Dem ! Dem ! Dem ! Dem !
Suara musiknya begitu memekakkan telinga. Lain keempat teman Nara yang ikut bergoyang dan berseru, Nara justru menutup kedua kupingnya, tak biasa dengan sesuatu yang berisik, ramai juga liar.
Mereka ketawa-ketiwi cengengesan seolah ini adalah sesuatu yang begitu mengasyikan, surganya dunia.
"Pojok om Will!" tunjuk Inggrid pada meja yang kosong.
"Oke, ladiest! Tempatin dulu, gue sama Gibran pesen minuman dulu, mau apa?" tanya nya balik.
"Cocktail aja om Will!" jawab Dea.
"Gue juga samain!" seru Inggrid.
"Oke, Ra?" giliran Nara yang masih kaya ayam be go. Nara bingung, pasalnya ia tak pernah datang ke tempat seperti ini, ia nerasa jadi orang paling bo doh disini.
"Ra, kamu mau pesen apa ?" tanya Inggrid mengulang pertanyaan Willy.
"Softdrink aja," singkatnya. Awalnya terpikir wedang jahe, atau susu jahe tapi ngga mungkin juga di tempat seperti ini ada minuman begituan, yang ada dia diketawain.
"Turun yuu ! lagu nya enak!" ajak Inggrid pada Dea.
"Nara gimana?" tanya Dea.
"Gue tunggu disini aja!" tukasnya cepat menyambar.
"Oh oke deh! Kita ke lantai dansa dulu ya Ra, titip tas!" Inggrid bersama Dea bergabung dengan pengunjung lain di lantai dansa sana, terlihat jelas mereka begitu happy dengan musik dan hentakan irama. Pencahayaan yang kurang berasa bikin mata kunang-kunang.
Willy kembali bersama Gibran, diikuti seorang pelayan membawa pesanan mereka.
"Inggrid sama Dea mana?" tanya Gibran.
Nara tak menjawab, ia hanya menunjuk dengan tangannya.
"Oh, loe ngga ikut turun Ra? Mau ikut turun ngga nih?" Gibran menawari, tangannya merogoh saku celana dan mengeluarkan bungkusan rokok, Nara tau banyak anak SMA sekarang yang merokok, tapi tak sangka saja di balik wajah rumahan macam mereka ada kenakalan hakiki yang terpatri. Atau ia'nya saja yang kampungan.
"Loe turun aja, biar Nara gue yang temenin!" jawab Willy.
"Oke deh, gue ngerti !" Gibran dan Willy bertos ria.
Bau rokok dan alkohol terasa menyeruak kuat di penciuman Nara, membuag gadis itu tak nyaman berada lama-lama di dalam, ia ingin pulang...
"Ra, belum pernah ke tempat kaya gini ya ?!" tanya Willy akhirnya angkat bicara. Diraihnya rokok milik Gibran lalu ia menghidupkannya, menyesap seolah itu adalah barang ternikmat di dunia.
"Belum," Nara menggeleng singkat, lalu berdehem demi mengusir rasa yang semakin tak nyaman di tenggorokan juga hidung.
"Suka ngga ?" tanya Willy, apa harus Nara menjawab pertanyaannya? Yang benar saja, ia sudah hampir kehabisan nafas malah bertanya.
"Ngga, terlalu rame!"
Willy hanya tersenyum, mungkin menganggap gadis di depannya ini sedang melawak. Ya iyalah Rame namanya juga diskotik, yang sepi mah kuburan!
Satu batang rokok sudah hampir habis disesap Willy, dan Nara sudah hampir pingsan berada di sini.
"Ikut sama yang lain?" ia mengulurkan tangannya mengajak Nara joget, tapi gadis itu menggeleng, "gue ngga suka. Loe kalo mau joget, joget aja." Pandangan Nara lurus ke arah Dea, Inggrid, Gibran tanpa sadari dari pojokan club malam ada sepasang mata mengawasi.
"Cocktail abis bos, adanya jack,"
"Ya udah Jack aja," ucap Rifal.
💐 **Rumah Nara**
Suara knalpot bising begitu memenuhi satu blok. Dati ujung komplek sampai ujung lainnya bisa mendengar suara knalpot motor ini, *harusnya nih motor di loak aja! Ganggu orang*!
Motor itu berhenti di depan rumah Nara, si pengendara turun dan memencet bel rumah. Kembali, sudah 2 kali ia datang kesini dan 2 kali pula yang menemuinya asisten rumah.
"Assalamualaikum !"
"Wa'alaikumsalam !" jawab bi Asih membukakan pintu.
"Eh ada aden lagi." Sepertinya wajah Rama sudah terekam otak si bibi.
"Iya bi, Nara nya ada bi ?" tanya Rama.
"Ndak ada den," jawab bi Asih.
"Loh, kemana bi ?" Rama mengerutkan dahinya, berpura-pura tak tau di depan bi Asih. Ternyata memang benar ucapan Gilang tadi siang, jika Nara benar-benar diajak masuk ke dalam dunia Willy cs.
"Kurang tau saya, tadi itu pergi sama teman-teman komplek-nya, naik mobil."
"Bener kata Gilang," Rama memutar otak, lalu pandangan-nya menajam dan ia terburu-buru.
"Oh, kalo gitu saya permisi deh bi, tolong kasiin ini deh bi, kalo Nara nya sudah pulang ! Makasih ya bi, assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam,"
Rama langsung berlari ke luar dari halaman rumah Nara dan tancap gas, mengingat ucapan Gilang di sekolah. Begitupun sederet nama club malam yang kemungkinan di datangi oleh Willy cs menurut Rifal, si teman bandel lainnya di MIPA 3. Rifal sering wara-wiri tempat seperti itu demi bekerja paruh waktu. Kebetulan sekali, baru dipikirkan manusia malam itu menelfon.
"*Nara disini Ram, southbang*----"
Rama melajukan motornya nya menuju deretan night club di Bandung. Bukan Rama namanya jika ia tak tau tempat yang ada di kota ini, rumah tetangganya ulet bulu sekalipun dia tau.
Berkali-kali Nara melirik jam di pergelangan tangannya, jarum jam kian lama kian menggeser ke kanan, "astaga! Udah jam 11, mama sama papa pasti marah nih! Apalagi abang," gumamnya.
Nara meloloskan nafas jengah, ditambah hawa yang tak enak disini, ia memilih untuk berjalan keluar ruangan demi mendapatkan udara segar. Sepertinya paru-paru Nara sudah penuh oleh sampah dan toxic. Langkahnya membawa Nara keluar dari pintu, ia menghirup nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya, meski masih mengandung polusi kendaraan, setidaknya ini adalah ruangan terbuka.
"Huaaaa !"
Gadis itu meregangkan otot-ototnya, matanya menatap nyalang pada langit dan jalanan.
Beberapa kali gadis itu menguap, wajar saja, ini sudah lewat dari jam tidurnya.
Gadis itu melihat sekeliling, mencari kendaraan umum, tapi nihil jangankan kendaraan umum, ojol yang mangkal saja tak ada.
"Sepi banget ya Allah, gue pulang gimana ini?" ia berdecak memelas.
Nara melirik samping kanannya, matanya menyipit begitupun alisnya yang menukik demi menajamkan tatapan, seseorang sedang duduk manis di motornya dan terkekeh melihat Nara.
"Rama?" gumam Nara berjalan mendekat.
"Udah mulai nakal! Kamu ngapain ada disini jam segini ?" tanya nya tersenyum miring.
"Kamu sendiri ngapain ada disini, jam segini ?" Nara bertanya balik seraya matanya yang tertumbuk di jam tangan.
"Yeee! Ditanya malah balik nanya, aku 'ga sengaja lewat terus liat sayangnya aku ada disini," jawabnya tengil, membuat Nara memutar bola matanya jengah.
"Udah malem, anak gadis itu pamali kalau keluyuran malem-malem! Gadis apaan, yuk pulang, aku anter ?!" ajaknya menepuk-nepuk jok motornya.
Nara mencebik, dia? Naik motor Rama? Pocong sudah ganti kostum kali jadi cosplay kakashi! "engga! Aku cari angkot aja," tolaknya mentah-mentah.
"He-he-he, mau sampe lebaran gajah pun kamu ngga akan nemu angkot disini, karena tempat ini memang bukan jalur trayek angkot," jawabnya.
Nara yang tak yakin celingukan untuk memastikan.
"Jadi mau ikut ngga ?!" tawarnya lagi bersiap menyalakan mesin motor. Tapi Nara tak bergeming, gadis itu terlalu banyak berpikir.
Rama mulai menstater motornya, "ya udah kalo ngga mau, aku tinggal ya ? Siap-siap aja banyak laki-laki jahat plus kena omelan abang sama orangtua kamu!" Rama sudah menggerung-gerungkan motor nya.
"Eh, Iya! Tunggu, tunggu. Aku ikut !!" Nara menahan tangannya.
"Ikut kemana? Kerumah ku ?" tanya Rama malah menggoda dengan seringaian lebar.
"Katanya mau nganterin !" ketus Nara merasa dipermainkan.
"Masa minta tolong gitu sih caranya, ngga mau ahh !" ucap Rama melipat kedua tangannya di dada.
"Pergi nih!" Rama melajukan beberapa inci sepeda motornya. Sontak saja Nara merasa panik.
"Ihh !" tahannya lagi, sambil menghentakkan kaki dan manyun. Rama tergelak begitu puas, sudah berhasil meruntuhkan sikap egois nan jutek Nara.
"Ramadhan, aku mau minta tolong anterin aku ke rumah dong !" ucap Nara dibuat semanis mungkin.
Rama sudah mengulum bibirnya menahan tawa, "kok Ramadhan?" alisnya dibuat berkerut, jari telunjuknya sudah mengetuk-ngetuk dagu.
"Aku aja panggilnya sayang, masa kamu panggil nama ?!" lanjutnya.
Nara sudah mencebik kesal, pemuda ini berhasil menggodanya habis-habisan, "si alan!" desis Nara pelan.
"Jangan sa--yang, geli ih!" tolak Nara.
"Yaaa udaahh !" ia menggidikan bahu dan memajukan motornya beberapa meter.
"Iya sayang !!!!!! Tolongin aku dong !" pekik Nara panik, gadis itu mengesampingkan rasa malunya demi bisa diantar pulang.
Pemuda itu kembali mundur, "apa ngga kedenger ?" tanya nya.
"*Ih nyebelin banget sih cowo satu ini ! Pergi loe ke neraka* !" batin Nara misuh-misuh mengutuknya.
Nara berdehem dan mengambil tarikan nafas panjang, "sayang, anterin aku pulang dong yang," ucapnya, sudah gemas menahan emosi dengan senyum yang dipaksakan.
Dia tersenyum," ya udah naik deh!"
Nara lantas naik ke jok belakang Rama, tapi masih saja pemuda itu diam di tempat.
"Ya udah buruan jalan! Kok malah diem?!" perintah Nara.
Rama berdehem dengan lirikan mata mengarah ke bagian perutnya, sebagai kode pada Nara untuk memegang pinggangnya.
Mau tidak mau Nara menurut meskipun dengan keraguan. Gadis itu sedikit menjiwir ujung jahitan jaket Rama layaknya kejiji'an.
"Udah!" ketusnya manyun.
Motor pun melaju menembus jalanan malam kota Bandung.
"Bandung tuh sekarang rame !" teriaknya yang tersamarkan angin malam.
Sungguh Nara tak mau mendengar ocehannya, "iya" jawabnya singkat.
"Tuh, itu museum konferensi Asia-Afrika !" tunjuknya, sepanjang jalan ia menunjukkan tempat tempat iconic yg ada di Bandung layaknya tour guide.
"Nah yang ini," tunjuknya pada pantulan Nara di kaca spion kecil motornya yang hanya ada sebelah.
"Calon jodohnya aku," lanjutnya.
Nara memutar bola matanya jengah benar-benar kesal, jika bukan karena ia yang ingin pulang tak mau ia begini lagi!
Akhirnya motor sampai di rumah Nara. Gadis itu cepat-cepat turun, tak ingin berlama-lama ada diatas motor bersama Rama, jujur saja pemuda ini wangi, tapi Nara seolah alergi padanya.
"Makasih," ucap Nara.
"Ya udah masuk gih ! Udah malem. Takut ntar ada hantu," jawabnya.
"Aku ga takut, ga ada sejarahnya manusia mati sama hantu !" sewot Nara.
"Bukan takut di bunuh, tapi aku takut hantunya jadi ikutan suka sama kamu, dan aku harus berantem sama hantu rebutan kamu," kekehnya menggombal receh.
"Dih !" Nara mendengus seraya menyunggingkan bibirnya.
"Ya udah, aku pulang! Sampai ketemu besok. Assalamu'alaikum," ia pun berlalu.
"Wa'alaikumsalam," Nara masuk dan menutup pintu pagar.
Nara membuka pintu, betapa terkejutnya ia saat membuka pintu, seseorang tengah melipat kedua tangannya di dada dengan tatapan elang miliknya.
"Darimana kamu ?! Ini udah jam setengah sebelas lebih ! Siapa dia ?" tanya Akhsan.
"Jalan-jalan. Dia temanku,"
"Si cowok ahli gizi itu? Kok berani banget dia bawa anak gadis orang tanpa minta ijin," semburnya yang mengikuti Nara sampai rak sepatu.
"Iya, justru dia yang nolongin Nara, kalau ga ada dia..ngga tau deh Nara pulang jam berapa !" jawab Nara.
"Udah nanya'nya? Nara ngantuk," jawab gadis itu meninggalkan abang posesifnya ini.
"Kamu ngga diapa-apain kan ?"
"Kepo!" sarkas Nara.
"Ehhh, tadi temenmu itu datang ke rumah tapi kamu nya udah pergi. Dia nitip itu tuh !" tunjuknya pada sepiring batagor di atas meja makan.
Nara mengangguk-angguk "*Oh, ternyata Rama tuh sengaja nyusulin aku. Tapi darimana dia tau aku di night club*," gadis itu bertanya tanya dalam hati.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Ney Maniez
tuhh kn perhatian ny aa rama
2023-09-21
1
'Nchie
AA Rama mah g akan biarin kamupergi sendiri Nara ..takut ada yg bawa kabur 😁😁
2023-01-28
3
Fitria_194
duh baru jadi calon imam aja udh djagain bner si nara. gmna klo jadi imam beneran.
2022-12-22
2