Bab 7

Semalam suntuk Naifa menunggu Adam di ruang tamu, ia menunggu di sana sembari ngaji. Namun sayang sampai hampir tengah malam ia belum mendapati suami nya itu pulang. Mata Naifa mulai terasa berat, namun ia segara beranjak dari sofa dan berlalu ke kamar. Ia memutuskan untuk salat malam dan setelah itu baru mungkin ia akan tidur. Tak perduli lagi pada perut yang keroncongan karena belum makan dari sore, padahal terakhir makan siang hari saat ia dan suaminya berada di rumah Ibu Nuri. Itu pun sedikit karena Adam menyuruhnya untuk buru-buru.

"Nggak usah lama-lama!" Begitu Kata Adam waktu ia di panggil Ibu Nuri untuk makan siang. Sedangkan Adam tak ikut, ia langsung menunggu di mobil.

***

Malam yang selalu ramai, selalu banyak pengunjung. Dari wanita, pria, anak muda, dewasa bahkan ada saja lansia yang datang ke sana setiap malamnya.

Adam tengah duduk menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa. Matanya terpejam menikmati lagu yang sedang di putar, kakinya mengetuk-ngetuk lantai mengikuti irama. Tangannya di tekuk di depan dada.

"Lo, kenapa?! Abis kawin bukannya seneng malah gini!" Teriak Vela.

Adam tetap diam.

Dari tadi sampai sekarang Adam hanya diam dan diam, seolah tak perduli pada bisingnya suasana. Tak perduli pada Vela yang bolak-balik mengajaknya minum, bahkan Vela sudah menghabiskan banyak minum, tapi dirinya masih diam saja, sesekali hanya menyulut rokok.

"Gue pengin berhenti!" Ujar Adam akhirnya.

"Maksud lo?!" Vela tak mengerti apa yang di maksud oleh Adam.

Adam membuka mata, membuka lipatan tangan dan duduk dengan tegak. Menghadap ke arah Vela yang tengah mengamati dirinya.

"Gue, pengin jadi diri gue sendiri." Kata Adam lagi.

"Oh, lo pengin lo di anggap lemah lagi, lo pengin di remehin lagi sama semua orang! Itu sih terserah lo!" Ujar Vela kesal.

"Idih. Anak mami," Pandangan anak cewek cantik begitu sinis padanya.

"Eh anak Mami, bekal lo di habisin jangan lupa, haha ...." Senyum sinis selalu ia temui saat melewati koridor sekolah.

"Adam baik, tolong ya, kerjakan pr gue, lo mau 'kan?" Pinta gadis paling populer di sekolahnya. Dengan menunjukan wajah yang menyebalkan.

"Dasar, kayak anak cewek tahu nggak lo hahahaha." Segerombolan anak cowok menertawakan dirinya yang masih di antar Ibu nya ke sekolah.

Adam menggeleng tak mau, sekelebat bayangan dirinya di masa dulu muncul begitu saja, membuatnya marah.

"Enggak! Si al! Gue nggak mau!" Ujar Adam yang lantas membuat senyum smirk di wajah Vela.

"Udah. Lo nggak usah aneh-aneh, mending kita senang-senang." Ujar Vela, lantas ia mengambilkan segelas air yang baru ia tuang dari botol memberikan nya pada Adam.

Adam meminum sekali teguk, bahkan ia kembali menuang ke dalam gelas sampai seterusnya, sampai ia merasa tak karuan bahkan untuk membuka matanya saja ia merasa susah. Bayangan orang-orang di depannya adalah orang-orang yang dulu mengatainya kini tengah bersujud di depannya meminta maaf, Adam bahkan tertawa keras seolah tengah bahagia.

"Haha, mam pus kalian, kalian akhirnya han cur!" Teriaknya tak karuan menunjuk beberapa orang yang tengah lewat di depannya. Membuat orang yang melihatnya membuat garis miring di dahinya degan telunjuk.

Vela tersenyum sinis melihat Adam, "yang mam pus bukan mereka Dam. Tapi lo," ucap nya lalu tertawa terbahak-bahak. "Hahaha sebentar lagi Dam. Sebentar lagi, bukan cuma lo, tapi juga ibu kesayangan lo itu. Tunggu saja!" Vela tersenyum sinis sembari membayangkan keinginannya tercapai dan ia bahagia.

***

Pukul 04 : 30 pagi, Naifa terbangun saat sayup-sayup telinganya mendengar suara ngaji dari masjid. Naifa membuka mata dan tersadar kalau ia tertidur di atas sajadah masih lengkap dengan mukenah yang ia kenakan.

"Sudah, pagi ternyata," gumamnya. Lanjut membaca doa bangun tidur dan beranjak dari duduknya. Membuka mukenah dan berjalan dengan pelan ke luar kamar, ia ingin melihat apakah Adam-suaminya sudah pulang atau belum. Sebelum melihat kamar Adam, ia lebih memilih membuka gorden depan, mengintip siapa tahu mobil suaminya sudah ada di sana.

Tapi nyatanya, mobil suaminya belum ada. Tapi ia tetap mencoba membuka kamar suaminya itu. Dengan pelan Nai membuka pintu, melihat kamar yang masih berantakan. Baju berserakan di ranjang dan lantai. Koper yang tergeletak di depan lemari dengan kondisi baju berantakan karena koper yang terbuka.

Dengan ragu Nai membereskan kamar suaminya itu, memasukan baju-baju yang berantakan ke dalam lemari dengan begitu rapi. Memisahkan tumpukan baju dan celana. Naifa pun sedikit ragu saat akan menyimpan pakaian dalam suaminya namun saat ia mengingat sudah seharusnya ia mencoba untuk biasa saja.

Setelah di rasa beres, Nai menutup koper dan menaruhnya di lemari paling bawah, lanjut mengambil baju kotor dan membawanya ke luar, ke kamar mandi. Tak lupa sebelum pergi ia menutup kembali kamar suaminya itu.

Kini Naifa sudah mandi dan salat, ia lanjut mencuci pakaian kotor milik nya dan suaminya di kamar mandi. Lalu menyapu bersih semua lantai dan menghangatkan makanan yang kemarin ia buat, yang bahkan belum sempat di sentuh sama sekali.

Naifa tersenyum sedih, seperti inikah rasanya menjadi seorang istri yang tak diinginkan suaminya?! Ia tahu pasti kalau Adam juga sama-sama terpaksa menikah dengannya, seperti dirinya. Karena Nai yakin dirinya jelas bukan wanita keinginan Adam, apalagi ia masih ingat seperti apa gaya wanita yang pernah ia lihat bersama suaminya waktu itu, wanita cantik dengan celana hotpants dan kaos ketat yang menampilkan bagaimana bentuk sensitif atas dan bawah dari perempuan itu.

Naifa bukan lagi anak kecil yang tidak tahu ke arah sana, ia sudah tahu apa saja. Lantas ia membandingkan dengan dirinya, melihat dirinya sendiri dari atas sampai bawah, pakaian longgar, jilbab yang menutup dada, badan yang kecil sehingga jangankan lekuk tubuh yang terlihat, dirinya bahkan terlihat seperti anak yang masih sekolah dasar, kecil sekali.

***

Sinar matahari yang masuk lewat celah-celah ventilasi membuat mata yang terpejam dengan pelan terbuka, mengerjap beberapa kali sebelum terbuka dengan sempurna. Yang ia lihat pertama adalah langit-langit kamar berwarna putih bersih, lalu gorden berwarna abu-abu tua yang terbuka sedikit, mungkin karena memang di tutup dengan tidak sempurna.

Lalu mata itu menoleh ke samping kiri, lemari kecil dan sebuah meja kayu yang terlihat sudah sedikit lapuk, lalu ia memberanikan diri untuk menoleh ke kanan seketika itu ia membelalakkan mata saat melihat ada wanita yang tengah tertidur pulas di sampingnya. Adam, ya Adam yang baru tersadar itu tak percaya dengan apa yang ada di depannya saat ini.

Sebelum ia marah, ia lebih dulu melihat dirinya di dalam selimut yang langsung bisa membuat matanya keluar saking terkejutnya.

"Apa, ini?!" Tanya nya penuh kebingungan. Pasalnya ia tak mengingat apapun.

"Vel, bangun Vel!" Adam membangunkan Vela yang terlelap di sebelahnya dengan sama-sama polos seperti dirinya. Bahkan Adam begitu malu saat tak sengaja melihat keseluruhan tu buh Vela.

"Apa, sih Dam?! Nggak perlu gue ceritakan 'kan, apa yang terjadi semalam?! Semalam lo mabuk berat dan lo yang memaksa gue." Tutur Vela yang menyerupai gumaman dengan mata terpejam, seolah tak perduli pada apa yang Adam pikirkan.

Terpopuler

Comments

Neulis Saja

Neulis Saja

Adam dasar bastard !

2023-02-06

0

Noviyanti

Noviyanti

sabar ya nai.. itu vela jhat bnget.. adam kan dah nikah harusnya jng gitu donk

2022-12-06

1

teti kurniawati

teti kurniawati

dari kemarin berarti dia jadi org lain ya😁🙏

2022-12-06

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!