mutia tak pernah terbalaskan, entah karena ia yang tak pernah serius, atau memang Mutia yang tak pernah menganggap ia ada layaknya jin ivrits.
"Ha-ha-ha! Saravvv ih!" tawa menggelegar gadis lainnya bername tag Tasya ikut mengejar.
Nara menggelengkan kepalanya, dengan mata yang kembali fokus mengikuti langkah Willy.
"Kamu kelas apa Wil?" tanya Nara, baru kali ini ia mau berbasa-basi dengan orang lain.
"MIPA 2," jawab Willy tersenyum.
"Nih Ra kantor kepala sekolah," ujar Willy menunjuk ruangan dekat dengan ruangan para guru, dengan papan nama diatasnya.
Kantor Kepala Sekolah
"Oh, iya. Makasih banyak Will--"
"Mau ku tungguin?" tanya nya menawarkan sambil tersenyum lebar, seperti senyum sales motor.
Nara menggeleng, "engga usah. Nanti kayanya aku bareng guru dianterin sampe kelas," jawab Nara, ternyata tersenyum bikin pegel tapi it's oke--sejauh ini senyum tidak membunuhnya.
"Kalo gitu, aku masuk kelas dulu! Oh iya, mau tukeran nomor w.a ? Biar nanti kita bisa calling-calling kalo kamu butuh sesuatu," penawaran yang cukup menguntungkan, kali aja kan Nara butuh dijajanin nanti.
"Boleh, ini nomorku--catat...." pinta Nara diangguki Willy dengan merogoh ponselnya dan mencatat nomor Nara, sementara gadis itu membalikkan tas gendongnya ke depan dan mengambil ponselnya dari dalam tas.
"Ada?" tanya Willy saat ia mencoba membuat panggilan pada Nara.
Gadis itu mengangguk singkat, "aku save ya," balas Nara.
"Oke, see you Narasheila!" Willy melambai dan melangkah mundur demi tak kehilangan moment sedetik pun berdadah ria pada Nara.
"See you," jawab Nara.
Tok-tok-tok!
"Assalamualaikum!"
Nara mengetuk pintu ruangan kepala sekolah.
"Katanya ada murid baru ya?" tanya Dian.
"Katanya sih gitu, cewek!" jawab Mery.
"Hey, ih kalian ! Uang kas bayar!" teriak Muti.
"Aduh mules euy!" ujar Andi, mendadak mules kalo mendengar kata uang kas.
"Ngga usah alesan Onde! Buru bayar, dari bulan kemaren nunggak!" gadis itu menyisir nama Vian dan menghitung kolom yang masih kosong.
"Punya gue berapa Ti?" tanya Vian.
"Om Vi dua bulan! Mana bayar!"
"Bentar lah cuma nanya doang, nanti aja bayarnya mah, nunggu dermawan!" kekeh Vian yang baru saja datang, rambutnya masih basah acak menandakan ia baru saja mandi.
"Murid baru cantik cuy! Ngga sengaja tadi liat di ruang kepsek!" ujar Fajar yang baru datang.
"Yang cantik aja langsung gercep!"
Bu Fatima namanya, ia guru bahasa Inggris merangkap kesiswaan. Perawakannya sedikit gendut namun tinggi, berjilbab dan berkacamata, beliau cukup ramah. Kesan pertama salah satu guru sekolahnya di mata Nara.
"Narasheila Caramelia Yudhistira kan?" ia menurunkan kacamata sebatas pangkal hidung demi melihat wajah murid barunya.
"Iya bu," Nara mengangguk.
"Masuk kelas MIPA 3 ya," ucapnya, senyum tipis Nara memudar, padahal ia berharap bisa sekelas dengan Willy cs, setidaknya ia punya teman yang sudah dikenalnya. Tapi apa mau dikata, ternyata Tuhan dan staf guru memiliki kehendak lain. Akhirnya mau tak mau Nara harus mengangguk, "iya bu."
Ia berjalan sedikit di belakang bu Fatima, Nara menghafalkan jalan dan lorong menuju ke kelasnya, belok kanan---lalu lurus melewati perpustakaan dan lapang. Belok kiri, untung ngga nemu kuburan atau jurang. Dan saat langkah sepatu pantofel itu berhenti, Nara tau jika kelas di depannya adalah MIPA 3.
Satu kata dalam benaknya, "Berisik!"
Sudah jadi hal lumrah jika sekolah akan berisik dengan suara tawa dan canda siswa-siswinya, tapi yang ini begitu emejing! Ck--ck, Nara berdecak, rasanya sekolahnya dulu tidak seberisik ini. Apa ia akan betah, apa ia akan bisa satu frekuensi dengan isi kelas yang sudah seperti isian bakwan, ramee!! Pasalnya ia adalah orang yang cinta kedamaian, mungkin dulu mamahnya ngidam diem di kuburan waktu hamil Nara, jadinya anaknya silent.
"Papa! Liat si cupid belekoknya ihh! Buku Tiara jangan dimasukkin ke kantong atuh Cup," adunya.
"Cup! Ulah (jangan) cup, nanti minta di kawin!" ujar si siswa yang bergaya sengak nan slengean, juga kurang sopan, karena ia menaikkan kakinya ke atas meja.
"Assalamu'alaikum anak-anak, selamat pagi!!!" teriak bu Fatima sampai urat-urat lehernya bermunculan, kasihan sekali gurunya ini dapat murid segini bandelnya, lebih mirip anak-anak tk, ketimbang anak SMA.
"Barudak (anak-anak)!!! Eyyy!" bu Fatima menepuk-nepuk papan tulis dengan keras, baru mereka diam.
"Suttt! Onde!!! Tian, Yooo!" teriak Dian menggunakan gulungan buku membentuk seperti toa, meneriaki ketiga siswa yang duduk di belakang sambil asik main game online, padahal teriakan gadis itu cukup keras, cukup untuk mengeluarkan isian kotoran telinga mereka tapi para pemuda ini anteng saja pada layar pipihnya dengan sesekali mengumpat karena kesal hero-nya kalah. Ketiganya langsung mematikan ponsel dan pindah ke tempat duduk masing-masing saat melihat bu Fatima.
"Maaf bu, tadi saya ke kamar mandi dulu!" ucap seorang siswa laki-laki yang berpenampilan sedikit rapi, ia jangkung dan putih di arah belakang bername tag Pratama Luqmanulhakim.
Siswa itu masuk lalu mendamaikan kelas rusuh ini, membetulkan bangku-bangku yang miring dan berantakan macam abis tawuran. Nara menyipitkan pada siswa laki-laki yang baru saja menurunkan kakinya. Tunggu! Bukankah dia yang barusan datang dengan motor berisik itu kan? Nara menghela nafasnya, sepertinya hari-harinya ke depan tak akan mudah. Karena nyatanya ia mendapatkan kelas yang super duper---iuhhhh!
"Assalamualaikum, morning student!"
"Morning mrs. Fatima!" jawab mereka.
"Wilujeung enjing (selamat pagi) bu!" teriaknya beda sendiri.
"Si papa, ini english pa--english!" sahut Tasya.
"Inggris borokokok!" toyor Vina di belakang bangkunya.
"Yee, da abi (aku) mah orang jasun! Jawa Barat is sunda!" jawabnya seenak empedu.
"Oke class, sebelum kita mulai belajarnya. Ada yang mau kenalan dan bergabung sama kita mulai sekarang, dia murid pindahan dari Jakarta."
"Woowww jekardahhh euy! Mantap jiwa!" sahut Yusuf.
"Narasheila, sini masuk!" pinta bu Fatima.
Deg!
Jantungnya berdegup sangat kencang saat bu Fatima memanggilnya, ingin sekali Nara berlari keluar dari gerbang dan mengundurkan diri dari sekolah ini, tapi kakinya seolah mati rasa dan malah berkhianat lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam kelas, keringat dingin sudah mengucur dari balik seragam. Ia menyapu kesemua penjuru kelas, bisa ia hitung murid di kelas ini ada sekitar 20an.
Gaya anak ibukota menempel lekat di diri gadis ini macam kurap, rambut panjang sepunggung, dan curly di bagian bawahnya menambah kegemesh'an Narasheila, rok dan seragam yang tak terlalu pas badan namun memang modis gaya anak masa kinihhh, wajah tanpa make up berlebihan, selayaknya anak remaja, lebih mirip artis korea, pokoknya generasi Z yang bikin klepek-klepek.
Nara menatap satu persatu wajah teman sekelasnya demi melihat reaksi mereka.
Letak duduk bangku depan tersebar rata, tidak terlalu di dominasi perempuan di area depan, sebelah kanan ada Dian---Mery, di belakang mereka ada Tasya---Muti, lalu di belakangnya lagi Yusuf dan Tian. Geser sedikit barisan selanjutnya ada Tama---Fajar, di belakangnya Rio dan Andy, lalu kosong. Geser ke samping Vina--Rika, Ridwan---Bayu, dan Vian---Rifal, lalu Mita di depan sendiri dan Gilang---Rama di belakangnya, "Hay, namaku Narasheila Caramelia---" belum gadis ini meneruskan ucapannya seseorang memotongnya dengan sengaja.
"Hah, naros heula?" (Hah, nanya dulu?) cibirnya sambil tertawa, mendadak ucapan itu jadi bahan candaan satu kelas.
"Ck, si-@lan ! "umpat Nara dalam hati mendumel melihat sengit pada pemuda itu.
"Ramaaa---" tegur bu Fatima lembut.
"Teruskan Nara," pinta bu Fatima mengangguk singkat dari mejanya.
"Namaku Narasheila Caramelia Yudhistira, kalian bisa panggil aku Nara atau Sheila," lanjut Nara.
"Kalo sayang boleh ngga?" sahutnya lagi menimpali dengan kekehan dan senyum menyeringai pada Nara, gadis itu sampai mengerjap saat si pemuda yang bernama Ramadhan ini mengedip genit padanya.
"Sayang tawon!!" sorakan Vian.
"Itu mah sarang nge h3!" jawab Rio.
"Gaskeun pa! Gas! Brumm--brumm!"
"Dedek mau mama baluu, pa!" timpal Yusuf.
"Dedek gorilla, cup!" imbuh Tasya.
"Loe dedek annabelle!" cibir Tian.
"Apa loe raksasa! Maen nyamber aja!" ketus nan sewot Tasya.
"Udah--udah!!!" lerai bu Fatima, jika tak ditegur mungkin tak akan selesai sampai bel pulang, bisa sampai gontok-gontokan di ruang kelas.
"Aku mah mau manggil kesayangan aja ahhh!" goda Rama.
"Si Rama mah kebiasaan!" dorong Vina di punggungnya.
"Diem atuh Vin, sirik aja! Lang, Vina pengen di sosor katanya!" ucap Rama.
"Amit-amit!" jawab Vina dan Gilang kompak.
"Ya sudah Nara, silahkan duduk di bangku yang kosong," perintah bu Fatima. Nara mengedarkan pandangannya dan menemukan satu-satunya bangku yang kosong dan memiliki teman bangku yaitu di dekat seorang gadis berkaca mata (Mita) tapi si alnya posisi itu berada tepat di depan si bocah gemblung barusan.
Benar-benar satu kesi alan yang haqiqi untuknya, "mimpi apa gue semalem?!" keluh Nara pasrah berjalan.
Dilihatnya senyuman Rama semakin mengembang saat tau Nara akan duduk di depannya.
"Hay Narasheila, aku Mita---boleh kupanggil Nara?" tanya gadis itu.
Nara mengangguk, "boleh," Nara duduk.
"Gusti! Meni wangi aroma surga gini--bedalah sama si abay! Bau aroma mayit!" kelakarnya.
"Saravvv njir!" ujar Bayu dari bangku samping.
"Lempar wanginya pa!" teriak Yusuf dari bangku paling pojok sebelah kiri.
"Jangan atuh! Nanti si Muti mau dikemanain?" tanya Rama.
"Buang ke laot!" sahut Rifal, si pemuda yang selalu terlihat seperti orang yang mengantuk. Bu Fatima hanya bisa menggelengkan kepalanya, sudah tak aneh dengan isian kelas absurd bin legend yang selalu membuat guru-guru pensiun dini ini.
"Hay, nama gue Rama," bisiknya tepat di samping belakang, dekat sekali dengan telinga Nara, sampai-sampai hembusan nafasnya mengenai rambut gadis itu. Nara sontak terkejut, ia kira kelas ini ada penghuni sosok astralnya.
Nara menoleh kesal, "sumpah! Ni anak nyebelin banget!"benaknya.
Sepanjang pelajaran punggung Nara serasa panas, mungkin jika sebuah keju, ia sudah meleleh. Ia tebak pemuda itu, selalu memperhatikan Nara. Gadis ini tak berani menoleh, sebisa mungkin ia akan mengurangi interaksi dengan makhluk aneh macam Rama, Ramadhan sudah masuk ke dalam list no wahid jajaran siswa yang harus ia hindari disini.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
🔥⃞⃟ˢᶠᶻ𖤍ᴹᴿˢ᭄𝓐𝔂⃝❥AyJinda❀∂я
Hem si Rama ini duduknya tepat di belakangnya si Nara apa ya kalo iya si Nara harus banyak bersabar ini harus nyediain es batu juga biar gak panas terus hihihi
2023-09-25
3
🔥⃞⃟ˢᶠᶻ𖤍ᴹᴿˢ᭄𝓐𝔂⃝❥AyJinda❀∂я
aduh aduh asyik bener kayaknya yang Mabar ampe guru masuk kagak dasar giliran diteriakin baru sadar kan
2023-09-25
1
🔥⃞⃟ˢᶠᶻ𖤍ᴹᴿˢ᭄𝓐𝔂⃝❥AyJinda❀∂я
ya kalo gak bawel kagak bakal bikin orang pada bayar nanti, harus orang yang jujur dan tegas ya kaya Muti ini yang mirip kaya rentenir 😁
2023-09-25
1