Hari ini adalah hari pertama Nara harus kembali beradaptasi dengan lingkungan baru. But it's oke! Dia adalah silent student, bukan siswa yang senang dengan sorotan dan perhatian. Ia lebih memilih luput dari pandangan siapapun penghuni sekolah seperti hantu, meski memang Nara ini tergolong anak yang pintar di sekolahnya dulu.
Mungkin nanti, diantara siswa-siswa yang lain, gadis ini paling berbeda. Mengingat seragam Nara yang masih memakai seragam sekolahnya di Jakarta.
Gadis itu mematut dirinya di depan cermin seukuran dirinya, kaos kaki panjang sampai lutut dan rok rempel pendek diatas lutut bercorak cap nama sekolahnya dulu. Juga dasi silang berwarna senada dengan rok yang ia pakai.
Nara keluar dari kamar lalu menguncinya, takut kalau ada pencuri masuk entah itu yang berkepala kecil ataupun besar. Kemudian ia turun dan bergabung di meja makan, Akhsan sudah bersiap juga. Akhsan sebenarnya sudah lama berada di Bandung, ia sengaja memilih kampus di Bandung untuk melanjutkan pendidikannya waktu itu. Hanya saja, selama ini ia tinggal bersama temannya di sebuah kost-kostan.
"Mah, Nara berangkat dulu ya," pamitnya.
"Iya. Hati-hati sayang, cari temen! Sudah saatnya move on dari Metta. Dia udah tenang, kamu juga harus cari kawan baru disini. Mama sama papa sengaja ngajak ke Bandung biar Nara bisa cari temen-temen, lepas dari bayang-bayang Metta---kirim do'anya aja," mama mengecup kening Nara yang mengangguk paham.
"Akhsan juga berangkat mah, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam." Mama melambaikan tangannya, tersenyum menatap hangat pada ketiga permata hati.
"Ra, hari ini berangkat bareng abang dulu ya? Papa mau cek konveksi sama rumah makan dulu," imbuh papa membuka handle pintu mobil.
"Iya, papa hati-hati ya!"
"Iya, San--bawanya jangan ngebut! Nanti adekmu terbang!" kelakar papa, ditertawai Akhsan sementara Nara hanya merotasi bola matanya, "emang badan Nara seringan kertas gitu bisa terbang kaya layangan?!" dumelnya.
"Emang!" balas Akhsan mengejek.
"Cepetan naik !"perintah bang Akhsan.
"Iya sabar kek, aku pake helm dulu," omel Nara memasang helm dikepalanya, namun tatapan mata Nara jatuh tertumbuk pada pemandangan di depannya, netranya mengikuti pergerakan beberapa anak komplek yang melintas tepat di depan rumahnya, sepertinya mereka seusia Nara dan sama-sama akan berangkat ke sekolah.
Semenjak kejadian yang menimpa Metta, Nara menjadi pribadi yang tertutup hingga kini, jika dijabarkan--mungkin Nara mengalami trauma, ia acuh dengan dunia sekitarnya begitupun orang-orang yang ada di sekelilingnya.
"Cari kawan baru, udah saatnya Nara move on!"
Sederet kalimat itu terngiang di otak kecil Nara, mendapatkan tatapan dan senyuman dari anak-anak barusan membuat bibir Nara tergerak untuk membalas tersenyum. Berharap ini akan menjadi awal yang baik untuk Nara kedepannya.
"Shuttt Wil! Tetangga baru tuh, cantik!" seru Gibran.
"Hu!! Sama cewe cantik aja cepet loe," jawab Dea mendorong kepala Gibran dari arah belakangnya.
"Cewek cantik jangan sampai lolos!" siul Willy terkekeh.
"Cowok tuh dimana-mana sama aja! Liat yang bening berasa pengen nyeruput!" sahut Inggrid, mereka berlalu menjauh. Mungkin saat ini hanya senyuman singkat saja berhubung waktu memaksa mereka untuk segera melesat menuju sekolah, entah kalau nanti.
Laju motor matic Akhsan menembus aktivitas sibuk pagi hari kota kembang, melintasi jalanan yang tampak asing untuk Nara, segaris senyuman terlukis saat ia melihat satu dinding kota.
...***Tanah Pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum***....
^^^***M.A.W Brouwer***^^^
Motor akhirnya berhenti di depan sebuah bangunan sekolah dengan gaya kuno, entah mungkin kebanyakan sekolah negeri disini bekas peninggalan Belanda atau sengaja dibangun dengan bergaya arsitektur negri kincir, yang jelas bangunan sekolah ini masih terlihat jelas bergaya bangunan peninggalan negri Amsterdam.
"Sekolah yang bener! Nanti baliknya abang jemput," ia menyodorkan tangannya untuk disalami adiknya.
"Iya bang," jawab Nara.
Gadis itu berjalan perlahan, merasa cukup gugup dan kerdil di lingkungan yang asing untuknya. "*Oke Nara, stay cool--- keep calm*," gumamnya mencoba menenangkan diri sendiri, jangan sampai ia pipis di celana cuma gara-gara moment kamvrettt ini.
Ia menghembuskan nafas kasar berkali-kali demi mengurai rasa gugupnya, tangan Nara bahkan sudah mendingin. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama ia harus beradaptasi dengan lingkungan baru yang benar-benar baru, ini bukan Jakarta yang ia sudah tau jalanan pulang! This is Bandung, baru pertama kali injek bumi parahyangan, kalau sampai ia bikin malu, mau kabur kemana?
"Hey!"
Sebuah tepukan di pundak, mengejutkan Nara, ia sampai terjengkat kaget dan menoleh.
"Loe tetangga baru yang tadi pagi kan?" tebak Inggrid menyamakan langkah dengan Nara, Nara meneliti gadis yang menepuk pundaknya so kenal so akrab itu.
"Iya, gue Narasheila by the way," senyum Nara kaku.
"Inggrid," ia mengulurkan tangannya ke depan Nara, membuat Nara merasa aneh untuk pertama kalinya, baru hari ini ada seseorang lagi yang mengulurkan tangannya pada Nara untuk menawarkan sebuah perkenalan dan mungkin saja sebuah pertemanan. Nara menyambut uluran tangan itu.
"Ternyata kita satu sekolah ya?" serunya gembira, dapat Nara lihat jika gadis ini pribadi yang ceria, mungkin akan cocok dengannya yang pendiam.
Bukan hanya Inggrid yang datang menghampiri Nara, kali ini ada 3 orang lainnya yang sama-sama Nara lihat tadi pagi.
"Hay! Gue Gibran," Nara mengangguk tersenyum menerima uluran pemuda dengan alis yang cukup tebal namun terbilang manis.
"Gue Dea," ucap gadis satunya lagi, gadis ini cantik nan manis, tapi raut wajahnya sedikit terlihat judes.
Dan yang terakhir, pemuda yang tadi pagi tersenyum penuh arti padanya, "Willy."
"Nara,"
"Semoga kita bisa satu kelas ya," sahut Willy, Nara mengangguk tersenyum, *semoga*.
"Eh nanti kita istirahat bareng aja!" Dea berjingkrak di depan Nara sambil berseru gembira mendapatkan teman baru yang mungkin menurutnya satu kubu, selain karena tempat tinggal yang sama, Nara juga gadis yang cantik--berpotensi jadi bintangnya sekolah. Sangat menguntungkan untuk eksistensi geng mereka di sekolah ini.
"Iya, kamu harus coba mie ayam di kantin Ra, enak deh!" usul Inggrid. Di tengah euforia dan kehebohan mereka tiba-tiba satu sekolah dikejutkan dengan suara bising yang datang dari arah luar sekolah masuk ke gerbang menuju parkiran. Tak ada yang tak menoleh dengan suara mirip terompet sangkakala. Bahkan mungkin, jika ada anak bayi disini mereka akan menangis histeris saking bisingnya suara knalpot motor berjenis RX King milik para siswa yang baru datang itu.
Mata Nara lekat menatap murid-murid yang baru saja datang seperti sedang mengajak tawuran warga sekampung itu, gayanya cukup slengean dan konyol.
"Assalamu'alaikum mang Uyung!" sapanya mengangguk singkat seolah sedang memberikan penghormatan pada satpam sekolah di gerbang.
"Waalaikumsalam Ram!"
"Kopi mana kopi mang?!"
"*Acan* atuh Ram! Tugas dulu!" pekiknya menjawab.
"Selamat pagi wahai murid-murid pejuang ijazah!!" teriaknya masuk parkiran.
"Allahuakbar!" teriak yang lainnya.
"*Ngga waras*!" gumam Nara. Kesan pertamanya melihat pemuda itu, semoga kelak nanti ia tak diperkenankan Tuhan untuk mengenalnya.
"Dasar geng anak-anak kampungan !" dengus Gibran.
"Iya malu maluin tau ga," kesal Inggrid.
"Maklum lah orang kampung, mereka kan orang-orang ga tau malu, ga beradab. *Kismin*!!" ucap Dea menghardik dengan tatapan merendahkan.
"Shutt! Udah lah, mendingan kita masuk ke kelas aja, udah mau bel masuk nih, ngga usah ngurusin yang ngga penting," jawab Willy diangguki semua.
"Eh sorry, bisa tolong anterin aku ke ruangan kepala Sekolah ngga?" pinta Nara.
"Boleh," tukas Willy cepat.
"Guys, kalian duluan aja--gue anter Narasheila dulu!" ujar Willy.
Dea dan Inggrid tersenyum geli, "mulai start! Maju pantang mundur baby Will!"
"Bye Nara!"
"Bye!" balas Nara.
.
.
Note:
\* Acan : belum
\* kismin : miskin
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
🥀⃟ʙʟᴀᴄᴋʀᴏsᴇ
awas loh di bully, biasanya murid baru itu nasib nya pasti akan dibully dan difitnah
2023-09-25
2
☠ᵏᵋᶜᶟ🥀⃟ʙʟͤᴀͬᴄᷠᴋͥʀᴏsᴇ
bagus kaya gitu nara
2023-09-25
1
Endah Setyati
walau ceritanya pengulangan,,untuk memperbaiki penulisan dan sudut pandang masing masing tokoh,,tapi aku tetep suka sama cerita ini,bener bener nyata ada di kehidupan anak sekolah tapi yang pasti aku udah jatuh cinta dan candu sama cerita Rama n Nara 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
2023-09-24
1