"Ayo ikut sarapan 'nak Rama !" ajak mamah.
"Wahhh ! Bukannya mau nolak ajakan makan calon mertua nih bu, tapi saya sudah sarapan masakan ambu saya yang tak kalah enaknya, mungkin lain kali aja, kalau makannya bareng Nara juga," jawabnya lembut.
"Mau ketemu Nara?" tanya papa.
Rama mengangguk, "iya pak!"
"Ha-ha-ha, jangan panggil bapak, om saja," pinta papa Nara.
"Gue Akhsan," ucap Akhsan datar, namun secara tak langsung ikut mengenalkan diri.
"Kayanya seru om kalo catur, apalagi ada kopi sama goreng singkong! Tapi saya sama Nara lagi buru-buru om, mau mengerjakan tugas. Saya kesini mau minta ijin sama om, tante dan abang untuk antar jemput Nara," ucapnya dengan nada sopan.
"Oh loe mau ngajakin Nara kerja kelompok, bilang dong dari tadi!" ucap bang Akhsan.
"Oh gitu, sebentar! Tante panggil dulu Nara-nya.
"Nara !!" teriak mama seraya melangkahkan kakinya kembali ke tempat Nara.
Sontak saja gadis itu terkejut, ia tengah menguping mereka di balik tembok. Nara langsung saja kembali duduk di kursinya.
"Ya udah, om tinggal dulu ya," papah meninggalkan ruang tamu dan kembali ke belakang, kini hanya tinggal Rama dan bang Akhsan yang tersisa.
"By the way, thanks ya ! Semalem, loe udah bawa Nara balik," ucap Akhsan dengan muka tripleknya.
"Sama-sama bang," Akhsan pun masuk ke ruang makan lagi.
"Ra,"
"Hem?" Nara mendongak saat mama kembali, berpura-pura seolah ia tak tau ada apa dan siapa.
"Temen kamu udah jemput tuh, katanya mau kerja kelompok?"
"Iya ma, kalo gitu Nara siap-siap dulu!" segera gadis itu naik ke lantai atas.
"Boncelll, buruan ! Temen loe nungguin kasian lama !!" pekik Akhsan.
"Iya, ga usah teriak-teriak, ini bukan di hutan!" balasnya menggerutu.
Nara sudah turun, ia langsung pamit pada keluarganya, lalu menemui Rama di ruang tamu,
"Ck-ck-ck, masyaAllah cantiknya," pemuda itu berdecak kagum.
"Ngga usah modus sama gombal! Buru!! Dibilangin juga ngga usah dijemput, katanya oke tapi masih datang!" sengitnya bersungut-sungut tapi ia sudah melangkahkan kaki sampai ambang pintu.
"Mah! Pah! Nara pergi!" teriaknya.
"Suuth! Masa pamit sama orangtua gitu caranya, ngga sopan !" Rama menarik tangan Nara dan masuk kembali ke ruang makan.
"Ini apa-apaan sih?!" Nara mencebik saat dirinya ditarik.
"Om, tante, bang Akhsan, kita pamit dulu, assalamu'alaikum !" ucapnya membungkuk dengan tidak melepaskan tanganku.
"Wa'alaikumsalam, salam buat Abah haji, Rama !" ucap mamah.
"Iya tante," keduanya salim termasuk Nara yang kembali pamit karena paksaan pemuda ini.
Rama memakai dahulu jaketnya lalu naik ke atas sepeda motornya, tangannya terulur mengangkat helm di atas kepala Nara, hendak memasangkannya.
Namun gadis itu menolak dengan sengit, "aku bisa sendiri !"
"Itu kalo kamu lagi sendiri, ngga lagi bareng aku. Sekarang kan kamu bareng aku, pacar kamu !" ucapnya seenak udel.
"Klik..."
Terang saja Nara membelalakkan mata sebesar biji jengkol, "sejak kapan aku jadi pacar kamu ?" bentaknya di depan muka.
"Aamiin'in aja, semoga hari ini kamu jadi pacar aku," ucapnya pede terkekeh jelek.
"Dasar gila !" sarkasnya galak. Nara melihat Rama dengan sinis, namun anehnya ada kedutan di bibir seolah ingin menyunggingkam senyuman geli, kocak, dan---hangat. Kembali untuk kedua kalinya Nara dibonceng Rama.
"Kenapa kamu jemput aku ? Kan aku udah bilang mau bareng Rika dan Vina," ucap Nara kekeh.
"Kapan kamu bilang ?" tanya Rama, suaranya beradu dengan mesin motor yang berisik berikut deru angin yang ditembus laju sepeda motor.
"Waktu kemarin di sekolah," ucap Nara ngegas.
"Oh, itu kan di sekolah, siapa tau kalo udah di rumah berubah pikiran, lagipula udah terlanjur jemput juga kan ?!" jawabnya, setiap katanya itu loh! Tak dapat terbantahkan, ada saja jawabannya yang bikin orang pengen gigit kupingnya sampai putus. Sepanjang jalan kedua tangan Nara mencengkram sisi jaket Rama. 30 menit serasa 30 hari, mendadak ada rasa canggung dan degupan jantung yang begitu memburu di dalam dada Nara, ia mengeratkan cengkraman dan mengalihkan pandangan ke arah samping, gadis itu ingin segera sampai---kalau bisa terbang sekalian biar cepet sampe. Tanpa sepatah kata pun yang keluar lagi setelah itu, mereka sama-sama terdiam sampai motor berhenti di depan pasar.
Teman-teman satu kelompoknya sudah menunggu, ada Vina, Rika dan Gilang.
"Ram!" Gilang menghampiri ke arah parkiran, dimana Rama memarkirkan motornya.
"Udah lama?" Rama membuka helmnya dan menaruh diatas motor. Nara berlari kecil menghampiri Vina dan Rika.
"Pantesan pagi-pagi udah kedengeran suara knalpot berisik, taunya pagi-pagi udah jemput Nara," senyum Vina menggelikan menyenggol pundak Nara.
"Apa sih Vina," decih Nara.
"Ra, kamu yakin bakal masuk pasar ?" tanya Rika tak yakin.
"Emangnya kenapa ?"tanyaku.
"Bukannya kamu satu geng sama Willy cs? Yang antipati sesama, si makhluk paling higienis di muka bumi!" Ngga takut kotor Ra?" Seloroh Vina mencibir Willy cs.
"Eh, Nara gue mah beda, iya ngga yank? Dia mah baik hati dan tidak sombong orangnya, calon masa depan !" tiba-tiba saja Rama dan Gilang sudah menghampiri, satu lengan Rama bahkan sudah dirangkulkan begitu saja di atas pundak Nara, membuat gadis itu menepis tangan Rama. Gilang menggelengkan kepalanya dan tertawa, "ampun---ampun-- taubatan nasuha Ram," ucapnya meledek.
"Abis ini mandi tanah Ra, rabies nanti!" ejek Vina.
"Loe yang rabies!" balas Gilang.
"Ck, kebiasaan! Mulaiiii!" lerai Rika.
"Kayanya sebentar lagi bakalan kasih peje atuh?" Gilang menaik turunkan alisnya.
"Haaaa !!! Seriusan, kalian pacaran ?" tanya Rika dan Vina.
"Ih, engga--engga ! Kata siapa?!" sanggah Nara menggeleng cepat.
"Do'a-in aja, semoga hari ini dia jadi pacar gue. Biasanya do'a anak yang terdzolimi itu selalu di dengar," kekeh Rama pada mereka bertiga.
"Si@*lan," ucap mereka bertiga tak terima disebut anak yang terdzolimi.
Hari semakin siang, mereka memutuskan untuk masuk ke pasar dan memulai survei tugas dari bu Yati.
Tak jarang langkah mereka juga terhenti karena Rama dan Gilang yang saling bertegur sapa dengan para pemuda mirip preman.
Termasuk para pedagang yang seperti nya sudah akrab dengan keduanya dan beberapa pengamen jalanan di pojokan pasar.
"Vin," colek Nara dengan mata yang tak sedetik pun teralihkan dari Rama dan Gilang.
"Hm?" jawab Vina sedang mencatat, sementara Rika sedang bertanya-tanya pada si ibu pedagang.
"Mereka berdua kayanya akrab banget sama semua yang ada disini?" tanya Nara.
Pandangan Vina mengikuti arah petunjuk Nara, "ohhh--itu, mereka kan sering jagain keamanan disini," jawab gadis itu kalem.
Nara membawa rambutnya ke belakang telinga demi memperjelas pendengaran, "maksudnya gimana? Preman disini gitu?!"
"Ya---semacam itulah! Sebenernya kalo disebut preman kasar juga sih, karena mereka ngga seperti preman pada umumnya yang kerjaanya malakin, mabok, bikin rusuh---mereka justru jagain keamanan disini, kebetulan kan beberapa kios abah haji di pasar ini, eh lama-lama karena Rama sama temen-temannya sering jagain pasar jadinya para pedagang ngandelin Rama," jelas Vina, ia sedikit menunduk malu-malu entah siapa yang sedang ada dalam otak Vina sekarang, apakah Rama?
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Ney Maniez
jgn ngiler ma Rama y Vina,, udah di cap sm mimin punya nara🤭
2023-09-22
0
Misda Cabina Aco
pasar aja di jagain apa lagi kamu,,eaaa 😂😂
2022-12-08
3
🌽Mrs.Yudi 𝐙⃝🦜🍇
bisa aja balasnya si rama ini 😆
2022-12-08
2